12 Komunitas Teater Pelajar Ikuti FTP Jakarta Timur 2019

Portal Teater – Dua belas komunitas teater pelajar se-Jakarta Timur terpilih menjadi peserta Festival Teater Pelajar (FTP) 2019. Festival tahunan tersebut digelar sejak 22 Agustus dan berlangsung hingga 2 September di Auditorium Gelanggang Remaja Jakarta Timur.

Menurut Ketua Umum Ikatan Teater Jakarta Timur (Ikatamur) Ragil Biru Solihin, kelompok teater pelajar yang terlibat dalam festival tersebut hanya berasal dari SMA/SMK yang ada di wilayah Jakarta Timur.

Berbeda dengan keikutsertaan komunitas teater pelajar pada Festival Teater Jakarta (FTJ), program tahunan Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang bisa melibatkan para alumni, FTP hanya melibatkan para pelajar SMA aktif, terutama aktor-aktornya.

Sementara kategori pelajar pun lebih dipersempit kepada lingkup pelajar SMA/SMK, karena pelajar SMP sudah dikategorikan ke dalam teater anak.

“Kalau SMP kan ada teater anak. Jadi yang SMP gak boleh ikut,” katanya di Jakarta, Senin (26/8).

Sementara penulis naskah dan sutradara dapat diambil dari sutradara-sutradara luar, terutama sutradara yang selama ini aktif membimbing komunitas teater pelajar tersebut.

Ke-12 komunitas teater tersebut, kata Ragil, terpilih setelah menjalani tahap seleksi dan kurasi administrasi dan presentasi.

12 Komunitas Teater Pelajar

Melansir rundwon acara FTP 2019, adapun ke-12 kelompok teater yang tampil dalam gelaran FTP, antara lain: Teater L’Pina SMK L’Pina. Teater ini dipercayakan mementaskan karyanya pada seremoni pembukaan pekan lalu, Kamis (22/8) lewat lakon “Apa Warnamu”.

Pada pekan ini, tampil 10 komunitas teater pelajar dengan lakonnya masing-masing. Kelompok teater tersebut, yakni: Teater Layar 61 SMAN 61 Jakarta (Menjalu Jalu), Teater Stop SMK Pusaka 1 (Tak Ada Bintang di Dadanya), Teater Total SMAN 54 Jakarta (Jakarta Karikatur), Teater Pancawarna SMAN 81 Jakarta (Wara-Wiri).

Selain itu, ada Teater Papan SMKN 48 Jakarta (Be Or Not To Be), Teater Etnis SMK Nurul Islam (Nur is Nur), Teater Terjun SMAN 76 Jakarta (A.Y.O.I), Teater Semu SMAN 50 Jakarta (Ande-Ande Lumut), Teater Muditara SMK Multimedia Nusantara (Kami Perempoean), Teater Kumantelaga SMAN 53 Jakarta (Kisah Bunga Matahari).

Pada puncak kegiatan, Teater Sampul SMKN 50 Jakarta akan mementaskan lakon “Generasi Terakhir”, Senin (2/9). Pementasan tersebut akan menandai penutupan event dan pengumuman juara serta pemberian hadiah kepada partisipan.

Semua acara pementasan teater dilaksanakan pada siang hari, yaitu pada pukul 13.00-18.00 WIB. Tiap harinya dipentaskan masing-masing dua komunitas teater.

“Kalau Sabtu dan Minggu tidak ada pentas karena tempat ini akan ada nikahan,” jelas Ragil.

Angkat Isu Rasisme

Hari ini, Teater Layar 61 SMAN 61 Jakarta melalui lakon “Menjalu Jalu” mengangkat isu rasisme ke medan pertunjukannya. Isu ini diangkat karena penting untuk merespon realitas Indonesia saat ini, di mana rasisme telah menciptakan gab yang tajam antarkomunitas, suku dan budaya.

Sutradara Teater Layar 61 Abi ML menuturkan, isu tersebut terlintas dalam pikiran anak-anak binaannya ketika mereka mengadakan brainstorming.

Kemudian, sebagai pemain dan sutradara teater, ia meresponnya dengan menempatkan isu rasisme itu dalam konteks yang lebih luas, misalnya bagaimana anak-anak muda melihat rasisme itu dalam kacamata kekinian.

“Saya juga menaruh sikapku pada isu tersebut,” katanya.

Sambil melihat realita rasisme sebagai fenomena yang keras, banal dan sadis, Abi berusaha menciptakan bauran antara realita tersebut dengan simbol-simbol fiktif, misalnya dengan menghadirkan sosok Sarap yang sakit jiwa dan konsep kampung Jalu, suatu model perumahan babakan masyarakat Betawi.

“Aku pikir, dengan lakon ini mau mengisahkan tentang situasi masyarakat Jalu yang mengalami kesakitan, atau sebentuk rasisme,” terangnya.

Namun, Abi dengan cerdik mengeluarkan traumatik anak-anak muda dalam melihat isu rasisme dengan menghadirkan ragam permainan khas anak-anak dan musik-musik tradisional Betawi. Hal itu untuk mengembalikan pikiran anak-anak muda dari banalitas rasisme yang kian menjamur.

Rasisme terhadap masyarakat Betawi yang masih hidup sampai saat ini, terutama sebagai bias dari industri perfilman Indonesia, adalah stereotipe yang menyematkan orang Betawi sebagai orang yang kasar, keras, dan suka menyindir serta suka kawin.

Sementara bagi orang-orang timur Indonesia, rasisme itu melekat erat melalui stereotipe yang mengatakan orang timur sebagai orang miskin, keras, seram, hitam, dan jahat.

Model-model stereotipe ini hidup di hampir seluruh komunitas, suku, dan budaya dan hanya menungu bom waktu untuk terjadi percekcokan yang tajam, baik bagi masyarakat Betawi maupun orang-orang timur.

Bangkitkan Akhlak Anak Didik

Berbeda dengan pentas Teater Layar 61, komunitas Teater Stop SMK Pusaka 1 menampilkan lakon “Tak Ada Bintang Di Dadanya” untuk mengisahkan pengabdian seorang guru agama yang kian penting di era sekarang.

Sutradara Teater Stop Zubir Mustaqim mengungkapkan, melihat kondisi akhir-akhir ini, di mana banyak kejadian mengerikan, maka lakon tersebut berupaya membangkitan kembali akhlak yang dianggap mulai pudar dari kehidupan anak-anak muda saat ini.

“Guru agama ini penting untuk membangkitkan kembali akhlak ini,” katanya.

Bagi Zubir, posisi guru agama yang dianggap kurang penting dalam tatanan pendidikan kita mesti diperhatikan kembali. Sebab jasanya begitu besar dalam pendidikan, di mana pendidikan keagamaan hampir membentuk seluruh moral, tatakrama dan akhlak peserta didik.

“Kalau matematika salah, itu masih bisa dimaklumi. Tapi kalau agama kita salah, maka abis kita,” paparnya.

*Daniel Deha

Baca Juga

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...