78 Seniman Nusantara Rayakan Keberagaman Lewat Pameran Seni Rupa

Portal Teater – Tujuh puluh delapan perupa dari seluruh Nusantara merajut persatuan dan merayakan keberagaman lewat pameran seni rupa yang digelar dalam kerjasama dengan Bentara Budaya Jakarta.

Melalui tajuk “Ngumpulke Balung Pisah,“ pameran seni rupa jilid ketiga “Japuik Tabao” ini akan menampilkan sebanyak 77 karya dari berbagai macam aliran seni rupa.

“Japuik Tabao” adalah ungkapan dari Bahasa Minang, Sumatra Barat, yang berarti “Menjemput Kehadiran”.

Pada Kamis (10/10), pukul 19.30 WIB, pameran ini akan dibuka oleh Hanifah Komala di Bentara Budaya Jakarta, Jln. Palmerah Selatan No.17 Jakarta Pusat.

Hanifah Komala adalah pencinta seni yang mengoleksi lukisan pada saat kembali ke Indonesia tahun 1990. Karena kecintaannya itu, ia berkenalan dengan beberapa seniman, termasuk Stefan Buana, penggagas pameran ini.

Pameran ini akan dirangkaikan dengan acara workshop bertemakan Musik Budaya, “Dialektika Talempong Pacik“, bersama Rijal Tanmenan, dkk. pada Jumat (11/10) pukul 15.00 WIB.

Tidak hanya itu, masih sebagai jalinan acara pameran ini diputar pula film-film karya sineas muda Rizqy Vajra (“Surau Kito”) dan Yudha Wibisono (“Laruik Sandjo”). Pemutaran film akan digelar pada Sabtu (12/10) pukul 16.00 WIB.

Merayakan Keberagaman

Stefan Buana dari Barak Seni mengatakan, kegiatan pameran seni rupa dan film lintas etnis ini terinspirasi dari budaya Suku Minang yang terbiasa “membumi” di manapun perantauannya.

Budaya Minang, bagi Stefan, sangat egaliter karena secara kental, khas dengan penghormatan pada perbedaan pendapat.

“Lewat Japuik Tabao, kami akan sampaikan tentang indahnya perbedaan, keberagaman di tanah air tercinta ini,” tulisnya dalam Katalog pameran.

Setelah pada pameran pertama dan kedua hanya melibatkan beberapa seniman Padang Panjang, Yogyakarta dan Bali, tahun ini Japuik Tabao melibatkan seniman ibukota dan kota-kota lain di Indonesia.

Pertemuan ini didasari atas pertemuan karya, sehingga keberadaan mereka ditandai dengan pameran seni rupa bersama yang menghadirkan karya-karya dari seniman yang disebut lintas etnis atau lintas budaya.

Keberagaman budaya itu tergambar dari keikutsertaan para perupa dalam pameran ini yang berasal dari Aceh, Minang, Jakarta, Yogyakarta, Riau, Surabaya, Bali, Manado, Banten, Kalimantan dan Papua.

“Para seniman itu menjadi gambaran keragaman etnis dan budaya di Indonesia,” tulis Rain Rosidi, Dosen Institut Seni Indonesia, mengutip Katalog pameran.

Keberagaman ini pula yang ditangkap oleh Efix Mulyadi, kurator Bentara Budaya, ketika melihat puluhan karya rupa seniman dalam pameran ini.

“Bentara Budaya dengan tangan terbuka ikut memfasilitasi pameran ini, dengan harapan agar keberagaman seni budaya benar-benar tumbuh dan mewujud di seantero wilayah Indonesia,” katanya.

Gagasan Awal

Ide untuk bergerak melintasi berbagai wilayah dan mengajak berbagai identitas ini dimotori terutama oleh para seniman di Barak Seni Yogyakarta, studio milik Stefan Buana.

Dari studio ini para seniman merumuskan gagasan untuk menggulirkan acara-acara yang bertemakan kebersamaan.

Mereka menilai, sebagai bangsa yang besar, para pelaku seni perlu untuk mengabarkan dan menyebarkan semangat kebersamaan dalam membangun bangsa.

Japuik Tabao adalah gerakan organik yang bertumbuh, berangkat dari niat baik untuk merajut keberagaman negeri, menumbuhkan semangat bersama untuk membentuk gambaran Indonesia yang beraneka warna, indah dan terbuka.

Dari awal penyelenggaraannya di tahun 2016, pameran ini dimaksudkan sebagai ajang bertemunya seniman-seniman yang memiliki latar belakang etnis dan budaya yang berbeda.

Di dalam catatannya, Stefan menekankan pentingnya seniman untuk menampilkan keberagaman budaya Indonesia sehingga masyarakat luas dapat menghargai setiap perbedaan yang tampak dalam suatu karya.

Nama-nama seniman partisipan dalam dibaca selanjutnya di sini.

*Daniel Deha

Baca Juga

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Membaca “Ditunggu Dogot”: Berkhidmat dan Mengakrabi Penonton

Portal Teater - Dua aktor kawakan, Slamet Rahardjo dan Nano Riantiarno, membacakan naskah “Ditunggu Dogot” ditemani penulis naskah Sapardi Djoko Damono dan Yola Yulfianti (sutradara). Pembacaan...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...