Ada Pentas Kolaborasi di Puncak Etno Musik Festival 2019

Portal Teater – Gelaran perdana Etno Musik Festival telah berakhir pada Kamis (12/9). Digagas Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta, event ini digelar selama lima hari di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, 8-12 September 2019.

Pada hakekatnya, festival musik tradisi ini bertujuan untuk memperkuat literasi musik tradisi Nusantara. Lebih dari itu, ingin membangkitkan ingatan publik seni akan kekayaan budaya, tradisi, dan musik tradisional yang hidup dan berkembang di tiap suku bangsa di Indonesia.

Pada malam puncak festival, uniknya, tampil beberapa grup musik tradisi, baik dari dalam maupun luar negeri dalam sebuah pentas kolaboratif. Pentas penutup festival ini dimulai pada pukul 20.00 WIB.

Adalah Wang Jin Yu dan Sun Riu dari China yang tampil bersama-sama dengan painis Indonesia, Erika Febrini. Dalam pentas itu, Erika lebih menempatkan diri sebagai pengiring bagi penampilan musik tradisi China Dawai “HU” oleh Wang dan Sun Rui.

Wang Jin Yu memainkan Musik Dawai China "HU" pada Etno Musik Festival 2019, Kamis (12/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Wang Jin Yu memainkan Musik Dawai China “HU” pada Etno Musik Festival 2019, Kamis (12/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Wang dalam pementasannya memainkan alat musik yang disebut Erhu. Alat musik ini berupa biola vertikal dua senar. Pada umumnya, senar-senar Erhu distem dengan jarak interval lima, dan direnggangkan di atas soundbroad kayu yang berbentuk seperti drum dan ditutupi kulit ular, dan tanpa fingerboard.

Masih sejenis dengan musik dawai Erhu, adalah Banhu. Alat musik ini umumnya digunakan untuk mengiringi opera rakyat di bagian utara China.

Seperti Erhu, Banhu juga memiliki dua senar, yang diletakkan secara vertikal di atas pangkuan pemain, sedang busur dikaitkan di antara dua senarnya. Soundbox-nya terbuat dari batok kelapa yang ditutup dengan papan kayu.

Wang memulai bermain alat musik Erhu pada usia 7 tahun, dan Banhu sejak tahun 2010 lalu. Ia menjuarai beberapa kompetisi Erhu yang dilaksanakan di negaranya.

Tahun 2003, Wang menjuarai National Erhu Youth Competition. Kemudian tahun 2012, ia melanjutkan kuliah di Shanghai Conservatory, China.  Tahun 2014, Wang meraih medali perak dalam ajang “The 4th International Traditional Chinese is Competition” kategori Banhu.

Sanxian, yang dimainkan Sun Rui, adalah alat musik petik paling tua di China, selain Guzheng, Erhu, atau Ruan. Sanxian menjadi instrumen paling populer ketika dibawa ke Jepang pada masa pemerintahan dinasti Ryukyu (abad XVI-XVII). Di Jepang namanya berubah menjadi Shamisen.

Sun Rui memainkan Sanxian pada Etno Musik Festival 2019, Kamis (12/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Sun Rui memainkan Sanxian pada Etno Musik Festival 2019, Kamis (12/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Meski dipercaya bahwa Sanxian sudah ada pada abad ke-13 pada masa dinasti Yuan, tetapi masih sangat sedikit data-data pendukungnya.

Pada masanya, Sanxian dimainkan sebagai iringan musik untuk Quyi (lagu) dan dianggap sebagai instrumen yang tidak mampu memainkan karya lagu yang sulit. Karenanya para musisi China mulai memodifikasi Sanxian, baik dalam bentuk, senar dan bridge.

Selain Sanxian, Sun Rui juga memainkan Dizi, instrumen China yang tertua dan terpopuler. Dizi terbuat dari bambu dan sudah dikenal sebelum jatuhnya zaman Tiga Dinasti (220-280 SM).

Menurut catatan sejarah, pada masa dinasti Sui (581-618 SM) dan dinasti Tang (618-907 SM), penggunaan instrumen Dizi sebagai instrumen menjadi hal yang umum dalam masyarakat China.

Dizi mencapai puncak kejayaannya pada masa dinasti Qing (1636-1912) karena ia digunakan di hampir semua upacara, baik musik rakyat, pertunjukan musik, dan opera.

Saat ini, Dizi sudah mengalami banyak perkembangan jenisnya, misalnya ada Bangdi dan Qudi, dua jenis Dizi yang digunakan pada pentas orkestra musik tradisi China.

Sun Rui mulai bermain musik-musik tradisi China, seperti Dizi, Guzheng, dan Sanxian pada usia yang masih amat muda. Selama studi di Nanyang Academy of Fine Arts Singapore, Sun Rui aktif sebagai bagian dari orkestra musik tradisi China dan tampil di beberapa festival internasional, seperti Malaysia, China, Taiwan, dan Eropa.

Kepiawaian Wang, Erika dan Sun memainkan bauran alat musik tradisi dan kontemporer itu, selain memperlihatkan panggung internasional dari sebuah pertunjukan musik, serentak menunjukkan adanya keterhubungan yang tak terlepas antara kedua jenis musik itu.

Sesembahan Kepada Dewi Padi

Sanggar Seni Sunda Lugina dari Rancakalong, Sumedang, Jabar, pada malam puncak Etno Musik Festival menampilkan ritual syukuran panen yang disebut Tarawangsa.

Ritual Tarawangsa pada Etno Musik Festival 2019, Kamis (12/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Ritual Tarawangsa pada Etno Musik Festival 2019, Kamis (12/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Menurut cerita rakyat yang berkembang di daerah Jawa Barat, Tarawangsa dimulai pada kekuasaan Mataram (1550).

Pada masa itu, Rancakalong mengalami bencana kelaparan akibat gagal panen. Bencana tersebut dipercaya masyarakat setempat sebagai ketidaktaatan mereka terhadap Dewi Sri (Dewi Padi).

Diinisiasi seorang tokoh masyarakat, diutuslah ke Mataram untuk mengambil bibit padi. Ternyata bibit padi tersebut bertumbuh baik, sehingga tidak ada lagi gagal panen.

Meyakini kehadiran dan restu Dewi Sri, masyarakat Rancakalong pun menunaikan syukuran itu lewat tradisi kesenian, musik dan tari. Akhirnya, Tarawangsa hidup dan berkembang baik di masyarakat Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat.

Insrumen yang digunakan dalam Tarawangsa adalah Jentreng, yaitu alat musik petik serupa kecapi dengan hanya dua senar. Tarawangsa dimainkan seperti Rebab.

Ritual Syukur dan Penyembuhan

Seperti terjadi di hampir semua kebudayaan atau tradisi, ada ungkapan-ungkapan simbolik masyarakat-budaya terhadap kekuatan supranatural yang mengayomi hidup mereka, baik melalui bahasa, kesenian, atau upacara (ritual).

Ritual Vae dan Tindua oleh Grup Pedati dari Suku Kaili, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (12/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Ritual Vae dan Tindua oleh Grup Pedati dari Suku Kaili, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (12/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Hal itu beriringan konteks dan struktur kebudayaan yang hidup pada masa tersebut. Misalnya, pada masyarakat agraris, industri, atau post-industri.

Pada masyarakat agraris, ungkapan syukur panen menjadi ritual/tradisi tersendiri, di mana masyarakat mengungkapkan kegembiraan karena kelimpahan hasil tanah mereka. Mereka percaya ada campur tangan yang besar dari sang Ibu Padi, yang di masing-masing bahasa, ada simbol dan nama Ibu Padi tersendiri.

Seperti halnya dengan ritual Tarawangsa di masyarakat Rancakalong, masyarakat Suku Kalili, di Palu, Sulawesi Tengah pun merayakan ritual yang sama, yaitu ritual syukuran panen, yang disebut Vae.

Prosesi adat ini Kaili ini dibawakan oleh Grup Pedati yang beranggotakan Saprin, Ardiles Dagolembah, Fahmi Badrun, Rinto, Pudin, Rino, dan Fitria Ningsih.

Vae adalah sebuah nyanyian dalam tradisi Suku Kaili yang merupakan ungkapan kegembiraan pada saat upacara syukuran panen.

Ungkapan ini dinyanyikan dengan cara berulang kali dalam durasi yang cukup lama. Biasanya dinyanyikan semalam suntuk. Vae juga dapat membangun nuansa sakral sekaligus menyemangati peserta yang hadir dalam ritual.

Ketika ritual berlangsung, Vae dimainkan pada jeda pergantian antara doa dan mantra pembuka dan penutup. Di kota Palu, dan daerah sekitar, Vae sudah jarang terdengar. Selain karena pengaruh modernisme, di mana pertanian telah menurun, para pewaris juga engga memainkannya karena ritual ini bersifat eksklusif.

Sebagai kelanjutan dari Vae, Grup Pedati, sebagai representasi masyarakat Kaili, juga melakukan ritual yang disebut Tindua, yaitu nyanyian kearifan Suku Kaili yang dilantunkan seusai upacara syukuran panen (Vae) tersebut.

Tindua sebagai ritual penyembuhan, bertujuan untuk menghibur dan mengungkapkan rasa persaudaraan, perhatian, dan persatuan di antara sesama masyarakat.

Tradisi ini hampir punah karena ada kesenjangan yang tajam antara generasi tradisionalis dengan generasi masa kini, dengan segala perubahan dan dinamismenya.

Tifa Dari Papua

Puncak Etno Musik Festival juga menyuguhkan showcase Dijiro dan Tifa dari Papua oleh komunitas musik anak-anak Papua di Teras Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta, Kamis (12/9), pukul 19.00 WIB.

Tifa merupakan alat musik khas Indonesia bagian Timur, khususnya Maluku dan Papua. Tifa dimainkan dengan cara dipukul seperti Gendang. Ada beberapa jenis Tifa, seperti Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas.

Showcase Dijiro dan Tifa dari Papua pada Etno Musik Festival 2019, Kamis (12/9). Gigih ibnur/DKJ.
Showcase Dijiro dan Tifa dari Papua pada Etno Musik Festival 2019, Kamis (12/9). Gigih ibnur/DKJ.

Alat musik ini bentuknya menyerupai Kendang dan terbuat dari kayu yang di lubangi tengahnya. Biasanya penutup lubangnya menggunakan kulit rusa yang telah dikeringkan agar menghasilkan suara yang bagus dan indah.

Tifa dihiasi banyak ukiran unik dan menarik di sepanjang sisinya. Setiap suku di Maluku dan Papua memiliki Tifa dengan cirinya yang khas.

Tifa biasanya digunakan untuk mengiringi tarian perang dan di beberapa tarian daerah lainnya seperti tari Lenso dari Maluku. Selain itu juga dimainkan bersama-sama dengan alat musik lain untuk mengiringi Totobuang, tarian tradisional suku Asmat, dan tari Gatsi.

Dalam setiap ritual adat, hanya para pria dewasa yang diperkenankan untuk memainkan Tifa maupun alat musik lainnya sebagai musik ritual. Sedangkan perempuan dilarang untuk memainkannya.

*Daniel Deha 

Baca Juga

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...