“Aib dan Nasib” Karya Minanto Juarai Sayembara Novel DKJ 2019

Portal Teater – Novel “Aib dan Nasib” karya Minanto, sastra etnografis yang mengangkat cerita tentang kehidupan warga desa Tegalurung, Indramayu, Jawa Barat, memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2019.

Hal ini memantulkan kenyataan bahwa belakangan para penulis yang lebih muda mulai menaruh perhatian pada eksplorasi sastra berbasis riset etnografis yang memotret isu lokalitas, dari sebelumnya perhatian pada isu urbanitas.

Geliat itu juga ditemukan dalam dua karya pemenang lainnya, yaitu Panji Sukmo Her Asih (juara II) melalui novel “Sang Keris” dan Erni Aladjai (juara III) lewat “Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga”.

Panji dalam novelnya bercerita tentang sebilah keris bernama Kyai Kanjeng Karonsih sebagai pengelana waktu yang berpindah-pindah tangan melintasi sejarah Indonesia.

Demikian pula dengan Erni yang menyoroti potret kehidupan masyarakat Desa Kon, Maluku, mulai dari pembunuhan, kehidupan keluarga yang didominasi perempuan, memuat elemen supranatural, dan monopoli tata niaga yang merugikan rakyat.

Tahun lalu, novel “Orang-Orang Oetimu” karya Felix K. Nesi yang memenangkan sayembara serupa, juga memunculkan genre sastra etnografis yang secara pekat menyoroti isu lokalitas.

Punya Gairah Eksperimen

Zen Hae, salah satu juri Sayembara Novel DKJ dalam pemaparan pertanggungjawaban juri mengatakan, karya Minanto merupakan salah satu dari segelintir naskah yang punya gairah eksperimen: mawas bentuk, dengan fragmen-fragmen yang ketat, berlapis-lapis dan susul-menyusul.

Fragmen-fragmen yang ringkas satu-dua halaman, dalam novel ini tampak disiplin dan konsisten: bergerak beriringan, keluar-masuk, maju-mundur, hingga bagian akhir yang kembali ke awal dalam bentuk sirkular, dengan peralihan yang mulus.

“Penyusunan fragmen yang ketat membuat novel ini terasa padat, dengan akhir menggantung yang penuh kejutan hamoir di tiap fragmen,” katanya di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (4/12) malam.

Selain itu, kata penulis cerpen Rumah Kawin itu, novel ini memiliki tokoh utama yang banyak, namun karakterisasi tiap tokoh bulat dan distingtif, saling menimpakan sebab akibat yang kait-mengait dalam aib dan nasib mereka.

Meski tidak menggunakan bahasa sastrawi, penulis Ruang Tunggu itu menandaskan, novel ini ditulis dengan bahasa yang relaitf baik dan lentur, serta humor khas daerah.

“Hampir tidak ada kalimat yang goyah,” tegasnya.

Meski demikian, masih ada kata yang hilang atau mubazir, termasuk juga kosakata lokal yang luput untuk diterjemahkan.

Representasi Kehidupan Masyarakat Lokal

Dalam sebuah kesempatana wawancara Minanto menceritakan, karya novel yang ditulis sejak tahun 2018 itu lebih merupakan representasi kehidupan masyarakat Indramayu yang diobservasi dan dilihatnya.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam novel ini bukan tokoh yang fiktif sama sekali, melainkan tokoh-tokoh yang dianggap cukup nyata, karena orang-orang yang ditulisnya memiliki kedekatan material dan emosional dengannya.

Namun dalam penyajiannya, permasalahan tokoh-tokoh tersebut dibuat sekian agar tidak saling bersentuhan antara satu dengan yang lainnya.

“Orang-orang itu ada dalam kenyataan di masyarakat Indramayu,” katanya di Lobby Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lulusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran Bandung itu menambahkan, lewat novel tersebut, setidaknya nilia-nilai yang dihidupi orang-orang Indramayu bisa hidup dan diketahui oleh banyak orang di luar.

Itulah sebabnya, Minanto tidak hanya menampilkan permasalahan-permasalahan spesifik yang dihadapi tokoh-tokoh, melainkan juga memberikan ruang kepada tokoh-tokoh itu agar dapat bersuara di benak pembaca.

“Mereka cuman tokoh-tokoh kecil yang tidak heroik banget, tapi mereka perlu didengarkan dalam satu struktur sosial yang ada, misalnya,” tuturnya.

Untuk menyebarkan gagasan sebanyak mungkin kepada pembaca, Minanto berusaha adil dengan memberikan porsi narasi yang seimbang kepada tiap tokoh agar mereka memiliki ruang untuk bersuara.

Mula-mula, ia berpikir untuk menulis hanya dengan satu tokoh utama. Namun dalam proses pengendapan, ia lebih memilih menyajikan sebanyak mungkin tokoh utama untuk merepresentasikan seluas mungkin permasalahan kaum periferi.

Misalnya, dalam tokoh Boled Boleng, yang menurut masayarakat dianggap sebagai orang sinting. Tapi sebenarnya ia bukan orang sinting, melainkan disintingkan oleh konstruksi sosial masyarakat.

“Karena itu, saya berusaha membenturkan pandangan masyarakat terhadap dia, dan suara dia sendiri,” terangnya.

Pada intinya, kata Minanto, novel ini ingin mengatakan bahwa semua orang pada dasarnya berkehendak untuk berbuat baik, tapi kerap terkendala oleh apa yang ‘kurang’ dalam dirinya, atau apa yang kemudian disebut sebagai aib.

“Itu sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sebenarnya istilah aib merupakan anggapan masyarakat terhadap orang itu,” ungkapnya.

Dengan kemenangan ini, guru Bahasa Inggris pada salah satu sekolah menengah di Indramayu itu mendapat hadiah sebesar Rp30 juta dari panitia penyelenggara.*

Baca Juga

“CAGAK”: Berani Memilih Jalan yang Benar

Portal Teater - Jika seorang anak manusia dikondisikan untuk memilih salah satu dari dua pilihan beroposisi biner: kebaikan atau keburukan, maka ia akan memilih...

Digitalisasi Arsip Dewan Kesenian Jakarta Terkendala

Portal Teater - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyimpan banyak arsip dan koleksi seni berupa kertas (kliping koran, poster, naskah drama/teater), foto, lukisan, buku dan...

Lestarikan Budaya Betawi, Sudin Kebudayaan Jaksel Bina 60 Sanggar Seni

Portal Teater - Untuk memperkuat ekosistem kesenian kota berbasis komunitas, Suku Dinas (Sudin) Kebudayaan Jakarta Selatan memfasilitasi pembinaan bagi 60 sanggar seni di Hotel...

Terkini

Jelang Pameran, Julian Rosefeldt Kuliah Umum “Manifesto”

Portal Teater - Tiga hari menjelang pameran, seniman dan pembuat film asal Jerman Julian Rosefeldt akan memberikan kuliah umum bertemakan "Manifesto", judul dari karya...

FTP 2020: Ruang Bagi Generasi C Bereksplorasi

Portal Teater - Sepuluh tahun lalu, Dan Pankraz, peneliti dan Direktur Perencanaan/Strategi Pemuda pada DBD Sydney, Australia, pernah mengatakan, Generasi C (Gen C) bukanlah...

Lestarikan Budaya Betawi, Sudin Kebudayaan Jaksel Bina 60 Sanggar Seni

Portal Teater - Untuk memperkuat ekosistem kesenian kota berbasis komunitas, Suku Dinas (Sudin) Kebudayaan Jakarta Selatan memfasilitasi pembinaan bagi 60 sanggar seni di Hotel...

Dewan Kesenian Jakarta Minta Anies Kaji Ulang Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menyusul polemik yang mengemuka di ruang publik, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) akhirnya meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengkaji ulang proyek revitalisasi...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...