Akhir Pekan Ini, Nano dan Ratna Pentas Kembali “Tanda Cinta”

Portal Teater – Dua aktor senior teater yang sekaligus merupakan pasangan suami-istri, Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno, akan kembali ke panggung pertunjukan teater akhir pekan ini.

Namun berbeda dari sebelumnya ketika mereka masih muda dan aktif bermain di Teater Koma yang mereka dirikan (1977), kali ini pasangan Nano-Ratna akan bermain lewat teater digital.

Pertunjukan “Tanda Cinta” karya dan sutradara Nano ini akan disiarkan secara langsung atau live streaming di situs Indonesia Kaya (www.indonesiakaya.com) dan Youtube Indonesia Kaya, pada 27 dan 28 Juni 2020, pukul 15.00 WIB.

Pertunjukan ini merupakan persembahan Bakti Budaya Djarum Foundation dan Teater Koma yang berupaya agar insan teater tetap bisa nonton pertunjukan selama pembatasan sosial di rumah.

“Tanda Cinta” pertama kali dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, pada 27-29 Juli 2005 silam.

Kemudian, lakon yang dipentaskan dalam durasi 99 menit ini dipentaskan ulang di Komunitas Salihara, 15-24 Mei 2009.

Naskah ini sebetulnya digarap sejak 2002 untuk merayakan pesta perak pernikahan Nano dan Ratna, tapi batal dipentaskan.

Sepanjang pengkaryaan Teater Koma, Nano dan Ratna merupakan dua punggawa utama dari keberhasilan dan kebesaran komunitas teater berbasis Bintaro, Jakarta Selatan ini.

Di atas panggung keduanya memerankan karakter berbeda yang membuat perbedaan dengan kehidupan nyata sebagai suami-istri.

Nano dan Ratna Riantiarno akan mementaskan ulang teater "Tanda Cinta" akhir pekan ini. -Dok. Teater Koma.
Nano dan Ratna Riantiarno akan mementaskan ulang teater “Tanda Cinta” akhir pekan ini. -Dok. Teater Koma.

Momen Istimewa

Teater “Tanda Cinta” kali ini sekaligus akan menjadi momen istimewa, karena kedua pasangan ini persis akan merayakan HUT pernikahan mereka yang jatuh pada 27 Juli mendatang.

Tahun ini, pernikahan kedua pasangan seniman teater ini sudah menginjak usia ke-42 tahun (Juli 1978). Delapan tahun lagi, pasangan Nano-Ratna akan merayakan usia emas pernikahan.

Selain itu, lakon ini akan menjadi panggung kebahagiaan bagi Nano yang bulan ini merayakan hari ulang tahun ke-71. Tepatnya 6 Juni lalu. Sementara Ratna merayakan HUT ke-68 tahun, 23 April lalu.

Melalui lakon ini, Nano dan Ratna seolah ingin kembali merefleksikan kehidupan bahtera rumah tangga mereka selama empat dasawarsa.

Seperti pernah dikatakan Nano, melansir Kapanlagi.com, bahwa lakon ini merupakan ilham dari kehidupan cintanya.

Nano yang mengawali karir panggungnya pada 1965 di kota Cirebon, Jawa Barat, lama aktif berkecimpung di dunia jurnalistik sebelum terjun ke dunia teater bersama Teater Populer Teguh Karya.

Sementara Ratna pada mulanya aktif sebagai penari bahkan berkarir sebagai sekretaris, jabatan yang kemudian dilepasnya.

Ia kemudian banting setir dan mengikuti jejak Nano di dunia teater sejak 1969 bersama Teater Kecil-nya Arifin C. Noer.

Teater merupakan wadah pertemuan mereka, dan sepertinya dunia seni pertunjukan itu pula yang membuat cinta mereka terus awet.

Dalam lakon ini, Nano tidak terlalu melibatkan urusan rumah tangga di atas panggung. Karena itu, ia mencoba memperluas pesan karya ini pada urusan yang lebih luas, yaitu kehidupan berbangsa.

Seperti halnya kehidupan rumah tangga, bila tidak ada cinta dari anak bangsa, maka yang muncul adalah kekerasan, atau korupsi seperti yang belakangan ini melanda Indonesia.

Eksistensi Mendahului Esensi

Lakon ini bercerita tentang seorang suami yang hingga ambang usia tuanya masih terus mempertanyakan: “Masih Adakah Cinta di antara Kita?” lantaran sang istri enggan menjawab tiap kali ia bertanya.

Sang suami tidak hanya berhadapan dengan kegelisahan dari diamnya sang istri, tapi juga tiadanya jawaban itu membuat ia memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru di kepalanya.

Bagi istri, seperti hal perempuan kebanyakan, mencinta tidak harus selalu dengan kata-kata, tapi lebih menyata dalam perbuatan.

Seperti dalam kisah “Canting” karya Arswendo Atmowiloto yang mengisahkan kesetiaan dan kehadiran Bu Bei dalam hidup Pak Bei.

Namun terdorong oleh naluri dan logika laki-laki, membuat sang suami terus meyakini, bahwa kata-kata lebih penting dari diam. Meski, pepatah selalu mengatakan “diam itu emas”.

Tergoda untuk mencari jawaban terdalam sang istri, sang suami mulai bertindak di luar kebiasaan normal.

Ia menulis kata-kata “Masih Adakah Cinta Di Antara Kita?” dalam sebuah pamflet cinta dan menyebarkan ke orang-orang sekitar.

Di kolom jawaban, ia hanya menyediakan dua jawaban: “masih ada” atau “tidak ada”. Tidak ada jawaban alternatif di luar keduanya.

Setelah disebarkan, ia lama menati kembalinya jawaban publik. Tak satu pun jawaban yang datang melunasi utang pertanyaannya.

Seperti syair lagu Ebit G. Ade, sang suami pun bertanya kepada langit dan bintang-bintang yang bertaburan di langit. Tak ia sepotong pun jawaban dari penguasa malam itu.

Waktu terus berderak. Usianya menua. Ia mulai menyadari bahwa dalam hidup perkawinan, cinta tak selalu ditanya. Cinta tak seperti filsafat yang memiliki banyak “tanya” di ubun-ubun-nya.

Dalam kehidupan rumah tangga, kehadiran istri sebagai pendamping hidup, yang melayaninya tiap hari, itulah jawaban mutlak.

Kehadiran istri seolah melunasi semua pertanyaan esensial tentang cinta, atau meminjam istilah eksistensialisme Jean-Paul Satre: “eksistensi mendahului esensi”.*

Baca Juga

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...