Aku Meriang, Bukan “Menyisir Aku Meriang”

Portal Teater – Kalau Anda penggemar lagu dangdut, kemungkinan besar mengenal lirik lagu Cita Citata: “aku meriang, aku merindukan kasih sayang”. Lagu ini kembali dihadirkan Teater Tagar Jagat dalam pentasnya di pembukaan pameran “Suara-Suara dari (Bawah) Laut” di Museum Sejarah Jakarta, 7 Mei lalu.

Pentas itu membuat saya sungguh ‘meriang’ karena ada gangguan virus yang masuk ke dalam tubuh saya; kemudian seolah ‘sakit’ lebih serius dan perlu dibawa ke dokter, sekaligus sebagai sosok manusia yang asing dengan kasih sayangnya dalam keterlibatan setiap peristiwa pemanggungan.

Keterikatan teks hasrat dalam pentas itu ingin menyuarakan ikatan batin secara emosional dari masyarakat pesisir Cilincing, Jakarta Utara, sekalipun in between.

Namun pemanggungan “Menyisir Aku Meriang” Teater Tagar Jagat yang disutradarai Abi ML seperti menggiring setiap pengunjung kepada situasi “demam” karena terlalu banyak ‘gangguan yang mengganggu’, atau ‘gangguan yang tidak sama sekali memprovokasi’.

Karena pada umumnya tubuh-tubuh para aktor juga mengalami ‘meriang’ sesungguhnya sehingga gagap dalam opening pameran. Bahkan keterhimpitan ruang pameran semakin menjadi virus bagi mereka yang semakin membuatnya ‘sakit’ sehingga puluhan kulit kerang yang dijatuhkan di pintu penghubung juga tidak memiliki suara-suara berarti. Kebusukan bau kerang itu terlalu takut digiring pada ruang yang sudah terhimpit dengan perabotan lingkungan (bawah) laut dengan pertimbangan estetika dan lain-lain.

Pengunjung menikmati pameran "-2 M Suara - Suara dari (Bawah) Laut. -Dok. Berita24/Ahmad Tri Hawaari.
Pengunjung menikmati pameran “-2 M Suara – Suara dari (Bawah) Laut. -Dok. Berita24/Ahmad Tri Hawaari.

Keterhimpitan Ruang Pameran dengan Arsip

Bau busuk rupanya luput dari isu yang ingin disampaikan secara hakiki. Puluhan kulit kerang itu ketika ditabur dalam ruang yang sedang ‘sakit’ mungkin akan menggiring atau menyekap otak setiap manusia yang awalnya tampak didominasi dari jajaran dinas pemerintahan museum sejarah, barangkali akan lebih menarik secara provokatif.

Suara-suara azan yang dimaksudkan sebagai hubungan vertikal dalam ruang kosmos antara manusia dengan Tuhannya, sebagai cara memanggil makhluknya untuk melakukan pertemuan secara hakiki, tidak terlalu memberikan pengaruh berarti ketidakpedulian manusia dengan busuknya kulit kerang, kemudian aktivitas ibu-ibu bermain dengan anak-anak, ataupun yang sedang melakukan praktik seni terampil khas Cilincing.

Aktivitas lingkungan (Irwan Ahmett, dkk) yang mengelilingi ruang dengan membawa benda ritus juga hanya menjadi prosesi yang ‘meriang’.

“Performing on stage, performing in special social situations (public ceremonies, for example), and performing in every-day life are a continuum. These various kinds of performing occur in widely divergent circumstances, from solo shows before the mirror to large-scale public events and rituals, from shaman healing rituals to identity-changing trances, from theatre and dance to the great and small roles of every-day life. This broad spectrum of performing can be depicted as a continuum with each category leading to, and blending into, the next” (Richard Schechner: Performance Studies an Introduction, Third Edition. New York, 2013: 170).

Kutipan tersebut semakin memperkuat asumsi bahwa ruang pameran sebagai spektrum kerja yang harus disadari adalah bagaimana ‘etalase di mal’ dengan memiliki pengunjungnya sendiri di mana keberadaan ikatan emosional yang baik untuk saling berkomunikasi dan bertransaksi.

Sebab dalam kondisi ‘meriang’ sangat memungkinkan tubuh tidak mampu lagi menawarkan barang dagangan; opening pameran yang hendak ditawarkan atau seorang sales memprovokasi produknya masing-masing.

Ada semacam kontinum ‘kemeriangan’ personal dalam menciptakan kemungkinan ruang untuk bertutur yang luput bahwa apa yang dilakukannya sudah berada pada produk pertunjukan yang mengarah pada penyatuan ritus.

Lala Nuridayanti berdiri di atas sumur yang juga kemungkinan ‘meriang’ di antara pengunjung yang asyik dan tidak asyik menikmati performanya yang sangat ‘meriang". -Dok. AWE.
Lala Nuridayanti berdiri di atas sumur yang juga kemungkinan ‘meriang’ di antara pengunjung yang asyik dan tidak asyik menikmati performanya yang sangat ‘meriang”. -Dok. AWE.

Kumpulan-kumpulan barang dagangan di sebuah ruang juga kurang dimanfaatkan dengan baik seperti lukisan dan kerangka-kerangka besi ataupun kayu. Satu hal yang cukup serius: opening pameran lainnya yang tidak berpenghuni tidak menjadi milik dalam perebutan hak manusia.

Padahal secara retorika, manusia selalu berlomba-lomba masuk pada ruang keserakahan dan ketamakan ketika barang lainnya tidak memiliki nama atau tanpa hak milik siapapun; muncul aroma kekuasaan ingin memiliki material yang ‘tak bernama’ (namun punya nama) atau kolaborasi data selayaknya dipertimbangkan dari awal.

Praktik upacara seperti yang diungkapkan Schechner juga selayaknya diberikan motif suasana melalui dua karung kulit kerang, bahkan sampai puluhan karung kulit kerang yang busuk berpotensi jadi mual dan muntah, kemudian dinetralisir dengan air mineral atau praktik sosial lainnya yang menyerupai ritus tersebut.

Sungguh hal itu sikap kekurangajaran dalam sebuah opening pameran yang mengadopsi lingkungan Cilincing. Dari awal kemunculan sudah terlihat ‘kemeriangan’ setiap aktor berada dalam ruang pameran.

Gelap dengan mata yang tidak bisa melihat, tak terdengar dengan telinga yang tersumbat, sehingga kebusukan, barang-barang mainan, ataupun benda-beda terampil yang sudah dipersiapkan termasifikasi secara lahap dengan ruang karena tidak memiliki landasan bersikap sebagai personal.

Panggung dalam ruang sudah seperti kamar di rumah sakit, yang tidak dijenguk dengan sekumpulan kasih sayang orang-orang di sekelilingnya. Selain itu orang yang ‘meriang’ seperti hidup dalam kekusutan, dan tidak mempunyai benang kusut sekali pun untuk memindahkan ruang satu ke ruang lainnya sehingga seorang pun tak terbawa energi dalam satu produk besar di ‘etalase sebuah mal’.

Berupa orator-orator busuk pemilik ‘etalase’ konyol, misalnya. Masing-masing ‘pedagang produk’ tidak mampu menawarkan produknya sendiri sesuai selera masyarakat yang datang berkunjung dengan banyak motif ataupun modus. Saya berpikir kami semua sedang ‘meriang’ dalam tingkat tinggi.

“What is the difference between “is” performance and “as” performance? Certain events are performances and other events less so. There are limits to what “is” performance. But just about anything can be studied “as” performance. Something “is” a performance when historical and social context, convention, usage, and tradition say it is. Rituals, play and games, and the roles of everyday life are performances because convention, context, usage, and tradition say so” (Schechner, ibid).

Konteks historis dan sosial seperti perilaku penjudi maupun pekerjaan memotong seng dengan mesin gerinda kurang memberi daya pikat terhadap problematika itu. Konvensi aktor/performer yang terlalu taat pada sutradara, keberadaan kami semua yang ‘meriang’ dalam lingkungan pameran, dan tradisi kurang berlebur dengan cara berpikir personalnya untuk bersuara lantang atau sama sekali ‘meriang’ dengan ritual, permainan dalam kehidupan sehari-hari Cilincing.

Ketika Schechner membedakan performance “sebagai” dan “adalah”, saya justru melihat tidak adanya performing maupun performance di dalamnya secara makna ‘adalah’ dan ‘sebagai’.

Ketika saya coba mengembalikan ke awal pemanggungan; bahwa kami semua sudah dihantar dengan tawaran konsep in between performing dan performance, berarti berada di antara batasan antara performing dengan performance.

Lalu produk tarian dengan menggunakan bambu ataupun permainan balon seperti kolam yang dimasukkan tanah ke dalamnya sebagai sikap yang menarik secara global. Hanya problemnya adalah visual itu ‘adalah’, bukan ‘sebagai’ dalam kesatuan produk lingkungan yang ditawarkan pada kami semua.

Seandainya kulit kerang digunakan sebagai produk lingkungan yang busuk barangkali lebih provokatif, meskipun representasinya adalah tetap di antara kusut dan tidak kusut. Saya perlu benang yang kusut sekalian agar masuk pada ‘etalase-etalase mal’ yang seimbang, sehingga hilir mudik berganti tempat yang akhirnya difokuskan menjadi pilihan produk besar yang semakin ‘meriang’ ketika masuk pada ruang lainnya.

Eksperimentasi, sekalipun dalam pemanggungan yang menggiring setiap pengunjung sadar atau tidak sadar sedang berada dalam peristiwa, terkadang memang diperlukan di antara mereka; tahu dan tidak tahu bahwa pemanggungan sudah berbeda ruang.

Abi ML yang menyutradarai peristiwa tersebut nampaknya sengaja tidak memberi ikatan perpindahan ruang satu ke ruang lainnya secara jelas; agar kami semua memiliki kesadaran bahwa berada di tengah pameran obyek yang bergerak. Maksudnya adalah ketika adanya unsur kesengajaan, benang kekusutan dalam ruang pameran mesti diberlakukan untuk memberikan jawaban dari setiap pengunjung yang bertanya-tanya tentang perpindahan peristiwa tersebut.

Diperlukan penyebab rajutan kekusutan itu karena banyaknya cabang yang dipamerkan kepada pengunjung, secara tidak langsung aktor/performer harus berani menerobos dari konvensi yang sudah tersusun agar mendapatkan konstraksi dengan pengunjung agar pemanggungan memiliki wadah yang cukup memadai.

Tidak hanya sekadar artifisial perbagian peristiwa yang sudah dirancang. Inilah titik lemah ketika berada dalam ruang ‘di antara’ historis dan sosial. Karenanya hal itu tidak dilakukan; hanya memberikan kesan kalau kami semua dan mereka sudah terlalu ‘meriang’ dalam perpindahan ruang.

Suasana Pembukaan Pameran "-2 M Suara - Suara dari (Bawah) Laut". -Dok. Berita24/Ahmad Tri Hawaari.
Suasana Pembukaan Pameran “-2 M Suara – Suara dari (Bawah) Laut”. -Dok. Berita24/Ahmad Tri Hawaari.

‘Kemeriangan’ Praktik Kerja Pemanggungan

Friedrich Nietzsche dalam Schechner menulis: “The power of believing in the self one is performing Even when in the deepest distress, the actor ultimately cannot cease to think of the impression he and the whole scenic effect is making, even for example, at the burial of his own child; he will weep over his own distress and the ways in which it expresses itself, as his own audience” [. . .] 1986 [1878], Human, All Too Human, 39–40, (ibid.).

Kekuatan percaya pada diri sendiri tidak dimiliki setiap personal/performer Teater Tagar Jagat sebagaimana yang diungkapkan Schechner, bahwa hal itu mutlak, sehingga memberikan kesan pandangan peristiwa yang provokatif bahwa suasana Cilincing memanglah demikian, meskipun konsepnya di antara dan akhirnya dipatahkan kembali dengan tidak provokatif melalui tindakan statis terhadap peristiwa yang sudah diciptakannya.

Banyak cara yang bisa dilakukan ketika provokasi terhadap pengunjung berujung pada sikap atau reaksi yang ditunjukkan ke hadapan performer. Maka kemungkinan provokasi itu dihentikan dengan peristiwa di luar dugaan atau hal-hal yang sekiranya tidak ada kaitannya dengan provokasi. Selain itu, performer juga bisa mengambil sikap yang jujur dengan cara berpikirnya terhadap peristiwa yang diusung atau dikritisi.

Ada semacam penolakan batin jika mereka berada pada performing dan performance. Selain itu, usaha pemindahan keseharian juga dapat dilakukan layaknya istirahat setelah beraktivitas seperti minum kopi, menenggak air mineral, cuci tangan, ‘ngobrol ringan’ pada saat ada seorang yang mengajak berkomunikasi, dan lain sebagainya.

Namun saya melihat bahwa setiap personal yang sedang bermain ke tengah opening pameran seperti dirinya (dalam performance), bukan usaha aktor yang sedang bersikap “sebagai”; tetapi justru “adalah” mereka yang ‘meriang’ dengan segala tetek bengek (bawah) laut yang mungkin tidak terlalu penting dibicarakan, ketidakpedulian/antipati efek dari sebuah kota yang tenggelam; ketidaktahuan tentang wacana yang diusung, atau dipandang sebagai hal remeh temeh yang terpaksa dihadirkan, karena mereka tidak akrab dengan peristiwanya.

Barangkali juga setiap aktor hanya ingin tahu suara-suara dari (bawah) laut seperti apa; yang justru mungkin menjadi lebih baik ‘sebagai’ pengalaman puitik dalam tubuhnya, bukan ‘adalah’ pengalaman puitik “yang sok tahu”.

Ruang kedua opening pameran; beranda di luar ruangan yang cukup terbuka lebar dengan segala macam kemungkinan peristiwa menjadi perpindahan energi yang juga hampir sama ‘kemeriangannya’ dengan peristiwa di ruang yang terhimpit arsip.

Saya kira pemanggungan akan lebih rileks melalui gerak, peristiwa, tarian, nyanyian yang disusun secara semiotik sehingga baik sikap provokasi atau tidak memprovokasi sangat terlihat.

Namun banyak tawaran visual yang tidak memiliki tempat di hati pengunjungnya, bahkan pegawai pemerintahan museum mungkin sedang masuk rumah sakit karena ‘meriang’ yang dialaminya sudah memuncak. Malah lebih menggoda beberapa bungkus takjil yang terhidang di atas meja di antara pemanggungan tersebut. Ada disorientasi berpikir yang belum sepaham antara personal dengan sutradara dalam praktik kerja pemanggungannya.

Aktivitas memotong seng dengan mesin gerinda, menyisir tepi sumur, membuat laut dari balon anak-anak, memasak udang, bermain judi diiringi dengan lagu meriang Cita Citata, menari secara minimalis dengan bambu diiringi musik Bugis, kemudian menyanyi tentang tukang becak yang hendak diangkat jadi Gubernur Jakarta tetapi terkendala dengan ijazah.

Bahkan reportase sosok Sudirman Asun (pemerhati lingkungan hidup) sebagai potret suara-suara pameran secara global yang ingin disampaikan, semuanya kontinum ‘meriang’ yang belum terputus.

Berbicara fakta bahwa orang ‘meriang’ diakibatkan banyak hal, di antaranya pola hidup yang tidak teratur, angin malam, kurang tidur, dan makan sekenanya. Hal ini memungkinkan kehidupan masyarakat pesisir laut yang notabane adalah nelayan tentu saja mengalami kemeriangan.

Saya justru membacanya ada sikap kerja keras yang ditampakkan oleh setiap personal masyarakatnya untuk mengubah keadaan jika dipandang cukup memprihatinkan menuju kemapanan material; atau kemapanan material menuju kematangan berpikir secara menyeluruh.

Begitu juga dalam praktik kerja sutradara Teater Tagar Jagat; yang berpikir agar lepas dari narasi-narasi busuk dengan memproduksi visual yang sederhana dengan harapan memikat para pengunjung yang datang.

Abi ML (sutradara "Menyisir Aku Meriang") terlibat dalam peristiwa pemanggungan di antara sepeda dan toak megaphone yang dipegangnya dalam situasi juga "meriang". -Dok. AWE.
Abi ML (sutradara “Menyisir Aku Meriang”) terlibat dalam peristiwa pemanggungan di antara sepeda dan toak megaphone yang dipegangnya dalam situasi juga “meriang”. -Dok. AWE.

Mereka sangat terlihat mengalami pola hidup yang juga tidak teratur dalam praktik kerjanya secara emosional antara personal satu dengan personal lainnya, karena performance sesungguhnya mampu memecahkan kebuntuan perspektif manusia melihat peristiwa sosial yang diangkat seperti suara-suara dari (bawah) laut; yang mungkin suatu saat membunuh kami semua yang berada di Jakarta, khususnya.

Tanpa disadari oleh setiap personalnya, mereka yang berada pada batas kewajaran dirinya bermain secara aman tanpa melakukan peniruan terhadap apa yang ditangkapnya dalam realitas keseharian.

Performing semacam ini menjadi penghambat hubungan pengunjung dalam satu ‘etalase mal’ yang berdiri sendiri, tidak adanya produk yang menggiurkan sehingga mereka yang datang hanya berjalan mengelilingi sekadar melihat sejenak dan pergi begitu saja.

Justru performing bisa masuk kepada ruang yang terasa sepi pengunjung, maka diperlukan sikap performance masuk untuk memprovokasi pengunjung agar tidak sekadar melirik. Padahal setelah bersikap, mereka bisa menirukan/mengadopsi apa pun agar pengunjung larut dalam satu produknya.

Saya hanya mencurigai transaksional yang tidak diberlakukan oleh sutradara karena takut ‘meriang’ secara estetika, padahal komposisi gerak, perilaku, kostum, dan rias sepertinya tidak menjadi kekuatan yang signfikan. Seyogyanya bahwa pengunjung bisa melebur seenaknya sendiri tanpa melihat visual produk yang disuguhkan.

“Codified acting: performing according to a semiotically constructed score of movements, gestures, songs, costumes, and makeup. This score is rooted in tradition and passed down from teachers to students by means of rigorous training” (Schechner, 2013: 183).

Karena itu Schechner menggarisbawahi dalam performing sangat pentingnya kodifikasi dalam setiap peristiwa yang harus ditunjang oleh pelatihan yang keras; sikap sutradara memberikan pengetahuan kepada aktor/performernya ibarat guru ke murid-muridnya.

Satu hal yang tak kalah penting sebagai catatan, karena konsep in between performing dan performance dipersilakan sikap performer keluar masuknya karakter dalam peniruan tokoh lain dan menjadi dirinya, seakan-akan tidak pernah ada meskipun ada, artinya ada kegamangan secara personal.

Mungkin jalan itu ditempuh Abi ML sebagai cara distorsi atau negasi menghadapi problematika yang terjadi dengan personalnya, baik itu hubungan intern sesama personal, maupun hubungan mereka dengan lingkungan. Tepatnya produk yang diangkat dari suara-suara (bawah) laut juga memberikan kemungkinan kering makna dari sebuah studi pengetahuan.

Bahkan performer yang menyisir tepi lubang sumur mengungkapkan isi batinnya dalam hidden interrogation dengan saya, kalau dirinya sangat takut ketika diminta mengelilingi berkali-kali karena ketakutan yang mendalam jika seandainya jatuh ke lubang sumur.

Pada saat itu performer bisa masuk sebagai dirinya yang takut dengan melakukan transaksional dengan pengunjung atau dirinya agar mencuri perhatian produk yang sedang ditawarkan.

Saya membacanya bahwa sutradara tentu punya alasan yang tepat jika memilih ‘kemeriangan’ dalam kerjanya berada di antara performer/mimesis yang tidak berjalan cukup baik. Bahkan juga kekusutan benang (rajutan) dari ruang berikutnya yang berbeda menuju ke dalam ruangan lain dari tangga dengan transisi dua karung kulit kerang semacam perjalanan biasa.

Kalau saja tidak secara malu-malu diberitahu salah satu tim Teater Tagar Jagat mungkin juga tidak menyadari bahwa sudah terjadi perpindahan ruang.

Jalinan ruang ketiga pun menuju ruang ke empat yang lebih terhimpit dan pengap; entah secara sadar atau tidak sadar tentang perhitungan keterhimpitan. Padahal transisi ini bisa membuka peluang pekerjaan sutradara mampu sebagai ‘meriang’ di ruang yang cukup besar dengan arsip aquarium yang dijunjung dengan bambu milik Irwan Ahmett dan Tita Salina.

Instalasi di ruang itu juga seperti pameran pada umumnya tanpa komunikasi batiniah antara performer dengan pengunjung yang sedang berada di ‘etalase mal’. Instalasi rupa dalam bentuk kota yang berada dalam genangan air laut tidak menjadi perpaduan dengan Teater Tagar Jagat; berdiri sendiri yang sifatnya naratif.

Sekonyong-konyong dengan sendirinya pelan-pelan masuk ke ruang bawah tanah dihadapkan dengan instalasi Dea Widya di mana saya melihat Abi ML memaksakan diri nisan-nisan kayu dalam aquarium kecil diletakkan pada instalasi bawah tanahnya.

Saya membaca di sana ada upacara kematian yang cukup provokatif dalam ruang himpit jika semua orang dibiarkan menumpuk dan berjejal dalam keterhimpitan itu dengan doa-doa ritual secara bersama. Secara logika, sungguh sangat ‘meriang’ dengan pendekatan antropologi dan etnografi sekaligus.

Perhitungan bahwa kota yang dibangun akan tenggelam, mengalami kematian akibat perubahan ekologi bawah laut secara pelan-pelan, otomatis matinya budaya, berikut juga matinya kebusukan jika beberapa karung kulit kerang ditabur sebagai kembang nisan/kota.

Maka juga akan semakin banal jika dilihat dari pendekatan tujuan objek yang diciptakan Dea Widya sebagai kecemasan, maka responsif Abi ML dalam upacara kematian menjadi hal seharusnya sangat ‘asyik’. Tetapi lagi-lagi provokasi tersebut bisa dikacaukan dengan kemualan dan kemuntahan yang bisa merobek upacara kematian; secara sadar akan dikembalikan pada realitas sesungguhnya.

Kecacatan Performer Di Antara Teks Lingkungan

“Performances mark identities, bend time, reshape and adorn the body, and tell stories. Performances – of art, rituals, or ordinary life – are “restored behaviors,” “twice-behaved behaviors,” performed actions that people train for and rehearse” (Schechner, 2013: 28).

Tanda-tanda identitas, putaran waktu, mengelola tubuh, dan menceritakan biografi pada sebuah realitas keseharian nampaknya belum terlihat setiap capaian dari kemungkinan ruangnya jika mengacu pada aksioma Schechner.

Pencapaian-pencapaian hanya berkutat pada narasi visual yang terjebak in between performing dan performance. Lantas perilaku personal yang dikembangkan sebagai sikap individualistik sesuai visi dan misi realitas, atau sebuah tindakan yang terlatih secara intens masih belum bisa dipahami secara kultural dalam setiap peristiwanya.

Performance ketika tidak menyertakan lampiran dalam status tubuh personalnya seperti yang diungkapkan Erving Goffman, tidak akan memiliki kontribusi sebagai performer, pengunjung, kritikus, pengamat, dan lain sebagainya.

Permasalahannya terletak pada definisi sosial personalnya ketika terlibat dalam peristiwa besar, hanya melakukan pemetaan wacana di kepalanya, sebatas instruksi-instruksi layaknya performing pada umumnya, bukan sebagai hak dan kewajiban studi yang memang sungguh berjarak jika faktanya seperti demikian.

Teks lingkungan pun menjadi ‘cacat’ diterima sebagai studi pengetahuan yang struktural ataupun tidak, karena peranan tubuh merupakan input yang masih terpaksa menerimanya. Bukan pertentangan tubuh yang organis terhadap isu-isu besar dan datang dari luar mengganggu seperti angin laut, makanan basi, busuk dan kadaluarsa, serta keteledoran manusia dalam mengelola tubuhnya sebagai makhluk konsumtif. Ataupun ketidakmengertian tentang objek.

Saya kira itu sangat manusiawi dan rasional ketika tidak semuanya saya harus pahami. Begitu busuknya cara berpikir ketika secara individual terlibat dalam wacana arsitektural, estetika, instalasi rupa, yang dengan terpaksa masuk ke bagan peristiwa sosial tersebut.

Akhirnya ada pertanyaan peranan sosial di dalamnya; apakah berhak tahu terhadap catatan itu kalau sebelumnya tidak ada rangsangan. Maka pentingnya daya pikat untuk merangsang setiap personal dibutuhkan sikap ‘meriang’. Seperti menabur puluhan karung kulit kerang di ruang pertama dan di ruang keempat (bawah tanah) agar memberikan rangsangan otak sekaligus strategi penyekapan pikiran yang terlihat banal.

Banalitas terkadang dibutuhkan untuk membongkar keberadaan sebagai ruang performance yang memang berjarak dengan tema ataupun narasinya.

Performance, pada hemat saya, memiliki tolok ukur yang cukup penting dimiliki setiap seniman dalam mengusung isu besar; di mana performernya berada in between, kemungkinan yang bisa dilakukan adalah sebagai jalan alternatif: 1) narasi besar sebagai peranan sosial yang diusung tetaplah ada di watak dan otak setiap performer; 2) realitas sikap privasi yang paling intim terhadap teks lingkungan sebagai diri; tahu dan ketidaktahuan, apatis, cultural studies, keberpihakan, dan ketidakberpihakan; 3) kesadaran kalau dirinya tetaplah performer yang bisa dikelola untuk menjadi, dan how to be; 4) in-out premis dari sebuah program di mana istilahnya; bermain-main dengan cara yang asyik dalam mengkonstruksi material; dan 5) bereksperimen secara ekstrem dalam batas untuk menyembunyikan capaian visual atau visi dan misi dari performance.

Maka pemanggungan Teater Jagat tetaplah ‘meriang’ sebagai gagasan dan visi berkesenian, karena pengunjung kasak kusuk secara publik untuk pergi ke warung atau apotek membeli obat sementara, lalu pergi ke ‘mal’ kembali untuk melihat etalase lainnya.

Dan ketiga poin ‘bercetak tebal’ di atas sebagai catatan interpretasi diri agar tidak sakit berkepanjangan akibat pola kerja saya yang tidak teratur.

Saya (aku) juga ‘meriang’ dan perlu minum obat berikutnya dari Teater Tagar Jagat dalam konteks interpretasi dan pembacaan terhadap wujud yang diinginkannya, karena munculnya keinginan sehat pikir lepas dari demam dalam opening pameran yang dikuratori Elisa Sutanudjaja.

Akhirul kalam, mari kita ‘meriang’ secara berjemaah dalam konteks cemas, peduli, masa bodoh, apatis, sarkas, angkuh, atau apa pun itu, terhadap wacana kecil sekalipun tidak terlalu memahami seperti saya tidak memahami (bahkan sangat tidak paham) kota yang akan tenggelam, air laut yang akan naik, kemudian kota/kampung menjadi terapung, dengan memakan banyak korban sehingga kita semua melakukan ritual kematian, lalu mengenangnya secara berulang-ulang dan terus berulang-ulang hingga identitas diri juga terlibat dalam kematian tersebut.

**Penulis adalah co-sutradara Lab Teater Ciputat. Saat ini sedang menyeleasikan studi Pascasarjana Jurusan Penciptaan Karya Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.

Baca Juga

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

Tandai HUT Ke-30, Teater Gema Gelar Wicara “Filosofi Hidup Berteater”

Portal Teater - Teater Gema baru saja merayakan 30 tahun berdirinya pada Senin (13/1) lalu. Menandai perayaan tersebut, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...