Amdo Brada: Bersetia Melukis Meski Padepokan Sedang Mati Suri
Lukisan Amdo Brada. -Dok. antarafoto.com

Portal Teater – Nama pelukis Amdo Brada sudah cukup familiar di kalangan seniman Indonesia. Terutama di kalangan seniman-seniman muda yang pernah menimba ilmu di Kampoeng Seni Sidoarjo, Jawa Timur.

Belakangan, padepokan seni yang didirikannya terlihat mati suri, seperti tak memiliki aktivitas seni. Tinggal beberapa seniman yang bisa dihitung dengan jari. Tidak seperti ketika pertama kali didirikan 14 tahun lalu.

Namun siapa sangka, Amdo Brada, salah satu di antara beberapa seniman yang bertahan, terus melukis dalam diam karya-karya dekoratif etnik yang menjadi karakter khasnya.

Tiap hari seniman berusia 59 tahun itu terus melukis di atas papan atau media apa saja yang mudah ditemui di sekitarnya. Dari subuh hingga malam. Tidak seperti padepokannya yang sedang mati suri.

Untuk satu lukisan, ia bisa menghabiskan waktu hingga sebulan atau lebih. Jarang lukisannya diselesaikan dalam tempo yang cepat.

“Bangun sekitar pukul 03.00, selesai salat kemudian melukis,” katanya, melansir jawapos.com, Rabu (1/1/).

Kekhasan serentak menjadi keunggulan lukisan bernuansa etnik Nusantara itu diceritakannya didapat dari hasil khalwatnya di Candi Borobudur ketika ia masih kuliah.

Setelah semalam suntuk menyatu dengan alam di salah satu keajaiban dunia itulah Amdo Brana menemukan identitasnya sebagai pelukis dengan sentuhan warna, gambar raja-raja hingga karater batu dalam karyanya.

“Saat itu saya berkhalwat di Borobudur,” katanya, melansir jawapos.com, Rabu (1/1).

Tepat setahun Amdo Brada melakukan pameran tunggal terakhirnya bertajuk “Etnik Nusantara pada Januari 2019 di Balai Budaya Jakarta.

“Saya memang suka karya-karya dekoratif etnik. Kayak lukisan etnik suku Asmat di Papua itu luar biasa. Primitif tapi asyik,” kata Kepala Suku Kampoeng Seni Sidoarjo kala itu.

Namun menurut pengakuannya, tidak semua publik seni terutama kolektor seni di Indonesia menyukai atau meminati karya-karya berbasis etnik dan abstrak miliknya.

Di mana para kolektor pada umumnya hanya memburu lukisan dengan gaya realis. “Padahal realis itu sudah sangat lama, kita butuh yang melompat,” pungkasnya.

Seniman bernama lengkap Bambang Widodo itu tidak mudah menyerah. Api yang telah menggelorakan semangatnya sejak dulu untuk menggores karya-karya dekoratif etnik Nusantara tidak pernah surut.

Di rumahnya, yang juga menjadi wadah pembinaan bagi seniman muda itu, terpajang ratusan lukisan, sehingga terlihat seperti galeri pribadi.

Sebagai penggiat lingkungan, seniman berambut gondrong ini juga terkenal kerap membuat desain taman-taman di Sidoarjo.

Seperti seniman Indonesia lainnya semisal Hanura Hosea, Amdo sudah lama mengusung konsep recycle dalam aktivitas berkeseniannya.

Papan-papan bekas, bahan-bahan yang dibuang di tempat sampah, dipilahnya untuk dipakai sebagai media lukisannya, bahkan bernilai sangat tinggi.

Pameran tunggal Amdo Brada di Balai Budaya, Jakarta, Januari 2019. -Dok. publiksatu.com
Pameran tunggal Amdo Brada di Balai Budaya, Jakarta, Januari 2019. -Dok. publiksatu.com

Karakter yang Kuat

Sri Warso Wahono, seorang pelukis modern Indonesia kelahiran Solo (1948) menilai karya bernuansa etnik khas Amdo memiliki ciri khas dan karakter yang sangat kuat.

Setiap kali berpameran Amdo memang selalu memamerkan karya-karya dengan sentuhan etnik Nusantara.

“Amdo tampak amat meyakini khazanah etnik bisa menjadi batu tumpuan kreativitasnya di jagat seni rupa modern/kontemporer. Keyakinan itu dia wujudkan melalui eksplorasi bentuk-bentuk objek yang bernafas etnografis Nusantara,” katanya beberapa waktu lalu.

Dalam lukisannya Amdo membagi bidang kanvas ke dalam pola hias dekoratif, demikian kata Sri.

Berbagai ragam hias terkesan abstrak geometrik dan deformatif berada di sisi tengah, padat bersusun-susun dengan komposisi warna yang kaya.

Sri pun mengapresiasi karakter lukisan Amdo Brada sejajar dengan karya seni rupa modern atau kontemporer Indonesia seperti Abas Alibasyah, Batara Lubis, Irsam, Edy Sunaryo, dan beberapa seniman lainnya.

Mati Suri

Kini, Kampoeng Seni Sidoarjo yang berada di kawasan perumahan Pondok Mutiara, Sidoarjo, tempat Amdo Brada berkarya, tampak lumpuh.

Tempat bermain anak-anak muda yang ingin belajar seni rupa di salah satu ikon Kota Delta itu lesu. Tak banyak seniman yang bertahan. Pertengahan tahun lalu tinggal lima orang yang terlihat masih aktif.

Amdo sendiri mengakui bahwa Kampoeng Seni saat ini tidak ada aktivitas seniman seperti belasan tahun lalu.

Di mana jumlah seniman yang bertahan bisa dihitung dengan jari. Padahal, dulu kampung yang terdiri atas ruko yang dijadikan studio para seniman itu berjumlah puluhan (ekitar 36 orang).

Ketika mendirikannya pada tahun 2005, Bupati Sidoarjo Win Hendrarso memiliki mimpi bahwa kawasan tersebut bisa menjadi daya tarik wisata di Kota Delta. Tidak sekadar berbelanja barang-barang seni, warga juga bisa belajar tentang kesenian.

Namun, padepokan yang sekaligus menjadi tempat tinggal seniman paruh baya itu kini sepi. Idealisme tak sesuai kenyataan. Tidak banyak warga yang meminati karya lukis para seniman di tempat itu.

Sumber: jawapos.com