“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater – “Anak Garuda”, sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1) malam.

Mengisahkan kisah-kasih tujuh anak muda lulusan Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, film ini tidak hanya menghibur karena merupakan komik digital, tapi juga menginspirasi anak-anak untuk tidak berhenti bermimpi.

Ketujuh anak dalam film ini merupakan anak-anak dari keluarga miskin dari beberapa daerah di Indonesia. Mereka digembleng di bawah ‘tangan dingin’ Julianto Eka Putra, inisiator Sekolah SPI.

Meski miskin, mereka tak pernah memadamkan mimpi-mimpi yang bertumbuh di dalam diri mereka untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Bila perlu dengan belajar di luar negeri.

Dan mimpi itu terwujud. Di sana mereka mendapatkan apa yang mereka impikan.

Ketujuh anak muda jebolan Sekolah SPI yang menjadi subjek cerita dalam film ini, antara lain: Olfa, Robet, Yohana, Dila, Sayyidah, Wayan dan Sheren.

Salah satu adegan dalam "Anak Garuda". -Dok. medcom.id
Salah satu adegan dalam “Anak Garuda”. -Dok. medcom.id

Diproduksi Sendiri

Ketekunan selalu memberi nilai lebih dalam sebuah perjuangan. Demikianlah yang terjadi pada ketujuh pemuda ini. Mereka tidak hanya belajar, tapi juga menemukan aktualisasi dari potensi-potensi bawah sadar mereka.

Hal itu terbukti, dimana film ini diproduksi sendiri oleh mereka sendiri, dan menjadi produksi pertama Butterfly Pictures, salah satu divisi usaha terbaru SPI yang khusus dalam produksi film.

Divisi ini dikelola oleh anak-anak muda tersebut sembari menggandeng aktor Verdi Solaiman.

Naskah film ini ditulis Alim Sudio dan disutradarai Faozan Rizal. Pengambilan gambar dilakukan tidak hanya dilakukan di Kota Batu, Malang, tapi juga beberapa kota di Eropa (Pracis dan Swiss), sebagaimana cerita nyata dari para alumni tersebut.

Alim Sudio suatu kesempatan mengatakan, film ini merupakan ensemble movie, di mana alur cerita digerakkan oleh pemeranan tujuh tokoh dengan porsi yang sama.

Sebelum tayang perdana di bioskop, “Anak Garuda” telah tayang di kanal Line Webtoon berjudul “Anak Garuda” sejak 17 Mei 2019 dan sudah diluncurkan sejak September 2019 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Film ini diperankan oleh Tissa Biani (Sayyidah), Violla Georgie (Yohana), vAjil Ditto (Robert), Clairine Clay (Olfa), Geraldy Polisar (Wayan), Rania Putrisari (Sheren), Rebecca Klopper (Dila) dan Kiki Narenda (Julianto Eka Putra).

Kru dan aktor "Anak Garuda". -Dok. juliantoekaputra.com
Kru dan aktor “Anak Garuda”. -Dok. juliantoekaputra.com

Sinopsis

“Anak Garuda” tidak hanya menceritakan pengalaman jatuh bangun ketujuh anak muda kurang beruntung dari Sekolah SPI, tapi juga perjuangan Julianto Eka Putra (akrab disapa Koh Jul) sang inisiator dalam merawat mimpi-mimpi muridnya.

Film komedi ini berkisah tentang Koh Jul yang mengajak tujuh anak dengan latar belakang berbeda menjadi satu tim yang membantu mengelola operasional sekolah dan unit-unit bisnis.

Koh Jul sendiri pernah dapat penghargaan “Kick Andy Heroes 2018” karena dianggap mampu memutus rantai kemiskinan secara sistematis lewat pendidikan.

Julianto Eka Putra menerima penghargaan "Kick Andy Heroes 2018". -Dok. juliantoekaputra.com
Julianto Eka Putra menerima penghargaan “Kick Andy Heroes 2018”. -Dok. juliantoekaputra.com

Identitas SARA yang melekat dalam pribadi masing-masing anak kerap memicu ketegangan dan salah paham. Selalu saja ada pertengakaran yang mengisi tali persahabatan erat mereka.

Kisah mereka bertambah rumit ketika ada benih cinta yang tumbuh di antara mereka, meski itu tidak mereka ungkapkan secara terang.

Dengan mengambil latar itu, anak-anak ini belajar bagaimana mengatasi perbedaan dan mengatasi perasaan-perasan terdalam serta kegetiran hidup menjadi anak-anak kurang beruntung tapi punya mimpi menjadi orang sukses.

Koh Jul hadir sebagai penengah yang mengatasi konflik di antara mereka. Namun  ketika mereka berada di Eropa untuk mengejar cita-citanya, anak-anak muda ini tanpa pengawasan Koh Jul lagi. Lantas, mereka belajar mengatasi masalah sendiri.

Di saat konflik terasa tidak terselesaikan dan pendaman perasaan yang tak kunjung terungkap, anak-anak ini terpanggil untuk kembali ke pengalaman awal mereka meniti hidup sebagai sahabat di Sekolah SPI.

Memori-memori itulah yang menumbuhkan semangat untuk mengatasi segala perbedaan dan kesalahpahaman.

Salah satu adegan dalam "Anak Garuda" produksi Butterfly Pictures (2020). -Dok. mytrip.co.id
Salah satu adegan dalam “Anak Garuda” produksi Butterfly Pictures (2020). -Dok. mytrip.co.id

Sekolah SPI adalah lembaga pendidikan setingkat SMA, didirikan pada 2007 oleh Koh Jul. Lembaga ini menggratiskan tidak hanya biaya sekolah, tapi juga asrama khusus untuk menampung anak-anak kurang mampu dari seluruh penjuru Indonesia.

Sumber: tirto.id, mytrip.co.id

Baca Juga

Mohammad Sunjaya: Bersetia Jadi Aktor hingga Akhir Hayat

Portal Teater - Aktor kawakan Mohammad Sunjaya, akrab disapa Yoyon, meninggal dalam usia 82 tahun di kediamannya di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/2). Salah...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Tanggapi Aspirasi Seniman, DPR Dukung Moratorium Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menanggapi aspirasi Forum Seniman Peduli TIM dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senin (17/2), Komisi X DPR yang...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...