Angkat Tema “Tubuh Gunung”, PTN 2019 Ingin Kenali Batas Habitat Tubuh Tradisi

Portal TeaterPekan Teater Nasional (2019) resmi dibuka akhir pekan lalu, Jumat (20/9) di Panggung Utama Taman Budaya Kalimantan Timur, Samarinda, sepanjang 20-26 September 2019.

Diinisiasi Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Dewan Kesenian Jakarta ajang temu teater Nusantara ini mengusung tema “Tubuh Gunung (Resonansi Teater Tradisi)”.

Tema ini dimaknai sebagai batas habitat untuk mengenali tubuh tradisi (setelah budaya laut maupun maritim).

“Setiap tradisi mengandaikan adanya komunitas budaya yang bergantung pada tempat sebagai sumber kehidupan maupun medan representasi dari berbagai produksi pengetahuan, keahlian, folklor, dan kepercayaan,” kata Afrizal Malna, salah satu kurator PTN 2019, Jumat (20/9), mengutip Pojok Seni.

Menurutnya, pengusungan tema tersebut bertujuan untuk mendudukkan sekaligus memetakan setidaknya tiga platform atau pokok garapan teater Indonesia, yakni Kanon Tradisi, Post-Tradisi, dan Teater Riset.

“Masing-masing subtema memiliki kecenderungan dan kekuatan,” ungkap Ketua Komite Teater DKJ tersebut.

Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta Afrizal Malna. -Dok. portalteater.com
Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta Afrizal Malna. -Dok. portalteater.com

Kanon Tradisi

Dalam Pengantar Kuratorial Lokakarya PTN 2019 (Jakarta, 30 Juli-1 Agustus 2019), Benny Yohanes, salah satu kurator PTN 2019 menulis, dalam Kanon Tradisi, ditampilkan sejumlah pertunjukan teater tradisional yang dikemas menurut konvensi yang sudah melembaga sesuai dengan konteks budaya yang menjadi latar belakangnya.

Bagian tersebut akan memperlihatkan wajah teater tadisional, yang disajikan menurut visi kebudayaan lokal, pakem artistik dan nilai-nilai seni yang telah menjadi identitasnya.

Enam bentuk pertunjukan teater tradisional hasil pemetaan yang diseleksi, ditampilkan sebagai representasi keindonesiaan, sebagai warisan dari khazanah teater tradisional dan menunjukkan relasi kultural yang khas dengan pendukungnya, sesuai dengan konteks budaya etniknya masing-masing.

Keenam pertunjukan tersebut, yakni: Dalupa, Teater Tradisi dari Pantai Barat Aceh, oleh Marhalim Zaini dari Sanggar Seni Datok Rimba (Aceh; Ubrug: Ngadu Hayam, Tinjauan Deskriptif Patron Estetik Grup Ubrug di Banten, oleh Peri Sandi Huizche dari Teater Genta Bahana Banten; Rukun Pewaras, Sejarah Topeng, Nilai-nilai yang Dijaga dan Upaya Terus Tumbuh oleh Mahendra Tragedi Pancala dari Topeng Dhalang Rukun Pewaras (Sumenep).

Kemudian pertunjukan teater rakyat Kondobuleng: Representasi Identitas Masyarakat Pesisir Bugis-Makassar oleh Asia Ramli Prapanca dari Sanggar Seni Tradisional Ilologading (Makassar); Prosesi Ritual Belian (…Akhirnya Kembali…) oleh Jailani dari Forum Aktualisasi Seni Tradisional (FORMAT) Samarinda; dan Sarandaro dari Sanggar Seni Iriantos Papua Barat.

Pelacakan atas batas asal-usul tradisi tetap merupakan produksi pengetahuan dan edukasi dalam membaca masa lalu. Mengurai informasi maupun data baru atas arsip tradisi.

Dalam platform tersebut, seni pertunjukan tradisi dihadirkan sebagai kanon, sesuai dengan pakem yang membatasinya maupun konteks budaya yang melatarinya. Kehadiran tradisi yang natural lebih menjadi agenda utama, dibandingkan dengan kemasan gemerlapan.

Benny Yohanes, salah satu kurator PTN 2019. -Dok. kalabuku.org.
Benny Yohanes, salah satu kurator PTN 2019. -Dok. kalabuku.org.

Post-Tradisi

Benny Yohanes pun menulis, dalam Post Tradisi, akan ditampilkan karya progresif yang dihasilkan dari tafsir vital terhadap seni pertunjukan tradisional. Platform ini diarahkan untuk mendorong keunikan dan ketajaman tafsir dari seniman seni pertujukan atas pakem dan visi seni tradisi, sehingga terjadi lompatan dan terobosan kreativitas, di mana esensi tradisi dapat digali vitalitasnya yang baru.

Hal ini memungkinkan tradisi dapat diartikulasikan dan dipersepsi dari aras lokal ke global. Re-kreasi tradisi akan menghasilkan karya post-tradisi.

Dalam platform ini, kreasi pertunjukan teater dimungkinkan melintasi batas-batas medium konvensionalnya, dan sekaligus menunjukkan vitalitas kontemporer sebagai visi baru tradisi.

Empat bentuk pertunjukan post-tradisi, yang digarap secara individual maupun kolaboratif, akan ditampilkan sebagai kontemplasi visioner tradisi.

Keempat pertunjukan tersebut, yakni: Tools oleh Komunitas Rumah Banjarsari (Misbach Daeng Bilok) Surakarta, Wayang Kampung Sebelah (Solo) Entrance: Otniel Dance (Banyumas); Lembuswana dari Komunitas Odah BulanKu (Tenggarong); dan Sangkuriang Si Kabayan dari Anka Adika Production (Bandung).

Lembuswana, hewan dalam mitologi rakyat Kutai yang hidup sejak zaman Kerajaan Kutai. -Dok. mitologi.fandom.com.
Lembuswana, hewan dalam mitologi rakyat Kutai yang hidup sejak zaman Kerajaan Kutai. -Dok. mitologi.fandom.com.

Teater Riset

Dalam platform Teater Riset, seni pertunjukan menyuguhkan hasil penelaahan dan evaluasi teater tradisional berbasis riset, yang dilakukan oleh grup teater, untuk melakukan rekonstruksi tematik, estetik dan teknik dari khazanah teater tradisional yang menjadi rujukannya.

Rekonstruksi berbasis riset ini didasarkan pada hipotesis bahwa gagasan, simbol dan nilai-nilai teater tradisional, sebagai medan pengetahuan yang bersumber pada aspek-aspek budaya lokal yang khas, mampu menunjukkan korelasi yang relevan dengan situasi kekiniannya.

Tiga bentuk pertunjukan rekonstruksi teater tradisi yang dihasilkan dari pendampingan periset dan proses proses kuratorial, akan disajikan sebagai upaya penjelmaan kembali tradisi melalui medium dan komunikasi estetik kekinian.

Program riset terhadap teater tradisi yang dilakukan oleh teater yang tidak pernah bersinggungan dengan tradisi. Hasil riset menjadi materi pertunjukan yang “ditempatkan” ke tubuh-pertunjukan masa kini.

Dalam platform ini, penciptaan teater berdasarkan riset atas seni pertunjukan tradisi dimungkinkan dilakukan melintasi batas-batas medium maupun disiplin.

Menampilkan karya yang dihasilkan dari riset dan bagaimana produksi arsip dari riset “ditempatkan” ke dalam aktivisme baru, mencari bentuk-bentuk presentasi performatif yang lebih terbuka dan cair.

Pentas "Tubuh Padang" oleh Komunitas Seni Hitam Putih (Padangpanjang). -Dok. pojokseni.com
Pentas “Tubuh Padang” oleh Komunitas Seni Hitam Putih (Padangpanjang). -Dok. pojokseni.com

Ada tiga pertunjukan teater yang berbasis riset, yakni: Tubuh Padang oleh Komunitas Seni Hitam Putih (Padangpanjang); Otobiografi (Selepas Melodrama Itu Berlalu) oleh Rokateater (Yogyakarta); dan CUY-Gang X Tanah Tinggi oleh Misswati Dance Teater (Jakarta).

*Daniel Deha

Baca Juga

Tandai HUT Ke-30, Teater Gema Gelar Wicara “Filosofi Hidup Berteater”

Portal Teater - Teater Gema baru saja merayakan 30 tahun berdirinya pada Senin (13/1) lalu. Menandai perayaan tersebut, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)...

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

Tandai HUT Ke-5 JIVA, Galnas Pamerkan Karya 19 Seniman Muda

Portal Teater - Menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA), Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran seni rupa sepanjang 8-27 Januari 2020. Pameran bertajuk...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...