Anton Kurnia: Penerjemahan Sastra Indonesia Ke Bahasa Asing Masih Minim

Portal Teater – Sastrawan dan penerjemah Indonesia Anton Kurnia mengatakan, khazanah sastra Indonesia di dunia luar masih belum banyak dikenal. Hal itu disebabkan bukan hanya oleh minimnya sumber daya manusia, tetapi juga karena kurangnya variasi kerja penerjemahan ke bahasa-bahasa minor internasional, seperti Melayu, Yunani, Ibrani, atau Portugis.

Disebut bahasa minor karena bahasa-bahasa tersebut tidak dominan dan juga tidak populer digunakan sebagai bahasa internasional seperti bahasa Inggris, Prancis dan Jerman, atau Spanyol.

Salah satu karya sastra yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing, kata Anton, adalah novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh jurnalis Inggris bernama Angie Kilbane dengan judul versi Inggrisnya: “The Rainbow Troops”.

“Penerjemah kita banyak, tapi yang bergerak di bidang sastra masih sedikit sekali. Kita masih perlu lebih banyak orang lagi untuk terjemah ke dalam bahasa-bahaa yang kurang populer,” katanya dalam kesempatan lokakarya “Menerjemahkan Teks Sastra” di Goethe Institute Jakarta, Selasa (13/8).

Lokakarya ini merupakan salah satu dari rangkaian lokakarya pre-festival Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 bertajuk “Lab Ekosistem Sastra”. Lokakarya yang lainnya adalah “Penulisan Kreatif” dan “Toko Buku Alternatif” yang diadakan di Komunitas Kekini Besar, Cikini, Jakarta.

Merujuk pada data yang dirilis IKAPI, dalam lima tahun terakhir, ada kurang lebih 1.500 judul buku Indonesia yang sudah dibeli rights-nya dan sedang diterjemahkan ke dalam bahasa asing, baik berupa buku sastra, buku anak-anak, dan genre lainnya.

Anton menandaskan, penerjemahan dan distribusi buku tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan rasio buku asing yang diterbitkan di Indonesia yang sudah mencapai 40 persen dari total penjualan buku dalam negeri.

Ini menunjukkan bahwa kerja penerjemahan karya sastra dan buku-buku asing ke dalam bahasa Indonesia sudah sangat banyak dan maju, tetapi penerjemahan buku sastra Indonesia ke bahasa asing masih sangat minim.

Adanya Variasi Penerjemahan

Anton berharap, lokakarya yang digagas Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta ini dapat memberikan pencerahan dan wawasan baru bagi peserta yang sudah berkarir di bidang penerjemahan, baik yang sudah profesional maupun yang masih pemula.

Bukan hanya menambah kuota penerjemah bahasa asing, tetapi juga mesti memperbanyak jumlah penerjemah yang berlatar belakang atau yang memiliki disiplin ilmu sastra.

Dengan adanya penerjemah berlatar belakang sastra tersebut maka akan lebih banyak lagi karya penerjemahan ke dalam bahasa asing yang kurang populer, selain yang umum dilakukan selama ini yaitu bahasa Inggris.

“Saya berharap dengan kegiatan ini mereka dapat pencerahan baru, yah semacam wawasan baru dalam penerjemahan. Ke depannya, saya berharap lebih banyak dan lebih bervariasi buku-buku yang diterjemahkan,” ungkapnya.

Bukan Pekerjaan Mudah

Menurut Anton, kerja penerjemahan sastra memang bukanlah perkara mudah karena kerja penerjemahan adalah pekerjaan serius yang menuntut kerja keras dan mengandung tanggung jawab besar.

Penerjemah dituntut mesti menepati makna teks asal dan keniscayaan agar teks hasil terjemahan terbaca dengan jelas dalam bahasa sasaran, sekaligus terjaga nuansanya, terutama pada teks sastra.

Maka sesungguhnya kerja seorang penerjemah adalah sebuah upaya luar biasa untuk mencapai kesempurnaan yang nyaris musykil: terbaca maknanya, indah nuansanya, serta sedapat-dapatnya bersetia pada teks ciptaan sang penulis, seraya berupaya menafsir dengan setepat-tepatnya tanpa menghilangkan substansi makna yang disampaikan penulis asal.

Ada beberapa masalah dalam penerjemahan, seperti perbedaan struktur bahasa asal dan bahasa tujuan, perbedaan antarbudaya, dan estetika serta diksi.

Dalam penerjemahan fiksi populer pun mesti memakai estetika. Ada efek-efek yang disampaikan dari bahasa asal ke bahasa sasaran. Karena penerjemahan juga menyangkut rasa atau nilai dari sebuah kata atau pernyataan.

Karena itu, dalam proses penerjemahan, perlu dibuat beberapa kerangka kerja yang tepat, misalnya melakukan analisis (memahami teks), transfer (penerjemahan dalam pikiran), dan restrukturisasi (proses teknis penerjemahan).

“Kadang kita menemukan hal yang tidak pernah diduga. Namun kita membutuhkan referensi sebanyak-banyaknya untuk digunakan seperlunya,” katanya.

Dalam kerangka kerja ini, ada teks yang berdiri sendiri yang tidak seharusnya diterjemahkan ke bahasa sasaran karena barangkali akan melemahkan kekuatan maknanya. Hal itu terutama terdapat pada kata-kata atau frasa khas kebudayaan bahasa asal yang tidak terdapat di dalam kebudayaan sasaran.

“Terjemahan perlu kerja spesifik dan detail, tapi juga harus fokus, efisien, dan tidak mubazir,” terangnya.

Namun demikian, Anton menandaskan, ada batas-batas otoritas yang dimiliki seorang penerjemah, di mana ia tidak pernah diganggu oleh penulis asal dan memiliki privilese dalam kerja penerjemahan. Karena seorang penerjemah yang baik akan mudah disetujui dan diakui khalayak setelah ia melakukan tugasnya dengan baik.

“Ada batas-batas otoritas dalam penerjemahan, tergantung kepada penerjemah itu sendiri karena dia punya hak istimewa untuk menafsir sesuai konteks bahsa dan kebudayaan penerjemah,” katanya.

Tentang Anton Kurnia

Anton Kurnia adalah penulis, penerjemah, dan editor buku sastra. Ia menulis banyak antologi cerpen, termasuk kumpulan cerpen “Insomnia” (diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai A Cat on the Moon and Other Stories) dan “Cinta Semanis Racun (99 Cerita dari 9 Penjuru Dunia)”.

Pendidikan formalnya antara lain dilalui di jurusan Teknik Geologi ITB dan Ilmu Jurnalistik IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia juga bekerja di dunia penerbitan sebagai penerjemah dan editor.

Setelah keluar dari pekerjaan sebagai Manajer Redaksi Penerbit Serambi, Jakarta, pada tahun 2016, ia mendirikan penerbitnya sendiri bernama Baca. Di penerbit independen ini, ia dan timnya menerbitkan buku-buku bermutu untuk mengawal peradaban literasi dengan menyebarkan cahaya ilmu.

Anton sudah menerjemahkan 80-an buku sastra selama kurang lebih 20 tahun. Lebih banyak menerjemahkan cerita pendek (antologi cerpen) dari karya sastra berbahasa Inggris.

Karya terjemahannya menyodorkan banyak tema mulai dari “Les Miserables” karya Hugo sampai “Lolita” karya Nabokov, sebagaimana hasil suntingannya dari ”Gunung Jiwa” milik Xingjian sampai “Midnight’s Children” karya Salman Rushdie.

Ia tidak hanya menerjemahkan, tetapi juga menulis esai-esai sastra yang dimuat pada majalah Tempo dan pportal online sastra-indonesia.com.

Karya monumentalnya adalah “Ensiklopedi Sastra Dunia”, buku tentang sastrawan dunia yang ditulis secara alfabet dan dilengkapi dengan data-data tentang terjemahan karya yang sudah ada, ditambah pula dengan berbagai penghargaan sastra dunia beserta daftar buku-buku yang wajib dibaca berdasarkan berbagai kriteria.

Karena kiprah dan jasa besarnya dalam menulis dan menerjemahkan karya-karya sastra, Anton pantas diberi apresiasi sebagai seorang sastrawan yang bertanggung jawab pada negerinya ketika ia berkarya menerjemahkan karya-karya asing.

*Daniel Deha

Baca Juga

Deal! Hilmar Farid Jawab Keresahan Pelaku Seni dan Budaya

Portal Teater - Penghapusan Direktorat Kesenian dari struktur Direktorat Kebudayaan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim awal tahun ini memunculkan polemik di kalangan...

Ini Delapan Pameran Seni Rupa Terbesar Tahun 2020

Portal Teater - Di negara manapun, pameran seni rupa tidak hanya dapat mengubah reputasi seniman dan karyanya, tapi juga kehidupan dan imajinasi publik yang menyerap...

Komite Seni Rupa DKJ Gelar Diskusi Buku Tiga Kritikus Seni Rupa

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Diskusi Buku Seri Wacana Kritik Seni Rupa dari tiga kritikus seni rupa Indonesia...

Terkini

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...