Portal Teater – Pekan depan, Djakarta Teater Platform ke-4 bakal digelar. Even berskala internasional ini akan dibuka secara resmi pada 8 Juli dan berlangsung selama dua minggu hingga 20 Juli. Semua kegiatan akan berlangsung di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Gedung Studio TOM FFTV dan Gedung Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta.

Ada lima kelompok teater Indonesia yang bakal membawakan pertunjukan dalam program Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta ini. Salah satunya adalah Artery Performa.

Dalam partisipasinya di DTP kali ini, Artery Perfiorma akan menampilkan pertunjukan “Underscore: Copy Paste Sae” di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, Senin (8/7), pukul 20.00 WIB.

Pertunjukan ini merupakan sebuah upaya pemeragaan dari tiga video dokumentasi pertunjukan Teater Sae, yaitu Pertumbuhan di Atas Meja Makan (1991), Biografi Yanti Setelah 12 Menit (1992) dan Migrasi dari Ruang Tamu (1993).

Menurut sutradara Artery Performa Dendi Madiya, pertunjukan ini semacam meng-copy-paste-edit inti dramaturgi dari ketiga video, menyalin-tempel-potong apa yang paling mewakili “tubuh pertunjukan” dari ketiga karya pentas Teater Sae tersebut.

Adapun urutan video yang diambil untuk dihadirkan kembali dalam pertunjukan ini adalah sebagai berikut: Pertumbuhan di Atas Meja Makan (menit 00:00:06 – 00:24:15), Biografi Yanti Setelah 12 Menit (menit 00:15:20 – 00:45:27) dan Migrasi dari Ruang Tamu (menit 00:47:14 – 01:04:54).

Dendi menjelaskan, para aktor pada pertunjukan “Underscore: Copy Paste Sae” ini berupaya meng-copy-paste permainan aktor-aktor yang tampil pada ketiga video pertunjukan Teater Sae.

Peniruan itu, kata Dendi, diupayakan pada sisi gestur, nada pengucapan teks, warna vokal dan tempo permainan. Pengolahan psikologis para aktor turut dibantu oleh pemaknaan-pemaknaan yang diambil dari ketiga naskah pertunjukan Teater Sae tersebut.

Unsur bebunyian seperti musik dan sound-effect diambil dari ketiga video. Bagian-bagian bebunyian yang menempel dengan suara aktor, pun dibuat replikanya.

“Pencahayaan dibuat mendekati apa yang tertuang dalam video dengan tidak menutup kemungkinan pada penafsiranpenafsiran teknis,” katanya melalui pernyataan tertulis, Kamis (4/7).

Pemilihan cuplikan video tersebut didasari oleh pengamatannya sebagai sutradara terhadap dramaturgi pertunjukan Teater Sae yang hadir dalam ketiga video dokumentasi itu. Pada ketiganya, bisa disaksikan hadirnya adegan-adegan yang meditatif, bertempo lambat, dilakukan oleh aktor-aktor yang khusyuk, terasa sebagai upaya melawan atau menghentikan waktu.

Terinspirasi dari Teater Sae

Kalau memang pertunjukan “Underscore: Copy Paste Sae”hanyalah sebuah imitasi atau copy-paste, lantas, apa yang mau disampaikan ke publik dari karya ini.

Dendi mengurai, proyek ini berkeinginan mengecek: mengapa tubuh-tubuh atau strategi dramaturgi Teater Sae bisa bersirkulasi di teater Indonesia, bahkan tanpa pernah menonton Teater Sae. Mengapa ia “berputar” dengan gampangnya dan menjadi sesuatu yang secara tidak disadari berada dalam presentasi pertunjukan saya yang tidak pernah menonton Teater Sae sebelumnya.

Ia bercerita, pada pertunjukannya yang berjudul “Teka-Teki Luka” (2008) dalam Festival Teater Jakarta wilayah Jakarta Timur, dua orang juri berkomentar bahwa pertunjukan itu mirip dengan pertunjukan-pertunjukan Teater Sae, Teater Kubur dan Bandar Teater Jakarta.

Padahal, saat itu, ia belum pernah sama sekali menonton Teater Sae dan baru sekali menonton Teater Kubur dan Bandar Teater Jakarta.

Lalu pada tahun 2016, Dendi lagi-lagi menonton karya pertunjukan Takao Kawaguchi yang melakukan pemeragaan terhadap karya-karya Kazuo Ohno.

Setelah menontonnya, terbersit di pikirannya untuk mengadopsi karya pertunjukan layaknya Kawaguchi, untuk melakukan pemeragaan terhadap karya pertunjukan teater modern atau kontemporer dari kelompok teater Indonesia.

“Pilihan saya jatuh kepada Teater Sae. Sejak saat itu saya mencari arsip-arsip Teater Sae,” ungkapnya.

Dalam pertunjukan-pertunjukan Teater Sae, kata Dendi, banyak menghadirkan kutipan-kutipan teks dari tokoh-tokoh politik dan intelektual dari Indonesia maupun mancanegara. Arsip dan data, potongan lagu pop dan lagu nasional, kutipan beberapa naskah pertunjukan, ikut disertakan ke dalam tubuh pertunjukan membuat pertunjukan Teater Sae sebagaimana dituliskan oleh Afrizal Malna (penulis naskah ketiga pertunjukan ini) seperti sebuah “Teater-Buku.”

Sebelumnya, proyek Dendi dkk berjalan dengan judul “Nyae” dan pernah dipresentasikan dalam format work in progress dengan bentuk pertunjukan yang berubah-ubah dalam beberapa kesempatan event, yaitu Jalan Tikus (Teater Garasi, Yogyakarta, Januari 2018); Lintas Media (Komite Teater- DKJ, Juli 2018) dan SIPFest Showcase (Salihara, Agustus 2018).

Proyek ini telah mendapatkan kontribusi diskusi dalam even-even tersebut, terutama juga dalam forum Majelis Dramaturgi, sebuah forum belajar dramaturgi performance dan penggarapan project performance yang dinisiasi oleh Teater Garasi-Yogyakarta.

Teater Sae

Teater Sae sendiri disutradarai oleh Boedi S. Otong. Teater ini kerap menghadirkan tubuh-tubuh histeris-eksplosif, juga dengan pembentukan lagu ucapan (nada pengucapan teks) yang oratorik-puitik-menekan-sugestif terutama seperti yang diperlihatkan oleh kedua aktornya, yaitu Margesti dan Zainal Abidin Domba.

Komposisi benda yang dihadirkan dalam pertunjukan Teater Sae lebih banyak mengusung benda-benda keseharian yang disusun untuk merepresentasikan ruang domestik (rumah tangga) yang tidak bisa memproteksi diri dari pengaruh-pengaruh wacana dari luar.

Benda-benda keseharian ini diperlakukan juga secara simbolik dalam pengadeganan yang melibatkan para aktor, seperti ingin merepresentasikan kondisi sosial-politik Orde Baru yang diisi oleh penyeragaman, serba rapi dan represi.

Artery Performa

Artery Performa dibentuk pada tahun 2013 sebagai ruang berkreativitas beberapa anak muda Jabodetabek pada kesenian. Artery lahir terutama setelah mendapat pinjaman tempat untuk berkumpul dan berlatih oleh Muhammad Amin dan beberapa temannya seperti Reza Pahlevi, Fidelis Krus, Didit Aditio, Muhammad Irfansyah dan Suprianto.

Pada suatu kesempatan, mereka juga bertemu dengan beberapa personil Teater Omponk seperti Dendi Madiya, Adek Ceeguk, Emiliy Wandem, Evan Houston dan Syahbudin Lail. Mereka menjadi sering bertemu, bercengkrama dan berlatih kesenian.

Kesepakatan akhirnya diperoleh untuk mengganti nama Teater Omponk menjadi artery, kemudian berganti lagi menjadi Artery Performa.

Pentas perdana Artery Performa adalah monolog Adek Ceeguk, Segenggam Tanah di Mulutku, pada even Dramakalafest di London School Public of Relations Jakarta, 21 Februari 2013; pertunjukan teater “Struktur Rumah Tangga Kami” pada Festival Teater Kota Administrasi Jakarta Timur (FTJT), 28 Juni 2013.

Pada tahun 2014, Artery Performa lebih banyak bergerak di bidang performance art, terutama dengan komunitas PADJAK (Performance Art di Jakarta). Kemudian berlanjut lagi pada tahun-tahun berikutnya dengan memproduksi pertunjukan, seperti Tidak Ada Kekosongan, Abracadabra Postpartum, Nyae da Gunungan Bantar Gebang.

Hingga kini, Artery Performa masih berjibaku untuk menemukan format organisasi komunitas yang tepat serta pencarian metode pelatihan dan penciptaan karya kesenian.

*Daniel Deha

Berikut cuplikan penjelasan konsep pementasan Artery Performa.