Portal Teater – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen mengembangkan ekosistem kesenian di kota Jakarta, ibu dari semua kota di Indonesia, yang serentak merupakan bagian dari arus kosmopolitan global.

Hal itu antara lain ditunjukkan lewat pembangunan revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM), yang direncanakan menjadi pusat kebudayaan Asia; untuk sekedar mengembalikan fitrah kejayaan masa lalu di mana Jakarta pada era 1970-an pernah menjadi pusat kegiatan seni-budaya terbesar di Asia.

Selain itu, tahun depan Pemprov DKI Jakarta juga akan merestrukturisasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ke dalam dua lembaga yang berbeda dan otonom. Yang satunya bernama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan yang lainnya adalah Dinas Kebudayaan.

“Dengan adanya Dinas Kebudayaan, maka kegiatan seni budaya akan lebih difokuskan, akan lebih dipikirkan. Ini jadi kesempatan jadi ruang yang sangat luas,” ujar Asiantoro, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta pada malam penganugerahan FTP 2019, Senin (7/10).

Karena itu, Asiantoro memandang pentingnya proses regenerasi teater di DKI Jakarta untuk membangun matarantai kesenian secara berjenjang.

Seperti halnya Festival Teater Jakarta (FTJ) sebagai festival tertua di Indonesia, ia berharap agar proses regenerasi teater tercipta melalui gagasan penyelenggaraan FTP DKI Jakarta.

Sebab FTP sendiri merupakan gagasan yang dibawa oleh Pemprov DKI Jakarta untuk memfasilitasi dan membangun kerangka ekosistem teater, melalui lingkup sekolah sebagai satu-satunya batas ekosistem yang paling dekat.

“Saya yakin cikal bakal teater pelajar ini terus berkembang. Jadi proses regenerasi berlanjut, sehingga di FTJ nanti muncul dari para juara FTP, atau para nominator,” ungkapnya di Gedung Kesenian Jakarta.

Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Asiantoro. -Dok. jakarta.tourism.go.id
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Asiantoro. -Dok. jakarta.tourism.go.id

Teater Jadi Cikal Bakal

Selain untuk proses regenerasi teater, Asiantoro melihat gagasan dasar FTP adalah untuk melihat kerja teater sebagai cikal bakal atau fondasi dari semua kerja-kerja kesenian yang lainnya.

Dengan kata lain, teater adalah dapur dari semua bidang kesenian. Karena di dalam teater, semua unsur kesenian dihadirkan, baik seni musik, tari, sastra, seni rupa, desain, ataupun multimedia.

Dengan teater pula, seniman bisa mengakses dunia kerja yang lebih luas, karena proses penciptaan kesenian teater membutuhkan proses yang lama dan panjang. Tidak seperti seni tari atau musik yang proses latihannya bisa dilakukan dengan cepat.

Dan yang terpenting, menurut Asiantoro, adalah bahwa di dalam kerja teater, setiap orang atau seniman diasah untuk mengolah seluruh potensi dirinya, termasuk emosi, psikis, kognitif, dan tindakan.

Karena di teater, tidak semata-mata seniman atau calon seniman dilatih untuk menjadi aktor, tapi bagaimana kerja teater juga adalah kerja intelektual, yaitu bagaimana seorang aktor memahami teater secara konseptual dan praktis, tambah salah satu juri FTP 2019.

Foto para pemenang Festival Teater Pelajar DKI Jakarta 2019. -Dok. portalteater.com
Foto para pemenang Festival Teater Pelajar DKI Jakarta 2019. -Dok. portalteater.com

Apresiasi Kepada Pemenang

Asiantoro dalam sambutannya, yang serentak menutup secara resmi FTP 2019, mengapresiasi kemenangan lima grup terbaik dan juga kepada 10 grup lainnya yang belum mendapatkan kesempatan juara.

Kelima grup pemenang tersebut, yakni: Teater Bias (SMA Budi Asih Jakarta Selatan), Teater Salim (SMKN 55 Jakarta Utara), 9 Bintang Teater (SMK MAARIF Jakarta Barat), Dapur Teater Satu (SMAN I Boedi Oetomo), dan Sanggar Seni Bintang (SMAN 2 Jakarta Barat).

“Selamat kepada para juara, dan juga kepada yang lainnya. Karena yang kalah adalah keberhasilan yang tertunda,” katanya.

Sebagai mantan pemain teater, Asiantoro memandang kerja teater sangat penting di DKI Jakarta. Hal itu persis senada dengan kebijakan Gubernur Anies Baswedan yang ingin mengembangkan teater di kampung-kampung di seluruh Provinsi DKI Jakarta.

Baginya, kerja kesenian di ibukota bisa menjamin kemapanan dan keamanan sosial dan ekonomi. Sebab pemerintah sendiri sudah memiliki standar harga bagi pelaku seni-budaya.

Hal itu berbeda dengan era sebelumnya, di mana pekerja seni dalam tatanan kehidupan sosial-ekonomi dipandang “sebelah mata” dan secara ekonomi tidak terjamin.

“Ke depan, berkesenian bisa menjamin hidupnya. Karena semua pelaku seni di DKI Jakarta dihargai, tergantung grade-nya. Kita lihat sekarang ada yang pergi pentas ke luar negeri,” tuturnya.

*Daniel Deha