“Baal” dan Model Hibridisasi Penciptaan Karya Seni Kontemporer

Portal Teater – Digarap selama tiga tahun terakhir, “Baal”, karya pamungkas Impermanence Dance Theatre asal Inggris tampil memukau penonton ibukota pada pementasan dua malam berturut-turut di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, Kamis-Jumat, 11-12 Juli 2019.

Indonesia menjadi negara pertama di luar Inggris di mana “Baal” dipentaskan. Kedatangan dan pementasan Impermanence ini tidak terlepas dari kemitraan bersama antara Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta dengan British Council Indonesia.

Kerjasama ini telah dimulai sejak tahun 2017, ketika British Council Indonesia mengundang anggota Komite Teater Adinda Luthvianti mengikuti Festival Edinburgh di Inggris.

Untuk mengenal lebih dalam bagaimana proses produksi karya terbaru mereka, Komite Teater menyediakan ruang khusus yang disebut sebagai “Biografi Penciptaan”, ruang untuk melihat lebih gamblang bagaimana karya-karya itu digagas dalam sebuah ekosistem penciptaan seiring perkembangan teknologi.

Ugeng T. Moetidjo dalam pengantar diskusi sore ini menggarisbawahi tentang hal ini, bahwa di era sekarang, proses penciptaan kesenian telah mengalami hibridisasi, atau konvergensi, yaitu saat di mana terjadi keterhubungan antara penciptaan karya seni yang satu dengan yang lain.

Sebagai pengamat dan pegiat seni rupa, Ugeng melihat “Baal” yang dipentaskan Impermanence telah sempurna memanfaatkan budaya konvergensi itu ke dalam karyanya. Dengan menggabungkan video sebagai representasi artifisial, teks atau narasi dan musik serta adegan di panggung, Impermanence mengamini apa yang disebut paradigma kesenian kontemporer.

Josh Ben-Tovim, aktor dan sutradara “Baal” pun menceritakan, penggarapan “Baal” berangkat dari kerangka pemikiran tersebut. Digarap sejak tahun 2017, ada banyak perubahan yang terjadi, mulai dari format pertunjukan hingga jumlah pemain.

Misalnya dalam jumlah pemain, pada mulanya ada 10 pemain, tetapi kemudian dikurangi menjadi 3 pemain. Namun, karena belum menemukan karaker yang tepat dengan cerita Baal sebagaimana dikisahkan Bertolt Brecht, akhirnya pemainnya ditambah 1 orang sehingga menjadi 4 orang sebagaimana terjadi pada pementasan.

Selain itu, dalam proses penggarapannya pun Impermanence bekerjasama dengan komposer Robert Bental untuk menambah khazanah pertunjukan tradisional sekaligus kontemporer. Bental sendiri sudah 4 tahun menjalin kerjasama dengan Impermanence.

Selama proses inilah Impermanence mengalami banyak kesulitan, seperti yang diungkapkan Bental. Kesulitan utamanya adalah menjaga agar komposisi musik dan suara tetap konsisten dan harmonis.

Kesulitan lainnya adalah usaha untuk menggabungkan dance dengan teks, terutama menciptakan model improvisasi gerakan yang mendukung kekuatan sebuah teks, kata co-sutradara Roseanna Anderson. Proses ini membutuhkan waktu latihan yang panjang dan berulang-ulang.

Model konvergensi yang paling menonjol adalah ketika adegan-adegan riil di panggung disatukan dengan konteks kehidupan sebagaimana divisualisasikan melalui screen video.

Bagi Josh, model hibridisasi tersebut bukan hanya populer di kalangan seni pertunjukan Inggris saat ini, tetapi juga karena teknologi telah lebih mudah dijangkai dan murah untuk didapatkan. Teknologi kemudian sangat fungsional sebagai modus penciptaan baru.

Bukan Sekedar Mengingat Masa Lalu

Josh, demikian pula Roseanna, menuturkan bahwa Impermanence memang sedang menggarap karya-karya klasik untuk membangkitkan memori akan masa lalu. Tujuannya bukan hanya untuk mengulang-ulang ingatan akan masa lalu, tetapi secara estetik dan moral ingin memperlihatkan bagaimana pekerjaan atau karya mereka di masa lalu. Dengan itu, Impermanence sebagai generasi saat ini merasa sebagai bagian dari warisan tersebut.

Salah satunya, selain menggarap karya Brecht, Impermanence juga mengadopsi gerakan-gerakan yang diperagakan kelompok teater Inggris yang hidup pada era 1990-an. Adegan dalam film teater itu menginspirasi mereka untuk menciptakan model baru dalam pertunjukan “Baal”.

Dengan upaya-upaya tersebut, Impermanence kemudian mendesain “Baal” sebagai pertunjukan yang bukan saja konvergen, tetapi juga lebih mendalam dari karaker aslinya.

Josh menceritakan, banyak teks dan adegan yang ditambahkan sekaligus dihilangkan untuk mendudukan “Baal” sebagai pertunjukan yang benar-benar hidup meski kejadian dan pengalaman Brecht menulis naskah itu terjadi di masa-masa akhir Perang Dunia I.

Dan untuk menghidupkannya, Impermanence tidak membangkitkan perasaan traumatik Brecht, melainkan memperlihatkan bahwa teater pada dasarnya sebuah kegembiraan; sebuah ketertawaan. Brecht sendiri selama hidupnya berpendirian bahwa teater tidak layak untuk ditertawakan.

Karena itulah, Impermanence, seperti diakui Roseanna, berusaha untuk mengeluarkan distraksi yang dihidupi Brecht dengan seni teater, untuk memberi warna baru ke dalam konteks penciptaan kekinian.

Misalnya, kata Roseanna, Impermanence merayakan kematian Sophia bukan sebagai sebuah tragedi yang perlu disesalkan, tetapi mencoba menjaga batas baru untuk mengatakan bahwa kematian pun mesti dirayakan sebagai sebuah kegembiraan di atas panggung; kematian telah terjadi di masa lalu dan yang ada hanya ritual untuk mengenangnya.

Pada titik ini, untuk merujuk kepada tema Djakarta Teater Platform 2019: “Kekuasaan dan Ketakuan”, Impermanence dengan “Baal”-nya telah keluar dari cengkraman kultur masyarakat yang senantiasa merawat kematian sebagai ketakutan yang lazim.

Ugeng pun mengamini keteguhan Impermanence dalam mengkonseptualisasikan karyanya tentang kematian. Menurutnya, dalam seni kontemporer, kematian tidal lagi dipikirkan sebagai ideologi, karena panggung teater tidak lagi bertautan dengan otonomi narasi tentang kematian; keduanya memiliki domain yang berbeda.

Bahkan, kata Ugeng, pertunjukan saat ini telah mengucilkan tanda-tanda, dan mulai terarah kepada kepentingan publik, yaitu bagaimana cara menarik publik sekian dekat dengan karya itu sendiri. Kematian dalam pementasan memiliki otonomi khusus di luar ideologi, katanya.

Itulah mengapa dalam “Baal”, Impermanence hanya menampilkan video kematian Ekart, untuk menjelaskan bahwa yang mati adalah ikon Ekart, dan bukan kematian seni teater.

Diskusi ini dipandu oleh moderator Arkan Tanriwa, bertempat di Lobby Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta.

Hadir dalam diskusi ini antara lain: pemain dan kru Impermanence, Komite Teater DKJ, media, pekerja seni, pengamat perwakilan British Council Indonesia.

Berikut kami lampirkan beberapa foto selama kegiatan:

Kru Impermanence, Komite Teater, British Council Indonesia dan panitia penyelenggara DTP 2019 foto bersama setelah acara diskusi.
Kru Impermanence, Komite Teater, British Council Indonesia dan panitia penyelenggara DTP 2019 foto bersama setelah acara diskusi.

Josh Ben-Tovim.
Josh Ben-Tovim.

Roseanna Anderson.
Roseanna Anderson.

Robert Bental.
Robert Bental.

Ugeng T. Moetidjo.
Ugeng T. Moetidjo.

Arkan Tanriwa.
Arkan Tanriwa.

Afrizal Malna, Ketua Komite Teater DKJ.
Afrizal Malna, Ketua Komite Teater DKJ.

Seorang peserta mengajukan pertanyaan dalam diskusi Biografi Penciptaan "Baal".
Seorang peserta mengajukan pertanyaan dalam diskusi Biografi Penciptaan “Baal”.

*Naskah: Daniel Deha; Foto: Andi Andur

Baca Juga

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Komit Bangun Kebudayaan, Bupati Tubaba Gelar “Megalithic Millennium Art”

Portal Teater - Pembangunan kesenian dan kebudayaan di Provinsi Lampung belakangan ini terus bertumbuh. Aktivisme itu tidak hanya digiatkan oleh seniman dan komunitas/sanggar seni,...

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama denganĀ  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...