Portal Teater – Apa pentingnya melihat naskah drama sebagai sebuah bacaan ketika ia diciptakan sebagai salah satu bagian kerja yang lebih besar? Dalam dualitas ini, naskah drama mencari jati diri.

Naskah drama merupakan langkah awal kerja pemanggungan. Ia ditakdirkan untuk dipentaskan dan bukan sekadar dibaca. Ia ditulis dengan kesadaran bahwa ia akan hadir di panggung. Namun, tak bisa dimungkiri, ada pula usaha-usaha untuk memproduksi naskah drama terpisah dari bentuk panggungnya, seperti dipublikasikan dalam bentuk buku atau kumpulan naskah daring.

Dengan adanya publikasi naskah drama, orang bisa mengaksesnya sebagai bahan bacaan tersendiri seperti karya sastra lain dan atau menggunakannya sebagai bahan adaptasi pertunjukan yang baru. Hal ini menunjukkan, naskah drama tidak serta-merta melekat pada satu bentuk panggung saja. Ia bahkan seharusnya bisa berdiri mandiri.

Ini kita temukan, misalnya, lewat drama kloset yang menitikberatkan kesadaran tekstual dari kehadiran naskah per se sebagai teks. Beberapa penulis naskah drama pun tidak secara langsung menciptakan karya mereka untuk kebutuhan panggung.

Secara bentuk, naskah drama tentu tidak lebih mudah dibaca daripada prosa atau puisi. Dari segi pembuatan, ia menghendaki keahlian khusus: penulis menyampaikan ide cerita melalui permainan para tokoh yang lihai—artinya penulis tidak sekadar secara verbal dan deskriptif mengatur peristiwa seperti dalam prosa.

Di dunia Barat, kita temukan para sastrawan besar yang bersinar karena naskah dramanya. Sebut saja, Henrik Ibsen, Eugène Ionesco, dan William Shakespeare yang mampu menghadirkan narasi kuat dalam naskah dramanya tanpa perlu diterjemahkan ke dalam pentas.

Henrik Ibsen dan William Shakespeare pun memang bukan nama yang jauh dari pangung teater, mereka pernah bekerja sebagai pengelola dan sutradara. Ibsen pernah bergabung dengan grup teater di Norwegia dan kelak dikenal sebagai perumus pendekatan realisme dalam tutur dramatiknya yang menjadikan naskah drama lebih dari sekadar hiburan rakyat.

Di Indonesia, kerja seperti ini juga terjadi. Banyak penulis naskah drama yang karyanya menjadi kanon sastra tumbuh besar di dunia teater. Mereka berperan aktif sebagai mesin penggerak grup teater tempat mereka bernaung.

Karya-karya Utuy Tatang Sontani hingga W.S. Rendra—yang juga dikenal sebagai penyair—hidup di tengah tradisi teater maupun sastra. Namun, ada pula penulis naskah drama yang tidak secara langsung bekerja dalam grup teater tertentu, seperti Iwan Simatupang, yang menghasilkan naskah drama berkualitas dan masih dipakai berkali-kali dalam pentas teater masa kini tanpa terlibat dalam kerjakerja bengkel teater.

Mereka adalah sedikit dari sederet nama yang menulis naskah drama dan membesarkannya dalam pemetaan sastra.

Bagaimana dengan naskah-naskah drama kita sekarang? Masihkah mereka punya kekuatan bertutur seperti Ibsen, Utuy, Rendra, atau bahkan Nano Riantiarno—yang hingga sekarang masih menulis dan menyutradarai pentasnya?

Menjawab Masalah dalam Pertemuan Dramatik

Pertanyaan-pertanyaan itu mengambil tempat dalam perhelatan Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) 2018. Festival ini adalah sebuah ruang yang memberikan tempat bagi naskah drama untuk dialami secara kolektif melalui pembacaan.

Festival kecil yang tumbuh organik ini menjawab keresahan Joned Suryatmoko—penulis naskah dan sutradara—dan Gunawan Maryanto yang juga pelaku teater, penulis naskah drama, dan penyair.

Gunawan kala itu tengah mengelola Forum Penulis Muda sebagai bagian proyek Teater Garasi. Di tengah keputusasaannya mengajak orang-orang memproduksi naskah drama berkualitas (baca: punya kesadaran sastrawi), ia diajak berinovasi oleh Joned yang baru saja kembali dari The Asia Playwright Conference.

Dalam perhelatan yang mengundang sejumlah penulis naskah drama dari Asia-Oceania di Tokyo pada 2009 itu, Joned menyaksikan pertemuan naskah drama dengan publik melalui pembacaan dramatik. Hal inilah yang kemudian menginspirasi Joned untuk mengajak Gunawan membuat sebuah pertemuan melalui pembacaan dramatik.

Seperti pembaca biasa, pelakon dalam kerja teater perlu membaca naskah dan menelusuri ide pengarang melalui interaksi, peristiwa dan tokoh dalam naskah.

Artinya, membaca adalah irisan pertemuan naskah drama sebagai teks dengan perjalanannya sebagai bakal pentas. Ini adalah irisan yang digunakan IDRF untuk menghubungkan naskah drama dengan para pembaca terpilih serta pembaca umum yang menjadi penontonnya.

Kehadiran IDRF bisa memberi jawaban, paling tidak, mengapa naskah drama harus ditulis walau tidak dihasilkan oleh mereka yang bergelut dalam suatu grup teater. Mereka menjembatani kebutuhan dan keberadaan naskah drama untuk terus hidup.

Selama sembilan tahun, visi ini dipegang Joned dan Gunawan yang juga dibantu Lusia Neti Cahyani—pengelola seni—untuk memimpin produksi festival.

Festival ini awalnya hanya untuk diselenggarakan selama tiga tahun, tapi kemudian melampaui harapan. Tidak hanya di Yogyakarta sebagai daerah mereka bergiat, beberapa program juga dihelat di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Mereka menerbitkan kumpulan naskah drama yang pernah dibacakan, mengadakan penerjemahan naskah asing, serta mendirikan sekolah membaca naskah drama.

Mencari Bentuk Baru

Joned dan Gunawan telah melimpahkan sejumlah naskah dan menunjuk Muhamad Abe sebagai kurator tetap IDRF. Kerja IDRF sebelumnya adalah menampung produksi naskah-naskah drama—melalui pengiriman ataupun mencari secara khusus—kemudian merumuskan suatu tema dari naskah terpilih.

Pada kerja kurasi tahun ini, sebagai kurator tamu, saya mengajukan ide untuk melihat sebuah kerja penulisan naskah drama atau teater yang mencari cara bernarasi baru. Mereka bekerja melampui kaidah-kaidah dramatik. Tokoh tergantikan oleh subyek-subyek tidak bernama dan narasi mereka perlakukan sebagai sebuah laman arsip tempat subyek tersebut mengambil peran.

Bentuk dramatik dari lakon yang biasa diwakilkan melalui dialog antartokoh turut dibuang dari panggung. Dengan tema ini, saya berharap kita bisa melihat seberapa penting kesadaran tekstual dimiliki oleh seorang penulis dan pembaca.

Untuk itu, pemilihan naskah drama bisa dimulai dengan melirik produsen naskah yang mutakhir, salah satunya dengan mengajak serta para peraih Rawayan Award. Saya pilih dua karya dari perhelatan ini, Shohifur Ridho’I dengan karya “Tiga Lapis Kesedihan” dan Riyadhus Shalihin dengan karya Cut Out.

Rekan saya, Mamad, menawarkan naskah Shinta Febriany dengan tiga judul dalam satu lakon, sementara Joned dengan naskah dari Satoko Ichihara yang dianggap bervisi selaras dengan pilihan tema kami saat itu.

Kami pun akhirnya menyepakati karya Afrizal Malna, “Migrasi dari Ruang Tamu”, sebagai wakil generasi yang telah lebih dulu mencoba bicara melalui naskah drama yang cair.

Semangat IDRF adalah menempatkan naskah drama sebagai bintang utama. Artinya, pembacaan teks sangat penting. Tantangan dari naskah-naskah ini bagi IDRF adalah bagaimana menentukan mereka yang akan membacakannya.

Dalam naskah Ridho, percakapan diambil dari komentar laman media sosial secara acak dan diberi ruang dalam tiga lapis. Pembaca terpilih untuk naskah ini awalnya adalah grup Ridho sendiri, rokateater. Namun, mereka menolak.

Akhirnya naskah ini dibacakan oleh para performer Studio Teater Garasi. Sedang naskah Riyadhus yang lebih mirip catatan kuratorial sebuah pameran arsip seni rupa yang membahas historiografi seni budaya dan pemikiran Indonesia, kami ajukan kepada Ruang MES56.

Untuk dua naskah lainnya, karya Shinta yang menggunakan pendekatan sebuah bentuk reportase puitis, disajikan oleh JARINGProject. Sementara Komunitas Sakatoya, yang juga adalah mitra penyelenggara IDRF tahun ini, kami minta membacakan naskah terjemahan Satoko Ichihata berjudul “Masalah Peri”.

Semua siap dipertemukan dalam kegiatan yang berlangsung pada 1-3 November 2018 di Gedung LIP-IFI Yogyakarta. Naskah dengan pembaca, pembacaan naskah dengan audiesnya. IDRF juga menyiapkan sebuah diskusi kuratorial dengan mengundang praktisi teater yang menghasilkan naskah original, Elyandra Widharta dari Yogyakarta.

Pembacaan pertama mengambil naskah Afrizal Malna yang telah lebih dulu mencoba narasi-narasi baru ini.
Kata hilang makna dan fungsi, bangunan alur sama sekali tak linear, dan logika bercerita dilanggar.

Grup Ridho, rokateater, yang akhirnya membaca naskah ini, memaknai hilangnya tokoh sebagai suara utama dalam naskah dengan membuat para pembaca bergantian membaca. Tidak ada orang yang menjadi satu tokoh saja. Mereka bisa menjadi mikrofon, bisa menjadi petunjuk panggung, bisa juga menjadi gerakan-gerakan yang dibacakan oleh pembaca lainnya.

Pembacaan oleh Grup Ridho membantu mengarahkan daya imajinasi penontonnya dalam memaknai bentuk cerita. Sedang naskah Ridho disusun dalam bentuk komentar-komentar acak di laman media sosial, bekutat pada isu politik, suku, dan agama.

Pentas tampak berbeda dibandingkan naskah. Barangkali ketika perfomer Studio Teater Garasi mencoba menerjemahkan teks Ridho, mereka luput akan semangat dan sifat dunia digital yang bicara cepat dan hadir anonim—yang bervariasi dan tak benar-benar menyentuh inti. Mereka membacakannya seperti membaca sebuah kalimat.

Upaya yang hampir gagal ini agak terselamatkan dengan pembagian peran cukup taktis walaupun cenderung datar bagi naskah Ridho yang khas “era digital”. Setidaknya, pembawaan para pementas mengarahkan penonton pada pertanyaan: apakah Ridho mengurasi teks-teks komentar yang dipilihnya?

Berbeda dengan naskah Riyadh yang bertendensi untuk bicara melalui data sejarah, ia mengolahnya dengan cerita fiksi yang dilihat sebagai perwakilan narasi mikro atas sesuatu yang besar. Ia menggunakan banyak gambar dan pengetahuan yang sangat kontekstual melalui gimik seperti nyanyian “Keluarga Berencana” dan cerita tentang Kartini.

Ketika kemudian naskah drama dibawakan oleh grup kolektif seni rupa Ruang MES 56, mengherankan karena visual justru tak menjadi andalan. Di panggung, mereka berputar arah dan membawakannya dengan cukup konvensional.

Mereka juga membuat grup WhatsApp yang terdiri dari penonton yang hadir dan kemudian mengirimkan gambar, lirik, dan data arsip yang tertera dalam naskah ke grup tersebut. Penonton boleh memilih untuk memeriksa kiriman dalam grup tersebut sehingga mereka terpaku pada gawai elektronik atau mengacuhkan gambar terkirim dan terus memperhatikan peristiwa di panggung.

Bagi saya, dengan cara seperti itu, mereka menunjukan dua hal, kecurigaan bahwa narasi visual dalam teks bukan bahasa utama—karena orang yang memilih tidak melihat gambar dalam grup tetap dapat menikmati cerita—dan sindiran terhadap kekuasaan gawai elektronik dalam penyebaran informasi kepada masyarakat.

Sedang Shinta, naskahnya “Beri Aku Pantai yang Dulu, Gila Orang Gila, Jangan Mati Sebelum Dia Tiba” banyak berbicara soal masalah reklamasi, kemiskinan dan kasus bunuh diri di Kota Makassar sebagai bagian dari proyek Teater Kota.

Lakon-lakonnya memecah diri dalam ujud catatan wawancara, montase visual reklamasi Losari, serta puisi-puisi yang dinukil dari karya sastrawan Makassar. Unsur lokal seperti bahasa Bugis yang kadang muncul, tentu cukup jadi masalah bagi JARINGProject yang merespons dengan menghadirkan lakon kental berbahasa Jawa.

Ada kalanya mereka dengan sengaja membocorkan kegagalan dalam mengucapkan kata-kata berbahasa asing di lidah mereka, sepintas itu terdengar lucu dan sesekali mengaburkan tujuan dari naskah. Usaha mereka untuk menerjemahkan kegilaan yang ingin disampaikan oleh Shinta, menurut saya, segar.

Dalam teks yang saya baca sendiri, berkali-kali saya bertanya, apakah benar kegilaan bisa disampaikan dengan bahasa yang begitu teratur seperti dilakukan Shinta? Mungkin karena adanya tendensi puitis dalam naskah ini, sesuatu yang seharusnya bisa menjadi lebih kasar dan liar justru gagal hadir lantaran terlalu banyak ornamen bahasa.

Ke Mana Menuju?

Dalam festival pembacaan dramatik ini, tak ada upaya kejar-mengajar dalam hal mutu—dalam artian baku. Mereka adalah pementas yang bergerak dan mencari tempat. Namun, tentu saja sebuah pertemuan tak bisa tidak meninggalkan goresan. Baik yang menyakiti, merusak maupun mencerahkan.

Goresan itu, saya suka menyebutnya sebagai kritisisme. Kritisisme—sesuatu yang penting dan nyaris hilang dalam produktivitas naskah drama.

Kita seringkali menyerahkan kritik atas sebuah naskah drama melalui eksekusinya di panggung. Sedang dalam IDRF, jalan pembacaan seperti ini memberi kita gambaran bagaimana sebuah kata sebenarnya terbentuk jadi peristiwa. Akurkah ia dengan elemen pada tubuhnya? Nikmatkah ia mengantarkan kita pada sebuah peristiwa? Atau begitu mengganggunyakah ia hingga kita justru tak mampu larut dalam narasi baru yang mereka tawarkan?

Usaha kritis dari para penonton setia IDRF terhadap usulan tema muncul dalam diskusi di hari terakhir. Ada yang senang karena kesegaran tema dan bentuk. Ada pula yang mengkritik bentuk-bentuk yang menghilangkan makna kata karena mempersulit pemahaman terhadap cerita.

Alfian Sa’at, penulis naskah dari Singapura yang karyanya juga pernah dibacakan pada 2016 di IDRF, menyatakan keseruan melihat bentuk-bentuk baru yang ditawarkan dalam IDRF kali ini. Sebagai seorang penulis naskah yang bersetia dengan narasi dramatik, Alfian cenderung melihat ini sebagai gejala dari teori pascadramatik yang pertama kali dicetuskan oleh Hans-Thies Lehmann.

Pertanyaannya kemudian, apakah pemahaman formal—teori dan sejarah— cukup memadai di Indonesia sehingga mereka yang datang dan menyaksikan IDRF tahun ini cukup punya konteks?

Saya pikir ini ada benarnya. Minimnya akses pengetahuan terhadap naskah drama, membuat jarak yang begitu besar bagi publik dengan perkembangan karya-karya terbaru. Mungkin dengan membangun jembatan pengetahuan antara publik dan dunia lakon, kita dapat membuat sebuah ekosistem yang baik untuk kelangsungan karya.

Barangkali, ini dapat ditempuh dengan mulai memasukkan naskah drama sebagai bahan bacaan, atau memberi ruang diskusi bagi sebuah upaya penciptaan naskah drama.

Tentu, kita perlu diskusi yang tak hanya basa-basi menanyakan bagaimana proses dan mengapa suatu lakon diciptakan, tapi juga mencari pertanggungjawaban gagasan yang diutarakan.

Pun, saya pikir ini sangat mendasar, kita perlu memperbaiki sistem pengarsipan naskah drama—sehingga bila dibutuhkan, untuk penelitian atau hiburan, orang tak akan beralasan sulit menemukan. Kita perlu membangun jembatan yang memampukan naskah-naskah drama ini hadir, tidak sekadar di panggung, tetapi sebagai teks yang dibaca.

Pada akhirnya, IDRF kali ini mengingatkan kita untuk memberi kesempatan naskah dibaca sebagai bagian dari sebuah penerjemahan yang dapat digunakan untuk: 1) melakoninya di atas panggung, 2) menikmati cerita, 3) memperkaya kemampuan bernarasi dalam kegiatan tulismenulis lakon.

Kesadaran penulisan naskah drama ini— saya ungkapkan di awal—tidaklah harus diperlakukan kaku dengan kaidah sastra ketat. Paling tidak, ia perlu menghasilkan kstase bagi para pembacanya. Seperti juga ketika drama-drama absurd dimulai atau kemudian drama puitik Lorca mengambil tempat, adakah mereka mempermasalahkan naskah ini hanya untuk dibaca—dan bukan dipentaskan?

Artikel ini merupakan tulisan asli Rebecca Kezia yang dimuat pada Katalog program Djakarta Teater Platform 2019. Rebecca Kezia sendiri merupakan kurator dalam pameran naskah drama bertemakan “Ruang Riuh” pada pagelaran ini. Pertama kali, artikel diterbitkan di www.jurnalruang.com, 23 November 20018.

*Daniel Deha