“Bacaan Liar”, Dialektika Kebahasaan Era Kolonial Yang Tergerus

Portal Teater – “Bacaan Liar Era Kolonial”. Tulisan ini terpampang jelas di Lobby Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta. Ditulis di atas tripleks berukuran kira-kira 8×3 meter, didesain untuk sebuah pameran (teks).

Warna merah, merujuk kepada warna pergerakan Kiri, melandasi lukisan-lukisan huruf yang menceritakan secuil muasal teks-teks itu digolongkan sebagai “Bacaan Liar”.

Pemilihan huruf-huruf yang besar pada judulnya membuat tulisan ini seolah menelanjangi dirinya di hadapan mata publik yang hilir mudik, datang dan pergi, sepanjang gelaran Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019.

Setiap mata (publik) yang memandang ke arah tulisan ini seolah dihipnotis oleh mantra-mantra yang dihadirkan; sebuah memori kelam bahasa dan bangsa; di atasnya jejak kolonial bertakhta.

Tulisan ini tidaklah kebetulan dihadirkan dalam pameran ini. Tetapi telah dipikirkan secara matang oleh para kurator JILF. Mengingat masa lalu berjalan beriringan dengan peziarahan intelektual dan kesusastraan masa kini dan yang akan datang.

Salah satu kurator JILF, Eka Kurniawan menulis, “Pemusnahan tradisi kesusastraan tak selalu berupa penghancuran yang kasat mata seperti pembakaran buku, pelaranga, atau penutupan perpustakan. Yang sering terjadi, tradisi kesusastraan dihancurkan perlahan tapi pasti justru melalui seleksi. Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, ironisnya, salah satu pembunuh tradisi panjang kesusastraan kita adalah bahasa Indonesia itu sendiri” (lih. Katalog JILF).

Melansir Kompas, Ketua Komite Sastra DKJ dan kurator JILF Yusi Avianto Pareanom pun mengatakan, bacaan liar merupakan bacaan yang dianggap ilegal pada era kolonial. Di mana pada masa itu bacaan yang legal bacaan-bacaan terbitan Balai Pustaka.

Pameran ini berniat menciptakan wacana atau sebentuk dialektika baru di masyarakat, bahwa  memori kelam bangsa perlu dihidupkan lagi agar masyarakat Indonesia modern mengenal hal baru terkait literasi yang tergerus pada era kolonial.

Beberapa “bacaan liar” yang dipampang pada pameran tekstual ini, antaral lain: Bacaan Ala Balai Pustaka, Nota Rinkes, Sastra Pergerakan, dan Sastra Tinghoa-Peranakan.

Foto-foto lama dari era kolonial, cover buku karya penulis Bacaan Liar, skrip koran, dan nota berisi keputusan mengenai bacaan liar yang dicetuskan DA Rinkes ditulis dengan goresan yang membara.

Pameran ini berlangsung selama perhelatan JILF, yaitu sepanjang 20-24 Agustus 2019 di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. Penerbit Balai Pustaka pun hadir dalam pameran ini.

Menurut Staf Marketing Balai Pustaka Naufal AR, selama tiga hari pameran, jumlah buku yang terjual baru sekitar 10 buah. Hal itu berbeda dengan jumlah penjualan yang didapatkan Agromedia pada pameran Patjar Merah yang sudah ratusan buku terjual.

Selain karena kurangnya minat pengunjung untuk membeli karya-karya para sastrawan Angkatan Pujangga Baru, ketidakterjangkauan harga, di mana kisaran harga terendah sebesar Rp60.000 dan harga tertinggi Rp200.000, menjadi tantangan tersendiri bagi pengunjung.

“Iya, tiga hari ini baru 10 buku yang laku,” katanya.

Booth pameran Penerbit Balai Pustaka di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. -Dok. portalteater.com
Booth pameran Penerbit Balai Pustaka di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta. -Dok. portalteater.com

Muasal Bacaan Liar

Terminologi “Bacaan Liar” secara kasat mata bernuasa negatif. Seolah bacaan yang tergolong ke dalam wilayah ini berasal dari kelompok bacaan yang tidak jelas, penuh bahaya, arkais, mesum, menakutkan dan tidak dapat diprediksi.

Istilah ini diproduksi oleh kolonial untuk membentuk semacam wacana hegemoni bahasa dan kesusastraan di Indonesia masa itu.

Dicetuskan mantan penjabat tinggi pemerintahan Hindia Belanda DA Rinkes melalui nota yang ditulisnya dengan judul “Nota over de Volkslectuur” (1911), atau yang populer dikenal “Nota Rinkes”.

Bacaan yang termasuk dalam kategori bacaan liar dihasilkan oleh penulis dari kaum pergerakan nasional periode awal dan penulis Tionghoa peranakan.

Lembaga yang bertugas sebagai kurator pada masa itu adalah “Commissie voor de Inlandsche School en Volksletuur” (Komisi Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) yang didirikan pada 1908.

Sejak tahun 1917, Komisi ini beralih fungsi menjadi “Kantoor voor de Vlokslectuur” atau Kantor Bacaan Rakyat. Kantor ini adalah badan usaha penerbitan yang dikenal hingga sekarang dengan nama Bale Poestaka atau Balai Pustaka.

Meski historisitas kesusastraan Indonesia modern kemudian muncul kuat pada masa ini bersamaan dengan berdirinya Balai Pustaka, sayangnya, bacaan-bacaan liar pada masa itu masih mengendap di bawah arus sastra Indonesia karena ketimpangan hegemonik yang dimainkan kolonial melalui Balai Pustaka.

Artinya, hampir tidak ditemukan adanya alternatif bacaan yang sama-sama bermutu di luar penerbitan Balai Pustaka pada masanya.

Di luar konteks kebahasaan, bacaan liar pada masa setelahnya hingga kini terepresentasi dalam kelompok bacaan yang dilarang pemerintah sejak Orde Baru, terutama bacaan bernuasa komunis dan gerakan Kiri. Operasi terhadap bacaan tersebut masih terjadi hingga hari ini.

Balai Pustaka

Meski menjadi “kaki tangan” kolonial, tetapi Balai Pustaka memiliki peranan besar terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia modern. Mekaran kesusastraan itu muncul bersamaan dengan terbentuknya Angkatan Balai Pustaka yang ditandai dengan terbitnya roman “Azab dan Sengsara” (1920) karya Merari Siregar oleh Balai Pustaka.

Historisitas sastra ala para sastrawan Belanda, seperti misalnya Prof. Dr. Andries Teeuw ini diteruskan atau diterima oleh sastrawan Indonesia, bahkan orang sekaliber Hans Bague Jassin. Jadi, Indonesia baru mengenal aksara Latin dan pengetahuan sastra modern berkat jasa besar Balai Pustaka. Dan rekaman itu terus hidup sampai sekarang.

Tanti Pupti (51 tahun), salah satu pengunjung pada booth buku-buku terbitan Balai Pustaka di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta mengakui hal itu.

Ditemani kedua kerabatnya (Norma Pohan dan Eli Rahmi), Tanti mengatakan, pengaruh Balai Pustaka sangat kuat pada masanya hingga saat ini. Bahkan, perempuan paruh baya itu membuat perbedaan yang jelas antara angkatan Balai Pustaka dan buku-buku terbitannya dengan generasi dan buku-buku terbitan saat ini.

Dalam konteks literasi kesusastraan, perbedaan paling esensial dari keduanya adalah soal bahasa dan ide cerita yang disuguhkan penulis melalui karya-karya mereka. Balai Pustaka cenderung menggunakan bahasa dari “budaya tinggi” (simbol keningratan).

Meski buku-buku pelajaran wajib di sekolah pada masanya diterbitkan Balai Pustaka dan terkesan monoton karena belum adanya ilustrasi gambar, tetapi struktur bahasa yang dipakai penerbit ini lebih baik, santun dan baku.

Hal itu berbeda dengan buku-buku terbitan era sekarang, terutama penerbit alternatif pasca Reformasi. Di mana struktur dan permainan bahasanya lebih luwes, cair dan milenialistik.

“Justru dengan itu membuat bahasa kita mengalami degradasi,” katanya di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta, Kamis (22/8).

Demikian pula, dalam khazanah kesusastraan, perempuan yang pada masa kuliahnya minat pada bidang sastra ini menilai banyak esensi bahasa dan kekayaannya yang mulai hilang dari struktur baku bahasa Indonesia. Termasuk misalnya dalam produksi film nasional yang lebih menonjolkan bahasa-bahasa alay.

“Makanya saya tidak suka nonton sinetron kita. Terlalu lebay deh,” cetusnya.

Menarik, bahwa meski generasi seangkatan Tanti, Norma dan Eli (generasi tradisionalis) tidak menyukai khazanah bahasa era sekarang, tetapi mereka justru tidak merasa terganggu dengan pemakaian bahasa yang dituturkan anak-anak mereka, yang umumnya hidup di era generasi X hingga Y (atau milenial).

Sementara, menurut pengakuan Eli, pada masa kanak-kanaknya, ia selalu dimarahi ayahnya bilamana ia menggunakan ungkapan “aku” (merujuk pada dialek khas anak-anak metropolitan) dalam interaksi di keluarganya.

Artinya, keluarga Eli tetap merawat nuansa “budaya tinggi” yang diwariskan Balai Pustaka. Sedang, saat ini, ia berada di antara generasi yang menghubungkan generasi terdahulu dengan generasi milenial.

Pada tataran ini, ada sebuah lubang yang tidak terjembatani, serentak sebuah kontra-kultur yang tajam yang dipelihara oleh generasi dari ketiga perempuan ini. Di mana menurut pengakuan mereka, kepada anak-anaknya mereka tetap beradaptasi dengan penggunaan bahasa kontemporer yang alay dan lebay.

Pada intinya, sebenarnya pengalaman ketiga perempuan ini merepresentasikan kegelisahan mereka terhadap literasi kesusastraan dan bahasa Indonesia yang mulai hilang tidak terkendali, sedang tidak ada pula lembaga yang mengayomi sekuat Balai Pustaka pada masanya.

“Sekarang kan ada Penerbit Intan Pariwara untuk buku-buku pelajaran, tetapi itu sudah mulai pakai bahasa-bahasa khas anak-anak sekarang,” tutur Tanti.

*Daniel Deha

Baca Juga

Kadisbud Iwan Henry: Teater Jadi Medium Literasi Anak

Portal Teater - Teater Lorong Yunior sukses mementaskan dua kali lakon "Sang Juara" karya dan sutradara Djaelani Mannock di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (19/1)....

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...