Komit Bangun Kebudayaan, Bupati Tubaba Gelar “Megalithic Millennium Art”

Portal Teater – Pembangunan kesenian dan kebudayaan di Provinsi Lampung belakangan ini terus bertumbuh. Aktivisme itu tidak hanya digiatkan oleh seniman dan komunitas/sanggar seni, tapi juga didukung penuh oleh pemerintah setempat.

Teranyar, Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung mengandeng Padepokan Lemah Putih (Solo) Lampung berkolaborasi menggelar program seni budaya bertaraf internasional bertajuk: “Sharing Time: Megalithic Millennium Art”.

Bertempat di sejumlah tempat seperti kota budaya Ulluan Nughik, Sessat Agung, Las Sengok (Tiyuh Karta) dan Situs Patung Megouw Pak, kegiatan akbar ini berlangsung sepanjang 22-26 Januari 2020.

Mengutip publikasi teraslampung.com, acara berupa pentas, sarasehan dan workshop ini rencananya akan dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim hari ini, Rabu (22/1).

Selain itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dijadwalkan akan hadir dan menjadi pembicara dalam sarasehan bertajuk “Membangun Manusia Lewat Jalan Kebudayaan”.

Kehadiran dua pejabat tinggi negara yang khusus mengelola platform kesenian dan kebduayaan ini menunjukkan niat dan komitmen pemerintah untuk terus mendukung kerja kesenian sebagai fondasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang berbudaya di masa depan.

Sebelum gelaran ini, sejumlah kegiatan seni budaya sudah dilakukan untuk mengawali tahun ini. Rumah Tari Sangishu pada Kamis (9/1), misalnya, menggelar event kolaborasi bertajuk “Srawung Seni Sawah” di Desa Triharjo, Merbau Mataram, Kabupaten Lampung Selatan.

Selain itu, sebagai penutup tahun 2019, Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung pun menghibur pencinta seni teater di Lampung dengan mementaskan dua karya sekaligus, yaitu “Pilgrim” (karya Ari Pahala Hutabarat) dan “Pinangan” (karya Anton Chekhov).

Pertunjukan itu diadakan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung sepanjang 20-22 Desember 2019.

Program "Sharing Time Megalithic Millennium Art" 2020 digelar di Tubaba, Lampung. -Dok. Christian Heru Cahyo Saputro.
Program “Sharing Time Megalithic Millennium Art” 2020 digelar di Tubaba, Lampung. -Dok. Christian Heru Cahyo Saputro.

Komitmen Bupati Umar Ahmad

Bupati Tubaba Umar Ahmad adalah salah satu kepala daerah di Indonesia yang memiliki cita rasa seni dan sangat berkomitmen membangun infastruktur kesenian untuk mendukung ekosistem kebudayaan di daerahnya.

Diketahui Bupati Umar sebelumnya sukses membangun ruang publik yang menyatu dengan masjid dan tempat wisata. Selain itu, ia pun membangun beberapa bangunan seni bernuansa tradisi Lampung yang memiliki relasi dengan sejarah Lampung.

Sebagai pencinta seni budaya, Bupati Umar memiliki visi menjadikan Tubaba sebagai satu wilayah yang memiliki atmosfer kebudayaan berwawasan ekologis.

Baru saja Bupati Umar ditetapkan sebagai penerima Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat atas kinerja dan proposal program pembangunan kebudayaan yang dipaparkannya di hadapan pada juri di Jakarta, Kamis (9/1) lalu.

Daalm sebuah pernyataan tertulis, Bupati Umar mengatakan pendidikan dan pembangunan infrastruktur kesenian penting untuk membangun masa depan kebudayaan bangsa.

Karena itu, dalam lima tahun terakhir, anak-anak sekolah di Tubaba bisa berlatih kesenian, seperti teater, sastra, seni rupa, musik, film, fotografi dan tari di pusat-pusat kesenian yang disedikan pemerintah.

“Mereka tak hanya belajar seni, tetapi juga berlatih pendidikan ekologi untuk membangun kesadaran dalam praksis sehari-hari, menumbuhkan kesadaran seperti tidak membuang sampah sembarangan, pengurangan sampah plastik, menanam pohon hingga pengetahuan pertanian permakultur,” katanya dalam rilis yang diterima pada Selasa (21/1).

Para seniman dari dalam maupun luar negeri menghadiri program "Sharing Time Megalithic Millennium Art" 2020 digelar di Tubaba, Lampung. -Dok. Christian Heru Cahyo Saputro.
Para seniman dari dalam maupun luar negeri menghadiri program “Sharing Time Megalithic Millennium Art” 2020 yang digelar di Tubaba, Lampung. -Dok. Christian Heru Cahyo Saputro.

Aplikasi Metode “Joget Amerta” Mbah Prapto

Awal tahun ini, Bupati Umar menggandeng maestro tari Sardono W. Kusumo, bersama-sama mengusung program internasional untuk menghimpun lebih banyak seniman dan pegiat seni dari Indonesia dan mancanegara untuk bertemu dan bertukar gagasan di Tubaba.

Program ini sebenarnya merupakan gagasan yang dibuat mendiang Suprapto Suryodarmo (dikenal sebagai Mbah Prapto), pendiri Padepokan Lemah Putih Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu sebelum dirinya menutup usia.

Bersama para seniman, komunitas dan pemerintah, akhirnya dihidupkan kembali gagasan tersebut dengan maksud menggiatkan satu metode performans anggitan mendiang Mbah Prapto.

Melalui metode yang disebut “Joget Amerta”, Mbah Prapto menekankan pencarian ke dalam (inner), dari kedalaman diri lalu membangun kesadaran akan hubungan dengan lingkungan, manusia dan Tuhan.

Suatu waktu Sardono Kusumo mengatakan, “Joget Amerta” bukanlah tari dalam pengertian teknis, memiliki teknik-teknik gerak yang baku.

“Apa yang dilakukan Suprapto Suryodarmo justru menjadi lebih penting karena dia mampu menciptakan atmosfer tari. Sebagian orang menyebut ‘Joget Amerta’ sebagai meditasi gerak,” terangnya.

Secara terpisah Penanggung Jawab Workshop Iskandar GB mengatakan, tema gelaran akbar ini menunjukan pertemuan dua tradisi, yakni tradisi megalitik dan tradisi milenium.

Megalitik direpresentasikan dengan “Joket Amerta” karya Suprapto Suryodarmo yang selama puluhan tahun berlatih Joget Amerta di situs-situs megalitik (selain candi), sebagai ruang sunyi yang mendekatkan diri dengan alam, Tuhan dan peradaban masa silam.

Tradisi itu kemudian dikawinkan dengan terminologi “millenium” untuk merujuk pada manusia dan konteks kekinian. Terutama berkorelasi dengan pendidikan kesenian dan lingkungan anak-anak di Tubaba sebagai pandu masa depan.

“Maka terma ini memiliki spektrum pengertian teramat kaya. Kita akan lebih memahaminya dalam seluruh gelaran acara yang berupa: Sarsehan, workshop dan pertunjukan,” katanya, mengutip teraslampung.com.

Diikuti Puluhan Seniman Lokal dan Mancanegara

Helatan akbar yang mengambil latar lokal ini diikuti puluhan seniman, pegiat kreatif, arsitek, budawayan, arkeolog, baik dari dalam maupun luar negeri. Tidak lupa pula, pemerintah setempat memberi ruang bagi siswa-siswi di Tubaba untuk tampil dalam acara ini.

Adapun para penyaji yang akan hadir dalam program ini, antara lain: Andy Burnham (arkeolog, pendiri dan editor web Megalithic Portal, Inggris), Alex Gebe (seniman, anggota Teater Kober, Lampung), Ari Rudenko (seniman lintas disiplin dari Amerika Serikat), Anna Thu Schmidt (penari asal Jerman yang menyelesaikan studi masternya di Throndeim, Norwegia).

Selain itu, ada Agus Sangishu (Rumah Tari Sangishu, Lampung) Bettina Mainz (Penari, guru dan terapis trauma berbasis di Berlin, Jerman). Dalam acara ini Mainz akan pentas kolaborasi bersama suaminya Rodolfo Mertig (fisikawan) dan putra mereka Sebastian Mainz-Mertig yang masih berusia 11 tahun.

Pun hadir dalam event ini Daniel Oscar Baskoro (periset asal Yogayakarta yang berbasis di Univesitas Columbia, New York, AS), Dian Anggraini (penari dan dosen asal Lampung) Diantori Dihan (koreografer, pimpinan Gar Dancestory, Lampung), Edhyitia Rio (Komposer, anggota Orkes Ba’da Isya, Lampung), Frances Rosario (seniman, AS).

Prof. Dr. Haris Sukendar (mantan kepala badan Arkeologi Nasional), Diane Butler (seniman gerak, pimpinan Dharma Nature Time, Bali), Halilintar Latief ( antroplog, Universitas Negri Makassar), Keith Miller (Inspektorat Monumen Kuno untuk English Heritage, Inggris), Katsura Kan (seniman Butoh asal Jepang), Margit Galanter (penyair Tari dan Instigator Kebudayaan, AS), Mara Poliak (perfomer, AS), Moris Shakaia (Performer, Russia), Peter Chin (performer, Kanada).

Penari asal Solo Rianto (berbasis di Jepang), Sandrayati Fay (komposer dan penyanyi asal Ubud, Bali), Transpiosa Riomandha (antropolog, Yogyakarta) dan Mariana Isa (arsitektur dan peneliti, Malaysia), pun hadir dalam event ini.

Selain seniman dan pegiat kreatif senior, siswa-siswa Tubaba yang terpilih juga akan menjadi pembicara dalam acara sarasehan bertajuk “Tubaba 100 Tahun Kemudian”.

Pada pembukaan, 70 pelajar Sekolah Seni Tubaba akan membawakan Tari Nenemo. Selain itu, juga akan ditampilkan pementasan musik Q-Thik, tari Sigeh Pengunten dan Seni Kulintang.*

Baca Juga

HUT Ke-46 Teater Keliling: Bermula di TIM Jakarta

Portal Teater - Empat puluh enam tahun lalu, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pada sebuah rumah yang merupakan perumahan penjaga Kebun Binatang Raden...

Nara Teater: Bertumbuh dalam Ekosistem yang Buntung

Portal Teater - Ketika Gedung Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dirubuhkan, banyak yang risau soal geliat dan ekosistem kesenian dan...

Digitalisasi Arsip Dewan Kesenian Jakarta Terkendala

Portal Teater - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyimpan banyak arsip dan koleksi seni berupa kertas (kliping koran, poster, naskah drama/teater), foto, lukisan, buku dan...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...