Benda dan Tubuh Adalah Rumah Bagi Pengalaman atau Pengalaman Adalah Rumah Bagi Benda dan Tubuh
esai pertunjukan dan diskusi posthaste, teater payung hitam.

 

Suatu hari pada sebuah workshop penyutradaraan “Tubuh dan Kata” disutradara muda Jepang, Toshiki Okda, merasa heran kenapa setiap peserta workshop ketika diminta menceritakan rumah selalu juga menceritakan pengalamanya di rumah itu, tidak hanya menceritakan rumah sebagai bangunan yang memiliki ukuran dan fungsinya. Kenapa pengalaman selalu hadir dalam level ucapannya, tidak seperti workshop-workshopnya di tempat lain.

Sejarah teater modern/avant-garde yang tumbuh bersama medan sosial-politik Orde Baru  telah membawa tubuh jauh ke dalam medan asoiasi, sehingga untuk mengatakan pengalaman keseharian pun selalu ada kata selanjutnya setelah kata ‘tubuh’, seperti ‘tubuh distorsi’ atau ‘tubuh natural’. Dan kita mau tidak mau telah memposisikan tubuh juga sebagai medan dikotomi yang paling kentara, seperti natur/kultur, objek/subjek, perempuan/laki-laki, bagus/jelek.  Michael Bodden, antropolog yang meneliti teater di Indonesia di dasawarsa 90-an menyebutkan teater modern di Indonesia lahir di antara ketegangan wacana: apolitis-universalis/politis, tafsir plural/tunggal,  seni tinggi/rendah, dan budaya barat/timur (disarikan: Teater Payung Hitam: Dan Antara Garda Depan dan Kebutuhan Bicara Yang Amat Perih).

Wacana ini mungkin, yang menjadikan Rachman Sabur meletakan gagasan Teater Tubuh-nya sebagai teater yang tidak hanya berurusan dengan semata-mata fisikalitas atau teknik, bukan hanya tubuh pada dirinya sendiri. Tubuh menjadi suatu ‘cara berbahasa’ dengan ‘menggambarkan’  atau ‘meyatakan’.  Rahman Sabur percaya bahwa tubuh memiliki konteks kulturalnya sendiri, tapi juga sekaligus universal.  Sifat universal dan kekayaan konteks kultural tubuh  di TPH itu juga yang menurutnya menjadikan daya tarik tersendiri bagi seniman atau kelompok teater luar (Indonesia) untuk melalukan kerja sama dengan TPH, misalnya: bersama Tikka Sears (Amerika Serikat) dalam “Choice and The Hunter’s Machine” (2003), The Lunatics (Belanda) dalam “Blackmoon” (2005), dan bersama Camille Boite (Perancis) dalam “Segera” (2013) yang kelak menjadi cikal bakal “Posthaste”.

Teater Payung Hitam (TPH) diundang Komite Teater- Dewan Kesenian Jakarta untuk mementaskan “Posthaste” di Graha Bakti Budaya (GBB) pada tanggal 17-18 Mei 2017 sebagai sebagai pertunjukan pembuka rangkaian program Djakarta Theatre Platform.  Sesuai di buku acara, Djakarta Teater Platform adalah sebuah laboratorium bersama untuk melakukan kurasi di dataran gagasan, bukan di dataran karya,  bagaimana teater “dipertaruhkan” dalam medan politik budaya di sekitarya. Sore hari, di sela-sela pertunjukan, untuk mengartikulasikan visi program, komite teater mengadakan diskusi dari proses dan riset internal yang dilakukan aktor di dalam produksi Posthaste di lobi GBB. Diskusi ini melibatkan Rachman Sabur (sutradara), Wail Irsyad (aktor), Sugiyanti Ariani (aktor), Nugraha Bazir (aktor), dan Fazar Okto (penata artistik).

Saya yang duduk dan ikut mendengarkan pemaparan pengalaman yang notabene generasi baru  di produksi TPH  setelah generasi Tony Broer, Hendra Mboth, Otong Durachim, diantarkan pada bayangan bagaimana kerja keaktoran dan strategi artistik terjadi di TPH sekarang,  dan menandai kata-kata yang kerap diulang-ulang: pemain saya, intruksi, perubahan-berubah, kebebasan, gambaran, diskusi, tubuh natural, tubuh distorsi, benda sebagai bahasa, barang bekas,  tubuh bunyi.  Disadari atau tidak  keluar di dalam omongan, saya menyerap dan menjadikan kata-kata tersebut sebagai kata-kata kunci yang mendasari proses artistik di TPH, setidaknya di produksi Posthaste,  untuk saya kaitkan dengan pengalaman menonton saya dari mulai pertunjukan “Segera”.  Sayang, diskusi yang menurut saya penting, untuk melihat bagaimana distribusi dan negosiasi gagasan (pengetahuan) di dalam wacana  – apa yang sering banyak disebutkan sebagai – ‘teater sutradara’ tidak banyak terjadi, kalau tidak pujian, debat kesenimananlah yang terjadi. Padahal tujuan dari program ini adalah menguraikan, bukan memotong atau mengusutkan.

Tapi penjelasan dari TPH lewat diskusi itu tetap menarik saya, dengan hasil penandaan pada penjelasan di diskusi ,saya coba mengingat setidaknya perubahan yang terjadi dari pertunjukan “Segera” bersama Camille Boite ke pertunjukan “Posthaste” di 34 tahun TPH (2016). “Segera” adalah pertunjukan yang sesak dengan plastik, bukan karena atmosfir pertunjukan yang membuat kita mengalami empati dan merasakan sesak di dada, tapi karena material artistiknya yang memenuhi panggung. Pilihan untuk menghadirkan kisah dari serangkaian efek kecemasan diantara jarak tubuh dan benda, membuat saya bertanya, apakah benda mempunyai pikiran dan keputusannya sendiri dalam menentukan, kapan dia jatuh, kapan dia rubuh, kapan dia mengacam dan kapan dia melindungi?  Atau apakah itu semua juga disebabkan manusia modern, pikiran manusia yang ada di dalam pertunjukan?

 

Saya melihat “Segera” tidak dalam perspektif tema lingkungan masyarakat konsumennya, tapi saya tertarik dengan lintasan-lintasan saya dalam gambar-gambar adegan pertunjukan TPH yang kerap menghadirkan efek kecemasan dan mendramatisasi  jarak antara tubuh dan benda. Kadang terlihat bagaimana kisah berada di luar jarak tubuh dan benda, malah kadang meniadakan efek dari jarak tersebut, karena kisah mengambil alih peran dari tubuh dan benda. Sebut saja salah satu pertunjukannya, Merah Bolong

Saya hadirkan beberapa komentar penonton Merah Bolong:

Dengan kuat, mereka menggambrakan ritual penderitaan rakyat miskin yang menggeral susul meyusul dihadapan mata kita. itulah realitas kehidupan rakyat dewasa ini. Rakyat miskin memakai celana pedek dengan topeng-topeng yang menyeringai dengan rambut palsu awut-awutan, ember, skeop, pikulan, batu, hanyalah sejumlah alat peraga yang dimiliki rakyat miskin yang tak bisa menolong apa- apa. Danarto: Teror Membayangi Kita Terus (TEMPO, 7 November 1999)

Sembilan pemain bertopeng, laki-laki yang semua wajahnya mengekspresikan beban penderitaan; mengeluh meringis, menagis. Orang-orang menderita dengan kostum celana hitam potongan kaki dua pertiga. Kelompok Payung Hitam seperti ingin menghadirkan dunia yang menderita. […] Kucuran, ditambah gesekan kerikil dengan ember kaleng, menghadirkan suara yang mendesah. Sejak ini, mulailah penonton diteror oleh suara, batu dan ember, batu dengan lantai, batu dengan kerikil, batu dengan batu.

Zoos: Ketika Payung Hitam Makin Ke Depan (ADIL, No 44, 13 Agustus 1997)

Di sisi lain, saya juga membayangkan bagaimana seni sirkus bekerja di dalam sebuah pertunjukan teater. Melalui pertunjukan “Segera”, selain kepiawaian teknik dan akrobatika tubuh, juga ada kerja pengaturan durasi, trik-game, dan humor di dalam jarak antara tubuh dan benda. Ada kerja untuk menghadirkan respon organik dari pengalaman tubuh ketika berada dilingkungan objek, meskipun objek-objek ini telah dirancang sedemiakan rupa.  Jadi kalau disimpulkan bahwa kolaborasi antara TPH dan Camille Boite adalah kolaborasi dari dua cara kerja yang mirip karena melakukan eksplorasi tubuh dan eksplorasi material artistik, justru saya menangkap perbedaannya, yaitu bagaimana mereka mengelola jarak antara tubuh dan benda.

Saya tidak begitu tahu bagaimana setelah kerja kolaborasi ini diteruskan atau mempengaruhi Camille Boite. Tapi di Teater Payung Hitam, lewat produksi “Posthaste”, pengaruh dari kerja kolaborasi ini bisa terbaca. Pergeseran tema dari ‘lingkungan’ ke ‘Hak Asasi Manusia dan Politik Kekuasaan” menjadikan pertumbuhan Posthaste bergerak dengan kata-kata yang saya tandai dipenjelasan diskusi TPH. Yang paling kentara adalah ‘tubuh distorsi’ dan ‘tubuh natural’.  Kalau misalnya definisi ‘tubuh natural’ yang berkembang di diskusi adalah tubuh keseharian ketika kita mengalami kesatuan waktu dan ruang, berarti tubuh berada di posisi yang akan mengalami apapun. Sedangkan ‘tubuh distori’ yang Wail tegaskan lagi adalah ‘tubuh ekspresif’ adalah  tubuh yang menampung  pengalaman, dan juga sebagai pengalaman yang diungkapkan, dimensi waktu dan ruangnya menjadi sesuatu yang berlalu. Dua konsep tubuh ini dalam “Posthaste” berkelindan sebagai peristiwa dan ungkapan yang ikut mempengaruhi bagaimana peran dari benda-benda. Maka dari itu seseorang di dalam diskusi yang mempertanyakan sekaligus membandingkan di mana tubuh Tony Broer ketika di Kaspar atau Merah Bolong di dalam pertunjukan Posthaste,  adalah pembeli tiket bioskop yang ingin melihat di setiap film Tim Burton untuk capaian akting serupa Johnny Depp di film Edward Scissorhands dalam film Planet of the Apes.

Tema HAM dan Politik Kebudyaan dalam sejarah Indonesia di dalam pertunjukan “Posthaste” di Jakarta meskipun ingin dihadirkan secara asosiatif , tapi malah yang terjadi diartikulasikan lebih verbal dari pada pertunjukan di Bandung, meskipun terpal warna-merah putih secara vertikal tetap menjadi layar belakang panggung. TPH menambahkan aksentuasi pada tingkat penandaan yang dilakukan secara repetitif pada unsur kinetic dan visual, seperti menggerak-gerakan tangan-kaki sebelah kiri kiri, tubuh dan beberapa benda condong ke kiri, dan menempelkan kaos tangan-kaki berwarna merah. Saya juga melihat ada pengecualian pengaruh seni sirkus di beberapa adegannya. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada hal-hal teknis, seperti bentuk dan tempo “kesegeraan” tubuh di antara benda-benda, tetapi juga medan pengalaman yang ingin dihadirkan. Koneksitas tubuh sehari-hari saya diantara jarak tubuh aktor dan benda rumahan di dalam panggung dihentikan oleh orkestrasi lagu Genjer-Genjer yang dinyanyikan tanpa lirik tapi kemudian nadanya dirusak oleh orang-orang yang menjulurkan kepalanya ke luar dari dinding. Juga oleh gambar Munir yang muncul dan melintas beberapa kali.

TPH seolah ingin menguraikan bahasa  menjadi amorf, tetapi tidak berhasil, karena TPH tidak menghadirkan kompleksitas dan sifat-sifat kontradiktif  jalinan dikotomi politis dari makna lagu Genjer-Genjer ataupun Munir. TPH terlalu cepat melakukan asosiasi di dalam peristiwa yang saya tunggu akan terjadi apa lagi dari adegan ke adegan. Tubuh makro yang disebut Wail dalam laporan risetnya sebagai “realitas tubuh disekitar kita” tidak terjadi, sebab Wail berada di medan bahasa, sementara disekitarnya adalah medan posthaste, yang mengharuskan tubuhnya bergerak secepat-cepatnya. Kedaruratan tubuhnya beberapa kali hilang dibawa kisah. Dan seperti sampai saat ini, kisah yang yang membawanya itu tidak terurai, tidak bisa putus/lepas dari struktur biner sosial  yang sudah mengikat dan dianggap umum dalam kehidupan sehari-hari alias laten.

Beberapa pertanyaan dibawah ini adalah pertanyaan  yang lahir setalah menonton “Posthaste” di Jakarta. Pertanyaan yang serupa dengan ketika saya mendapati peristiwa atau produk budaya yang mewacanakan tema-tema disekitaran HAM: “Apakah lagu Genjer-Genjer dan Munir mempunyai dan menghadirkan momen emergensi? Apakah kita mempunyai “manajemen emergensi” terhadapnya, “agar bisa keluar dari situasi yang secara tidak sadar” mencederai ruang dan waktu kita? “