Bergesernya Makna Dramaturgi Membuka Metode-Metode Baru Penulisan Naskah

Portal Teater – Seorang peserta mengajukan pertanyaan yang boleh dikatakan cukup mendasar dalam forum “Diskusi Naskah dan Dramaturgi Naskah”, Rabu (20/11) di Lobby Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Yoga, nama laki-laki berambut uban itu, mempertanyakan apa hubungan dramaturgi dengan naskah. Atau dalam konteks yang lebih spesifik, apa yang membedakan dramaturgi pertunjukan dan dramaturgi naskah.

Sedikit menoleh ke belakang, Yoga melihat tidak jarang sutradara dalam sebuah pementasan teater tidak menggunakan naskah lengkap yang utuh dan terstruktur, layaknya naskah-naskah yang teruji sampai saat ini.

Dalam kasus Teater Sae, sutradara Budi S. Otong justru hanya menggunakan selembar kertas atau lebih sebagai bahan atau rujukan adegan dalam pertunjukan yang bisa mencapai satu-dua jam.

Selain Budi S. Otong, salah satu nama yang boleh disebutkan adalah Budi Yasin Misbach, sutradara Teater Alamat yang berbasis di Jakarta Barat.

Dalam sebuah wawancara pada kegiatan Djakarta Teater Platform yang diselenggarakan Juli 2019 lalu, ia mengatakan bahwa lakon “Setengah Kompleks-X” yang dipentaskan kala itu tidak ada naskah utuh. Ia hanya memiliki secarik kertas sebagai catatan.

Menurut Petter Eckersall, dalam ceramahnya pada Art Summit Indonesia 2016, dramaturgi itu penting karena ia bisa membuat pelaku seni menjadi lebih baik dalam proses berkarya. Dramaturgi menempatkan proses, kolaborasi, dan pikiran, di dalam jantung praktik penciptaan.

Ia menambahkan, dramartugi itu penting karena ia adalah kerangka kerja yang menempatkan teater dalam pertimbangan kesadaran kebudayaan, sosial dan politis, sembari tetap mempertahankan, dan tinggal di dalam sistem estetika pembuat makna.

Intinya, dramaturgi itu sebentuk agensi kultural, yaitu tindakan untuk membangun nilai-nilai, gagasan, dan sistem berpikir yang lebih komprehensif dari sebuah kerja teater.

Sutradara Artery Performa Dendi Madiya yang menjadi salah satu narasumber dalam diskusi itu secara singkat menjawab pertanyaan Yoga dengan mengatakan bahwa dramaturgi naskah berarti kerja dramaturgi berada di tangan penulis, sementara dramaturgi pertunjukan berada di tangan sutradara.

Bergesernya Makna Dramaturgi

Yustiansyah Lesmana, narasumber lainnya mengatakan, term dramaturgi memang telah diperluas dan sudah mengalami pergeseran makna. Ia tidak lagi sebatas proses kerja, tapi juga menyangkut sistem berpikir.

Dramaturgi, baginya, adalah nalar yang menyusun indeks kerja dari suatu program.

Dengan pergeseran itu, Ugeng T. Moetidjo, salah satu narasumber lain dalam diskusi itu menandaskan, barangkali seorang seniman dapat bertindak sekaligus sebagai periset untuk membongkar sebuah naskah.

Namun hadir sebagai periset, tidak langsung mematikan kinerja penulis/pengarang.

Dalam sembilan naskah yang dibacanya, yang terhimpun dalam buku berjudul “Teks Pengantar, Esai Naskah Drama, Naskah Drama dan Teks Pertunjukan” (2019), misalnya, Ugeng menemukan bahwa lebih banyak penulisnya hidup.

Hanya satu yang penulisnya dianggap mati. Ini mengingatkan kita pada konsep Umberto Eco tentang teks tertutup dan teks terbuka.

Ugeng menggarsibawahi, sebetulnya umumnya pengarang ketika menulis, ia sudah mati; ia berada di tubuh publik bersama dengan pembaca dan yang lainnya.

Namun demikian, Yustiansyah memandang bahwa dalam dramaturgi naskah, ada seperangkat aturan main yang mesti ditaati seorang periset/sutradara.

Misalnya soal kecepatan, teks, jeda antarteks, suara-suara, gangguan, dll., jika memang kita menggunakan naskah arsip berupa audio sebagai bentuk transaksi gagasan.

Ini yang kerap membingungkan banyak sutradara atau grup teater; mau menggunakan naskah lama atau naskah baru.

Dalam proses kerja penggarapan naskah dari arsip audio, contohnya, Yustiansyah mengatakan, ada metode khusus yang dilakukan. Cara kerja paling awal adalah mentabulasikan data audio tersebut untuk dipisahkan ke dalam dua kategori: ujaran dan konten.

Namun, sebenarnya konten yang disampaikan dalam arsip audio tersebut tidak terlalu penting, sebab yang diperhatikan dan diproses adalah ujaran dari subjek rekaman, dapat berupa pembicara, moderator dan peserta, ataupun gangguan-gangguan yang muncul dalam rekaman itu.

Setidaknya ada tiga noise/gangguan yang tertangkap dalam audio, yaitu suara manusia, objek dan alam. Misalnya suara tertawa, berbicara, langkah kaki, batuk, suara jangkrik, meja bergser, dan seterusnya.

Selanjutnya, pembongkaran arsip tersebut dilanjutkan dengan mendalami kelengkapan dan keutuhan naskah dengan mencatat teks-teks, ujaran, noise dan terakhir mengedit.

Menurut Yustiansyah, naskah ini menjadi satu satu metode kerja  ketika bagaimana kegiatan performatif merespon audio. Dengan metode ini, pengarang atau pembicara menjadi tidak penting, karena narasilah yang penting karena sudah menjadi studi presisi.

Metode Dokumentasi Inter-Teks

Arung Wardhana Elhafifie (AWE), salah satu narasumber lainnya dalam diskusi yang berlangsung selama dua jam itu pun mengatakan, pendokumentasian data sangat penting untuk memunculkan dramaturgi naskah.

Misalnya dalam proses kerja Budi Yasin di Teater Alamat yang menulis teks pertunjukan berdasarkan pengamatan, penglihatan, ucapan-ucapan, dan curahan hati orang-orang di sekitarnya. Ia mula-mula tidak menulis dengan begitu rapi, tapi menulis apa adanya.

Budi Yasin juga terbiasa menulis di dinding media sosial seperti Facebook, Instagram, Whatsapp. Ketika menulis sebuah teks panjang di ruang maya itu, ia terdorong untuk melanjutkan teks-teks itu menjadi sebuah naskah pertunjukan yang perlu diendap terus-menerus.

Metode kerja tersebut oleh Yustiansyah disebut sebagai Proses Pendokumentasian Inter-Teks Lingkungan. Yaitu dengan mendokumentasikan dan mengumpulkan data dari lingkungan lalu kemudian melakukan transaksi gagasan.

Data-data yang dikumpulkan, antara lain berupa foto-foto, rekaman audio, pernyataan-pernyataan masyarakat, Youtube, pernyataan pengarang atau pemain. Semua data ini kemudian dijadikan naskah.

Sebagai dramaturg, AWE menandaskan, metode baru ini bukan semacam proyek pembongkaran atau redefinisi terhadap metode penulisan naskah konvensional, sebagaimana kata Yustiansyah.

Namun, praktik kerja tersebut, kata co-sutradara Lab Teater Ciputat itu, dilakukan sebagai bentuk studi baru untuk bekerja bersama menciptakan naskah lewat kerja kolektif.

Di Jakarta Timur, sudah terhimpun sembilan naskah pertunjukan yang terhimpun dalam buku yang disebutkan Ugeng sebelumnya. Buku ini ditulis oleh delapan penulis/seniman.

Naskah-naskah yang termuat dalam buku tersebut merupakan naskah yang pada mulanya direncanakan untuk dipentaskan oleh grup-grup teater peserta Festival Teater Jakarta Timur 2019.

Tapi karena Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menganjurkan agar peserta menggunakan naskah Rawayan terbitan DKJ, maka dengan sendirinya naskah-naskah tersebut pun tak terpakai.

Yang menarik, kata mahasiswa Pascasarjana Penciptaan Teater ISI Surakarta itu, pelaku-pelaku teater di Jakarta Timur sudah berupaya membongkar bingkai kompetisi Festival Teater Jakarta (FTJ) dengan menyarankan agar pesertanya menggunakan naskah yang dibuat bersama.

Sebab dalam diskusi itu Yustiansyah menyentil soal bingkai perlombaan FTJ yang telah dijalankan selama ini dapat turut membentuk iklim kompetisi yang ketat, sehingga kerap peserta cenderung menggunakan naskah-naskah lama dan jarang menggunakan naskah baru.

Satu poin yang terendap dari diskusi, yakni bahwa bergesernya pemaknaan terhadap konsep dramaturgi membuka penemuan-penemuan baru metode penulisan naskah yang lebih kreatif dan terbuka.

Diskusi ini dimoderatori Arkan Tanriwa, berlangsung dari pukul 16.00-18.00 WIB.

*Daniel Deha

Baca Juga

Mengejutkan! Sayembara Cerita Anak Perdana DKJ Tanpa Pemenang

Portal Teater - Ada yang mengejutkan dalam Sayembara Cerita Anak perdana yang diselenggarakan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2019. Dewan juri tidak menentukan...

Teater Garasi Himpun Seniman Muda Lewat “Pusaran Tukar Antarragam”

Portal Teater - Teater Garasi/Garasi Performance Institute dengan meriah menggelar kegiatan "PUSARAN TUKAR ANTARRAGAM" berupa Pemutaran Video Dokumenter, Pementasan Teater, dan Peluncuran Buku, di...

Inilah Daftar Pemenang Sayembara Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2019

Portal Teater - Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) telah mengumumkan pemenang Sayembara Sastra DKJ tahun 2019 pada Rabu (4/12) malam, di Teater Kecil,...

Terkini

Setelah FTJ, Teater Nusantara Pentaskan Lagi “Arung Pallaka” di Slawi

Portal Teater - Teater Nusantara akan mementaskan lagi naskah "Arung Pallaka" di Monumen Gerakan Benteng Nasional (GBN) Slawi, Jawa Tengah, Sabtu (7/12), pukul 20.00...

Teater Alamat Buka Perekrutan Anggota Baru

Portal Teater - Teater Alamat membuka perekrutan anggota baru pada akhir tahun ini. Proses perekrutan ini akan berlangsung pada 6-31 Desember 2019 yang terdiri dari...

Theater Olympics 2019 Tampilkan 104 Produksi dari 22 Negara

Portal Teater - Festival teater internasional yang menghadirkan sejumlah praktisi teater kenamaan dari seluruh dunia, Theater Olympics, kembali digelar tahun ini dengan menampilkan 104...

Komite Tari DKJ Kembali Gelar Telisik Tari “Ballet At Batavia”

Portal Teater - Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan  Telisik Tari, pada Jumat (6/12). Program ini merupakan "saling silang" antara tari ballet...

Animo Peserta Sayembara Sastra DKJ Terus Menurun

Portal Teater - Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) telah mengumumkan nama-nama pemenang Sayembara Sastra DKJ tahun 2019, Rabu (4/12) malam. Selain hal-hal mengejutkan...