Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater – Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan “FAMILIAL”, sebuah program untuk membingkai kehidupan dan dinamika keluarga Indonesia yang diangkat dalam ke layar kaca.

Program ini dijalankan sepanjang 24-26 Januari 2020 di dua venue berbeda di Kota Jakarta, yaitu di IFI Thamrin, Jakarta Pusat, dan di CINECENTER, Gedung Roosseno Plaza⁣, Jakarta Selatan.

Penayangan film-film bertemakan keluarga ini dilakukan di luar Kineforum karena saat ini Sekretariat Kineforum, termasuk juga Sektretariat DKJ, sedang direnovasi.

Ada lima film karya para sineas yang dipilih Kineforum untuk diputar dalam program ini. Mulai dari karya film-film klasik di beberapa dekade silam, maupun garapan-garapan baru para sineas muda.

Film “Keluarga Cemara” karya Yandi Laurens (2019) akan diputar pada hari pertama, Jumat (24/1) pukul 19.00 WIB di IFI Thamrin.

Film ini masih akan diputar pada Minggu (26/1) pukul 17.00 WIB di CINECENTER bersama dengan film “Rumah dan Musim Hujan” karya Ifa Isfansyah (2012) yang akan tayang pada pukul 19.30 WIB.

Sementara pada akhir pekan ini, Sabtu (25/1), akan diputar beberapa film, antara lain: “Ibunda” karya Teguh Karya (1986). Film ini tayang pukul 19.30 WIB dan akan diputar lagi pada Minggu (26/1) pukul 14.30 WIB di CINECENTER.

Ada dua film lain yang akan menemani akhir pekan keluarga, yaitu “Sabtu Bersama Bapak” karya Monty Tiwa (2016) dan “Langitku Rumahku” karya Slamet Rahardjo (1989). Kedua film ini masing-masing tayang pada pukul 17.00 WIB dan 14.30 WIB di CINECENTER.

Melalui film-film keluarga ini, para sineas sejak dahulu kala telah mencoba menggambarkan kehidupan keluarga dalam berbagai cara, baik secara realis maupun karikatural.

Ada banyak karakter yang dipresentasikan para penciptanya. Mulai dari sosok ayah atau ibu yang tabah, keluarga mengalami guncangan besar, hingga kisah-kisah persona yang menyangkut interaksi antar anggota keluarga.

Salah satu penggambaran keluarga tempo dulu. -Dok. pinterest.com
Salah satu penggambaran keluarga tempo dulu. -Dok. pinterest.com

Sinopsis Film

Film “Rumah dan Musim Hujan” karya Ifa Isfansyah (2012) menceritakan tentang tiga bersaudara dari sebuah keluarga Jawa, yang dinarasikan dalam tiga babak.

Babak pertama menceritakan soal Ragil, anak kedua yang nampak religius dan tinggal bersama ayahnya. Ada sebuah rahasia tentang diri Ragil yang selama ini ia pendam dan tak diketahui siapapun.

Babak kedua tentang Adek, anak perempuan terakhir yang tinggal bersama ibunya. Pada suatu malam keduanya terjebak pada sebuah peristiwa mistis.

Babak ketiga tentang Raga, anak pertama keluarga itu yang tinggal bersama kekasihnya, Sukma. Keintiman mereka terusik ketika Sukma dilanda ketakutan apabila ia hamil. Suasana makin runyam ketika mantan pacar Raga tiba-tiba muncul di depan rumah.⁣

Film ini pernah tayang pada ajang Jogja NETPAC Asian Film Festival 2012, kemudian dirilis ulang dengan judul “Hoax” pada 2018, dengan penyuntingan dan durasi yang berbeda.⁣

“Ibunda” karya Teguh Karya berkisah tentang Nyonya Rakhim sebagai seorang ibu dengan anak-anak yang punya beragam sifat dan problema.

Farida, anak pertama yang paling diandalkan dalam keluarga, namun ia terlalu pengatur sehingga tak disukai adik-adiknya.

Sementara Fikar, anak laki-laki yang menjadi aktor kenamaan, jatuh dalam pelukan tante hingga melupakan anak dan istrinya.

Kemudian Fitri, anak perempuan terakhir yang berpacaran dengan seorang pemuda Irian, menemui hambatan karena ditentang banyak pihak.

Selain itu, hadir pula Agus, anak dari Farida yang terlibat obat-obatan.

Semua masalah ini berpadu menjadi kesatuan cerita dan menuntut kesabaran sang ibu. Film ini dengan cukup terang menggambarkan sosok ibu khas keluarga Indonesia.⁣

“Ibunda” mencetak rekor dengan meraih 9 Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia 1986. Film ini kemudian kerap disebut sebagai salah satu film Indonesia terbaik sepanjang masa.⁣

Sementara film “Sabtu Bersama Bapak” karya Monty Tiwa (2016) berkisah tentang sosok Gunawan yang setelah mengetahui dirinya mengidap penyakit kanker, memutuskan untuk membesarkan anak-anaknya, Satya dan Cakra, dengan cara yang tak biasa.

Gunawan membuat rekaman video untuk ditonton setiap hari Sabtu oleh istri dan kedua anaknya. Di kemudian hari, meski Gunawan telah tiada, namun gambar dan suaranya masih bisa dilihat dalam rekaman-rekaman itu.

Waktu berlalu, Satya dan Cakra tumbuh dewasa. Ibu mereka pun menua. Satya tinggal di Paris, sudah berkeluarga dan punya tiga anak. Cakra bekerja di sebuah bank asing di Jakarta, namun belum menikah.

Sesuai pesan ayah mereka, Satya begitu puritan dengan pemikirannya, dan berusaha menjadi suami yang sempurna. Namun hal itu mengalami pertentangan dengan Rissa, istrinya.

Sementara Cakra menuruti pesan sang ayah untuk bekerja keras, mencari materi sehingga lupa beristri.

Kedua masalah yang dihadapi anak-anak ini cukup menghiasi pikiran-pikiran sang ibu, tapi ia tak ingin menyusahkan anak-anaknya.

Film kini merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama.

“Langitku Rumahku” karya Slamet Rahardjo (1989), menuturkan tentang Andri yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga kaya, namun kesepian.

Ayah dan kakaknya sibuk bekerja, sedang ibunya sudah meninggal.

Gempol adalah seorang anak pemulung yang hidup di tengah-tengah sampah. Ketika mengumpulkan kertas di sekolah Andri, Gempol dituduh maling dan dihukum. Keduanya bertemu lalu kemudian berkawan erat.

Dalam sebuah operasi oleh petugas, rumah keluarga Gempol yang non permanen digusur dan dihancurkan. Andri dan Gempol lalu nekat pergi ke Surabaya, bertekad mencari nenek Gempol. Andri yang pergi secara diam-diam membuat seisi rumah panik.⁣

Film ini meraih 2 Piala Citra di Festival Film Indonesia 1990, 4 piala dalam ajang Festival Film Bandung 1991, dan memenangkan Jacques Demy Awards di Festival des 3 Continents di Nantes, Perancis.⁣

“Keluarga Cemara” menarasikan tentang sebuah keluarga menengah atas di Jakarta tiba-tiba dilanda musibah. Di mana usaha mereka ditipu dan seluruh hartanya disita. Semua gaya hidup dan privilese yang dimiliki keluarga itu seketika lenyap.

Euis dan Ara, anak keluarga itu terpaksa harus menanggung lara. Abah, sang ayah harus memikirkan bagaimana caranya untuk melanjutkan kehidupan.

Akhirnya, bersama sang istri, Emak, mereka pindah ke desa asal Abah. Di sana mereka memulai hidup baru yang sederhana, yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Namun justru itulah yang mempererat hubungan dalam keluarga itu.⁣

Film ini diadaptasi dari cerita bersambung karya almarhum Arswendo Atmowiloto, yang awalnya terbit di majalah remaja HAI sekitar tahun 1980-an.

Program film “Keluarga” Kineforum ini persis beriringan dengan tema yang diusung Komite Teater DKJ untuk program Teater Arsip pada 19-26 April 2020 mendatang.

Dalam program itu, Komite Teater mencoba mendudukkan keluarga sebagai pemetaan maupun investigasi berbagai memori yang tersimpan dalam dunia keluarga, bagaimana keluarga keluar dari krisis maupun lingkaran traumatik.

Lebih dari itu, melalui tema itu, program Teater Arsip 2020 berikhtiar melihat eksistensi rumah tangga dewasa ini di tengah perluasan teritori berbagai tata pergaulan global dalam “rumah tangga baru” sebagai “rumah tangga avatar” (rumah tangga virtual) yang ditopang oleh teknologi media.*

Baca Juga

Mohammad Sunjaya: Bersetia Jadi Aktor hingga Akhir Hayat

Portal Teater - Aktor kawakan Mohammad Sunjaya, akrab disapa Yoyon, meninggal dalam usia 82 tahun di kediamannya di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/2). Salah...

Tanggapi Aspirasi Seniman, DPR Dukung Moratorium Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menanggapi aspirasi Forum Seniman Peduli TIM dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senin (17/2), Komisi X DPR yang...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...