Buka Pentas Bintang 2020, KSS Miss Tjitjih Pentaskan “Kuntilanak Waru Doyong”

Portal Teater – Membuka rangkaian kalender pentas bintang tahun 2020, Kelompok Sandiwara Sunda (KSS) Miss Tjitjih mempersembahkan lakon “Kuntilanak Waru Doyong” pada Sabtu (8/2), akhir pekan ini.

Lakon ini menceritakan tentang Rukiah yang rela menghabiskan nyawanya lantaran tidak dapat menerima perlakuan buruk dan ketidakadilan ibu tiri dan saudara tirinya.

Mengangkat cerita rakyat yang ‘hidup’ pada masyarakat Waru Doyong di Bogor, Jawa Barat, lakon ini disutradarai Imas Darsih, satu-satunya sutradara teater perempuan paling senior di jagat teater Indonesia. Sejak 2010, ia menyutradarai produksi karya KSS Miss Tjitjih.

Pada tahun 1980-an, ketika karya ini pertama kali dipentaskan, Imas, begitu sapaannya, yang saat ini berusia 58 tahun, pernah memainkan karya ini.

Demikian halnya dengan Sharifah Rohmah, Ketua KSS Miss Tjitjih (sejak 2017), mengaku pernah memainkan cerita ini ketika ia masih remaja.

Rohmah menerangkan, karya ini telah dimainkan berulang-ulang sejak pertama kali diluncurkan, bahkan menjadi satu ‘produk unggulan’ KSS Miss Tjitjih hingga kini. Karena itulah nama lakon ini tidak lagi asing di telinga penonton loyal Miss Tjitjih.

Kisah ini pun seperti ‘kisah nyata’ karena diyakini masyarakat setempat sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi di daerah tersebut, meski merupakan fiksi.

Imas menceritakan, lakon-lakon yang dipentaskan KSS Miss Tjitjih umumnya menggunakan bahasa Sunda. Belakangan baru memasukkan juga bahasa Indonesia agar penonton non-Sunda dapat mengerti narasi pertunjukan.

Meski demikian, sajian-sajian Miss Tjitjih senantiasa membekas di benak penonton, tidak hanya dari lingkungan sekitar Miss Tjitjih dan Jakarta, tapi juga dari luar Jakarta.

Setiap kali pementasan dilakukan, kursi-kursi yang sekiranya berjumlah 250 kursi di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat, senantiasa dipadati penonton, dari anak-anak hingga orang-orang tua.

Menariknya, pemain atau aktor yang memainkan karya-karya Miss Tjitjih tidak hanya bersifat turun temurun, tapi penonton pun demikian, menjadi ‘pelangan’ tetap KSS Miss Tjitjih, dari kakek-nenek sampai ke anak-cucu mereka.

“Penontonnya pun ada yang turun temurun. Penonton juga variasi, ada yang dari Jawa tengah, karena ada yang hanya lihat di Youtube. Ada penggemar Miss Tjitjih yang pindah ke Belanda, ketika datang ke Indonesia dia kepingin nonton,” ungkapnya di Gedung Kesenian Miss Tjitijih, Rabu (5/2).

Jadwal pementasan KSS Miss Tjitjih sepanjang 2020. -Dok. Miss Tjitjih.
Jadwal pementasan KSS Miss Tjitjih sepanjang 2020. -Dok. Miss Tjitjih.

Pementasan Berkala

KSS Miss Tjitjih sudah memiliki penonton loyal. Fakta ini tidak terjadi begitu saja. Selain karena nama Miss Tjitjih telah menjadi satu ikon dalam kesenian Sunda, kelompok ini memiliki agenda pertunjukan yang tetap dan dipentaskan secara berkala.

Sepanjang tahun 2020, akan ada 19 pertunjukan. Kecuali Desember, sejak Februari-November, penonton akan disuguhkan pertunjukan sebanyak dua kali dalam sebulan. Bulan Januari menjadi waktu persiapan sehingga tidak ada pementasan.

Jumlah pertunjukan tidak bertambah atau berkurang dari tahun ke tahun, tapi dikondisikan dengan situasi yang terjadi di lingkungan masyarakat dan ketentuan atau permintaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sutradara Imas Darsih memberikan arahan kepada para pemain dan penata artistik, Dina Febriani dan Sambas dalam latihan pementasan "Kuntilanak Waru Doyong". -Dok. portalteater.com
Sutradara Imas Darsih memberikan arahan kepada para pemain dan penata artistik, Dina Febriani dan Sambas dalam latihan pementasan “Kuntilanak Waru Doyong”. -Dok. portalteater.com

Ketegangan Waktu

Budi Renil, penata properti Miss Tjitjih, mengakui, ada ‘ketegangan’ ruang dan waktu dalam karya-karya Miss Tjitjih, termasuk dalam lakon “Kuntilanak Waru Doyong”.

Elemen-elemen dasar yang memicu ketegangan itu misalnya apakah properti yang digunakan untuk menggantung diri misalnya, persis sama dengan yang dipakai pada pementasan sebelum-sebelumnya.

Sebab ‘aura horor’, yang menjadi genre Miss Tjitjih sebagaimana dikatakan Imas, dapat saja hilang ketika properti atau artistik yang dipakai tidak benar-benar merepresentasikan latar waktu dan tempat peristiwa itu berlangsung.

Imas mengakui, memang pada dasarnya sudah banyak perubahan tata ruang dalam pementasan-pementasan ulang Miss Tjitjih. Hal itu disesuaikan dengan persepsi artistik penonton masakini, termasuk bagaimana memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Perempuan paruh baya itu mengisahkan, pada era sebelumnya, sumber suara atau bunyi guntur atau kilat misalnya, menggunakan seng, tapi sekarang dapat diperdengarkan lewat rekaman audio dari sound system.

Latihan Tanpa Naskah

Sempat menonton proses latihan pada Rabu (5/2) malam, Imas melatih pada aktornya tanpa menggunakan teks atau naskah. Hanya melalui instruksi atau briefing singkat untuk memberitahukan alur atau latar peristiwa.

Instruksi yang diberikan pun tidak melulu dirangkai dengan alur atau plot yang ketat, karena aliran tiap adegan dimainkan mengikuti kekuatan ingatan dan imajinasi sang sutradara. Imas sendiri telah memainkan karya-karya Miss Tjitjih sejak SD Kelas I.

Menariknya, meski tanpa teks, para aktor dengan cepat beradaptasi dengan pola penyutradaraan perempuan berbadan pendek itu. Tampak para aktor berdialog layaknya sebuah peristiwa keseharian mereka, tanpa dimodifikasi.

Karena itulah, para aktor Miss Tjijih memiliki karakter keaktoran yang bagus karena mereka menyerap pengalaman kehidupan sehari-hari sebagai emosi pertunjukan.

Dan yang menjadi satu kekuatan para aktor ini adalah ekosistem di mana mereka tinggal. Diketahui, umumnya para aktor hidup dan tinggal di asrama Miss Tjitjih, yang berada di belakang Gedung Kesenian Miss Tjitjih.

Sehari-hari mereka sudah terbiasa berinteraksi satu sama lain, sehingga panggung teater seolah menjadi ‘tempat nongkrong’ mereka yang lain.

Akan bermain dalam lakon ini antara lain aktor beken seperti Dina Febriani, Dadang Badoet, dan Ujang GB, serta beberapa pemain lainnya. Ketiga nama yang disebutkan ini adalah sutradara untuk masing-masing grup teaternya.

Dina Febriani mendirikan dan menyutradarai Unlogic Theatre, Ujang GB menyutradarai Sketsa Act, dan Dadang Badeot yang menyutradarai Stage Corner Community.

Pementasan diadakan pada Sabtu, 8 Februari 2020, pukul 19.30 WIB.

Pementasan "Kuntilanak Waru Doyong oleh KSS Miss Tjitjih di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Sabtu (8/2) malam. Dok. Miss Tjitjih.
Pementasan “Kuntilanak Waru Doyong” oleh KSS Miss Tjitjih di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Sabtu (8/2) malam. Dok. Miss Tjitjih.

Sinopsis

Lakon ini bercerita tentang tokoh Rukiah, yang setelah ditinggal ibunya, hidup bersama ibu tirinya. Bersama ibu tiri, Rukiah mendapat perlakuan kasar dan ketidakadilan.

Perlakuan yang berbeda diberikan ibu tirinya kepada putrinya sendiri, Rohana.

Ketika Rukiah memiliki pacar, Rohana menaruh cemburu dan ingin merebut Anwar dari Rukiah. Setelah Rukiah dan Anwar berkeluarga, Rohana pun tetap merongrong rumah tangga adik tirinya itu.

Konon, Anwar keluar kota dan meninggalkan Rukiah seorang diri. Oleh ibu tirinya, Rukiah diusir dari rumah dalam kondisi sedang hamil tua.

Berada di bawah tekanan dan seolah tidak punya harapan, Rukiah menghabiskan hidupnya dengan menggantung diri pada sebuah pohon Waru.

Setelah meninggal ia bergentayangan dan melakukan balas dendam terhadap ibu tirinya. Dia terus mengganggu kehidupan ibu tirinya terutama melalui pikiran-pikiran ibu tirinya itu sendiri.

Akhirnya, ibu tirinya itu pun meninggal setelah meminum racun yang sebenarnya diberikan kepada Rohana, putrinya.

Pemain

Juragan I

  • Istri I: Elli
  • Istri II: Omah
  • Rukiah: Dina Febriani
  • Rohana: Yeni

Juragan II

  • Istri: Dedeh
  • Anwar: Aris
  • Bujang: Trik Ronyok
  • Dahlan: Ujang GB
  • Bapana: Karta
  • Indungna: Tuti
  • Batuna: Tedi
  • Dukun I: MS
  • Kunti: Kacang
  • Dukun II: Nana
  • Pak RT: Lundu
  • Rakyat: Tati, Nur, Pipit, Jihan, Ira, Agum, Aldi, Gilang, Rizky, Anggi.

 

Baca Juga

“CAGAK”: Berani Memilih Jalan yang Benar

Portal Teater - Jika seorang anak manusia dikondisikan untuk memilih salah satu dari dua pilihan beroposisi biner: kebaikan atau keburukan, maka ia akan memilih...

Nara Teater: Bertumbuh dalam Ekosistem yang Buntung

Portal Teater - Ketika Gedung Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dirubuhkan, banyak yang risau soal geliat dan ekosistem kesenian dan...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...