“Bumi Manusia”: Narasi Pergolakan Cinta dan Strata Sosial Era Kolonial

Portal Teater – “Bumi Manusia”, salah satu novel dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer (Hasta Mitra, 1980) kini telah difilmkan dengan judul yang sama oleh sutradara Hanung Bramantyo dan Salman Aristo sebagai penulis naskah di bawah garapan rumah produksi Falcon Pictures.

Film berdurasi 181 menit ini ditayangkan secara serentak untuk pertama kalinya pada Kamis (15/8) di seluruh bioskop tanah air. Trailer film ini sebenarnya dirilis pada awal tahun ini, dan sempat mendapat kritikan pedas dari banyak kalangan.

Sebenarnya novel ini sudah mulai digarap ke layar lebar sejak pertengahan tahun 2004. Hatoek Soebroto, seorang produser film, bersama PT Elang Perkasa telah menandatangani kontrak pembuatan film itu bersama dengan pihak keluarga Pramoedya, pada 3 September 2004.

Pencarian lokasi sudah dimulai sejak akhir 2005. Awal 2006 proses produksi dimulai dengan penulisan skenario oleh Jujur Prananto, penulis skenario Ada Apa dengan Cinta?. Sementara Garin Nugroho akan menyutradarai film ini.

Namun, kerja produksi tersebut belum berhasil. Akhirnya, pada 24 Mei 2018, diselenggarakan konferensi pers yang mengumumkan bahwa “Bumi Manusia” akan difilmkan oleh Falcon Pictures dengan Hanung Bramantyo sebagai sutradara.

Konflik Cinta dan Strata Sosial

Secara garis besar, film yang diadopsi dari novel Pram ini berlatar di Surabaya pada masa pendudukan Hindia Belanda 1898. Ia berkisah tentang dua anak manusia yang meramu cinta di atas pentas pergelutan tanah kolonial awal abad ke-20: Minke dan Annelies Mellema.

Cinta yang hadir di hati Minke (diperankan Iqbal Ramadhan) untuk Annelies (diperankan Mawar de Jongh), membuatnya mengalami pergulatan batin tidak berkesudahan. Minke adalah pemuda pribumi, Jawa totok.

Sementara Annelies, gadis Indo-Belanda, merupakan anak dari Nyai Ontosoroh (Jawa), dari suaminya seorang Belanda, Herman Mellema. Statusnya sebagai istri simpanan membuat Nyai Ontosoroh dikucilkan dan dianggap perempuan tidak terhormat oleh masyarakat.

Namun, hal itu tidak membuat Nyai Ontosoroh bungkam. Ia terus melawan cemoohan dan pandangan buruk dari masyarakat. Salah satunya dengan menjadi seorang penulis yang baik pada masanya.

Ayah Minke yang diangkat menjadi Bupati, tidak pernah setuju anaknya dekat dengan keluarga Nyai Ontosoroh (diperankan Sha Ine Febriyanti), sebab posisi Nyai di masa itu dianggap sama rendah dengan “binatang peliharaan”.

Pandangan hampir menjamur di seluruh kebudayaan feodal Indonesia saat itu. Namun, hal itu tidak terpikirkan oleh Minke karena ia sudah amat dekat berhubungan dengan Annelies.

Bagi Minke, seorang Nyai layak untuk punya posisi terhormat dalam strata sosial masyarakat Jawa. Apalagi Nyai Ontosoroh adalah wanita pejuang yang dengan kritis menentang praktik-praktik kolonialisme Belanda.

Minke pada dasarnya bukanlah nama aslinya. Itu sebuah hinaan yang diucapkan bangsa kolonial. Ada yang beranggapan Minke merupakan plesetan dari kata “monkey” atau monyet. Nama ama asli Minke adalah Tirto Adhi Soerjo.

Berbeda dengan ayahnya, Minke yang bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS), sekolah orang-orang keturunan Eropa, sangat iba pada penderitaan kaum pribumi. Perspektif yang sama ia lihat dalam perjuangan ibu Annelies. Karenanya ia sangat dekat dengan keluarga Nyai tersebut.

Melihat kondisi di sekitarnya, Minke tergerak untuk memperjuangkan nasib pribumi melalui tulisan, yang menurutnya tidak akan pernah bisa dipadamkan.

Demikian pula cinta Minke pada Annelies seperti tulisan-tulisannya yang tidak pernah padam oleh waktu. Meski, tidak direstui ayahnya, Minke tetap mempersunting Annelies sebagai istrinya. Di hari pernikahan (menurut budaya Jawa), Minke hanya didampingi ibunya.

Sayangnya, bahtera keluarga Minke dan Annelies tidak berlabuh jauh. Setelah ayah Annelies terbunuh di sebuah rumah pelacuran, anak-anak dari istri sah Mellema di Belanda mengambil alih hak asuh terhadap Annelies dan Robert, kakaknya.

Menurut hukum kolonial, yang berhak mengasuh anak-anak yang ditinggal pergi sang suami adalah istri dan anak-anak sah dari Mellema. Sedang, perkawinan Nyai Ontosoroh dan Mellema tidak sah.

Akhirnya, cinta Minke dan Annelies direnggut produk hukum kolonial dan bahtera yang baru dibangun bersama pun runtuh ketika Annelies harus kembali ke Belanda bersama keluarga ayahnya.

Novel Yang Kritis

Di dalam novel Bumi Manusia, Pram secara kritis menuangkan segala hal yang terjadi di Indonesia antara tahun 1898 sampai dengan tahun 1918. Pada masa-masa ini merupakan era kebangkitan politik etis pemuda-pemuda Indonesia yang mulai menunjukkan kecintaan mereka kepada negaranya.

Masa ini juga menjadi awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda, masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Prancis.

Karena kritiknya yang tajam ditujukan kepada kolonial, novel bergenre “Historical Drama” ini begitu mashyur karena semua orang, baik di Indonesia maupun di luar negeri ingin mengetahui pesan-pesan yang disampaikan Pram lewat karyanya.

Sampai-sampai novel ini pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Maxwell Lane. Begitu suksesnya ini dicetak ulang hingga sepuluh kali dalam waktu satu tahun (1980-1981).

Namun karena dianggap beraliran keras, bisa membawa dampak yang tidak baik bagi orang banyak, atas perintah dari Jaksa Agung pada jaman itu, setahun setelah penerbitannya, yakni di tahun 1982 ini dilarang untuk diedarkan di masyarakat.

Sampai dengan tahun 2005 novel tersebut sudah dialih bahasakan sekaligus diterbitkan ke dalam 33 bahasa. Terakhir di tahun 2005, penerbit Lentera Dipantara menerbitkan novel Bumi Manusia kembali.

Tiga buku lain dari Tetralogi Buru Pram yaitu “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah”, dan “Rumah Kaca”. Buku-buku ini ditulis Pram ketika masih diasingkan di Pulau Buru bersama ribuan tahanan politik lain karena dicap sebagai komunis. 

*Daniel Deha

Baca Juga

“Panembahan Reso” di Era Media Digital

Portal Teater - "Panembahan Reso" karya W.S. Rendra yang disutradarai Hanindawan akan dipentaskan pada 25-26 Januari 2020 pukul 19.30-22.30 WIB di Ciputra Artpreneur, Kuningan,...

Sambut Imlek, Mahasiswa UNJ Pentaskan Seni dan Budaya Tionghoa

Portal Teater - Menyambut perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Sabtu (25/1) akhir pekan ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa...

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...