“CAGAK”: Berani Memilih Jalan yang Benar

Portal Teater – Jika seorang anak manusia dikondisikan untuk memilih salah satu dari dua pilihan beroposisi biner: kebaikan atau keburukan, maka ia akan memilih kebaikan.

Sebab secara kodrati, manusia diciptakan untuk berkehendak baik. Dengan kebaikan manusia dapat mencapai kebahagiaan. Kira-kira demikian menurut etika Aristoteles, Thomas Aquinas, seperti juga dalam pandangan moral Immanuel Kant.

Sementara kejahatan terjadi bukan merupakan sebuah hukum kodrat, karena seorang penjahat pun akan bertobat, atau setidaknya menemukan ‘sudut pandang etis’ dalam perbuatan-perbuatannya. Meski kerap diabaikan karena dihantui nafsu dan keserakahan.

Demikianlah nurani Anastasia Sablin (diperankan Fatira Aurelia Tarigan), putri seorang kepala sindikat mafia narkoba Serigala dalam pementasan “CAGAK” oleh Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) di Gedung Kesenian Jakarta, 13-14 Februari 2020, pekan lalu.

Merasakan ada sebongkah kebaikan di dalam jiwanya, Anastasia berani mengambil risiko melawan dan memberontak terhadap titah ayahnya, Lyov Sablin (diperankan Dwiki Rahmat S.), meski ia tahu, ayahnya barangkali akan meremukkan raganya.

Lyov yang karena bermusuhan dengan Isabella Martinez (diperankan Nurul Salsabila), kepala mafia Laba-Laba, meminta Anastasia melakukan pembunuhan terhadap anak-anak dan keluarga besar perempuan yang merupakan kerabat bisnisnya itu.

Kobaran permusuhan antara Lyov dan Isabella bermula ketika Diana (diperankan Lutfia Triwahyuni), perempuan pengawal Isabella, membunuh ibunda Lyov, Sofia Sablina (diperankan Lilis Shofiyanti).

Meski pembunuhan itu tidak dilakukan atas motivasi dan perintah Isabella, tapi atas permintaan Kepala Kepolisian (Kapol) yang baru, Cecep Suracep (diperankan Kala Sunggardi).

Namun pembunuhan terhadap Sofia bagi Lyov merupakan sulutan api permusuhan karena Isabella dianggap membangkang dari perjanjian. Isabella ingin merebut pengaruh dalam menguasai jejaring ‘bisnis kotor’ di kota.

Sebelumnya Lyov dan Isabella, yang merupakan generasi kedua dalam keluarga konglomerat mafia, memilih berdamai dalam sebuah peperangan tiada akhir untuk merebut wilayah kota antara keluarga Sablina dan Martinez.

Lyov membunuh kakaknya, Igor Sablin (diperankan Ibnu Handono Putra), untuk mengendalikan bisnis keluarga. Sementara Isabella tega membunuh ibunya, Barbara Martinez (diperankan Titian Prasasti).

Sebuah jabatan tangan erat terjalin ketika keduanya berikrar untuk mengamankan situasi kota.

Iklim perdamaian lantas berantakan ketika Lyov menuduh Isabella menjadi dalang dalam permainan yang mengorbankan nyawa ibunya.

Kehadiran Kapol Cecep dan tujuh anggotanya dalam rantai permainan itu begitu gelap dan tersembunyi. Modus kerjanya menunjukkan ia seorang ahli intelijen yang piawai merongrong matarantai kejahatan dari dalam tubuh sindikat mafia itu sendiri.

Lakon ini seperti kisah nyata bagaimana praktik kerja kepolisian dalam membongkar sebuah kejahatan. Karenanya kisah dalam lakon ini begitu realis, dekat dengan pengalaman para penonton.

Cecep tidak hanya memanfaatkan Diana, seorang kerabatnya dari keluarga Isabella, tapi juga Anastasia (dari keluarga Lyov) dan Yonas (dari keluarga Isabella), seorang tangan kanan untuk mengawal bisnis keluarga Isabella.

Berniat mempertemukan kedua sumbu yang bersitegang dan menggali banyak informasi, Cecep menjaminan akan menyelamatkan nyawa kedua punggawa itu asalkan mereka membongkar sudut-sudut gelap bisnis kedua gembong itu.

Anastasia merasakan bahwa tawaran untuk memutus matarantai kejahatan dalam keluarganya merupakan suatu titik balik di mana ia bisa keluar dari lingkaran setan dan menghirup udara kebebasan. Meski ia seperti ingin ‘menjual’ keluarganya sendiri.

Tidak seperti Yonas yang lebih sabar dan berhati-hati, seperti tidak tega menjual aset keluarga Isabella, Anastasia serta merta menerima tawaran dan mulai bekerjasama dengan Cecep.

Pertarungan yang paling menentukan keberanian Anastasia untuk memilih jalan kebaikan sebenarnya berpuncak sikapnya yang menolak desakan ayahnya untuk membunuh (menembak) Maria (diperankan Azmia Nauvalla) dan Magdalena (diperankan Faba Shafira).

Pistol sudah ada di tangannya, tapi ia menolak untuk menembak kedua sahabatnya itu, meski akhirnya Anton (diperankan M. Liga Wira H.B.A) dan Toni (diperankan Afif Rodjaldy), pengawalnya, yang menembak Maria atas perintah Lyov.

Bangkit dari perasaan traumatik, Anastasia menggandeng Cecep untuk menggeledah dan melucuti  satu per satu aset keluarga Lyov. Pada puncaknya Lyov ditangkap karena didapati terlibat dalam jejaring bisnis gelap.

Sementara Isabella, lebih karena kehati-hatian dan muslihat pengawalnya, Yonas, yang tidak mau terburu-buru bekerjasama dengan Cecep, tidak ditangkap.

Yonas bukanlah seorang pengawal biasa. Tapi dia sudah mengenal dengan baik ladang bisnis gelap para mafia. Bekerjasama dengan polisi sama halnya dengan melelangkan dirinya sendiri. Lagipula, dia sudah mengenal dengan baik siapa itu Polisi Cecep.

Hal itu terbukti ketika pada akhir cerita Cecep pun ditangkap lantaran salah menggunakan kekuasaan secara salah. Seolah dia bertindak di luar otoritas dan kekuasaan yang diberikan kepadanya. Seorang polisi perempuan menciduknya.

 

Lyov dan Isabella dalam sebuah adegan dalam pertunjukan "CAGAK" oleh TEKO UI di GKJ, 13-14 Februari 2020. -Dok. Tim Dokumentasi CAGAK
Lyov dan Isabella dalam sebuah adegan dalam pertunjukan “CAGAK” oleh TEKO UI di GKJ, 13-14 Februari 2020. -Dok. Tim Dokumentasi CAGAK

 

Distribusi Aktor

Sutradara pertunjukan Muhammad Ihsan (25 tahun) menerangkan, lakon ini berupaya memusatkan cerita pada tokoh Anastasia, untuk menggambarkan realitas ‘persimpangan’ yang menjadi judul pertunjukan ini: CAGAK.

“Saya selalu berpatokan di tokoh Anastasia. Semua cerita ini adalah cerita tentang Anastasia dan apa yang terjadi di sekeliling dia. Tapi saya tidak boleh mengambil satu perspektif. Karena kalau ceritanya tentang Lyov, mungkin judulnya bukan lagi CAGAK, tapi yang lain,” katanya.

Namun yang menarik dalam pertunjukan ini adalah kemampuan sutradara untuk mendistribusikan kekuatan pertunjukan pada setidaknya tiga aktor, tidak hanya pada Anastasia, tapi juga pada tokoh Cecep dan Lyov dan Isabella.

Ihsan yang adalah alumnus TEKO UI angkatan 2013 itu menjelaskan, kedua tokoh yang lain sengaja dihadirkan untuk memberi kekuatan pada tokoh protagonis.

Ini semacam ‘sarang laba-laba’ yang dikait-kaitkan untuk memunculkan kejutan bagaimana narasi pertunjukan tidak lagi terpusat, tapi tersebar ke segala tokoh.

Dibuka dengan pertarungan antarwarga dari dua kelompok sindikat mafia, yang mengorbankan rakyat tak berdosa, Lyov dan Isabella menjadi protagonis dalam babak ini.

Hadir sebagai pahlawan dari masing-masing kelompok, Lyov dan Isabella memilih berdamai untuk mengendalikan situasi kota.

Tidak hanya muncul di awal pertunjukan, Lyov dan Isabella tetap menjadi dua tokoh yang senantiasa tampil pada beberapa frame cerita untuk memperlihatkan bahwa kedua tokoh itu turut terhubung dengan kehidupan Anastasia.

Lyov mengenakan jas hitam bergaya Eropa, dengan dasi merah dan kemeja putih. Sebagai aktor ia bermain cukup bagus. Bunyi vokalnya sangat baik.

Temperamennya pun tidak kalah bagus. Ia memang layak seorang pimpinan mafia. Begitu tenang dan terkendali melihat situasi.

Namun watak keaktorannya teruji ketika ia berhadapan dengan Anastasia. Penolakan dan pemberontakan Anastasia atas titahnya dihadapi dengan sangat diplomatis dan terlalu bersabar.

Ia tampak seperti seorang pebisnis yang begitu santun. Tidak seperti perbuatan-perbuatannya yang penuh muslihat.

Terlalu tenang dan seolah tanpa emosi menghadapi pemberontakan Anastasia membuat watak keaktorannya luntur. Seolah ia tampil menjadi ayah yang sangat baik bagi anaknya, meski ditolak.

Watak tersebut sangat tidak relevan dengan latar pekerjaan yang diembannya. Apakah sutradara Ihsan ingin menampilkan karakter yang bertolak belakang, bahwa seorang penjahat sekalipun akan begitu menyayangi keluarganya. Jika tidak, maka karakter itu belum dimunculkan dalam pertunjukan ini.

Malah Lyov tampak seperti seorang konsultan atau diplomat yang membujuk anaknya dengan kata-kata, tanpa paksaan fisik atau ancaman tertentu.

Bisa jadi karena Lyov tidak mengeluarkan watak aslinya karena takut kehilangan kata-kata saat bernyanyi karena emosi yang tak terkendali.

Jika hal itu terjadi, maka barangkali sisipan nyanyian sebagai warna dasar teater musikal ini bisa dikurangi atau ditempatkan pada layer tertentu ketika tidak banyak emosi tak terkontrol membuncah.

Sementara Isabella bermain dengan sangat baik, bisa mengimbangi emosi pertunjukan yang dihadirkan Lyov. Tidak agresif dan begitu terkendali. Tubuhnya yang seksi dan melenggak-lenggok ketika berjalan, tidak hanya ‘menggoda’ Lyov, tapi juga penonton.

Adalah baik juga jika Isabella tidak mengenakan sepatu high-heels agar tidak terlihat melenggak-lenggok, tapi sebagai pimpinan mafia, dia layak mengenakan sepatu boots dan celana panjang (bukan rok mini).

Kemunculan tokoh Cecep sebagai Kapol baru yang dipilih untuk mengusut bisnis mafia kota, kemudian memindahkan kekuatan pertunjukan padanya.

Beberapa kali tampil solo, Cecep cukup menguasai medan pertunjukan. Menempatkan dirinya pada ruang-ruang yang seperti sudah disedikan untuknya.

Namun Cecep, seperti halnya Lyov, masih tampil layaknya seorang tukang pidato dan guru moral. Terlalu banyak berbicara monolog membuat karakter kepolisiannya hilang.

Sejatinya, sebagai seorang polisi yang juga ahli intelijen, Cecep lebih mengirit pembicaraannya, lebih banyak duduk di belakang meja, dan mengatur strategi cerdas untuk membasmi mafia. Anak buahnya-lah yang beraksi. Dia adalah seorang konseptor.

Barangkali Kala Sunggardi terlalu terpengaruh dengan dorongan pribadinya untuk menguasai seluas mungkin medan panggung.

Cerita kemudian memasuki babak pelik ketika tokoh Anastasia muncul, yang dimulai dengan ratapannya atas kematian neneknya, Sofia Sablina. Anastasia menggeser tubuh pertunjukan dengan memainkan lebih banyak fragmen dalam cerita ini.

Anastasia bermain dengan sangat baik. Menunjukkan pendiriannya sebagai orang baik yang enggan terlibat dalam tindakan kejahatan.

Ia tidak hanya menguasai ruang pertunjukan, tapi dengan baik menempatkan ruang untuk menghadirkan emosinya. Apalagi ketika ia harus menyanyikan lebih banyak lagu dari pemain lain. Ini merupakan sesuatu yang lebih dari Anastasia.

Namun yang kurang dari watak keaktorannya adalah emosi yang dimunculkan ketika ia harus memilih salah satu jalan dari tawaran-tawaran, baik dari ayahnya maupun dari Cecep dan kedua pengawalnya.

Emosinya masih cukup datar. Barangkali ia juga terjebak untuk menguasai sebanyak mungkin lagu untuk meluapkan emosinya, sehingga emosi aktualnya tidak muncul.

Meski kemunculan para aktor ini mengikuti fragmen atau babak pertunjukan, namun keterhubungan kisah antara ketiganya tetap mewarnai aliran pementasan.

Ada saat di mana Anastasia tampak harus ‘mengalah’ pada Cecep ketika keduanya tampil sendiri di panggung pementasan.

Namun ketika tampil dan bermain dengan teman-teman dan pengawalnya, ia tampaik mendominasi. Menjadi pembeda diantaranya.

Pergeseran dan perpindahan antartokoh ini tidak hanya memantulkan kenyataan bahwa pertunjukan ini berupaya merangkai cerita yang pelik, tapi juga kepiawaian sutradara menyebarkan ketokohan agar penonton lebih banyak ‘mencurigai’ jalannya pertunjukan.

Aktor dan kru TEKO UI seusai pementasan CAGAK di GKJ, Jumat (14/2). -Dok. portalteater.com
Aktor dan kru TEKO UI seusai pementasan CAGAK di GKJ, Jumat (14/2). -Dok. portalteater.com

Energi Besar

Teater musikal dengan durasi pementasan 3,5 jam (dimulai pukul 19.00-22.30 WIB) ini merupakan sebuah pencapaian yang yang luar biasa.

Ada energi besar yang mengalir pada tiap tokoh yang bermain di atas panggung. Seolah mereka meluapkan semua potensi dan bakat-bakat terbaik mereka.

Ketika memerankan tokoh tertentu, hampir semua aktor menjalankannya dengan sangat baik. Demikian pula ketika mereka harus bernyanyi dan menari sekitar belasan lagu.

Adapun lagu-lagu yang dibawakan selama pertunjukan diciptakan sutradara Ihsan, Kala Sanggurdi dan Azmia Nauvalla, dan diaransemen Hidego Handaru (music director).

Proses penulisan dan aransemen lagu berlangsung selama proses latihan berjalan.  Penempatan lagu-lagu tersebut disesuaikan dengan keinginan sutradara untuk mempertebal emosi dan narasi pertunjukan.

Digarap sejak akhir 2018, naskah produksi kedua TEKO UI ini ditulis oleh Mario Jabbar dan diproduseri Aisyah Aulia Rifianti, melibatkan 28 aktor dan 150 tim produksi.

Ihsan menuturkan, penulisan naskah teater ini dimulai pada Februari 2019 dan berlangsung hingga April 2019. Sementara proses latihannya dimulai Mei 2019 sampai saat menjelang hari-hari puncak pementasan.

Ihsan saat ini sedang dalam proses persiapan peluncuran film perdana berjudul “Jerat” bersama dengan sebuah komunitas pada 22 Februari 2020 di Depok, Jawa Barat.

Pemeran anggota kepolisian dalam pementasan CAGAK oleh TEKO UI di GKJ, 13-14 Februari 2020 . -Dok. Tim Dokumentasi CAGAK
Pemeran anggota kepolisian dalam pementasan CAGAK oleh TEKO UI di GKJ, 13-14 Februari 2020 . -Dok. Tim Dokumentasi CAGAK

Catatan Lain

Secara umum, penataan musik yang disutradarai Hidego Handaru cukup apik. Memainkan belasan nomor lagu tentu membutuhkan konsentrasi tinggi. Dan Hidego, dkk. telah melewatinya dengan baik.

Hanya mungkin untuk mempertebal narasi pertunjukan dan dialog penting, volume musik pada beberapa lagu perlu diperkecil.

Yang masih menjadi catatan panjang adalah soal penataan lampu/cahaya dan setting. Sekiranya ada enam titik cahaya yang disorotkan sepanjang pertunjukan, masing-masing berdua-dua depan dan belakang.

Dengan penataan seperti itu, tubuh aktor seolah berpindah dan ditempatkan menurut struktur lampu yang sudah disorotkan, sehingga tidak dinamis.

Hal yang sangat tampak ketika Cecep harus berjalan memutar mengikuti titik cahaya untuk mengisi ruang pertunjukan.

Sejatinya, tubuh aktor bergerak atau berpindah menurut emosi atau kesadarannya akan cerita, bukan atas petunjuk spot lampu yang tersedia. Karenanya penataan seperti ini perlu dihindari agar aktor bergerak dinamis.

Sementara dalam hal penataan artistik, masih ada beberapa properti yang terlihat bertebaran di panggung tapi tidak pernah disentuh aktor.

Misalnya ketika tirai pertunjukan dibuka, terlihat seeorang duduk di kursi. Di atas mejanya ada radio dan vas bunga.

Tapi radio itu lebih sekedar dihadirkan sebagai ‘penghias’ meja daripada sebagai properti yang mendukung pertunjukan, misalnya untuk menghasilkan bunyi atau suara tertentu.

Demikian halnya dengan beberapa kursi yang tidak dipindahkan, yang memang sengaja dilepaskan di atas panggung atau hanya sebagai properti yang mendukung cerita.

Namun sutradara Ihsan cukup cerdas membagi ruang pertunjukan, yaitu menjadi dua struktur ruang (ruang depan dan ruang belakang) yang dijembatani dua anak tangga.

Ini menarik karena ruang depan terlihat sebagai ruang ‘kekeluargaan’, ruang perdamaian setelah pertempuran, ruang di mana kebaikan itu muncul.

Sementara ruang belakang cenderung menampilkan adegan persengkokolan, tempat hiburan yang penuh gairah, persembunyian, dan ruang mata-mata (kepolisian).

Kemeriahan dan energi yang besar disuguhkan TEKO UI selama dua malam pada akhir pekan lalu ini memperlihatkan ‘gairah’ baru untuk berkarya dan menghidupkan proses kreatif seni teater di lingkup kampus.

Tepuk tangan membahana di akhir pertunjukan menunjukkan apresiasi tinggi para penonton terhadap kinerja perteateran TEKO UI.

Ada pesan singkat dari sambutan itu, yaitu bahwa penonton masih menanti suguhan serupa di masa mendatang.*

Baca Juga

Pekerja Teater Manfaatkan Media Daring untuk Tetap Bekerja

Portal Teater - Para pelaku teater memilih bekerja dari rumah di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang terus meluas. Tidak hanya di Indonesia, sejumlah...

Rilis Tujuh Film Anyar Indonesia Tertunda

Portal Teater - Pandemi virus corona (Covid-19) memberikan pukulan berat bagi seluruh lini bisnis dan industri di dunia saat ini. Mulai dari seni, budaya,...

Tarik Ulur Pemerintah Terapkan Lockdown

Portal Teater - Pemerintah Indonesia masih berpikir keras untuk menetapkan kebijakan lockdown atau penutupan akses suatu wilayah atau negara. Hal itu mengingat kondisi politik...

Terkini

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...

Merayakan Hari Teater Dunia Di Tengah Corona

Portal Teater - Keprihatinan yang mendalam saya sampaikan kepada seluruh rekan teater Indonesia yang sejak Februari 2020 harus membatalkan atau mengundurkan waktu pertunjukkan. Hal itu...

Cegah Covid-19 Baru, China Batasi Akses Wisatawan Asing

Portal Teater - Untuk mencegah penyebaran virus corona baru, otoritas China sementara waktu akan menutup perbatasannya untuk sebagian besar wisatawan asing. Penutupan akses tersebut...

Transmisi Virus Corona Tak Terbendung, AS Terbanyak

Portal Teater - Transmisi virus corona terus meluas. Ini menunjukkan bahwa penyebaran corona makin tak terbendung di tengah ketidaksiapan dan kelambanan negara-negara untuk mencegahnya....

Dewan Kesenian Inggris Luncurkan Rp2,9T Untuk Sokong Industri Seni

Portal Teater - Dewan Kesenian Inggris atau Arts Council England (ACE) telah meluncurkan paket tanggap darurat senilai £160 juta atau setara Rp2,9 triliun (kurs...