Catatan Penjurian Festival Teater Jakarta 2019

Oleh: Zen Hae*

Portal Teater – Menjadi satu dari lima juri babak final Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019 adalah suatu kehormatan. Sebagai juri kami memikul tugas berat untuk menonton dan memeriksa secara saksama 15 pementasan dan memastikan yang terbaik di antara mereka.

Kami mesti memilih bakat-bakat teater yang menjanjikan dan berpeluang untuk berkembang di masa mendatang. Siapa-siapa yang kami putuskan sebagai pemenang pada malam pengumuman pemenang nanti adalah mereka yang terbaik untuk tahun ini.

Namun, bukan berarti tanpa masalah sama sekali. Berikut ini adalah tinjauan umum atas pementasan 15 kelompok teater, sebelum akhirnya saya, terutama, memberikan catatan ringkas untuk masing-masing penampilan.

Kelihatan betapa lemahnya tradisi riset atau studi di kalangan kelompok teater finalis kali ini—jika bukan kelompok teater di Jakarta pada umumnya.

Riset atau studi berguna untuk menerangi naskah yang dari situasi terang itu para pemanggung beroleh pemahaman yang kurang-lebih tepat terhadap naskah.

Riset atau studi membatu para aktor, misalnya, untuk memahami dialog-dialog tokoh, karakterisasi, hubungannya dengan tokoh lain, perubahan plot dan bentuk pemanggungan secara keseluruhan.

Ketiadaan riset atau studi yang serius membuat penafsiran kita terhadap naskah menjadi tidak sampai.

Akibatnya, pementasan hadir dengan bentuknya yang tidak jelas. Riset atau studi juga membantu para aktor untuk berubah posisi dari “bakat alam” ke “intelektualitas”— jika dikotomi Subagio Sastrowardoyo ini bisa digunakan.

Riset atau studi membuat teater menjadi kerja keilmuan yang serius dan bertanggung jawab, bukan sekadar iman atau imajinasi atau hanya untuk melayani hasrat kesenimanan yang entah di mana ujungnya.

Dengan begitu maka teater menjadi disiplin seni yang sama tingginya dengan bidang-bidang seni lain yang sudah lebih maju, bahkan jika dibandingkan dengan sains dan agama.

Lemahnya riset atau studi dalam kerja teater membuat para pemanggung kehilangan kemampuan mendekati naskah—barang utama yang hendak dipanggungkan.

Bagaiamana memperlakukan naskah secara tepat, itulah pentingnya riset atau studi. Jika naskah itu realis bentuknya, kita jadi tahu menyelami karakter dan kemungkinan penampilannya di atas panggung kelak.

Dengan kuatnya riset atau studi kita bisa dengan mudah mendekati naskah absurd atau yang berpretensi filsafat, bahkan ketika mendekati naskah komedi atau tragikomedi.

Kelompok-kelompok teater finalis miskin sumber daya yang bagus. Apakah itu sutradara, aktor, pemain musik, penata busana, penata cahaya, penata artistik dan seterusnya.

Tentu saja sutradara memegang peranan penting. Sutradara yang bagus dengan sendirinya bisa memastikan konsep pemanggungan yang tepat dan realisasinya selama latihan dan saat pemanggungan.

Beberapa aktor tampak menarik, selebihnya mereka yang tampak kurang latihan.

Penataan musik juga tanpa kecuali. Keasyikan mencomot dari internet lagu atau musik yang dianggap cocok, membuat kelompok teater dengan mudah menjejalkan aneka jenis musik ke atas panggung.

Sedikit yang tertantang untuk mengasilkan musik hidup yang bisa menyatu dengan pementasan.

Penataan astistik banyak sekali masalahnya. Mulai dari set yang gampang goyah, perupaan yang jauh dari sempurna hingga tafsiran rupa-bentuk artistik dari kata-kata dalam naskah menjadi wujud yang bisa dilihat dan dirasakan oleh seluruh pancaindra kita.

Jika realis, kerap kali masih jauh dari tepat. Jika absurd, mereka bisa memasang apa saja. Apalagi dengan mantra eksperimentasi atau pembaharuan, sebuah kelompok teater bisa berkembang sangat berani dan berhasil atau semau-maunya lantas jeblok tak tertanggungkan.

Mungkin soalnya dana. Akan tetapi, kreativitas yang besar semestinya bisa mengatasi pelbagai kekuarangan yang ada.

Jika kita pernah mendengar konsep “teater melarat” atau “teater yang bertolak dari yang ada”, saya kira itulah siasat kreatif para pekerja teater terdahulu dalam mengatasi pelbagai keterbatasan yang ada.

Jika soalnya pengetahuan, para pemanggung bisa datang dan bertungkus lumus di perpusatakan untuk membaca literatur yang berkaitan dengan teater atau bidang seni yang lain. Bisa bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya akan lebih membantu proses pembacaan.

Lain soalnya, jika para pekerja teater itu tergolong manusia yang malas membaca. Yang juga penting ditanamkan oleh para kelompok teater finalis adalah keterbukaan wawasan.

Hari ini teater tidak berkembang sendirian, dia berkolaborasi dengan bidang-bidang seni lainnya, bahkan dengan sains dan gerakan massa. Teater adalah seni multidisiplin.

Memperluas awasan kesenian—terutama bagi sutradara— membuat bentuk teater yang kita hasilkan bisa berkembang kepada kemungkinan yang tidak terbatas.

Avant-gardisme atau idiosinkrasi bentuk teater Indonesia di masa lalu terjadi karena para pelakunya memang punya bakat yang bagus atau mereka tidak bosan belajar
dan membuka diri terhadap pelbagai sumber pengetahuan, baik dari khazanah teater maupun bidang seni lainnya dan sains.

Saya kira, selain festival yang telah menjadi rutin selama 46 tahun terakhir, Dewan Kesenian Jakarta—dalam hal ini Komite Teater—perlu memperbanyak lagi lokakarya-lokakarya teater: penyutradaraan, penulisan naskah, latihan keaktoran, penataan artistik, musik dan elemen-elemen pemanggungan lainnya.

Bahkan, jika perlu, mengundang para pekerja teater dari luar yang bisa berbagi pengetahuan dan memberi inspirasi baru kepada para pekerja teater kita. Jangan pula dilupakan, penerbitan terjemahan buku-buku teater yang dianggap penting, agar isi kepala pekerja teater kita bertambah.

Yang juga penting dipikirkan adalah bagaimana memberi peluang para pekerja teater untuk berkolaborasi dengan pekerja teater (dari luar luar kota maupun luar negeri) yang sudah lebih maju atau berproduksi bersama.

Apakah bentuknya karya pesanan, seniman mukiman atau beasiswa pementasan, tinggal dipikirkan kemudian. Yang jelas, memberi peluang yang lebih banyak lagi kepada para pekerja teater di Jakarta untuk berkembang dan meningkatkan kapasitas mereka.

Tanpa itu semua, tidak akan ada kemajuan yang berarti dalam perteateran di Jakarta. Mereka akan tetap ketinggalan. Mereka akan tetap jadi katak dalam tempurung—yang gegar menghadapi dunia luas yang terus berubah.

Pameran "Drama Penonton". -Dok. Gigih Ibnur/DKJ
Pameran “Drama Penonton”. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ

1. Lab Teater Lumbung (Jakarta Barat)

Lakon: Bulan Bujur Sangkar
Penulis: Iwan Simatupang
Sutradara: Hendra Wijaya
Rabu, 13 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Bulan Bujur Sangkar adalah naskah yang genit filsafat— sejak dari kalimat pembuka hingga kalimat penutup.

Secara keseluruhan naskah ini dijadikan Iwan untuk mengkristalisasikan pemikirannya tentang kehidupan di masa Revolusi dan bagaimana manusia berjuang untuk sintas di dalamnya.

Karena itu, membunyikan saja satu kalimat di dalamnya akan terlihat betapa berat dan mendalamnya masalah yang hendak ditampilkan oleh si penulis lakon.

Menampilkan lakon yang berpretensi filsafat seperti ini akan menjebak para aktor sebagai penghafal kalimat-kalimat puitis-filosofis belaka.

Sebab sejatinya dalam naskah lakon yang seperti ini tidak ada peristiwa yang bergerak yang membuat karakter berkembang dan seterusnya.

Yang ada adalah bagaimana para tokoh, terutama Orang Tua, menembakkan kalimat-kalimat filosofis itu dari atas panggung. Wataknya yang serebral membuat lakon ini kehilangan perhatiannya pada laju peristiwa atau adegan dan letupan konflik di antara tokoh.

Memang ada peristiwa, yakni perang yang berkecamuk. Juga ada manusia yang terseret di dalam kecamuk perang itu: Orang Tua, Pemuda, Perempuan dan Gembala.

Tetapi kita tahu, peristiwa itu hanyalah latar untuk renungan-renungan filosofis para tokoh di dalamnya.

Tidak jarang, renungan itu dimanifestasikan dalam kalimat-kalimat yang rumit dan tidak mungkin memancing emosi penonton.

Satu-satunya momen yang membetot perhatian penonton adalah adegan ketika Orang Tua merancap setelah mengenang kemolekan tubuh Perempuan.

Merancap, sebagaimana bersenggama, adalah laku yang bisa dialami oleh siapa saja dan karena itu ketika adegan itu muncul di atas panggung hampir seluruh penonton tertawa.

Adegan itu, tentu saja, tidak menampilkan erotisme, tetapi sebuah humor garing yang telanjur memantik ketawa penonton.

Meski telah kehilangan esensinya, momen ini jadi penting karena menjadi saluran emosi penonton untuk tertawa, setelah sepanjang adegan sebelumnya dibuat pusing oleh kalimat-kalimat lakon yang tidak mudah dipahami. Bukan hanya dari Orang Tua, tetapi juga Pemuda dan Perempuan.

Alhasil, satu-satunya yang bisa dinikmati dari pentas ini adalah penataan artistik yang berupa set yang hidup. Sebuah rumah tua yang terselamatk n dari keganasan perang dan menjadi tempat persembunyian tokoh-tokoh lakon tersebut.

Akting Orang Tua lakulajak (overacting), penuh dengan luapan emosi yang lebih dari takaran. Begitu pula, Perempuan dan Pemuda. Mereka gemar bicara dalam nada dan intonasi yang tinggi. “Ngegas mulu”—meminjam istilah anak zaman sekarang.

Musik kadang bisa dinikmati, terutama seruling gembala, tetapi selebihnya kelebihan volume dan cenderung bising.

Kostum, bolehlah saya kasih nilai lumayan, sebab mencoba mendekati kewajaran tata busana yang berlaku di zaman perang. Meski, kostum Perempun terlihat terlampau maju ke masa hari ini. Sebuah anakronisme.

Sebuah pentas teater yang buruk memang bisa membuat penonton tidak betah berlama-lama, tetapi itu tidak terjadi pada pementasan ini.

Penonton relatif sabar menikmati tingkah polah para aktor di atas panggung. Kita, saya terutama, menerima pementasan ini sebagai permulaan yang kurang menggembirakan.

Tetapi inilah sebuah permulaan festival dan masih ada empat belas pertunjukan berikutnya. Siapa tahu saya bisa lebih tabah.

2. Labo El Aktor (Jakarta Selatan)

Lakon: Ruang Tunggu
Penulis: Zen Hae
Sutradara: Lalu Karta Wijaya
Kamis, 14 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Fakta yang tidak bisa dimungkiri pada pementasan ini adalah naskah yang dipentaskan kali ini adalah karya saya. Tetapi sebagai penulisnya saya menikmati pentas ini lebih sebagai penonton yang kebagian tugas menjuri.

Ini adalah pengalaman kedua saya menonton pentas yang sama, setelah sebelumnya dalam babak penyisihan di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan beberapa bulan lalu. Pentas kali ini jauh lebih baik dari pentas sebelumnya. Saya gembira.

Meski lakon Ruang Tunggu berhasrat untuk menampilkan humor, porsinya tidaklah banyak. Ia lebih banyak menampilkan problem tokoh-tokoh cerita yang terperangkap dalam lukisan para pengarang dan mereka ingin keluar dari sana, ingin mengalami sesuatu kehidupan berikutnya yang lebih baik.

Oleh karena itulah mereka bersedia memenuhi undangan Tuan Pe, yang nota bene adalah pengarang berikutnya dari lakon Nyai Dasima.

Ia mengundang tokoh-tokoh cerita dalam kisah itu untuk mendengar aspirasi mereka dan bagaimana mereka ingin hidup jika diberi kesempatan sekali lagi.

Lakon ini dimainkan dengan penataan panggung yang relatif rapi. Layar putih membentang dengan ilustrasi slide-slide yang diputar sejak sebelum peristiwa di atas panggung bermula.

Ilustrasi itu sangat kekinian, tentang politik dan hoaks misalnya. Nyaris tidak berkaitan dengan kisah yang akan ditampilkan di panggung.

Saya tidak habis pikir, apa urgensi petikan-petikan berita dari YouTube itu ditampilkan begitu banyak.

Namun, yang pasti, begitu satu per satu tokoh hadir di ruang tunggu, barulah kita bisa memahami apa problem yang tengah mereka hadapi dan bagaimana mereka menyusun rencana selanjutnya.

Hampir semua karakter ingin berubah, keluar dari stereotip dalam dua lakon Nyai Dasima yang ditulis oleh G. Francis dan S.M. Ardan. Hanya satu tokoh yang tetap, yakni Samiun (Es).

Jika karakter berkembang, apakah peristiwa juga bergerak? Iya. Sebab setelah itu mereka hendak menyusun rekonstruksi kematian Nyai Dasima dan bagaimana mestinya versi terbaik dari tragedi ini.

Di akhir kita tahu bahwa semua ini hanyalah permulaan, sebab Tuan Pe kemudian hadir menyambut mereka dan mempersilakan mereka masuk ke ruangan tempat omong-omong akan berlangsung. Layar gelap kemudian.

Bagi saya, dua aktor yang cukup menonjol di lakon ini adalah Laila Na’ma (De) dan Muhammad Jauhar Haekal (Tuan We), si lelaki Inggris. Mereka bermain dengan rileks dan penuh penghayatan.

Sayangnya, Laila kadang berbicara dalam tempo yang terlalu cepat. Tengoklah bagaimana dia bersenandika di bagian awal pentas. Seperti menghapal. Sementara Haekal kelihatan lebih wajar.

Tokoh-tokoh lain, bagi saya, kelewat ingin melucu, sehingga tampak karikatural.

Memang, penonton tertawa oleh upaya mereka, tetapi takarannya kelebihan. Saya terutama tidak merasakan ironi yang muncul dari karakter yang tengah berubah, sebagaimana yang terjadi pada Es (Samiun) dan Pe (Puasa).

Atau kegetiran dari seorang yang kehilangan peran sentral dan pengaruhnya terhadap tokoh lain sebagaimana dialami Tuan We.

Sekali lagi, mereka ingin membuat penonton ketawa, bukan merenung. Mungkin renungan baru bisa dihasilkan jika jarak waktunya sudah cukup.

Di atas panggung biarlah mereka menghibur penonton dan Labo El Aktor sukses untuk yang satu ini. Jika ada soal lain yang menarik adalah bagaimana tenaga multimedia didayagunakan dalam pentas ini.

Permainan potongan-potongan berita di awal dan gambar-gambar dari arsip lama membuat pentas ini terasa lain.

Belum lagi awak panggung yang muncul dengan tubuh penuh lampu-lampu kecil bercahaya membuat pergantian set berlangsung menyenangkan.

3. Maura Lintas Teater (Jakarta Utara)

Lakon: Malam Keseratus
Penulis: Yukio Mishima
Sutradara: Maya Damayanti (Maya Azeezah)
Jumat, 15 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Pementasan ini dibangun dengan set yang cukup baik. Sebuah gerbang kuil  di pedesaan Jepang, sebuah altar kecil dan hamparan dedaunan kering. Dari penampakan seperti ini penonton sudah bisa langsung menerka jenis cerita apa yang akan dimainkan.

Ya, ini cerita dari naskah Yukio Mishima Malam Terakhir yang oleh sang sutradara yang juga aktor utama pementasan ini diubah menjadi Malam Keseratus.

Naskah ini bercerita tentang Komachi, seorang mantan Geisha, yang punya sejarah panjang dan kelam. Setiap lelaki yang jatuh cinta kepadanya akan mati.

Kini dia sudah tua, 99 tahun, dan merenungi perjalanan nasibnya. Maka datanglah seorang penyair mabuk (diperankan oleh Ujang GB) kepadanya.

Interaksi dua manusia kesepian inilah yang kemudian menjadi batang tubuh pementasan Maura Lintas Teater.

Panggung dibuka dengan laku seorang biksuni dan kemudian berganti dengan si Geisha dengan gerakan-gerakan yang katanya diambil dari kosagerak butoh, mengeksplorasi tubuh dan sensualitas dirinya dalam balukan kostum yang ketat.

Eksplorasi ini menyimbolkan, setidaknya, lika-liku perjalanan hidup si Geisha hingga perkembangan terbaru di usia tua dan dia kemudian memakai yukatanya.

Si penyair datang dengan semacam hasrat akan kematian, tetapi pertemuannya dengan Komachi seperti menunda hasrat itu.

Ia mengagumi kecantikan Komachi dan merasakan keharuman tubuhnya. Dan kutukan itu terjadilah. Siapa pun yang mencintai Komachi akan mati, begitu juga si penyair.

Padahal, Komachi sebenarnya telah menaruh harapan agar si penyair tetap hidup dan menemani kesepiannya. Ia tidak bisa menolak takdir. Mereka akan berjumpa lagi seratus tahun kemudian.

Sebuah pentas yang hemat dengan dialog yang puitis, tetapi dimainkan dengan agak berlebihan oleh Ujang GB. Gestur dan gerakannya terlampau stereotip, sebagaimana tokoh pemabuk yang kerap kita temukan di dalam sinetron-sinetron Indonesia.

Maya bermain cukup wajar sebagai Geisha tua, tetapi gerak-gerak yang dilakukannya di awal, bagi saya, sangat mengganggu. Tidak jelas juntrungannya.

Jika memang diambil dari kosagerak butoh, mestinya si aktor bisa lebih sungguh-sungguh lagi agar kosagerak yang ditampilkannya bisa lebih menarik lagi.

Musik yang sugestif menggaung sejak awal dan itu sangat membantu membangun suasana yang diinginkan sutradara.

Sementara cahaya, tepatnya sorot lampu yang ditembakkan untuk menerangi gerak-gerak butoh si Geisha tua, tampak tidak pas dan kurang fokus.

Terkesan mengejar-ngejar gerakan si Geisha yang tak henti-hentinya ngulet-ngulet erotis di antara dedaunan kering dan ndlosor di bawah bangku.

Selain artistik dan musik yang baik, tidak ada segi lain yang layak saya kenang dari pementasan ini.

4. Teater ASA (Jakarta Barat)

Lakon: Him
Penulis: Stanislaus J. Daryl & Simon Karsimin
Sutradara: Simon Karsimin
Sabtu, 16 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Yang layak dipujikan kepada pementasan ini adalah keberaniannya menggunakan naskah sendiri dan naskah itu bercerita soal dunia yang sudah maju, computerized, yakni ketika manusia (yang kesepian) bisa menjalin hubungan dengan sosok virtual yang diprogramkan oleh komputer.

Apakah cukup argumen untuk menyatakan bahwa makhluk virtual itu adalah sebuah perangkat lunak, sebuah kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) yang dirancang untuk menggantikan manusia?

Bagaimana sebuah perangkat lunak bisa menghasilkan sosok virtual yang bisa secerdas manusia? Apa logika ilmiahnya? Itulah pertanyaan mendasar saya.

Yang jelas, kita diminta percaya bahwa sosok itu benar-benar ada dan kini dia sedang melayani seorang perempuan putus cinta yang kesepian bernama Kia.

Maka, pentas ini adalah soal hubungan Kia dengan sosok virtual yang bernama Samuel Surya (Sam). Apakah mesin bisa berkhianat sebagaimana manusia?

Ternyata bisa. Saat berdansa dengan Kia setelah Kia mendapatkan peluang penerbitan buku pertamanya, ternyata di saat yang sama Sam juga berbicara dengan 18970 orang berbeda di dunia.

Kelipatan hubungan yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa. Di ujung cerita kita akan tahu, Kia akhirnya kecewa dan Sam memilih pergi meninggalkan Kia.

Sebuah akhir kisah yang melodramatis.

Ketika pentas bermula kita disajikan panggung yang dibelah menjadi dua, ruang sebuah apartemen di lantai 40 milik Kia dan sebuah lift tempat orang turun-naik.

Sejak awal kita sudah disuguhkan bombardir citraan gambar bergerak, bukan hanya di atas panggung, tetapi juga di wilayah penonton.

Pementasan ini hendak meyakinkan kita bahwa yang akan disuguhkan adalah sebuah dunia citraan, yang tarik-menarik dengan dunia nyata, antara manusia dengan AI, pemandangan kota dan rekaman digital peristiwa yang tengah atau telah berlangsung.

Yang menjadi pertanyaan saya sejak pertama adalah kenapa Kia seperti bicara sendirian? Respons Sam dibuat menyerupai bunyi komputer dan itu sangat mengganggu.

Sebab, di dalam naskah, dialog mereka sangat jelas. Argumen keduanya bisa kita baca dengan saksama, tetapi ketika dipanggungkan sutradara memilih membisukan Sam demi mengejar sesuatu yang entah apa.

Itulah yang saya kira kekeliruan pementasan ini. Sebuah teater adalah dunia tempat sensibilitas kita dihidupkan.

Memang, dengan membisukan kalimat-kalimat Sam, suasana kesepian Kia semakin terasa. Akan tetapi, realisme di atas panggung kehilangan kewajarannya.

Sutradraa baru membunyikan kalimat-kalimat Sam setelah dia berpisah dari Kia. Kenapa sebegitu pelit sutradara berbagi informasi kepada penonton?

Dengan penataan dialog seperti ini Kia tampak sebagai sosok yang temperamental, skizofrenik, karena berbicara sendirian dengan menatap layar laptop.

Segalanya menjadi tidak wajar, apalagi ketika Kia berbicara dengan nada tinggi hampir sepanjang pertunjukan. Kita kehilangan kewajaran komunikasi.

Bukan hanya terhadap Sam, tetapi juga kepada orang lain, seperti Matthew dan Alan. Kikuknya terasa dibuat-buat, histerisnya berlebihan.

Karakterisasi yang tidak wajar juga muncul pada sosok Alan. Jika dia lelaki menikah tetapi menjalin hubungan dengan sesama jenis (gay) kenapa sosoknya digambarkan secara stereotip, melambai, ngondek.

Saya kira, sutradara mestinya bisa keluar dari jebakan stereotip itu. Jika ada himpunan gerak yang menarik perhatian, itulah gerak yang dieksplorasi Kia saat ia sedang bercumbu dengan Sam.

Di panggung kita melihat Kia yang menggeliat-geliat dengan tubuh yang berahi, tetapi dia melakukannya sendirian saja. Apakah sutradara takut menampilkan sepasang kekasih yang bercumbu di dalam kamar? Bisa jadi.

Sensor diri telah bekerja lebih dulu sebelum adegan sebenarnya benar-benar dinikmati penonton. Belum lagi adegan di dalam gelap yang berlangsung beberapa menit, apa maunya.

Salah gambar yang ditampilkan kamera CCTV telah menjelma sejumput pasir dalam sepatu yang saya kenakan.

Ide dasar pentas ini bolehlah, tetapi pemanggungan ide itulah yang bermasalah hampir di setiap bagian.

Kita kehilangan peluang untuk menikmati pentas teater dunia futuristik dengan nalar yang meyakinkan. Kita masih harus menunggu, entah sampai kapan.

5. Teater Castra Mardika (Jakarta Timur)

Lakon: Terdampar
Penulis: Slawomir Mrozek
Sutradara: Irfan Hakim
Minggu, 17 November 2019
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Problem utama pementasan ini adalah melesetnya penafsiran terhadap naskah. Dari naskah yang mengandung kegentingan situasi kemanusiaan menjadi naskah yang ger-geran belaka.

Sejatinya, naskah lakon Terdampar mempersoalkan cara bertahan tiga orang (Kurus, Sedang, Gendut) di sebuah pulau terpencil. Tidak ada lagi makanan yang tersisa, tetapi mereka harus makan untuk bertahan hidup.

Maka, mereka harus memakan salah satu di antara mereka. Mereka mengundi nama mereka dan kebagianlah si Kurus sebagai korban.

Maka, kembalilah manusia ke zaman purba, ketika pengorbanan tubuh manusia, memangsa sesama manusia, menjadi suatu keharusan, pemandangan biasa saja.

Namun, kita tahu, semua ini terjadi di zaman modern. Itulah ironi terbesar pementasan ini.

Sayangnya, sejak awal sutradara pertunjukan ini menyatakan pentas ini akan disuguhkan dengan akting yang komikal, dengan artistik, riasan dan kostum yang komikal juga.

Maka tertawalah penonton sejak menit pertama hingga menjelang akhir. Tetapi, saya tidak. Bagi saya kesalahan penafsiran ini telah menghilangkan aspek penting dari pertunjukan ini. Yakni, ironi tadi.

Bagaimana mungkin manusia modern yang beradab di tengah situasi yang tidak sepenuhnya darurat—misalnya, mereka toh bisa menangkap ikan di sekitar pulau itu untuk dimakan—mesti memakan manusia lain untuk bertahan hidup.

Pentas ger-geran ini digerakan oleh hasrat yang terlalu kepingin melucu. Kita tidak mendapatkan segi ambang tragedi-komedi, ketika pada puncak penderitaannya manusia tidak bisa lagi menangis atau bersedih, tetapi ketawa atau meringis, meledek penderitaan mereka sendiri.

Di sini kita diajak ketawa tanpa hasrat menertawakan diri sendiri. Para aktor hadir dengan hafalan yang teramat lancar.

Peran laki-laki yang dimainkan Irfan Hakim tampil seperti sosok Limbad. Peran lelaki pembantu (Aminu Rohman) tampil setengah Joker-separuh Petruk.

Mereka berdialog dengan orientasi panggung yang luas sehingga vokal mesti keras (sekali), jika perlu berteriak-teriak sebagaimana kerap dilakukan si perempuan (Nurrizky Annisavitrie).

Hampir tidak ada bagian yang mengajak kita untuk merenungkan betapa gentingnya situasi manusia yang terdampar itu.

Penderitaan manusia bukan diatasi dengan sikap bijaksana seraya mendedahkan kritik kepada diri sendiri, tetapi dengan sikap tidak ambil pusing. Yang penting mengocok perut penonton selagi bisa.

Saya kira, ambisi menghibur penonton yang kelewat berlebihan saya temukan juga pada pertunjukan Ruang Tunggu sebelumnya. Panggung memang dibikin hemat  properti.

Hanya ada sebuah dekor menyerupai pohon kering, dua barel, satu kotak dan sebuah koper. Seperti pentas Sponge-Bob.

Di awal tiga orang itu memperebutkan koper yang entah apa maksudnya, sebab setelah itu si koper tidak disentuh-sentuh lagi. Sebuah simbolisasi “perebutan kekuasaan” yang genit dan kehilangan esensi.

Adapun “kebebasan” yang didengungkan sejak awal, juga “intelektualitas”, hanya menjadi konsep megah yang kosong makna.

Sepanjang cerita mereka asyik memperdebatkan semua itu, tanpa bisa meningintegrasikannya kepada perilaku atau pemeristiwaan.

Kecenderungan musikal di bagian awal juga memperlihatkan semangat pementasan ini yang ingin menghibur diri, bukan merenungkan kembali situasi keterdamparan di sebuah pulau dan bagaimana nasib manusia kemudian.

Saya kurang bisa menikmati pertunjukan ini, meski seluruh pementasan ini telah mendedikasikandirinya untuk menghibur penonton.

Menghibur diri, bagi saya, ada waktunya dan itu bukan porsi yang berlebihan sebagaimana dimainkan oleh anak-anak Castra Mardika.

6. Teater Nusantara (Jakarta Barat)

Lakon: Arung Palakka
Penulis: Fahmi Syarif
Sutradara: Ayak M.H.
Senin, 18 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Arung Palakka adalah pentas yang percaya bahwa teater akan baik-baik saja selama ada perhatian kepada heroisme.

Demikianlah kita mendapatkan suguhan tentang perlawanan Arung Palakka terhadap Kerajaan Gowa yang bermula dari penindasan para pekerja pembangunan benteng oleh mandor dari kerajaan tersebut.

Ia adalah teater perlawanan atas penindasan yang manifestasinya di panggung adalah teriakan kemarahan, petarungan berdarah, kekuatan magis dan renungan yang genit filsafat.

Karena pentas ini digerakkan oleh dendam dan perlawanan, maka sepanjang pertunjukan kita bisa dengan mudah menemukan tokoh-tokoh yang mengumbar amarah dan dendam di satu sisi dan glorifikasi atas kekejaman kuasa lokal di sisi lain.

Naluri-naluri purba manusia ini tidak bisa tampil biasa-biasa saja. Ia harus ditampilkan dengan megah dan mudah-mudahan punya daya pikat. Seakan-akan, jika tidak berteriak-teriak belum teater namanya.

Tentu saja cerita seperti ini bisa kita temukan di banyak tempat di Indonesia, terutama pada wilayah kultural yang memiliki kisah-kisah tentang persaingan kuasa lokal, penindasan manusia atas nama penguasa tertentu, penebusan dan pengorbanan jiwa serta kuasa gaib yang menjadi peneguhan atas perlawanan.

Kisah-kisah macam begini akan punya relevansinya sendiri. Ketika ia ditampilkan di atas panggung teater modern, akan terasa betapa isu-isu seperti ini seperti kurang kekinian.

Kelompok-kelompok teater modern, terutama yang bersaing dalam festival kali ini, sudah sejak lama diganggu oleh semacam angin pembaharuan yang membuat mereka berlomba-lomba mencari terobosan baru dalam pemanggungan.

Tetapi semua itu sudah terasa menjadi klise. Teater pada akhirnya mesti kembali kepada kerja kultural yang wajar, tekun merawat tegangan antara bentuk dan isi.

Teater Nusantara tampaknya tidak peduli kepada pembaharuan bentuk dan isu-isu mutakhir pemanggungan teater.

Menyaksikan Arung Palakka saya merasa seperti menonton pentas teater di masa silam, di mana gestur-gestur panggung yang megah, vokal yang keras, kostum yang wah dan keremangan yang tidak tertanggungkan masih menjadi penampakan utama di atas panggung.

Namun, sekali lagi, sebagai sebuah pertunjukan ia bulat, dibangun dengan memperkuat dan memadukan semua anasir pertunjukan. Termasuk musik, tata gerak, kostum dan nyanyian.

Sayangnya, dekor dibuat agak berantakan dan asal-asalan. Latar tempat adegan Arung Palakka dan ibunya terasa terlalu sempit untuk dua orang. Cahaya mau bermain efektif, meski tidak sepenuhnya berhasil.

Segala yang klasik memang telah menjadi milik Arung Palakka malam ini. Teater Nusantara punya tempat tersendiri sebagai kelompok yang mengusung teater etnografis seperti ini.

Ia kelompok teater dengan orientasi pementasan yang jauh dari semangat pembaharuan.

Atau, kisah-kisah dari kehidupan kontemporer yang penuh selubung teknologi mutakhir. Mereka asyik-asyik saja. Yang penting main teater.

7. Teater Ciliwung (Jakarta Selatan)

Lakon: Domba-Domba Revolusi
Penulis: B. Soelarto
Sutradara: Irwan Soesilo
Selasa, 19 November 2019
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Ini salah satu pentas teater yang enak ditonton dalam final FTJ kali ini.

Tentu saja karena naskah lakon ini bagus — pernah beroleh penghargaan dari majalah Sastra — dan dimainkan oleh aktor-aktor yang baik, setidaknya Margareta Marisa (pemeran Perempuan, pemilik losmen) dan Bagus Ade Saputra (pemeran Penyair).

Setnya yang melukiskan ruang tamu sebuah losmen dibuat serealis mungkin, meski terlihat kurang kokoh. Dengan sejumlah keunggulannya, pentas ini layak dicalonkan sebagai salah satu pemenang FTJ kali ini.

Ceritanya berkisar di sebuah losmen di masa Revolusi yang dimiliki oleh seorang perempuan muda.

Di losmen itu menginaplah seorang politikus, pedagang, petualang dan penyair. Dari empat penginap ini hanya penyair yang punya sikap yang baik terhadap perempuan, selebihnya berengsek dan kelak menjadi korban keganasan perang yang tengah berkecamuk.

Penyair telah menyatakan cinta dan pengharapannya kepada si perempuan, tetapi si perempuan menolaknya.

Si penyair telah mengajak pujaan hatinya itu untuk menyelamatkan diri, tetapi si perempuan memilih bertahan.

Konflik berkutat pada hasrat tiga lelaki berengsek itu untuk menguasai keadaan, termasuk memikat hati si perempuan. Namun, akhirnya jati diri mereka yang sesungguhnya terbongkar.

Karena tidak tahan menanggungkan kebusukan diri mereka di hadapan si perempuan, mereka memilih keluar dari losmen. Akan tetapi, si petualang akhirnya kembali dan berusaha membujuk si perempuan agar mau menerimanya, meski tetap gagal.

Si perempuan akhirnya membalasnya dengan membunuh lelaki busuk itu, meski dia pun akhirnya menemukan ajalnya di tangan pasukan Belanda yang menyerbu losmennya.

Secara umum, peran perempuan dan penyair dimainkan dengan sangat baik oleh Margareta dan Bagus.

Mereka bermain dengan takaran emosi dan vokal yang wajar, gerak yang cukup efisien dan berhasil membangun konflik psikologis bukan hanya di antara mereka berdua, tetapi dengan tokoh-tokoh lain.

Kostum yang mereka kenakan, juga yang dikenakan oleh tokoh-tokoh lain, terlihat pas, menyesuaikan dengan model masa 1940-an.

Sayang, musik bermain terlalu hati-hati untuk melukiskan suasana. Jikapun berlaku ilustratif, sebuah lagu Bunga Anggrek karangan Ismail Marzuki, diulang dua kali di awal dan di akhir cerita. Kurang ada terobosan.

Cahaya juga dibuat remang-remang tidak jelas. Tidak ada distingsi pembagian ruang oleh cahaya. Apalagi efek cahaya akibat letusan senjata atau ledakan bom, tidak terlihat sama sekali. Efek suara bunyi senjata dan bom tidak mirip sama sekali. Tidak kreatif.

Jika dibandingkan dengan lakon Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang yang juga mengambil latar masa Revolusi, naskah ini tidak bergenit-genit dengan filsafat yang menjelma jadi kalimat-kalimat yang sulit dicerna.

Dialog berkisar pada persoalan hidup manusia-manusia yang terjebak dalam situasi sulit dan bagaimana masing-masing orang menyatakan dirinya atau berusaha meyakinkan orang lain agar bisa dipercaya. Sesimpel itu.

Dari situ justru penonton bisa menyimpulkan sendiri perwatakan mereka. Pengarang tidak mengunci premis pertunjukan ke dalam jargon filsafat yang basi atau kalimat yang njelimet.

Dengan naskah yang baik, aktor yang berkualitas dan penataan set yang lumayan realis, sutradara berhasil mengemas hampir seluruh elemen pertunjukan menjadi sebuah pentas yang menarik.

Kekurangan-kekurangan yang bersifat minor tidaklah mengurangi kekuatan pementasan Teater Ciliwung kali ini.

Malam ini, saya beroleh sebuah pentas teater realis yang enak ditonton dan itu menggembirakan saya.

Bagi saya, pentas Domba-Domba Revolusi malam ini bisa menjadi fungsi tolok ukur bagi pentas-pentas sebelum dan sesudahnya dalam final FTJ kali ini.

Beginilah mestinya kualitas pentas teater realis yang layak tonton. Apakah saya akan menemukan yang lebih dari ini, kita tunggu saja.

8. Teater Cahaya (Jakarta Utara)

Lakon: Domba-Domba Revolusi
Penulis: B. Soelarto
Sutradara: Afri Rosyadi
Rabu, 20 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Masalah utama pementasan ini, sekali lagi, melesetnya penyaduran, dari masa Revolusi ke masa hari ini. Yang muncul kemudian adalah anakronisme yang tidak tertanggungkan dan ketakmasukakalan peristiwa di sepanjang pementasan.

Sebagaimana ditunjukkan oleh Teater Ciliwung di malam sebelumnya, pentas ini mengambil latar masa Revolusi, ketika perang berkecamuk antara tentara Republik Indonesia dan tentara NICA/Belanda.

Akan tetapi, Afri Rosyadi memindahkan latar peristiwa ke hari ini, tanpa mendudukkan nalar naskah itu ke masa kini.

Panggung ditata dengan menampilkan latar belakang berupa sejumah bingkai gambar binatang yang disusun secara acak, tetapi memenuhi unsur komposisi juga. Dua-tiga kursi di tengah.

Satu meja kecil di kiri panggung yang berisi teko dan cangkir—yang tidak pernah disentuh sepanjang pertunjukan. Para tokoh tergulung oleh masalah-masalah yang muncul akibat perang.

Mulai dari losmen yang terancam diserang musuh, para penginap yang hanya mencari keuntungan pribadi di tengah berkecamuknya perang, hasrat penaklukan lelaki terhadap perempuan, higga soal cinta yang bertepuk sebelah tangan antara seniman dan perempuan pemilik losmen.

Anakronisme yang tak tertanggungkan dari pementasan ini adalah kostum para aktor yang mengambil ragam tata busana hari ini, sementara masalah yang mereka hadapi adalah masalah yang sangat khas di masa perang.

Belum lagi suara deru mesin pesawat dan rentetan tembakan yang khas dari masa itu—bukanlah pesawat tempur dan senjata mesin dari generasi terkini.

Kualitas akting buruk hampir di semua aktor—kecuali sedikit lebih baik adalah pemeran tokoh pedagang. Mereka gemar berteriak untuk menyatakan soal apa pun, termasuk soal cinta.

Belum lagi pembacaan puisi Chairil Anwar (“Diponegoro” dan “Aku”) di awal dan akhir pentas yang sekadar tempelan belaka.

Cahaya statis hampir sepanjang pertunjukan; terang tidak, gelap apa lagi. Baru berubah merah setelah si pemilik losmen membunuh petualang dan tentara Belanda.

Musik sering kali menimpa dialog yang tengah berlangsung, menjadi lebih keras sehingga dialog antar-tokoh tidak terdengar jelas.

Gestur perempuan dan seniman tampak kaku sekali. Yang agak santai tampak pada pedagang dan petualang. Sementara pemeran politikus bermain dengan kualitas akting yang tidak kalah buruknya.

Berteriak-teriak terus. Sutradara hanya mau asyik-asyikan dengan mendandani para aktornya dengan busana hari ini, tetapi tidak bisa mendudukan nalar manusia masa Revolusi ke dalam kehidupan hari ini.

Jika hari ini masih ada perang, tentara Indonesia melawan musuh dari mana? Rakyatnya sendiri? Tidak. Sebab yang muncul kemudian tentara berbahasa Inggris.

Setelah perang masa Kemerdekaan kapan ada tentara asing yang berperang dengan tentara Indonesia?

Premis “Dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat, perjuangan bangsa, namun sesungguhnya kepentingan pribadi di atas segalanya” tidak berbunyi sama sekali begitu ditarik ke masa hari ini.

Lain soalnya jika perang yang dimaksud adalah perang melawan koruptor atau penjahat ekonomi lainnya. Tetapi, sutradara rasanya tidak punya bayangan ke arah itu.

Belum lagi, argumen memindahkan bentuk pementasan dari proscenium ke teater arena. Begitu pentas dan penonton dipindahkan ke atas, bentuk pementasannya pun masih meneguhkan konsep proscenium.

Jadi, apa sebenarnya mau sutradara dengan semua ini? Tidak paham saya.

9. Teater Indonesia (Jakarta Pusat)

Lakon: Kisah Cinta dan Lain-Lain
Penulis: Arifin C. Noer
Sutradara: Budi Kecil
Kamis, 21 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Problem utama pementasan Kisah Cinta dan Lain-Lain produksi Teater Indonesia adalah tidak disadarinya prinsip kecukupan.

Sutradara yang dalam hal ini bertanggung jawab kepada keseluruhan pertunjukan senang menambahkan bagian-bagian yang sebenarnya tidak perlu.

Naskah yang sudah cukup lucu ini kemudian ditarik ke sana kemari agar kelucuannya bertambah. Yang terjadi adalah komedi yang melebihi takaran yang semestinya. Humor menjadi dangkal dan sekali lagi pentas ini jadi kehilangan ironinya.

Lakon ini bercerita tentang satu keluarga yang sangat kaya raya dan sedang mengalami masalah gawat. Anjing kesayangan si Nyonya, Toni namanya, sakit keras.

Sudah banyak dokter hewan dan profesor, tidak terkecuali dukun, dipanggil untuk mengobatinya, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil mengobatinya.

Akhirnya Toni benar-benar mati dan itu menambah kepanikan si Nyonya. Dia menjadi nyaris gila dalam kesedihan dan meminta suaminya mengucapkan pidato saat pemakaman Toni kelak.

Di sisi lain, Otong, pembatu rumah keluarga ini bersoal dengan anaknya yang sedang sakit keras. Dengan sangat terpaksa, setelah tidak diizinkan si Nyonya yang sedang panik karena anjing kesayangannya sedang sekarat, akhirnya Otong mohon diri.

Tetapi masalah bertambah. Seorang perempuan muda yang hamil tua datang menagih janji Otong. Dia hamil karena ulah Otong yang gasang dan gemar mengumbar janji.

Otong akhirnya mengajak perempuan itu pergi. Sementara Wilem, pembantu keluarga ini, juga merasa dikibuli oleh Otong.

Setelah Otong pergi dengan perempuan hamil itu, datang kabar mengejutkan: Anak Otong mati. Seorang anak muda datang meneruskan kabar itu dan mencari Otong agar bisa pulang.

Akan tetapi, Otong pergi entah ke mana bersama perempuan hamil itu. Di saat yang sama Wilem memendam kekecewaan yang berat karena digombali Otong.

Kisah berakhir dengan keharuan akan kematian seorang anak kecil, sementara ayahnya entah di mana.

Kematian seekor anjing kesayangan seperti kehilangan makna. Penataan artistik dan musik pementasan ini boleh dibilang berhasil.

Set dibikin serealis mungkin dengan menampilan desain interior ruang tamu keluarga karya raya, lengkap dengan lukisan anjing yang tergantung di dinding.

Sementara musik dimainkan dengan orkes kamar (biola, organ, selo dan vokal) yang mengilustrasikan beberapa adegan penting dalam pementasan ini.

Pementasan juga menjadi hidup oleh penataan cahaya yang cukup baik dan distingtif, misalnya antara ruang tamu dan beranda depan.

Sayang, kamar anjing kesayangan gelap belaka ketika dibuka. Para aktor bermain dengan kualitas akting yang pas-pasan. Jika tidak berlebihan dalam menampilkan emosi kesedihan si Nyonya, maka sikap kaku tampak permanen pada si Tuan.

Namun, menjelang akhir Maya Safitri yang memerankan Nyonya bermain makin baik, sementara Poetoy Waizu bermain begitu-begitu saja.

Tokoh Otong dan Wilem (diperankan Armada Saputra dan Maria Budianti) bermain secara stereotip saja. Meniru karakter pembantu yang jamak.

Adapun Ferry Nyoe (pemeran Dukun) bermain sangat berlebih-lebihan. Laku lajak. Adapun warga sekitar, ya seperti kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Yang jelas, mereka kelewat ingin melucu.

Ya, saya kira masalah berikutnya adalah hasrat untuk membuat pementasan ini menjadi lebih lucu dari yang semestinya. Akibatnya malah jadi konyol.

Dimulai dengan lagak Dukun yang laku lajak, kedatangan wartawan televisi dan wartawan cetak/daring menjadi tambahan yang membuat pementasan ini melantur. Sutradara, sekali lagi, tidak memahami prinsip kecukupan.

Adegan dipanjang-panjangkan dan itu tidak menimbulkan akhir peristiwa yang memikat. Pementasan ini pada akhirnya memberikan peringatan kepada siapa saja bahwa naskah komedi punya disiplinnya sendiri.

Arifin C. Noer berusaha menjaga ironi dalam seluruh ceritia, tetapi Budi Kecil menggerogoti itu semua dengan semangat melucunya yang berlebihan.

10. Teater Camuss (Jakarta Timur)

Lakon: Mak Comblang
Penulis: Nikolai Gogol
Sutradara: Remon Ghazaly
Jumat, 22 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Mak Comblang adalah pementasan yang tanggung. Meski masih mempertahankan langgam bahasa Indonesia masa kolonial—begitulah saduran yang dikerjakan Teguh Karya dan Asrul Sani atas lakon The Marriage karya Nikolai Gogol—pementasan ini memasang tokoh dengan penampilan yang serba-tanggung.

Ada topi kontrolir yang digunakan oleh Ahmadin Ahmad, si tokoh utama, tetapi ada juga kaus oblong dan celana pendek yang dia kenakan sebagaimana menusia hari ini.

Juga tokoh Karim yang penampilannya sangat kekinian. Selebihnya, pemeran Ambarita, Nyonya Elya, Serabi, Tigor, Arjuna mencoba kostum yang sebisa mungkin sesuai dengan latar peristiwa saduran lakon ini.

Sutradara memperlakukan lakon saduran ini tidak dengan sungguh-sungguh. Ke masa silam tidak penuh, ke masa kini jauh dari cukup.

Alhasil, kita mendapatkan tokoh-tokoh yang bergerak dalam bentang anakronisme. Sebuah tindakan “salah waktu” dan “salah tempat” yang tidak diniatkan sebagai permainan atau parodi, tetapi karena ketidaktahuan sutradara atas jatidiri lakon yang tengah dipentaskan.

Sebenarnya, jika sutradara mau lebih setia mempertahankan saduran yang dikerjakan Asrul Sani dan Teguh Karya, ditambah riset yang sungguh-sungguh tentang situasi dan karakter manusia yang disarankan saduran lakon ini, kita bisa mendapatkan sebuah pementasan teater komedi yang wajar dan menghibur.

Masalahnya, sebagaimana kita temukan dalam pementasan Kisah Cinta dan Lain-Lain produksi Teater Indonesia di malam sebelumnya, kita berhadapan dengan hasrat melucu yang berlebihan, yang kemudian menjebaknya kepada kekonyolan.

Masalah berikutnya adalah aktor-aktor yang tidak bisa menampilkan emosi yang wajar. Jika tidak kaku atau tanggung, mereka berlebih-lebihan.

Takaran emosi hampir tidak ada yang pas pada setiap aktor. Dari sejumlah aktor utama pementasan ini, yang mungkin agak wajar bemainnya hanyalah Uyun (pemeran Ambarita).

Di luar itu, setiap laku tokoh, jika bisa, didedikasikan untuk memancing tawa penonton, bukan untuk menegaskan problem eksistensial yang sedang dipertanyakan lakon ini: Kenapa manusia harus menikah? Apa gunanya?

Kenapa Ahmad menghindari pernikahan yang sudah dirancang dengan sungguh-sungguh oleh Nyonya Elya dan Karim?

Meski set diupayakan serealis mungkin, ruangan dalam ruang Ahmadin Ahmad yang disebut “juragan” terlihat kurang rinci dan perabotannya terkesan asal ada dan terlihat miskin.

Sementara set rumah Ambarita terlihat lebih baik, meski kebocoran properti selalu ada.

Radio yang dipajang adalah radio transistor yang umum disebut “Radio Cawang”, bukan radio yang khas zaman Belanda.

Para aktor kadang bergerak sekehendak hati, tidak memikirkan komposisi yang pas di antara mereka. Kelewat senang menggerombol di sekitar kursi tamu atau bergerak menuju pusat perhatian: kursi yang diduduki Ambarita, pintu kamarnya atau foto dirinya yang dipajang di dinding.

Belum lagi Ahmad yang tidak tahu cara memakai topi kontrolir yang benar, agar tidak mudah jauh. Atau, kalaupun jauh bisa terjadi di saat yang tepat.

Tokoh Pembantu rumah Ambarita, meski porsinya kecil, cukup menarik perhatian.

Sayangnya, dia ditempatkan sebagai perempuan yang gemar megal-megol saat berjalan sehingga memancing hampir semua tokoh laki-laki yang mata keranjang untuk mengomentari tubuhnya.

Seduksi tubuh perempuan menjadi tidak terhindarkan di dunia laki-laki yang gasang dan itu terus-menerus dieksploitasi dalam pertunjukan ini.

Adapun musik mengalun ilustratif, membuka dan menutup adegan. Tidak istimewa.

Menonton teater komedi Mak Comblang malam ini bagi saya amat meletihkan. Tersebab banyak masalah yang merundung pementasan ini, saya heran juga melihat penonton bisa ketawa terbahak- bahak.

Sementara, juri di samping saya, saudara Malhamang Zamzam, berujar, “Tawa dong, Zen.” Saya tersenyum dan membalas, “Saya lagi nyari sela buat ketawa, Mang, tapi belum ketemu.”

Rasanya, saya merindukan pentas teater komedi yang wajar dan sadar bentuk—tapi, ya itu, belum ketemu sampai di malam kesepuluh.

11. Teater Petra (Jakarta Pusat)

Lakon: Domba-Domba Revolusi
Penulis: B. Soelarto
Sutradara: Sultan Mahadi Syarif
Sabtu, 23 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Kisahnya kita sudah tahu. Baiklah saya langsung kepada bagaimana pementasan ini berlangsung.

Dan saya akan membandingkan pentas ini dengan pentas serupa yang hampir setara, yakni Domba-Domba Revolusi produksi Teater Ciliwung, bukan dengan yang lebih buruk seperti pentas yang diproduksi oleh Teater Cahaya.

Jika pada Teater Ciliwung kita dibuat terhibur oleh dua aktor yang bagus, yakni pemeran Perempuan dan Penyair, pada Teater Petra kita dibuat gembira oleh penataan artistik dan musik yang lebih hidup dan meyakinkan.

Dengan kata lain, sutradara berhasil mengorganisasikan hampir seluruh elemen pertunjukan menjadi pentas yang menarik.

Sejak sebelum pementasan berlangsung, kelompok musik yang bermain di depan-bawah panggung sudah memainkan sejumlah lagu-lagu perjuangan dalam langgam Keroncong untuk membangun suasana.

Musik juga dibuat hemat dan efektif dalam melukiskan beberapa peristiwa penting yang menyangkut perkembangan karakter atau kilas balik peristiwa di atas panggung.

Mereka tidak mengambil lagu-lagu rekaman, tetapi memainkannya sendiri dengan kemampuan yang relatif baik dan tahu cara menempatkan musik dalam pertunjukan teater.

Sementara artistik dibuat serealis mungkin menyerupai ruang tengah sebuah losmen tua. Penataan cahaya antara ruang dalam dan latar rumah dibuat distingtif dan memikat.

Belum lagi penampilan slide hitam-putih berupa foto dan guntingan koran masa Revolusi dan petikan berita-berita radio terkait zaman itu, membuat suasana Revolusi dalam pementasan ini terbangun dengan baik di awal pementasan.

Efek cahaya saat gempuran tentara musuh di akhir kisah boleh dibilang memikat. Bahkan, ilustrasi komik di dinding ketika Penyair bercerita tentang masa kecilnya dan perseteruannya dengan ayahnya boleh dibilang asyik juga.

Sayangnya, para aktor yang memerankan tokoh-tokoh utama tidak maksimal. Baik Oktiaviani Harumnisa maupun Boby Faisal sama-sama kurang berhasil dalam memerankan emosi Perempuan dan Penyair.

Selalu ada ekspresi yang tidak lepas, atau kesulitan mengatur blocking yang tepat dalam beberapa adegan.

Ada kelebihan gerak pada tokoh Penyair dan kita mendapatkan hal serupa pula pada si Perempuan. Adegan pembunuhan si Petualang dan Serdadu oleh Perempuan adalah bukti pemeranan yang sangat tidak menarik perhatian.

Sementara tokoh-tokoh lain bermain pas-pasan saja. Yang agak lumayan saya kira Ahmad Rifai sebagai pemeran Petualang.

Jika pada pentas Teater Ciliwung para aktor mampu mengatur tempo permainan dan tahu waktu yang tepat untuk meledakkan emosi mereka—juga kosagerak mereka yang rapi dan terukur—pada Teater Petra kita tidak mendapatkan kemampuan itu.

Para aktor seperti tergesa-gesa untuk menyelesaikan bagian masing-masing. Atau tidak terikat dalam sebuah komposisi yang padu dengan aktor-aktor lain pada waktu yang bersamaan.

Tokoh Serdadu hadir dengan penampilan sembarangan dan tidak jelas apa maunya.

Dengan pentas Teater Petra ini, tolok ukur pementasan final FTJ kali ini bertambah lagi, selain pentas Teater Ciliwung.

Mereka berhasil menyuguhkan pentas teater yang menarik justru karena lakon realis yang sama, Domba-Domba Revolusi.

Di luar itu, pentas-pentas terjebak kepada keruwetan pikiran, ketiksampaian penafsiran naskah, penyaduran yang kehilangan argumen, bahkan eksperimentasi yang tidak jelas apa maunya.

Teater Ciliwung dan Teater Petra punya upaya untuk menghidupkan naskah realis sebaik mungkin dan mencapai nalar pementasan yang paling masuk akal dan menarik perhatian.

Upaya itu terlihat pada penggunaan arsip, tata cahaya yang memikat, akting yang baik, hingga musik yang hidup dan efektif.

Artinya, realisme masih memikat perhatian kita jika saja ditampilkan dengan siasat-siasat yang jitu, tanpa dibebani dengan hasrat eksperimen atau pembaharuan bentuk yang pada akhirnya menjebak mereka pada kesia-siaan.

12. Kelompok Pojok (Jakarta Selatan)

Lakon: Pada Suatu Hari
Penulis: Arifin C. Noer
Sutradara: Iqbal Samudera
Minggu, 24 November 2019
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Pentas ini berawal dengan kerendahatian dan berakhir dengan kegilaan. Di awal, sebelum pentas bermula, kita disuguhkan sejumlah tayangan video tentang wawancara para manula tentang pengalaman mereka berumah tangga selama puluhan tahun.

Di akhir kita kita diminta menikmati pasangan Kakek-Nenek (Herisca-Yasya Arifa) tentang drama rumah tangga mereka setelah 50 tahun.

Tertawa karena geli atau miris terhadap kehidupan rumah tangga mereka, tidak jelas benar. Yang penting, ya ketawa.

Begitulah pentas ini dikendalikan oleh semangat untuk melucu secara habis-habisan.

Meskipun naskah ini mengandung unsur komedi yang kuat, Arifin C. Noer selaku penulis naskah menempatkan unsur komedi itu pada takaran yang pas, tanpa menghilangkan, sekali lagi, ironi dalam kehidupan rumah tangga yang berusaha tetap solid meski dilanda banyak masalah.

Ada saatnya orang tertawa, tapi ada saatnya pula merenung tentang betapa munafiknya kita pada hasrat kita akan kebebasan dan bagaimana sebenarnya rumah tangga yang kelewat lama ini telah membelenggu kita.

Yang membuat pementasan ini terjebak ke dalam anturan yang tidak tertanggungkan adalah ketika ia memperbesar porsi anak-anak Novia: Meli, Deli, Peri.

Di naskah peran mereka kecil saja, tetapi dalam pementasan mereka diberi ruang luas untuk tampil dengan semangat merusak sekaligus membuat penonton ketawa.

Mereka dipasang sebagai anak-anak hiperaktif yang punya kecenderungan melawan orang tua dan merusak atau memorakporandakan tatanan dalam sebuah rumah. Yang muncul kemudian adalah brutalitas anak-anak melawan rezim grontokrasi.

Penonton, tentu saja, senang-senang saja melihat adegan eksploitasi anak-anak hiperaktif yang di luar batas kewajaran itu, karena itu mereka tertawa sepanjang pertunjukan—tetapi ini juga bisa berarti “tidak benar secara politis” karena ia mengeksploitasi anak-anak berkebutuhan khusus.

Tetapi dari sudut dramaturgi dan nalar pertunjukan porsinya kelewat banyak dan mendesak pementasan ini ke arah komedi konyol-konyolan.

Begitu kembali kepada rel naskah, adegan kembali seperti semula, tetapi soal lain muncul.

Tokoh utama pementasan ini, Kakek-Nenek, bermain dengan teknik pemeranan yang kurang meyakinkan. Si Kakek, terutama, terus-menerus berteriak tanpa alasan dan si Nenek terjebak dalam tubuh anak muda yang kasmaran.

Alhasil, sosok Kakek-Nenek yang kesepian, sebagaimana disarankan naskah, tidak muncul di atas panggung. Karakter mereka tenggelam oleh hasrat untuk menjadikan pertunjukan ini sebagai ger-geran belaka.

Pentas ini juga hendak bermain dengan penampilan nyanyian langsung (bukan rekaman), tetapi kita tahu kemudian suara si Kakek buruk dan fals.

Itulah yang membuat adegan menyanyi di awal pentas tidak bisa dinikmati sama sekali, meskipun sutradara mencoba membangun suasana dengan bayangan penonton di belakang panggung yang terlihat samar-samar dan memberikan tongkat berfosfor kepada penonton agar ketika diacung-acungkan bisa menambah semarak suasana.

Konsep pemanggungan ini sebenarnya menarik, setidaknya karena dia meniru konsep teater rakyat, Lenong misalnya, tetapi potensi itu tidak dikembangkan sebagai kekuatan pementasan ini.

Kendati demikian, pemeran Nyonya Wenas (Miftahul Jannah) bermain cukup baik, meski kadang-kadang dia juga terbetot oleh godaan menghibur penonton.

Saya tidak tertarik kepada peran Meli, Deri, Feri yang dimainkan oleh Susi, Fahri, Tama. Mereka telah menjelma robot anak hiperaktif, tanpa bisa menginterupsi hasrat sutradara untuk membuat pementasan ini sebagai pementasan konyol-konyolan.

Apalagi peran pembantu yang bernama Joni, Bustam, Memet yang diperankan oleh Rendi Anggara. Tokoh ini bermain lakulajak.

Adapun artistik dibuat serba-tanggung. Manusia-manusia dengan tata busana hari ini, tetapi hidup dengan perabotan yang mengacu ke masa silam yang jauh (mebel, telepon, koper). Anakronisme yang saling bertubrukan di sana-sini.

Salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuan sutradara untuk memilihkan latar waktu dan tempat yang tepat bagi naskah ini.

Secara umum boleh disebut sutradara gagal mendudukan naskah ini kepada nalarnya yang tepat.

Godaan “Drama Penonton” tampaknya telah menjerumuskan sutradara ke dalam kehendak badut yang bercita-cita memuliakan penonton sepenuhnya. Yakni, membuat mereka ketawa terbahak-bahak.

13. Teater amatirujan (Jakarta Utara)

Lakon: Kursi-Kursi
Penulis: Eugene Ionesco
Sutradara: Dediesputra Siregar
Senin, 25 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Tesis naskah karya Eugene Ionesco ini adalah kesepian yang telah mencapai titik absurd. Manusia pada mulanya menderita karenanya, tetapi kemudian bersiasat terus-menerus untuk membebaskan diri dari absurditas itu.

Tokoh utama lakon ini, Kakek dan Nenek, berharap di tengah pulau terpencil tempat mereka bermukim (atau terdampar?) akan datang orang-orang yang mereka hormati, mengobati kesepian mereka.

Dan kita tahu semua kunjungan itu hanya terjadi dalam imajinasi mereka belaka dan karena itulah penantian itu menjadi penting.

Pentas bermula dengan musik dan tiruan suara yang menyerupai derau dan kita dihadapkan dengan penataan artisik yang “gigantis”: kursi-kursi lipat ditata sedemikian rupa di dinding menara, tegak di area penonton, sementara panggung dibiarkan kosong, hanya ada 3-4 kursi lipat dan daun pintu yang bisa dibuka- tutup dengan mudah.

Kakek bangkit dari ketertindihan daun pintu untuk kemudian repot keluar-masuk di pelangkahan pintu yang diberi beroda, memanggul bolak-balik kursi lipat, setelah itu menyusunnya menjadi semacam tangga dan dia naik ke atasnya.

Maka bermulalah dialog pertama lakon ini; muncul pula Nenek yang melarang si Kakek memanjat-manjat susunan kursi itu.

Lantas mengalir dialog di antara mereka berdua hingga pentas berakhir dengan panjat-memanjat lagi.

Problemnya, dialog-dialog berpretensi filsafat itu dilisankan oleh aktor-aktor yang tidak punya kemampuan artikulasi kalimat yang baik.

Mereka hanya menjadi tukang hafal, dan lakon ini segera kehilangan renungan filosofisnya tentang kesepian yang mencapai titik absurd tadi.

Kadang-kadang mereka asyik bermain sendiri tanpa memperhitungkan apakah dialog-dialog mereka bisa sampai dengan baik kepada penonton.

Bagaimana cara membunyikan kalimat-kalimat yang cenderung diskursif-filosofis agar bisa dinikmati oleh penonton?

Itu problem pemeranan dan elementer sifatnya. Setelah menonton pementasan naskah yang sama yang dimainkan oleh Teater Satu dari Bandar Lampung saat pembukaan FTJ pada Selasa (12/11) malam lalu, akan terasa bedanya.

Terutama tentang siasat sutradara dan kemampuan pemeranan para aktor dalam menghidupkan dialog-dialog absurd di atas panggung.

Teater Amatirujan tampaknya lebih tertarik kepada eksplorasi tubuh aktor, Kakek terutama, dan bagaimana properti berupa kursi lipat ditata sedemikian rupa sehingga mencapai taraf gigantis.

Penataan kursi-kursi lipat ini adalah yang paling menarik dari pementasan ini. Selebihnya adalah penjelajahan ruang panggung yang lebih dari cukup, sebab kemudian muncul pula adegan yang bermain di wilayah penonton, pada dinding menara yang penuh kursi-kursi lipat itu.

Pada saat inilah pentas berkembang ke arah yang makin “semau gue”, sebab kemudian Dediesputra (baik sebagai sutradara maupun sebagai pemeran Kakek) membuka pementasan kepada isu-isu mutakhir, termasuk soal revitalisasi TIM yang sedang
hangat dibicarakan.

Apa urgensinya soal ini dimasukkan ke dalam pentas Kursi-Kursi? Apa argumen membuat pementasan menjadi kendor dan terbuka terhadap isu-isu mutakhir dan kita tahu semua itu jauh dari problem eksistensial dua manusia yang kesepian itu?

Bahwa mereka merindukan kunjungan orang-orang yang akan mengobati kesepian mereka, itu sudah pasti, tetapi kemudian mereka juga menyebut secara sembarang nama-nama orang yang satu-dua ada di dalam ruang teater ini.

Mereka seperti biduanita dangdut yang menyebut nama-nama penting darika langan penonton agar mereka menyawer.

Hingga pentas berakhir dengan panjat-memanjat menara kursi-kursi, yang saya ingat dan terus menggoda adalah himpunan kursi-kursi itu, tanpa bisa mengaitkan problem eksistensial dua manusia kesepian itu dengan himpunan perabotan yang akhirnya berantakan itu.

Apakah Kursi-Kursi berarti kemasifan kursi-kursi lipat? Jika iya, Teater Amatirujan telah mencapai sesuatu yang penting. Jika soalnya adalah betapa absurdnya kesepian dan harapan, sayangnya, mereka tidak peduli dengan yang terakhir ini.

14. Unlogic Theatre (Jakarta Pusat)

Lakon: Mesin Hamlet
Penulis: Heiner Muller
Sutradara: Dina Febriana
Selasa, 26 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Upaya Unlogic Theatre mementaskan lakon Mesin Hamlet karya Heiner Muller di lobi Teater Kecil layak diberi pujian.

Kelompok ini mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan baru, seraya menempuh risiko yang tidak ringan, pemanggungan lakon yang membongkar habis-habisan lakon Hamlet karya William Shakespeare itu.

Tokoh-tokoh dari lakon Shakespeare itu tetap hadir, tetapi kini mereka meragukan dan menggugat diri mereka sendiri, bahkan dunia secara keseluruhan.

Unlogic Theatre menempatkan mereka dalam konteks peristiwa dan persepktif pemanggungan yang baru sama sekali.

Pada dasarnya, pementasan ini adalah saduran bebas atas terjemahan yang dikerjakan Dewi Noviami. Naskah singkat (hanya 7 halaman) yang terbagi atas lima bagian itu dikembangan oleh Dina Febriana dengan memasukkan soa-lsoal mutakhir yang tidak berkaitan sama sekali dengan konteks lakon ini pada mulanya.

Yakni, memasukkan lebih dari lima tokoh perempuan dan mereka menyuarakan problem yang merundung mereka dalam kehidupan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, trauma masa silam dan komodifikasi seks di sekitar mereka.

Menonton pentas Mesin Hamlet produksi Unlogic Teater kita mendapatkan betapa kuatnya tafsir feminis terhadap naskah ini. Naskah yang pada mulanya sangat monologis (karena menampilkan senandika tokoh-tokoh utama semisal Hamlet dan Ophelia) terperosok menjadi pentas teater yang penuh teriakan.

Pernyataan-pernyataan aktor tidak bedanya dengan teriakan-teriakan demonstran.

Praktis, bombardir kata-kata dalam nada tinggi itu tidak menyisakan ruang hening bagi penonton untuk merenungkan apa-apa yang menjadi soal penting dalam lakon ini.

Lantas, apakah yang bisa kita dapatkan dari pementasan ini?

Pemeranan karakter, tentu saja tidak. Sebab lakon ini tidak menuntut pemeranan sebagaimana lakon-lakon realis pada umumnya.

Yang harus kita pegang dari pementasan ini adalah semangat gugatan terhadap khazanah naskah sumber dan bagaimana tafsir baru berkembang di dalamnya.

Akan tetapi, kita semakin kehilangan pegangan pada penafsiran sutradara. Bukan karena tafsir feminisnya, tetapi karena keabaian sutradara terhadap aspek-aspek pemanggungan yang lain.

Penataan artistik misalnya. Saya termasuk yang terhibur dengan keberanian sutradara
menempatkan banyak properti di area bermain, meskipun beberapa menjadi kurang bermakna. Kaitan satu properti dengan properti lain masih bisa diperdebatkan.

Juga komposisi yang terbilang sembarangan. Saat adegan pemakaman, misalnya, para aktor menempatkan begitu saja payung-payung putih di atas kasur tanpa kesadaran koreografi benda-benda sama sekali.

Terlalu banyak pecahan peristiwa yang mau ditampilkan membuat koreografi properti dan blocking para aktor tidak tergarap dengan baik.

Tentu saja kita berhadapan dengan pentas pascarealisme—atau pascamodernisme sebagaimana para kritikus teater memberi julukan terhadap lakon karya Heiner Muller
ini.

Akan tetapi, sebagai tontonan ia tidak bisa menghilangkan aspek performativitas yang bisa dinikmati penonton. Jika pemeranan karakter tidak, penataan artistik tidak, atau elemen-elemen pementasan lainnya juga tidak, lantas apa?

Konsep pemanggungan? Konsep yang baik hanya bisa dinikmati jika ia terejawantahkan ke dalam bentuk pemanggungan yang baik pula, di mana masing-masing elemen saling mendukung dan menguatkan.

Pementasan ini mestinya bisa menjadi alternatif bagi pementasan-pementasan teater dalam babak final FTJ kali ini. Sayangnya, penggarapan bentuk yang menantang ini belum terselenggara dengan baik.

Kita masih bisa berharap pada pementasan-pementasan yang kemudian, sejauh para sutradara menyadari betapa pentingny kepaduan bentuk dan isi dalam sebuah pemanggungan teater.

Itu artinya masih diperlukan ketekunan studi dan keterbukaan wawasan. Bukan hanya terhadap khazanah teater terbaik yang pernah ada, tetapi juga bidang seni lainnya, atau segala sesuatu di luar seni yang bisa memberikan sumbangsih terbaiknya kepada teater.

15. Sanggar Teater Jerit (Jakarta Timur)

Lakon: Macbeth
Penulis: William Shakespeare
Sutradara: Choki Lumban Gaol
Rabu, 27 November 2019, 20:00 WIB
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Macbeth adalah lakon tentang ramalan dan ambisi akan kekuasaan; salah satu naskah babon William Shakespeare.

Di dalamnya kita menemukan bukan hanya cerita yang kuat dan plot yang memikat, tetapi juga karakter yang berkembang, latar yang khas hingga pesan yang jelas.

Ia selalu menantang para pekerja dan akademisi teater untuk menafsirkannya. Bukan sekali dua ia dialihwahanakan ke dalam film.

Dalam konteks Indonesia, ia juga kerap ditafsirkan ke dalam budaya daerah tertentu yang membuat lakon ini mendapatkan penampilannya yang baru.

Sanggar Teater Jerit mencoba bersetia kepada naskah yang telah diterjemahkan atau disadur Rendra—dan di sinilah soal utamannya.

Tentu saja sebuah penerjemahan adalah pengkhianatan tersendiri. Bersetia kepada versi terjemahan—jika sutradara sama sekali tidak mengacu kepada naskah aslinya—artinya mempercayakan sepenuhnya orientasi pemanggungan kepada apa yang telah ditafsirkan oleh penerjemah.

Bagaimana sosok tokoh, gerak-geriknya, latar panggungnya, tata busananya, musik pengiring peristiwanya dan segala elemen pendukung pemanggungan yang telah ditetapkan ditampilkan kembali semirip mungkin.

Sayangnya, Sanggar Teater Jerit tidak sepenuhnya bisa melakukan itu. Ketika panggung dibuka terdengarlah kur para peri serba-hitam—dengan hidung yang ditambahkan agar terlihat lebih mancung-melengkung—diiringi musik hidup.

Mereka bernyanyi tidak dengan gaya Gregorian atau musik liturgis gereja, dengan suara para penyanyi yang terbilang fals dan bunyi instrumen musik yang jauh dari penuh.

Belum lagi ketika tokoh Raja Duncan dan para punggawanya muncul, sosok dan gesturnya tidak meyakinkan. Apalagi vokalnya.

Adegan perangnya. Blocking para pemainnya. Seterusnya, segalanya seperti berada dalam tahap latihan yang terus-menerus. Tidak ada bentuk final penampilan yang memadai dan siap ditonton.

Saya pernah menonton lakon serupa yang dimainkan oleh sekelompok anak SMA dan yang sederajat di Tulang Bawang Barat (Tubaba) yang disutradarai oleh Semi Ikra Anggara.

Bagi saya, pentas itu masih lebih mengesankan ketimbang pentas Sanggar Teater Jerit malam ini. Anak-anak di Tubaba itu memindahkan lakon ini ke dalam budaya Lampung.

Mereka bermain dengan konsep teater arena di Uluan Nughik, sebuah situs baru kampung Baduy yang dibangun di Panaragan Jaya oleh bupati setempat.

Meski masih ada kelemahan di sana-sini, penampilan mereka terasa menyegarkan dan penuh kejutan. Secara keseluruhan pentas yang disutradarai Choki Lumban Gaol ini masih jauh dari rapi.

Saya kira, siasat yang tepat untuk memperlakukan lakon-lakon terjemahan semacam ini adalah dengan menyadurnya.

Memindahkan terjemahan Macbeth ini ke dalam latar dan budaya Batak—sejauh Choki tertarik—mungkin akan lebih menarik perhatian.

Tantanganya memang tetap tidak mudah. Terutama dalam mendudukkan peristiwa dan latar (waktu dan tempatnya) ke dalam manusia dan masyarakat Batak, di samping memilihkan suasana zaman, tata busana dan kostum yang cocok untuknya.

Dengan penyaduran paling tidak kita mendapatkan sesuatu yang lebih dekat dengan pengalaman keseharian kita, juga dengan lingkungan budaya setempat kita.

Mementaskan lakon ini dalam bentuk aslinya artinya para aktor dan segenap pendukung pementasan harus masuk kepada manusia, alam, budaya Skotlandia dan sekitarnya pada berabad-abad silam.

Masalah yang sangat mencolok adalah postur tubuh para aktor kita, atau kita secara keseluruhan, sangat berbeda jika dibandingkan dengan tubuh manusia Eropa.

Belum lagi alam pikiran dan penampilan mereka. Untuk sampai mendekati kebenaran sosok manusia dan peristiwa yang sebenarnya atau yang dibayangkan sang pengarang—dan kini disadurkan oleh penerjemah—seorang pemanggung memerlukan riset sejarah dan budaya yang tekun dan telaten.

Singkat kata, tantangannya berkali-kali lipat lebih berat ketimbang menyadurnya.

Namun, selalu ada harapan untuk mereka yang mau bersungguh-sungguh bekerja. Dalam teater kemungkinan itu masih sangat terbuka.

*Zen Hae, sastrawan dan penulis lakon teater, adalah salah satu juri dalam Festival Teater Jakarta 2019.

Baca Juga

Cegah Covid-19 Baru, China Batasi Akses Wisatawan Asing

Portal Teater - Untuk mencegah penyebaran virus corona baru, otoritas China sementara waktu akan menutup perbatasannya untuk sebagian besar wisatawan asing. Penutupan akses tersebut...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Terkini

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Industri Seni Indonesia Menderita

Portal Teater - Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19), industri seni Indonesia ikut menderita. Jika beberapa negara terpapar corona sudah menggelontorkan dana untuk menopang...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...