Catatan Pertunjukan Festival Teater Jakarta 2019

Oleh: Malhamang Zamzam*

Portal Teater – Teater bukan cuma soal baik dan benar. Estetika bukan cuma soal keindahan. Tapi mau ngomong apa, mau memberikan apa kepada publik penonton.

Sutradara ditantang untuk menahan diri dari godaan penciptaan. Dramaturgi adalah cara berpikir yang mempengaruhi praktek-praktek penyutradaraan bekerja.

Lab Teater Lumbung

Lakon: “Bulan Bujur Sangkar”

Naskah: Iwan Simatupang,

Sutradara: Hendra Wijaya Putra

Skenografi panggung dibagi menjadi tiga area: belakang, tengah dan depan.

Tidak seperti pada naskah, di mana tiang gantungan dibawa-bawa oleh Lelaki Tua seakan mencari-cari siapa saja yang beralur pikiran yang sama dengannya dalam bayang-bayang kehendak untuk bunuh diri, sejak awal pertunjukan ini tali gantungan sudah ada di tengah, batas antara belakang dan depan.

Lelaki Tua berumur 60 tahun itu muncul dari belakang bersama beberapa prajurit. Selanjutnya, peristiwa bergulir lebih banyak di area depan.

Di situlah terjadi perdebatan pemikiran eksistensialis antara Lelaki Tua, Pemuda dan Wanita.

Keputusan Lelaki Tua diletakkan di area tengah, persis pada tali gantungan: “Aku membunuh, maka aku ada!”

Pertunjukan ini tampaknya dibawakan mengikuti alur Aristotelian, dengan beberapa tahapan tangga dramatik yang diciptakan sutradara, meskipun naskah ini semacam “drama pikiran.”

Aktor yang memerankan Lelaki Tua melakukan pembesaran akting melalui kemarahan, ancaman-ancaman dan slapstik.

Pertunjukan memproduksi akting yang representatif dengan teks-teks yang berkeliaran tanpa memiliki tubuh yang bisa mengendalikan arahnya.

Grup teater asal Jakarta Barat, Lab Teater Lumbung menampilkan "Bulan Bujur Sangkar" karya Iwan Simatupang pada pertunjukan perdana Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Rabu (13/11). Dok - portalteater.com
Grup teater asal Jakarta Barat, Lab Teater Lumbung menampilkan “Bulan Bujur Sangkar” karya Iwan Simatupang pada pertunjukan perdana Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Rabu (13/11). Dok – portalteater.com

Teater Labo eL Aktor

Lakon: “Ruang Tunggu” (atawa Peninjauan Kembali terhadap Nyai Dasima)

Naskah: Zen Hae

Sutradara: Lalu Karta Wijaya

Potongan-potongan berita dari televisi dan cuplikan video dari kanal youtube diproyeksikan ke latar belakang panggung.

Tampil juga data-data kini tentang hoax yang digoreng dengan motif politik, antara fakta dan fiksi.

Lalu ada garis-garis neon-sign yang dikoreografi yang dimainkan oleh para blackman. Mungkin sebagai penanda awal tentang visual urban kini.

Layar beganti foto-foto lawas kolonial lalu keluar seorang wanita yang menari di depan gambar yang kemudian menghilang.

Cahaya lampu top light warna merah. In Tuan William dan Samiun lalu mereka menari secara three in one.

Nyai Dasima keluar dari neon sign berbentuk bulat telur. Di layar terlihat gambar-gambar televisi, enam bidang yang terus ada. Ini penanda baik yang menyampaikan masa lalu dan masa kini sedang berdialog.

Panggung dibagi menjadi tiga area: layar putih di belakang, area yang memproduksi arsip dan data. Area tengah berupa leveling berwarna putih untuk kejadian masa lalu. Area depan diisi dua buah kursi sebagai ruang tunggu.

Semua adegan bergerak dari depan ke tengah. Semua pemain bergerak di depan yang mempertanyakan kekinian.

Peristiwa reka-ulang diletakkan di tengah. Pada ending, Nyai Dasima menjadi enam dengan kurungan berbetuk frame neon-sign seolah ingin berkata Nyai Dasima menggandakan dirinya lalu frame neon-sign naik ke atas untuk menjadi gaung.

Modal-modal pertunjukan dalam elemen-elemen pemanggungan seperti video mapping, arsip, tubuh aktor, akting, cahaya dan kostum menjadi kesatuan artistik yang ukuran-ukurannya bisa terbaca.

Tetapi bagaimana jika area level putih itu dihilangkan saja agar tidak mempersempit ruang keaktoran dan pengadeganan sehingga penyutradaraan bisa memberikan variable-variabel yang lebih variatif?

Pentas Labo El Aktor. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ
Pentas Labo El Aktor. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ

Maura Lintas Teater

Lakon: “Malam Ke Seratus” (adaptasi dari naskah Malam Terakhir)

Naskah: Yukio Mishima, Penerjemah: Toto Sudarto Bachtiar

Sutradara: Maya Damayanti/Maya Azeezah

Pertunjukan ini dibawa ke suasana Jepang dengan membicarakan seorang Geisha yang sudah tua.

Penataan artistik menyajikan sebuah gerbang yang khas Jepang sudah mampu menciptakan suasana Jepang.

Masuk seorang wanita yang melakukan semacam ritual di atas level yang melingkar di sebelah kanan panggung.

Tetapi level lingkaran tersebut bisa saja ditiadakan karena menggangu energi panggung yang sudah dibangun dengan baik.

Pun karena wanita yang berada di atas level itu bermain cukup kuat sehingga tak perlu digarisbawahi dengan level yang justru membuat set menjadi kehilangan magisnya.

Dengan adanya gerbang Jepang yang ikonik, tubuh bisa saja tidak perlu lagi memproduksi hal- hal yang berbau Jepang lainnya, semisal tubuh butoh yang dimainkan setelah adegan wanita mengeluarkan mantra-mantra di atas level itu.

Pada pertunjukan ini, bunyi-bunyian atau musik menjadi bahasa tersendiri, terasa dingin dan misteri.

Galeri Pertunjukan "Adaptasi Malam Terakhir"
Maura Lintas Teater menampilkan pertunjukan dengan judul “Malam Ke Seratus” dalam Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Jumat (15/11). Dok – portalteater.com

Teater ASA

Lakon: “HIM”

Naskah: Stanislaus J Daryl & Simon Karsimin

Sutradara: Simon Karsimin

Proyeksi gambar-gambar pada tiga sisi penonton, depan kiri kanan penonton seperti mengepung penonton.

Gambar menampilkan teknologi mutakhir seperti pesawat, gedung-gedung tinggi, touchscreen dan kesibukan-kesibukan yang digital.

Panggung adalah sebuah apartemen di mana tokoh wanita bernama Kia tengah sendirian dengan gadget dan setengah lingkaran tirai plastik yang didalamnya ada sesosok tubuh lelaki yang proporsional.

Sejak awal, komunikasi banyak bergerak di situ. Suasana terasa intim dengan banyak gambar yang filmis.

Pintu masuk pertunjukan adalah gambar-gambar, tubuh aktor, video mapping, bunyi-bunyian, neon sign dan akting yang cukup baik.

Meskipun lingkaran tempat lelaki virtual tersebut berada tidak match dengan tekstur set keseluruhan.

Bahasa-bahasa filmis lebih memunculkan keintiman ketimbang gerak-gerak teatrikal yang masih terasa dilakukan oleh pemeran Kia dalam pertunjukan ini.

Persoalan kekinian tentang hubungan teknologi dan manusia serta ruang sosial, dalam pertunjukan ini direpresentasikan melalui kisah kesepian wanita muda hingga ia jatuh cinta kepada sosok virtual reality.

Pertunjukan ini terasa berniat futuristik dengan balutan bentuk pertunjukan drama melankolis.

Pentaskan "HIM" dengan Konsep Milenial, Teater ASA Hadirkan Multimedia
Kia Banowati (diperankan Peni Ross) dalam “HIM” oleh Teater ASA. -Dok. portlateater.com

Teater Castra Mardika

Lakon: “Terdampar”

Naskah: Slawowir Mrozek

Sutradara: Irfan Hakim

Dibuka dengan musik opera yang dinamis, tiga orang terkoreografi saling berebut koper yang berada di pohon neon-sign.

Masuklah lagu balada Donna Donna yang dipopulerkan oleh Joan Baez. Hadir pendekatan akting yang karikatural-komik.

Teks besarnya adalah persetujuan untuk siapa yang akan dimakan agar kehidupan bisa berjalan. Teks-teks kebenaran dari para tokoh yang selalu dapat dipatahkan, memenuhi panggung dari awal hingga akhir.

Bunyi kata-kata yang keluar dari tubuh sangat diperhitungkan oleh kelompok ini sehingga menjadi assemble yang mampu mengikat tubuh pertunjukan.

Si Gemuk dengan suara bass, si Kurus dengan suara soprano, si Sedang dengan suara melodinya, membuat pertunjukan enak didengar dan musikal, mampu mengikat tubuh pertunjukan. Kata-kata termamah dengan baik, di dalam tubuh-tubuh karikatural.

Tetapi apakah bulatan pulau neon sign dan pohon itu dianggap sebagai karikatur juga? Jika dianggap karikatur, kenapa pulau dan pohon itu masih berbentuk proporsional?

Pentas Teater Castra Mardika . -Dok. portalteater.com
Pentas Teater Castra Mardika . -Dok. portalteater.com

Teater Nusantara

Lakon: “Arung Palakka”

Naskah: Fahmi Syrief

Sutradara: Ayak M.H

Terdengar bunyi pui-pui dan gendang pakanjara (ikon Bugis-Makassar), tajam dan nge-beat. Dua orang berada di tengah panggung, terkoreografi.

Cahaya di panggung top light warna hijau. Teks yang muncul adalah filosofi-filosofi Bugis.

Panggung adalah kain putih, bambu, kayu, batu yang diletakkan di pinggir kiri belakang pang gung.

Selebihnya kosong. Dua pekerja kasar bicara soal keberadaan diri mereka.

Pertunjukan ini merupakan ‘teater-sejarah’ yang linear dengan didominasi oleh teks. Ikon-ikon Bugis-Makassar terasa kental dalam pertunjukan ini dan menjadi penanda penting untuk penonton masuk ke tubuh pertunjukan.

Begitu pula kostum dan warna. Cahaya yang sebagian besar top light mem-frame lokasi peristiwa.

Penonton mendapat jawaban tentang pertanyaan, siapa pahlawan dan penghianat? Jelas terungkap dalam pertunjukan ini.

Ayak M.H lahir dari generasi urban Jakarta. Pastinya dia memiliki dramaturgi urban Jakarta. Kemungkinan akan menarik jika dia memakai dramaturginya tersebut untuk memasuki dramaturgi teater sejarah yang belakangan ini digelutinya.

Beranikah kelompok ini untuk membongkar struktur naskah menjadi bangunan pertunjukan yang lain yang tidak terputus-putus akibat permainan tata cahaya yang dihadirkannya di atas panggung?

Pentas Teater Nusantara. -Dok. Tewel Seketi.
Pentas Teater Nusantara. -Dok. Tewel Seketi.

Teater Ciliwung

Lakon: “Domba-Domba Revolusi”

Naskah: Bambang Soelarto

Sutradara: Irwan Soesilo

Terdengar lagu Keroncong berbahasa Belanda pada pembukaan pertunjukan. Juga suara pertempuran dari radio. Berikutnya adalah pidato Soekarno dan ledakan-ledakan mesiu.

Modal untuk masuk ke pertunjukan ini adalah akting tubuh-tubuh yang baik dengan pendekatan teater realis.

Semua pemain berperan dengan teatrikal kecuali pemeran pedagang yang tampaknya membawa perilakunya sehari-hari ke atas panggung.

Pemeran tokoh Penyair dan Ratna memiliki teknik akting realis yang tinggi, mampu menangkap timing sehingga membuat pertunjukan terkendali.

Elemen-elemen pemanggungan berhasil menandakan suatu zaman tertentu dalam sejarah Republik ini. Semua elemen tersebut terkorelasi dengan baik.

Kesetiaan terhadap naskah menjadi tumpuan pertunjukan ini. Penyutradaraan mengikuti alur naskah, tidak bisa keluar dari penyutradaraan naskah.

Penyutradaraan berhasil dengan baik menyampaikan detil-detil pemanggungan, baik teks, gerak, timing dan irama pertunjukan, meskipun agak lengah pada ketiga pemeran pendukung, yaitu pemeran politikus, profesor tabib dan pedagang.

Terutama ketika adegan dialog panjang antara profesor tabib dan pedagang. Apakah penyutradaraan hanya memberikan kesetiaan atau hanya patuh pada naskah?

Apakah realisme tidak bergerak? Kalau begitu apa fungsi sutradara? Kalau begitu artinya maka, adakah penyutradaraan di situ selain penyutradaraan akting?

Pentas Teater Ciliwung. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ
Pentas Teater Ciliwung. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ

Teater Cahaya

Lakon: “Domba-Domba Revolusi”

Naskah: Bambang Soelarto

Sutradara: Afri Rosyadi

Pertunjukan dan penonton ditempatkan sama-sama di atas panggung, mungkin untuk mendapatkan keintiman.

Naskah tampaknya diletakkan pada setting waktu yang lain, ditandai dengan kostum, teks yang diucapkan aktor secara kekinian, serta artistik panggung yang simbolik.

Pola akting mungkin bisa saja tidak menggunakan aksi-reaksi yang besar, begitu pula dengan pengucapan karena mungkin ingin melakukan pola pendekatan zoom in seperti kerja kamera.

Sebenarnya para pemain pada pertunjukan ini potensial melakukan itu tetapi yang terjadi pada pertunjukan ini, mereka berakting secara teatrikal.

Dengan pendekatan seperti itu, pertunjukan ini menjadi tawaran yang masih perlu dipertanyakan mau ke arah mana.

Apakah konteks kekinian dari naskah ini bisa diambil dari tema naskah tanpa perlu merubah bentuk naskah?

Sementara musik juga masih terasa prosenium meskipun pertunjukan dan penonton telah diperpendek jaraknya.

Pertunjukan ini punya gagasan yaitu menzoom in dengan mendekatkan penonton dan pertunjukan. Tetapi terasa masih ragu.

Ada dua kali pemain berkomunikasi langsung dengan penonton, poin ini harusnya dimaksimalkan sebagai unsur utama menuju keintiman.

Zoom in dalam kamera biasanya tidak full shoot, tapi medium shoot atau close up. Bahkan mungkin menggunakan pendekatan akting yang hiperrealis.

Pentas Teater Cahaya. -Dok. portalteater.com
Pentas Teater Cahaya. -Dok. portalteater.com

Teater Indonesia

Lakon: “Kisah Cinta Dan Lain Lain

Naskah: Arifin C. Noer

Sutradara: Buddy Sumantri

Kekuatan grup ini ada pada penataan artistik dan pemain yang faham bermain realis. Penyutradaraan dapat mengelola suasana dramatik cerita.

Namun kadang lepas ketika berhadapan dengan hal-hal yang lucu, menjadi melebar, hingga menghambat ketajaman konten cerita.

Pada akhir pertunjukan dalam suasana kesedihan, tuan rumah memamerkan foto-foto Toni, anjingnya yang mati. Bingkai-bingkai foto itu turun dari atas dan berhenti tepat di depan panggung.

Depan panggung adalah dinding ke empat milik penonton. Ide yang menarik dan mungkin lebih menarik lagi jika bingkai itu kosong.

Pentas Teater Indonesia. -Dok. Tewel Seketi.
Pentas Teater Indonesia. -Dok. Tewel Seketi.

Teater Camuss

Lakon: “Mak Comblang”

Naskah: Nikolai Gogol, terjemahan Asrul Sani, Tuti Indra Malaon

Sutradara: Reza Ghazaly

Interior rumah Ahmad menjadi kontradiksi dengan seleranya. Ditandai dengan teks yang diucapkannya: semir sepatu yang berkualitas dan penjahit, serta sepatu dan jas yang dipakainya.

Pendekatan akting digarap secara karikatural dan tergarap dengan baik.

Pentas Teater Camuss. -Dok portalteater.com
Pentas Teater Camuss. -Dok portalteater.com

Teater Petra

Lakon: “Domba-Domba Revolusi”

Naskah: Bambang Soelarto

Sutradara: Sultan Mahadi Syarif

Gong ke-2 penonton diantar dengan terdengarnya lagu keroncong “Indonesia Pusaka”.

Lalu terdengar pengumuman tentang pertunjukan yang bunyinya seperti dari radio zaman revolusi fisik tahun 1948.

Panggung adalah lobby penginapan yang warna serta teksturnya disesuaikan dengan zaman itu.

Arsip-arsip lama diproyeksikan ke semua dinding bangunan set. Suara radio yang crowded dan suara mesin ketik, memberi kesan ada peristiwa lama akan berulang kembali.

Masuk wanita bergaun merah, membuka jendela. Jembatan utama dari grup ini ke tubuh pertunjukan adalah memaksimalkan elemen-elemen yang dekat dengan mereka. Multimedia, sound effec dan tubuh-tubuh muda.

Penataan panggung terasa kaya variabelnya. Dengan beragamnya titik-titik yang menjadi lalu lintas garis laku peran. Penyutradaraan berhasil membuat ruang peristiwa bergerak berdimensi.

Walau keaktoran memang masih perlu diasah inner-act dan irama permainannya. Timing suara bom dari luar terasa akurasinya.

Pada adegan romansa di hampir akhir pertunjukan, ketika penyair bersepeda di depan dinding losmen, muncul semacam video lukisan yang bergerak linier. Ini ide yang baik.

Tetapi mungkin kalau gambar bergerak itu di ganti dengan data atau arsip, akan lebih mix.

Pentas Teater Petra. -Dok. portalteater.com
Pentas Teater Petra. -Dok. portalteater.com

Kelompok Pojok

Lakon: “Pada Suatu Hari”

Naskah: Arifin C. Noer

Sutradara: Iqbal

Glowstick warna warni tersebar pada hampir semua ruang penonton. Muncul video beberapa wanita nenek-nenek yang bicara tentang keluarga dan perkawinan.

Teks-teks yang berhubungan dengan itu muncul di kiri, kanan dan depan ruang penonton. Pembukaan ini terasa happy atau akan bicara tentang keluarga yang harmonis.

Ada juga teks yang keluar dari bunyi mesin ketik. Musik live di belakang tirai dikomandani oleh bunyi dari akordion.

Pertunjukan yang dieksekusi dengan irama cepat. Sutradara menyebutnya irama waltz. Mungkin perlu jarak dalam melakukan praktek-praktek penyutradaraan.

Hingga skala atau ukuran-ukuran gestur, irama, diksi juga semua elemen yang dipakai sebagi kode bisa terukur atau terpegang.

Kehadiran nyonya Wenas ( mantan pacar kakek) mampu kembali menahan ritme cepat tersebut, sehingga penonton juga keheningan bisa bernafas sebentar.

Dalam hal ini, juga untuk semua grup yang mengambil pendekatan akting komedi, perlu dipertanyakan lagi, apakah komedi itu memang harus cepat diksi atau perilaku act-nya?

Pentas Kelompok Pojok. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ
Pentas Kelompok Pojok. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ

Teater amatirujan

Lakon: “Kursi-Kursi”

Naskah: Eugene Ionesco, terjemahan: Yudiaryani

Sutradara: Dediesputra Siregar

Di panggung, pintu tergeletak, 3 buah kursi saling terkait di belakangnya. Kakek muncul dari bawah pintu, berusaha berdiri bersama pintu. Pintu berhasil tegak.

Lalu usaha kakek mengeluarkan kursi dari pintu. Masuk istri Kakek, Semiramis, menenteng lentera, asapnya yang bergelombang ke atas menandakan waktu yang terus berjalan.

Lalu terjadi dialog diantara mereka, dialog tentang kebosanan. Masing-masing mencoba melawan kebosanan. Waktu adalah maut (Ionesco).

Sebuah awalan yang menarik, dibuka dengan visual yang ‘berbicara.’ Rasanya dingin, beku dan hampa. Mungkin kalau rasa itu saja yang jadi pegangan akan menjaga tubuh pertunjukan.

Main di area bawah panggung, mungkin akan menjaga rasa itu. Ide yang menarik ketika Kakek dan Nenek keluar dari panggung, membiarkan panggung dengan kursi yang menumpuk. Pintu-pintu. Dan ruang kosong yang tersisa.

Stuck sekitar 5 menit. Penonton mulai gelisah. Kebudayaan berhenti dan waktu tetap berjalan. Kursi-kursi datar dengan lantai….lebih terasa dingin…beku…menunggu … dan arsip.

Layar hitam di belakang terbuka naik, tampak kursi-kursi yang tersusun acak ke atas, menempel di dinding. Cahaya dibawahnya dari sumber lampu neon berhasil mengganggu penglihatan atau mata penonton.

Sayang cahaya ini kurang menonjok, kalau saja menggunakan lampu spot mungkin lebih terasa bahwa ‘luar’ adalah ancaman bagi ‘dalam.’

Keaktoran kurang mampu menahan diri untuk tetap bermain di atau pada nada awal. Seperti over tone, meluap-luap dan emosional. Sehingga rasa beku, dingin, jemu yang sudah tersusun dengan baik menjadi kehilangan penandanya.

Bukan hanya pada aktor juga pada kursi, pintu, bunyi, cahaya dan atmosfirnya. Di luar semua itu, pertunjukan ini sudah mampu menawarkan bahasa visual yang bicara dan menggoda penonton tentang apa itu rasa bosan.

Pentas Teater amatirujan. -Dok. portalteater.com
Pentas Teater amatirujan. -Dok. portalteater.com

Unlogic Theatre

Lakon: “Mesin Hamlet”

Naskah: Heiner Mueller, terjemahan: Dewi Noviami

Sutradara: Dina Febriana

Menggunakan lobby Teater Kecil sebagai ruang pertunjukan. Meja panjang, kursi mebel, ranjang, treadmill, meja biliar, manekin, hanger dan gaun-gaun wanita, gantungan baju beroda, topeng gas, senjata otomatis.

Tubuh-tubuh wanita bergaun putih, laki-laki macho ber-treadmill. Kaca mata neon. Peristiwa-peristiwa yang menarik.

Para wanita itu mengambil gaun yang ada di gantungan gaun lalu berpencar menghampiri penonton, mengukur gaun pada tubuh penonton, seolah pertunjukan ingin berkata: inilah aku, masuklah ke tubuhku.

Wanita-wanita itu memakai topeng gas, dan seseorang diantaranya memakai kaca mata neon sign, lalu bicara teks tentang Elektra dengan suara yang datar:

“Di sini Elektra bicara. Dalam jantung kegelapan. ….. atas nama para korban… kutolak keluar seluruh sperma yang telah kuterima…. kuambil kembali dunia yang telah kulahirkan kukubur dunia dalam kemaluanku.”

Sebuah dunia tanpa ibu, mungkin akan mempertajam ide pertunjukan ini kalau ikut dieksplor. Semua benda dan tubuh bicara tentang wanita dan feminisme dan laki-laki yang menggaulinya.

Ada penanda dari benda-benda yang terasa sama. Perlu diedit, agar lebih tajam ungkapannya.

Pada awal pertunjukan, Dina membukanya dengan baik. Tanpa pretensi menyapa dan menyatakan dirinya sebagai gaung Hamlet.

Pertunjukan ini kemudian menjadi emosional. Menjaga agar menjadi tidak dramatik mungkin menjadi tantangan pertunjukan yang secara visual enak dilihat ini.

Mungkin benda yang besar hanya meja biliar, treadmill. Lalu benda yang kecil adalah gaun wanita dan kaca mata.

Ekspresi para aktor dibuat flat. Tak bisa dibaca. Peristiwa kekerasan sudah terjadi. Tinggal gaungnya.

Pentas Unlogic Theater. -Dok. portalteater.com
Pentas Unlogic Theater. -Dok. portalteater.com

Sanggar Teater Jerit

Lakon: “Machbet”

Naskah: William Shakespeare

Sutradara: Choki Lumban Gaol

Nafsu kekuasaan jelas terlihat dalam pertunjukan ini. Kalau darah adalah penanda penting dalam pertunjukan ini, maka terasa kurang ketajamannya.

Pengadeganan yang mengarah ke sana masih terasa verbal. Mungkin layar putih di belakang panggung bisa dimaksimalkan untuk semua peperangan yang gruping itu. Bukan hanya untuk para peramal.

Pentas Sanggar Teater Jerit. -Dok. portalteater.com
Pentas Sanggar Teater Jerit. -Dok. portalteater.com

Mungkin bangunan yang ada itu dibikin melingkar dengan garis pengadeganan yang diagonal.

*Malhamang Zamzam, sutradara Bandar Teater Jakarta, adalah salah satu juri dalam Festival Teater Jakarta 2019.

Baca Juga

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Pasien Terinfeksi Covid-19 di Indonesia Tembus 3.000 Orang

Portal Teater - Pemerintah Indonesia pada Rabu (8/4) siang merilis data perkembangan terbaru kasus virus Corona di tanah air. Seperti hari-hari sebelumnya, grafik temuan...

Terkini

500 Juta Penduduk Dunia akan Jatuh Miskin Karena Corona

Portal Teater - Oxfam, sebuah organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada penanggulangan bencana dan advokasi, mengatakan pada Kamis (9/4) bahwa dampak dari penyebaran...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Jokowi: Glenn Fredly Lebih Dari Seorang Musisi

Portal Teater - Presiden Joko Widodo menyampaikan kabar duka atas berpulangnya musisi gaek Glenn Fredly pada Rabu (8/4) malam. Glenn diketahui meninggal karena penyakit...

Pasien Terinfeksi Covid-19 di Indonesia Tembus 3.000 Orang

Portal Teater - Pemerintah Indonesia pada Rabu (8/4) siang merilis data perkembangan terbaru kasus virus Corona di tanah air. Seperti hari-hari sebelumnya, grafik temuan...

Solidaritas Tanpa Batas Pekerja Seni

Portal Teater - Industri seni adalah salah satu sektor yang ikut terpukul lantaran merebaknya virus Corona (Covid-19). Tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh...