Portal Teater – “Pada suatu ketika!” Boy Mihaballo mengucapkan kata-kata itu dengan lantang, menandai dimulainya rangkaian site-specific theatre yang bertajuk “The Diary of Voyager”, Jumat (31/8), pukul 15.00 WIB.

Sebuah project yang berbasis di Sungai Cisadane, Tangerang ini diinisiasi oleh tiga seniman Taiwan, yaitu: Chang, Ting-Wei; Chang, Ting-Yong dan Wake-Up. Mereka tergabung dalam kelompok Shan-Dong-Ye Troupe. Pada project ini, mereka mengajak kelompok Artery Performa (Jakarta) dan Semanggi Foundation (Tangerang) untuk turut merealisasikannya.

Boy mengayunkan tongkat sambil melompat-lompat, mengelilingi Tugu Jam Argotech, Pasar Lama, Tangerang. Di luar lingkaran tugu itu, seseorang memukul drum seirama dengan ayunan tongkat Boy. Dengan gerakan menari-menari, Boy berjalan keluar lingkaran menuju jalan raya. Boy terus mengayunkan tongkat yang mengeluarkan bunyi dari tutup botol minuman beragam merk sambil terus bergerak ritmis. Gerakan Boy mengingatkanku pada gerakan tarian dari suku di Papua.

Performa Boy Mihaballo di Tugu Jam Argotech, Pasar Lama, Tangerang. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).
Performa Boy Mihaballo di Tugu Jam Argotech, Pasar Lama, Tangerang. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).

Boy menyusuri sebuah gang di Pasar Lama, melewati penjual buah, penjual bunga, kios sembako dan toko-toko peralatan ritual ibadah Klenteng. Ada sebuah pemandangan tradisional yang tidak saling menyapa. Tetapi, pasar itu menjadi sebuah tempat yang bukan tradisional ketika Boy  memasukinya. Kain tenun yang Boy kenakan sebagai penutup kepala dan sarung menjadi identitas yang sangat privat.

Tiba di depan Klenteng Boen Tek Bio, Boy berjalan memutar lalu berlari. Lin, Jin-Yan berjalan memutar dengan pusaran yang sama dengan Boy; perlahan gerakan Jin-Yan melambat dan putarannya menyempit.

Jin-Yan berjalan sedikit tertahan dengan membawa bungkusan bunga, berhenti di depan sebuah toko obat Cina, menatapnya lalu duduk, meletakkan bungkusan bunga yang ada di tangannya di pinggir jalan kecil itu.

Ia mengeluarkan handphone dan menyalakan rekaman dalam bahasa Inggris. Rekaman itu menceritakan sebuah kisah tentang seorang Ibu yang membawa anaknya ke kuil untuk berdoa karena anaknya terserang penyakit aneh. Sang Ibu berdoa agar anaknya kembali normal. Rekaman terdengar tersendat-sendat, macet. Kisah Ibu dan anak yang rumit, seperti juga suara rekaman yang rumit.

“Saya tidak punya iman.”

Itulah salah satu pernyataan yang terdengar dari suara rekaman yang diputar Jin-Yan. Pernyataan yang rumit. Bagaimana bisa dirinya menyatakan tidak punya iman? Sebuah kesadaran yang rumit ketika menyadari batasan antara beriman dan tidak beriman. Sementara Jin-Yan bergerak dengan biasa dan santai sekali.

Ia berjalan dengan lompatan-lompatan kecil diiringi musik Mandarin. Dia menghadirkan banyak kontradiksi yang sengaja ditawarkan kepada penonton untuk membatasi dirinya dengan persepsi lain di luar dirinya.

Performa Lin, Jin-Yan. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).
Performa Lin, Jin-Yan. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).

Jin-Yan menyatakan kehadirannya pada ruang performanya juga melalui hio yang dinyalakannya. Beberapa kali dia menyapa orang-orang yang dilintasinya. Sejenak dia berhenti dan menyandarkan bunga di tepi tembok, mengeluarkan rokok elektrik, menghisapnya, dan menandai ruang performanya dengan meletakkan setangkai bunga.

Chang, Ting-Yong memulai performanya dengan tanaman rambat dan batu di kepalanya. Ricky Unik membantunya dengan menyanyikan lagu “Sepanjang Jalan Kenangan” dengan suara yang akrab ditelinga. Mereka mengajak penonton untuk mengingat momen ini sebagai kenangan yang panjang dan intim.

Ting-Yong membawa penonton untuk merasakan setiap detil gerakannya melalui sentuhan benda-benda sekitar. Dia membuka pintu dalam dirinya dan membawa penonton untuk masuk ke dalam dirinya, membiarkan orang lain merasakan apa yang dia rasakan.

Ting-Yong berjalan menyusuri gang sempit di kawasan Kalipasir. Performa ini membuat penonton berdiri saling berdekatan dengan tanaman merambat yang dipegang berantai dari tangan ke tangan.

Ting-Yong keluar dari gang sempit itu diikuti oleh penonton di belakangnya. Mereka bergerak seirama untuk menyeberang jalan. Kendaraan yang melaju cepat mendadak terhenti, memberi jalan kepada barisan orang-orang dengan tanaman menjalar di tangannya untuk lewat.

Aku mengamati Ting-Yong dengan barisan itu dan mengamati ekspresi pengendara yang berhenti. Wajah pengendara terlihat bertanya-tanya. Beberapa pengendara motor berdiri dan ingin tahu apa yang terjadi di depan. Wajah pengendara ramai ekspresi.

Ting-Yong menciptakan situasi yang terlihat seperti ‘pemukiman orang-orang’ yang tidak saling mengenal, seperti penghuni apartemen.

Padat dan sunyi. Dia menciptakan kesunyian yang tidak dikenali. Setelah Ting-Yong dan barisan orang-orang dengan tanaman menjalar itu menyeberangi jalan raya, ‘pemukiman orang-orang’ tersebut bubar. Tapi pemukiman itu masih belum bubar dari ingatanku.

-Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).
Performa Chang, Ting-Yong. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).

Selanjutnya, Ting-Yong memasukkan tanaman menjalar ke dalam botol plastik yang masih berisi air, memegangnya terbalik dan air dalam botol muntah keluar bersama tanaman menjalar. Lalu botol kosong tersebut ditiup dan dihirup bergantian.

Seperti mengatakan sulitnya hidup di tengah pemukiman padat. Kota berkembang semakin sesak, kendaraan melaju setiap saat tanpa henti. Pertumbuhan yang pesat dan kegawatan terhadap ruang-ruang privat. Melalui lagu yang dinyanyikan oleh Ricky, Ting-Yong mengambil ingatannya tentang kota pada masa lalu yang indah dan dramatis. Dia membangun konsep performanya seperti menceritakan sebuah peradaban yang kritis dan harus segera ditolong.

Musa Carlos bernyanyi lagu “Nina Bobo” sambil memetik gitar. Chang, Shih-Fen mengawali performanya dengan bercerita tentang kehidupan seorang nenek dengan cucunya yang sehari-hari beraktivitas di tepi sungai.

Performa Chang, Shih-Fen. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).
Performa Chang, Shih-Fen. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).

Shih-Fen pergi menjemput nenek dan cucunya untuk bercerita bersama kepada penonton. Dia menyeberang jalan dan hilang sejenak lalu muncul kembali dengan sandal kecil di tangannya. Shih-Fen mengatakan bahwa nenek dan cucunya tidak bisa bercerita secara langsung dan mengirimkan sandal untuk menemaninya bercerita. Penonton diajak berjalan menuju tepi sungai dan dengan arahan Shih-Fen, penonton duduk berjajar membelakangi sungai.

Dimulailah cerita tentang keseharian nenek dan cucunya. Setiap hari, cucu berlari ke sana kemari. Cucu sering bertanya kepada nenek. Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab oleh nenek dengan filosofis. Melalui Shih-Fen, nenek meminta penonton untuk membuka telapak tangan di mana kita bisa melihat sungai yang kecil.

Setidaknya, aku merasakan lapisan kehidupan dalam performa Shih-Fen. Lapisan pertama adalah kehidupan nenek dan cucu. Kemudian, kehidupan mereka setelah Shih-Fen ikut campur tangan di dalamnya. Selanjutnya adalah lapisan kehidupan Shih-Fen sendri. Terakhir, lapisan kehidupan yang hidup di kepala penonton.

Penonton dilibatkan dalam performa ini sebagai ‘orang yang diajak’ untuk masuk ke dalam imajinasi Shih-Fen. Lalu Shih-Fen naik perahu, menaburkan bunga ke sungai dan mengibarkan kelambu biru. Ia membentangkan kelambu itu di seberang Tao Pe Kong Air.

Shih-Fen naik perahu, menaburkan bunga ke sungai dan mengibarkan kelambu biru di seberang Tao Pe Kong Air. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).
Shih-Fen naik perahu, menaburkan bunga ke sungai dan mengibarkan kelambu biru di seberang Tao Pe Kong Air. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).

Aku melihat ada susunan dramatik yang dibuat sedemikian rupa melalui benda-benda dan cerita yang dibangun Shih-Fen. Performa Shih-Fen terlihat utuh, memiliki tangga dramatik.

Membiarkan penonton masuk ke dalam imajinasinya, tanpa menginterupsi secara berlebihan. Dia membangun jembatan keterhubungan antara performer dan penonton melalui bunga-bunga yang mengapung di sungai. Seakan ingin mengatakan, “kita belum berpisah” atau “kita tidak terpisahkan.”

Performa Fidelis Krus. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).
Performa Fidelis Krus. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).

Dengan memakai perahu, Fidelis Krus bermain layangan dari seberang Tao Pe Kong Air, menghampiri kerumunan penonton dengan cerita tentang tanaman bonsai. Selesai bercerita, dia meneteskan air sungai ke dalam dua matanya. Aku melihatnya sebagai pemaksaan sebuah kehendak untuk masuk ke dalam tubuhnya. Aku melihat Fidelis memperlakukan tubuhnya seperti tanaman bonsai dengan lilitan-lilitan kawat itu.

Ricky memutuskan lilitan-litan kawat pada tubuh Fidelis. Ricky melakukannya sambil menyampaikan mitos buaya putih. Ricky mendistorsi susunan narasi pada tubuh Fidelis. Dengan buyarnya narasi pada tubuh Fidelis, aku jadi berharap tubuh Fidelis tetap bertahan dengan lilitan-lilitan kawat.
Ricky memulai performanya dengan membagikan topeng buaya dan balon kepada penonton.

Penonton diminta memakai topeng buaya dan menuliskan keinginannya pada balon yang kemudian dilarungkan ke sungai. Lalu Ricky merepresentasikan dirinya sebagai buaya putih: berenang di atas kain putih yang membentang di permukaan sungai dengan ditopang dua perahu. Ricky menghentak-hentakkan tubuhnya. Perahu bergeser menjauh.

 

Perforam Ricky di sungai. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).
Perforam Ricky di sungai. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).

Aku bertanya-tanya dalam hati, lalu bagaimana dengan mitos buaya putih? Bagaimana dengan keinginan yang dibuang ke sungai? Aku melihat performa Ricky sebagai sebuah ekspektasi bentuk-bentuk visual yang tidak terbangun konsep performanya. Sebagai puzzle yang hanya sepotong dan kehilangan potongan puzzle yang lain.

Pertunjukan ini dilanjutkan kembali oleh performa Jin-Yan yang menyiapkan bunga, hio dan rekaman cerita.

Aku menduga Jin-Yan akan beribadah di depan altar Tao Pe Kong Air. Tetapi melalui rekaman yang disampaikan lewat handphone-nya, Jin-Yan bercerita tentang kehidupan ayahnya. Jin-Yan bergerak lambat dan ritmis, seakan untuk bernafas pun harus perlahan.

Jin-Yan berjalan ke tepi sungai, naik perahu, melarungkan kemeja kertas dan menabur bunga. Aku melihatnya sebagai upaya untuk meringankan dosa ayahnya dan berdamai dengan dirinya sendiri. Mungkinkah Jin-Yan memiliki sungai untuk menenggelamkan masa lalu ayahnya yang buruk?

Boy berjalan perlahan. Penonton mengikutinya, menyusuri trotoar di pinggir jalan tepian Sungai Cisadane. Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya seperti sungai yang mengalir dalam diam.

Penonton mengikutinya tanpa banyak bertanya seakan mempercayakan langkahnya pada Boy. Terjalin perasaan saling percaya yang tidak terkatakan. Boy berhenti berjalan di gang kecil samping Pemakaman Keramat Masjid Jami Kalipasir, tempat Dendi Madiya dan Chang, Ting-Wei memulai performa mereka.

Dendi menyiram tanaman, sementara Ting-Wei menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Mandarin dengan suara yang cukup merdu dan hangat di telingaku meskipun aku tidak memahami apa yang dinyanyikannya. Dendi mengeluarkan kertas dan membaca sebuah puisi yang langsung aku kenali sebagai puisi Afrizal Malna, “Hujan di Pagi Hari”.

Sampai di situ, aku memahami bahwa mereka akan melakukan performa bersama atau berkolaborasi. Mereka mengeluarkan kain berwarna hitam dan mengikatkannya di kepala masing-masing.  Mengeluarkan kain hitam yang lain dan membagikannya kepada penonton. Mereka mengharapkan penonton untuk mendengarkan suara sungai.

Ting-Wei mengarahkan penonton yang tertutup matanya oleh kain hitam itu untuk berpegangan satu sama lain. Penonton berbaris menuju tepian sungai. Dendi menggendong seorang penonton. Menyeberang jalan, melangkah di trotoar, tiba kembali di Tao Pe Kong Air.

Ting-Wei meminta penonton untuk duduk di undakan anak tangga. Dendi yang membuka tutup matanya, mengucapkan lima dasar Republik Indonesia, Pancasila, yang diikuti oleh penonton yang masih tertutup matanya. Bergantian, penonton kembali dipandu untuk mengikuti ucapan Ting-Wei dalam bahasa Mandarin.

Performa Dendi Madiya dan Chang, Ting-Wei. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).
Performa Dendi Madiya dan Chang, Ting-Wei. -Dok. Tim Dokumentasi The Diary of Voyager (Ziduy, Beni, Aldhi, Endes dkk).

Dendi melangkah ke sudut tepian sungai sambil meneriakkan data dirinya. Disusul oleh Ting-Wei yang memperkenalkan dirinya sambil menyiram tubuhnya dengan air sungai.

Aku merasakan diri Ting-Wei yang tangguh. Mereka naik ke perahu. Dendi memegang hio. Sepanjang perjalanan dengan perahu, mereka mengulang-ulang meneriakkan data diri masing-masing. Sesampainya di seberang, mereka berjalan beriringan di tepian sungai.

Meski performa Dendi dan Ting-Wei dilakukan bersamaan, namun ada dua narasi besar yang
berbeda. Ting-Wei lebih terlihat provokatif dan kuat sebagai pemimpin. Ada unsur pemaksaan yang kuat saat Ting-Wei mendiktekan lagu kebangsaan Taiwan yang diikuti oleh penonton.

Aku merasakan kesamaan narasi Ting-Wei dengan narasi Fidelis. Tentang sebuah pemaksaan yang harus masuk ke dalam diri dan pemberontakan dari dalam diri terhadap narasi di luar diri. Ting-Wei dan Fidelis adalah bonsai yang dibentuk oleh kulturisasi yang hidup dalam masyarakat.

Sedangkan Dendi adalah tipuan dari puisi yang hidup di masyarakat sebagai jalan lain bagi orang-orang yang sudah terlanjur keluar dari tradisi yang hidup di masyarakat.

Apakah sindiran terhadap kekuasaan menjadi sesuatu yang indah dalam seni pertunjukan?
Apakah praktik-praktik potongan performa yang politis bisa masuk begitu saja di kepala
penonton?

Ada semacam kesepakatan bersama yang tidak dibicarakan di kepala penonton bahwa menjadi sebuah pewajaran massal ketika potongan kritik menjadi sebuah tema dalam karya pertunjukan. Mungkin karena sindiran politik itu disampaikan oleh seniman. Berbeda halnya jika yang melakukan sindiran politik itu seorang aktivis atau pengamat politik. Seakan seniman terbebas atau berada di jalur khusus yang tidak bisa dilalui para aktivis atau pengamat politik.

Dari seberang Tao Pe Kong Air; Wong, Yun-Ting mengrimkan surat melalui perahu untuk
dibacakan kepada penonton. Isi surat itu tentang pernyataan dirinya kepada sang kekasih. Juga membagikan permen lollipop. Pada akhir surat itu, Yun-Ting mengajak penonton untuk menatap senja.

Saat mendengar pembacaan suratnya, aku mengalami perasaan yang sama ketika mendengar pembacaan puisi yang dilakukan Dendi. Ada kerinduan yang sama dari Yun-Ting dan Dendi. Rindu yang dalam dan sunyi yang hanya sebatas sore dan senja. Yang hangat seperti matahari.

Dan setelah rangkaian performa selesai, ada perasaan ganjil yang belum lengkap.

*Penulis adalah aktris teater dari Artery Performa.