Circular: Media, Transfer

Portal Teater – Cara kita melihat dan meyakini apa yang tampak di depan mata kita sekarang sudah benar-benar berubah dibandingkan dua dekade sebelumnya. Kita tidak lagi mengandalkan mata telanjang untuk memastikan bahwa kita telah menyaksikan suatu peristiwa secara langsung.

Mata sebagai organ penglihatan yang kredibel sudah tergantikan oleh mata lain, mata teknologis yang tidak terlalu terhubung dengan kepala (benak) tetapi dengan tangan (motorik) melalui habitus digital.

Ruang bagi lingkup penglihatan kita kini kian menyempit tetapi, anehnya, kita seolah memahami kenyataan secara lebih luas.

Dulu, membaca koran butuh ruang yang lebar ketika lembar halaman harus dibentangkan. Dengan layar ponsel di tangan, kata dan image lebih cepat menarik ke dalam penglihatan kita karena masuknya elemen tambahan berupa suara dan gerak di satu perangkat yang membatasi pemahaman kita pada durasi.

Pengalaman langsung yang kita pahami itu telah diinisiasi oleh media-media baru dengan aneka fitur aplikasinya. Namun, kebiasaan baru ini belum sama-sekali mengakhiri perilaku analog dari penglihatan yang sebelumnya memerlukan banyak konfirmasi ketimbang penglihatan yang rutin menatap layar digital.

Teknologi Mengubah Segalanya

Teknologi telah menghasilkan budaya pencet – pada scrolling dan click – yang bertopang pada aktivitas jemari ketimbang aktivitas visual. Sebuah bahasa baru yang bersandar pada pola menatap dalam waktu sekejap ketimbang mencernanya dalam renungan.

Kini, hampir tidak ada individu tanpa ponsel, dan perangkat itu membuat setiap orang dengan mudah menampilkan identitasnya di media sosial sebagai bagian dari aksesibilitas sosial yang mereka terapkan di berbagai keadaan.

Bermain dengan aksesibilitas membuat anatomi dari identitas kita telah menciptakan ruang sosial baru yang berasal dari tumpukan layer-layer eksistensial kita yang terdistribusikan melalui media-media itu.

Ruang sosial yang terbentuk melalui aktivitas-aktivitas bermedia tersebut sangat berbeda dengan ruang sosial sebelumnya ketika teks, gambar dan suara yang terdistribusi di sana berasal dari dan diproduksi oleh masing-masing anggota sosial itu sendiri.

Sudah sejak awal persebaran video versi analog, bentuk sosial baru ini ditengarai mengandung aspek penting, yaitu pada segi demokratisnya, sebuah situasi yang mendorong demokratisasi sejarah sosial yang tersusun dari masing-masing identitas.

Pada tataran estetika, perubahan tersebut lebih lanjut mempengaruhi cara pandang beragam produksi karya seni melalui stimulasi yang secara sirkular diproduksi oleh publik dan terus-menerus terdistribusi di ruang siosial baru itu.

Relasi Baru Karya Seni dan Publik

Praktik-praktik seni sekarang sangat berlandas pada beragam bentuk simulasi yang dapat dicoba oleh publik sendiri. Hubungan yang coba dijalin dari simulasi yang mencairkan batas-batas klasifikasi seni, menghasilkan proyeksi bagi dialog antara seniman – karya seni-audiens – ketika media-media baru itu menjadi kebutuhan bersama komunikasi, di mana publik bisa sama-sama memproduksi karya seni dari realitas keseharian mereka.

Situasi ini membuat cara-cara kerja seniman dalam melihat dan kemudian membuat karya juga berubah, dengan bentuk-bentuk kenyataan yang ada sangat tergantung pada sejauh mana itu telah direpresentasikan di media-media sosial yang digunakan.

Teknologi yang beroperasi dalam media-media sosial telah membuat kerja-kerja kesenian turut berubah, bahkan di luar apa yang mungkin disadari oleh para pelakunya, yakni ketika image-image yang hadir setiap saat di depan mata sudah tidak lagi berjarak.

Lebih dari sekadar perpanjangan tubuh, aneka fitur aplikasi telah memaksa seniman untuk menjadi individu baru yang mutan. Individu mutan ini adalah profil yang tidak menunjukkan tanda-tanda canggung dengan realitas baru konstruksi media dan telah menjadi realitas sehari-hari yang dijalaninya. Tapi tidak semua orang sudah menjadi mutan. Masih ada banyak yang tetap percaya pada bentuk-bentuk realitas yang asali.

Sebagian dari model-model itu menunjukkan taktik-taktik berkarya melalui pemahaman akan perubahan bentuk, pola kerja dan produksi artistik dalam perkembangan terakhir seni yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan media-media baru.

Apa yang niscaya dari perubahan tersebut adalah kuatnya hasrat untuk menjangkau komunikasi antara karya dengan audiens, dan hal ini harus berarti jenis isu apa yang dilontarkan oleh karya-karya tersebut. Masalah isu ini kemudian terarah ke jenis media yang digunakan.

Pada titik ini, sukar bagi seniman untuk mengelak dari kenyataan bahwa telah terjadi perubahan besar di medan seni terkait isu dan media sebagai metode gaya ungkap seni yang paling sesuai dengan zamannya kini. Yaitu, ketika seni, dipandang tidak lagi perlu berjarak dengan audiens mengingat bahwa audiens merupakan bagian inheren dari bentuk-bentuk dan ungkapan karya seni sehingga sudah sepantasnya dilibatkan melalui isu-isu kepublikan yang mereka akrabi, termasuk dalam hal media-media baru.

Pada tataran ini karya seni telah bergerak dari peristiwa seni ke peristiwa publik. Audiens adalah pengguna terbesar dan paling obsesif terhadap aneka aplikasi media sosial. Merekam, meng-capture, mem-posting, misalnya, yang semula merupakan tindakan individual dengan lingkup terbatas, dalam satu detik bisa mengubah situasi menjadi peristiwa bersama yang memosisikan publik ke dalam peran dominan.

Ketika peran publik menjadi dominan maka apa yang dilakukan secara individual mulai bergerak ke pemetaan identitas sosial, gender, agama, dan politik sebagai isu-isu kepublikan sehingga memungkinkan munculnya pertarungan dominasi di ranah sosial-politik menjadi begitu terbuka.

Dalam situasi tersebut, ekspresi-ekspresi artistik seharusnya tampil dengan mempertimbangan aspek komunikatif yang melibatkan tanggapan audiens terhadap karya seni, termasuk pertanyaan tentang apakah seni masih dibutuhkan oleh mereka.

Di posisi ini seni tidak dapat dibiarkan hanya bergerak di dalam ruang lingkupnya sendiri melainkan masuk ke aktivitas-aktivitas produksi sosial juga. Meskipun, dampaknya, teknologi media, di satu sisi seolah membuat ekspresi-ekspresi seni jadi makin gampang dibuat.

Masalahnya, sekarang perkara seni bukan melulu tentang konten tetapi soal bertaktik terhadap media dan melepaskan diri dari spesialisasi. Karya seni tidak muncul secara sendirian tetapi ditopang oleh sekian banyak pemahaman dari beragam disiplin keilmuan demi menggapai komunikasi yang aktif dengan audiens. Komunikasi ini hanya mungkin diupayakan melalui penggarapan media yang digunakan dalam memproduksi karya seni.

Karya seni pada perkembangan terakhirnya selama dua dekade ini, secara jelas, menunjukkan ungkapan yang bukan lagi menyaran sebuah visi esoterik untuk berenung-renung melainkan lebih kepada segi komunikasi, yang sebagian dilakukan melalui aksi performatif.

Gambaran dunia sebagaimana yang dibayangkan lewat visi-visi seni yang bersuntuk pada bentuk sudah tidak lagi berlaku, dan kalau pun masih punya penganut, bisa diduga kecil cakupannya. Pada ekspresi-ekspresi artistik mutakhir yang peduli pada jenis media yang digunakan, gagasan semacam ini menghasilkan konsekuensi karya seni yang lebih fisikal (bisa diukur secara kasat mata), jauh ketimbang yang sekadar imajiner atau bermain-main dengan imajinasi belaka.

Membongkar Dapur Produksi Karya Seni

Karya seni yang berkembang sekarang mau membongkar tradisi kontemplatif yang telah melupakan isu-isu kepublikan ke bentuk-bentuk yang langsung dialami sekaligus oleh seniman dan audiens.

Seni tidak lagi dimaksudkan untuk mengungkapkan hasrat terpendam personal seniman melainkan menyuruk ke pengalaman sehari-hari publik. Seni dilepaskan dari ruang sunyi penciptaan ke ruang-ruang terbuka dari pengalaman bersama seniman dan audiens. Karya seni dengan media-media baru menghapus hak istimewa seniman dalam menghasilkan makna.

Karena itu, istilah kreator dan kreasi bergeser menjadi produsen dan produksi. Keduanya merupakan modus yang berbeda zaman dan kepentingan yang menjelaskan praktik-praktik seni dengan media sebagai modus baru terhadap model lama representasi. Media-media itu sendiri, pada dasarnya, merupakan ruang terbuka publik atau audiens, tempat seniman bisa terhubung dengan publiknya.

Karya-karya dalam media baru bukan sekadar berbeda dalam tampilan, tetapi secara mendasar berpotensi menantang dominasi media mainstream. Karena perkembangannya relatif baru – sekitar dua dekade belakangan – karya-karya ini memilki semangat untuk lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan definisinya sebab bukan hanya seniman tetapi publik juga dapat dengan fasih mengartikulasikan fitur-fitur aplikasi bagi kemungkinan produksi karya.

Pada tataran ini terjalin matarantai dari sebuah format ideal yang menghubungkan kerja-kerja seniman dengan kebutuhan audiens, persis ketika format-format media sudah begitu berubah dan kedua pihak telah sama-sama aktif menggunakannya.

Circular dan Transfer Media

Dengan circular, pameran dan performance dalam Lintas Media 2019 ini mau menyaran tentang berlangsungnya putaran dari model-model berkarya, dari yang manual-konvensional hingga ke yang digital non-konvensional.

Pameran ini memaparkan ragam pemahaman mengenai kerja-kerja produksi seni yang masih berlangsung dalam perkembangan kesenian kita sekarang. Circular hendak memperlihatkan dua model fenomen dari praktik-praktik artistik yang menggunakan media-media mainstream dan praktik-praktik artistik dengan media baru.

Dari situ, lalu muncul pertanyaan, sejauh mana kedua modus tersebut saling terhubung, atau masing-masing berdiri sendiri namun tetap berada dalam satu matarantai yang sama, dengan konsekuensi, keduanya diterima sebagai kenyataan yang masih berlangsung, di tengah transisi menuju bentuk yang pasti.

Jelas, kedua model ini juga menunjukkan cakupan yang berbeda dari beragam disiplin yang berlainan, di samping perbedaan generasi. Model-model presentasi berupa instalasi, performance, penayangan, dan karya-karya konvensional, rata-rata sama memproyeksikan gagasan tentang tubuh, benda-benda dan media sebagai materi-materi ungkap mereka.

Tentu ada perbedaan yang nyata mengenai bagaimana masing-masing dari proyeksi itu bisa terpampang dengan aman tanpa konflik jika mengingat perbedaan pemahaman yang realatif tajam antarseniman yang terlibat di program ini.

Circular secara lentur menarik pemahaman mengenai sejarah – termasuk perkembangan seni di dalamnya, sejak yang terspesialisasi hingga yang lebur-batas – dengan pengertian bahwa sejarah kini boleh berada di tangan publik dan tidak ekslusif milik seniman. Seniman dan publik dapat secara bersamaan menanggapi suatu kenyataan, dan hasilnya dalam bentuk representasinya di media yang sama-sama mereka pakai, sama-sama mengartikulasikan tipe-tipe sosial tertentu.

Pergeseran pemahaman dan pemaknaan terjadi dalam hal memetakan arena dari kehidupan yang mereka tangkap menjadi fenomena yang memiliki ruang kosmologisnya sendiri.

Tentang Ugeng T. Moetidjo

Ia ada antara kata dan gambar. kata dan gambar tumbuh dalam dirinya bersama kehidupan kota. jakarta adalah tempatnya melulu tinggal. kadang ia berdiam dalam kata bersama gambar dan sebaliknya, tetapi kadang pula tidak kedua-duanya. angan-angannya dan tubuhnya bergerak menaja kata atau menaja gambar tapi seringkali juga bersimpangan.

padanya, kata tak hendak menggantikan gambar, begitu sebaliknya, gambar selalu urung menjadi kata. keduanya acap saling memuskilkan diri hingga ternafi meski masing-masingnya mungkin saling membayangkan diri.

ia terpana oleh keajaiban gambar, pun terpesona oleh sihir kata. tapi kata dan gambar telah bergerak sedemikian jauh dari cakrawala yang selama ini dikenalnya. ulang-alik kata dan gambar atau sebaliknya tak pernah membuatnya benar-benar jenak dalam mengenali terus-menerus imajinasi dan realitas.

ada saat-saat di mana kata atau gambar menjelma agresi yang mencemaskan dan menghasilkan sensor diri yag ketat. sebab, kata dan gambar tidak hidup sendiri di tubuhnya. mereka acap mengikutkan pihak lain di dalamnya.

Walau begitu, bekerja dengan keduanya, ia kerap tercengang, betapa kata dan gambar bisa benar-benar mengakses kenyataan atau imajinasi dan membuat hidupnya bertahan di situ.

Baca Juga

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Jokowi: Glenn Fredly Lebih Dari Seorang Musisi

Portal Teater - Presiden Joko Widodo menyampaikan kabar duka atas berpulangnya musisi gaek Glenn Fredly pada Rabu (8/4) malam. Glenn diketahui meninggal karena penyakit...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Terkini

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Jokowi: Glenn Fredly Lebih Dari Seorang Musisi

Portal Teater - Presiden Joko Widodo menyampaikan kabar duka atas berpulangnya musisi gaek Glenn Fredly pada Rabu (8/4) malam. Glenn diketahui meninggal karena penyakit...

Pasien Terinfeksi Covid-19 di Indonesia Tembus 3.000 Orang

Portal Teater - Pemerintah Indonesia pada Rabu (8/4) siang merilis data perkembangan terbaru kasus virus Corona di tanah air. Seperti hari-hari sebelumnya, grafik temuan...

Solidaritas Tanpa Batas Pekerja Seni

Portal Teater - Industri seni adalah salah satu sektor yang ikut terpukul lantaran merebaknya virus Corona (Covid-19). Tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh...

Kartu Pra-Kerja untuk Karyawan PHK

Portal Teater - Pemerintah memutuskan untuk memprioritaskan pemberian dana bantuan sosial dari Program Kartu Pra-Kerja kepada masyarakat yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) lantaran...