Kampung, ABCDE dan Mass Up: Corona dalam Jurnalisme Mengintip

Portal Teater – Lockdown di kampung-kampung di Indonesia memunculkan berbagai bentuk spanduk yang tidak pernah ada dalam seni rupa Indonesia.

Sebagian merupakan tulisan-tulisan tebal tak beraturan, umumnya dengan warna merah atau hitam.

Huruf yang juga tidak pernah ada dalam kumpulan font-font digital. Tidak perlu mengenal prosedur tulisan lurus pada buku tulis.

Lockdown di kampung melahirkan spanduk-spanduk performatif dalam bentuk font maupun gagasan, memperlihatkan dinamika sosial maupun personal yang bergolak di kampung dalam ketegangan menghadapi wabah.

Spanduk lockdown sebuah kampung di Yogyakarta. -Dok. bbc.com
Spanduk lockdown sebuah kampung di Yogyakarta. -Dok. bbc.com

Spanduk-spanduk itu sebagian mempersonifikasi wabah dengan hubungan percintaan yang ambyar. Ungkapan-ungkapan dalam spanduk lockdown itu diantaranya tertulis:

lockdown
cukup atimu sing ambyar
ojo kesehatanmu

badai pasti berlalu

stay at home?
aku rindu kamu

corona kalau lu datang
cuman nyakitin doang
cewek di indonesia juga bisa!
#virus sadboys

dilarang masuk
kamu jelek

Bahkan muncul spanduk yang bisa salah dipahami sebagai “anti lockdown”:

selamat datang
di plosokuning 4 rw 08 rt 19
kamu di rumah saja yaa sayangg..

Melalui spanduk-spanduk itu kampung mengubah wabah menjadi seperti “festival corona”.

Asumsi yang bisa memunculkan berbagai asosiasi: kampung masih memiliki kultur komunal yang kreatif untuk tetap bergembira menghadapi bencana, karena memang hanya itulah yang tersisa yang mereka miliki sebagai modal intengible yang tidak akan pernah habis sampai kapan pun.

Kampung sudah terbiasa hidup dengan penderitaan tanpa bayangan masa depan. Relasi antar tetangga di kampung masih terjalin sebagai dinamika budaya informal.

Pengertian agen sosial pada warga bisa bekerja sangat lentur dalam aktivisme antara individu dan kolektivisme.

Spanduk yang juga memantulkan pertanyaan: berapa banyak hubungan yang ambyar karena corona.

Kita boleh bertanya: di mana posisi negara dalam budaya informal kampung? Pertanyaan yang tentu menjadi sangat tidak penting lagi, karena negara cenderung menempatkan kampung sebagai mata rantai sosial-politik paling bawah untuk dikorbankan.

Beberapa tulisan dalam spanduk menggunakan bahasa Jawa sehari-hari, juga ada yang menggunakan gaya bahasa Betawi-Jakarta walau spanduk berada dalam lingkungan kampung di Yogyakarta.

Pilihan ini bukan tidak disadari, karena memang kedua bahasa itu lebih terkesan performatif sebagai “kalimat langsung” dalam mengungkapkan sesuatu ke pubik. Spanduk yang sebagian besar anti-printing.

Kalau kita melacak lockdown versi kampung di Google, kita akan lebih menemukan liputan media online yang banyak menyoroti spanduk-spanduk kampung di Yogyakarta, dibandingkan kampung-kampung lain.

Jurnalisme yang memunculkan kesan bahwa spanduk-spanduk kampung lebih kreatif berlangsung di Yogyakarta dibanding kota-kota lain. Atau sebagian jurnalisme online sebenarnya masih berorientasi ke sumber-sumber berita resmi.

Fenomena di kampung masing dianggap “tidak layak berita”. Di sisi lain hampir tidak ada pemberitaan bagaimana kampung menghadapi corona di luar Jawa, kecuali berita politis penolakan di sekitar makam maupun rumah sakit untuk korban wabah.

Berita politik tetap dipandang sebagai “hotplate” untuk tradisi goreng-menggoreng dalam suara bising jurnalisme politik kita.

Sebagian dari representasi jurnalisme politik ini dikurasi oleh kelompok ABCDE dalam karya digital mereka “Kelas Memasak” (https://youtu.be/dtTQHF0FEg0), dengan para kreator: Abi ML, Andina R.I, Arung Wardhana Ellhafiffie, Dayu Prisma dan Syukron Yusuf.

Karya berangkat dari bagaimana mereka mengurasi fenomena terbentuknya institusionalisasi dan juga deinstitusionalisasi dengan menggunakan corona sebagai semacam pengada baru yang memunculkan aktivisme tidak terduga (manipulatif).

Kurasi ini bisa dilihat sebagai kerja pemetaan atas materi-materi yang mereka gunakan dari berbagai sumber pemberitaan di media online.

Di halaman sebuah kebun, meja kayu berukir dan tiga orang performer (Abi ML, Andina R.I, dan Dayu Prisma) melakukan aksi memasak dengan menu yang tidak biasa, yaitu institusionalisasi dan deinstitusionalisasi yang berlangsung sebagai efek “hotplate corona”.

Menu yang digali adalah tema-tema realisme magis dari beberapa khazanah populer: intertainment (menggunakan sumber https://youtu.be/Neno1aVgphw) dalam bentuk video anak kecil menangis karena bertemu artis pujannya, Nissa Sabyan, sebagai artis yang banyak menyanyikan lagu-lagu reliji.

Ada pula praktik penyelamatan (https://youtu.be/NFv4ZvSdT90), video tentang teknik nafas buatan CPR untuk menyelamatkan seorang bocah yang baru saja tenggelam, praktik yang kini tidak mungkin lagi dilakukan; manipulasi kepercayaan (https://youtu.be/BF8QGncoGpU) tentang bagaimana Ningsih Tinampi mengaku dirinya bisa menyembuhkan pasien corona, mendatangkan malaikat maupun nabi virtual).

Sebaliknya, ada praktik deinstitusioanlisasi seks (https://youtu.be/a5MGwags_Ow) tentang bagaimana melakukan hubungan seks bersih di era wabah; praktik pengobatan abad lampau yang dilakukan Ibnu Sina dalam menghadapi wabah (https://youtu.be/nO4RFhFLYeQ).

Termasuk juga pencurian lukisan Van Gogh dari Museum Singer Laren di Netherland (https://www.liputan6.com/lifestyle/re…) sebagai bagian dari deinstitusionalisasi realisme magis dari investasi yang berlangsung dalam platform museum.

Screenshot salah satu adegan "Kelas Memasak" ABCDE. -Dok. Afrizal Malna.
Screenshot salah satu adegan “Kelas Memasak” ABCDE. -Dok. Afrizal Malna.

Realisme magis dalam jurnalisme politik berlangsung sebaliknya dalam dunia seni maupun sastra.

Yang satu bermain dalam proposisi makna tanpa realitas yang mudah dicari rujukannya, dan satunya lagi bermain dalam terbatasnya bahasa maupun medium seni untuk mengungkapkan kenyataan dalam dinamika berkelindannya pemikiran mistifikasi dan ontologis (sebagai praktik pembacaan identitas maupun sejarah asal-usul).

Dalam karyanya ini, ABCDDE membagi aksi-aksi performatif berbasis tubuh dengan cara mendistribusinya ke medium lain dan memberi ruang lebih banyak pada aksi performatif gagasan.

Bahkan kertas printing yang memuat urutan-urutan adegan dibiarkan bocor sebagai bagian performance.

Pergeseran ini di permukaan menjadi efektif untuk mengurangi performatifitas tubuh yang cenderung menyita durasi dan distribusi gagasan jadi terhambat.

Hilangnya aura analog berusaha diganti dengan bagaimana medium digital digunakan dalam batas dan fungsi tertentu.

Dialog dengan aksen bahasa Arab, misalnya, dibiarkan diambilalih oleh aplikasi Google transkrip yang memang memiliki aplikasi audio untuk berbagai aksen bahasa-bahasa dunia, dan bisa digunakan sangat sederhana (aktor tidak perlu lagi membaca atau menghafal dialog).

Performance memasak juga menggunakan fasilitas editing video. Kurasi atas materi berjalan seimbang dengan kurasi atas medium yang digunakan.

Dalam karya Soemantri Gelar a.ka (Mass Up: https://youtu.be/elLXQz-4G9g), seluruh karya digital berdurasi 9.55 menit ini berusaha keluar dari hiruk-pikuk kebisingan berbagai representasi jurnalisme corona.

Karya menggunakan format bidang handphone sebagai tubuhnya. Yang dikurasi dalam karya ini terutama adalah teknik penggunaan kamera. Seluruh gambar pada tubuh karya bergetar, terkesan seolah-seolah menggunakan teknik zoom-in yang dipaksakan.

Screenshot salah satu bagian dari karya "Mass Up" Soemantri Gelar a.ka. -Dok. Afrizal Malna.
Screenshot salah satu bagian dari karya “Mass Up” Soemantri Gelar a.ka. -Dok. Afrizal Malna.

Namun penggunaan teknik zoom-in yang membuat tubuh karya hadir seolah-olah bergetar ini, efektif dalam merepresentasi wabah sebagai guncangan dalam ruang sosial kita, maupun sebagai betapa kita teralienasi dari dunia luar akibat wabah.

Kita saling meneropong rumah orang lain, atau sudut-sudut yang sebelumnya bisa kita datangi dan sekarang harus mengintipnya melalui isolasi dalam rumah sendiri.

“Mengintip” tiba-tiba muncul sebagai ruang performatif dalam teritori alienatif yang diorder dari otoritas wabah.

Kerja representasi tidak lagi dibiarkan melebar dalam metode mengintip ini, karena mengintip memang merupakkan aktivisme hanya dalam fokus tertentu di mana latar tidak dilihat sebagai bagian dari informasi.

Gambar-gambar yang muncul pada karya di antaranya tubuh langit yang tidak utuh, tubuh truk yang tidak utuh, tempat pembuangan sampah yang tidak utuh maupun rumah yang memperlihatkan hanya bagian atapnya sebagai rumah yang seolah-olah baru saja diterjang badai.

Hampir seluruh pilihan gambar ini terkesan hanya mengekspos bentuk grafis objek dan menghindari makna bising yang dikandung objek.

Dalam karya ini, waktu juga didefinisikan secara lain, yaitu gambar A yang sudah berlalu karena munculnya gambar B; gambar A sebelumnya diubah sebagai bingkai untuk gambar B.

Metode penggunaan waktu seperti ini berlangsung kontinyu pada seluruh gambar hingga karya berakhir. Ini menjadi struktur utama dalam membuat jalinan karya.

Konstruksi teks juga menghindari makna bising di sekitar wabah secara ekstrem, sehingga tubuh teks seolah-olah berdiri sendiri-sendiri tanpa rajutan yang membuat jalinan satu sama lainnya:

apa itu
hmmm
handphone saya jatuh, kemarin
seperti apa?
kamu tahu, nowhere man?
bagaimana dengan kapal selam kuning?
hei virus itu sudah sampai depok!
aku takut berenang
aku juga merindukanmu, sesekali
sudah lama kita tidak bertemu di Instagram
kamu masih memakai masker?
kamu, lihat Amerika
ulang terus
sudah laku?
karya?
apa?
kamu lihat kabar terakhir hari ini?
tahanan kabur, saat berjemur?
kereta masih penuh
kamu khawatir seseorang?
bukan seseorang, tapi seluruh
bukannya dirumahkan?
tampaknya sebagian menikmatinya
tahu dari mana?
instagram
mereka mulai gila
ketegangan ini membuatku takut
sudah cuci tangan?
siapa? pemerintah?
kamu mau bakso?
sebentar, sedang videocall
sudah cuci tangan?
mungkin
pandemik

Tubuh teks seperti itu juga efektif dalam merepresentasi posisi individu yang kehilangan hubungan sosialnya maupun dari kerja kolektifnya. Membuat pantulan baru untuk kita bertanya ulang: apa itu individu dan kolektivisme di era wabah kini.

Semua yang terkesan memiliki otoritas dalam teks itu (termasuk pemerintah dengan menggeser arti leksikal dari “cuci tangan” menjadi arti simbolik), dibuat menjadi tidak penting dalam wilayah alienatif corona. Satu-satunya orbit untuk memahami teks adalah corona itu sendiri sebagai konteks.

Kebiasaan kita yang dibentuk sekian lama oleh budaya tempat yang analog, memang cenderung menjadi tidak mudah ketika kita beralih dan membaca karya yang dibuat ABCDE maupun sejenis karya Soemantri Gelar a.ka.

Namun karya mereka memperlihat berbagai strategi untuk bagaimana karya seni merespon perubahan ruang maupun migrasi medium yang terjadi sekarang, dan dilakukan dengan menyoroti kembali kerja-kerja kurasi maupun dramaturgi dalam praktik-praktik performatif seni.

Kerja kurasi material seperti ini sebenarnya tidak asing. Sebagian besar film-film berdasarkan kehidupan sastrawan yang masih bekerja dengan medium tulisan tangan atau mesin tik (sebut misalnya, film The Hours, 2002, tentang Virginia Woolf yang disutradarai Stephen Daldry).

Film ini mengekspos kegelisahan sastrawan dengan memperlihatkan ruang kerjanya yang dipenuhi oleh remasan kertas dari tulisan-tulisan yang gagal dibuat, sebagai sisi dari kerja sastrawan berbasis tulisan tangan atau mesin tik yang performatif.

Dalam seni lukis juga begitu. Affandi, misalnya, sangat performatif saat melukis. Hal yang kemudian baru diekspos media pada bagaimana saat Jackson Pollock bekerja melukis yang memang performatif.

Kurasi material yang berefek adegan-adegan performatif menjadi spektakuler pada kerja seorang seniman China, Cai Guo-Qiang, karena dia menggunakan bubuk mesiu dalam berkarya dan menggunakan tim yang cukup besar. Dan menjadi sangat heboh ketika dia juga menggunakan kembang api.

Cai Guo-Qiang, "City of Flowers in the Sky", Flor¬ence, 2018. -Dok. arrestedmotion.com.
Cai Guo-Qiang, “City of Flowers in the Sky”, Flor¬ence, 2018. -Dok. arrestedmotion.com.

Cai Guo-Qiang tidak mengurasi materi untuk karyanya karena materi tersebut semata memiliki efek performatif.

Namun terutama pandangan filosofis di balik materi berdasarkan budaya China dengan tradisinya yang panjang dalam menggunakan bubuk mesiu maupun kembang api.

Di antaranya sebagai penghubungan spiritual dengan alam leluhur dan terciptanya hubungan alternatif dengan jalinan-jalinan baru di masa depan.

Bahkan sama sekali tidak mengusung materi sebagai tujuan karya (hal yang juga bisa kita amati pada karya Muhammad Wail yang mengusung materi garam dalam perspektif kultur Madura dalam beberapa karyanya yang bisa dilihat di Youtube).

Karya Soemantri Gelar a.ka yang dalam keterangannya pada deskripsi Youtube juga disebut sebagai “Casual talk about the day” kemudian sebagai “Documentris agraris”, memang membuat banyak godaan untuk tubuh karya yang terlalu sublim dan puitis ini.

Sehingga karya ini berisiko anti pada dirinya sendiri, terkesan dibuat terhantui oleh gagalnya berkomunikasi.

Risiko yang justru menjadi dasar dari tema karya ini untuk mengintip ruang alienatif dari corona.

Dalam ruang ini kita menjadi lebih hati-hati memahami aura sebuah karya dalam membuat hubungan perspektif dengan diri kita dalam menikmatinya.

Atau bisa jadi inilah salah satu karya yang bekerja dalam wilayah “post-auratik” setelah korpus hubungan seni dan teknologi dari Walter Benjamin (lihat Berto Tukan: “Teater pada Panggung Digital“).

Aktivisme dalam karya ini tidak lagi bekerja pada tujuannya (sebagaimana pada era Orde Baru untuk membuat kehidupan sosial-politik yang lebih baik), melainkan bekerja dalam sebagaimana pengertian dasar pada kata aktivisme itu sendiri di tengah kemajemukan medium masakini.*

*Afrizal Malna adalah Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Selain dikenal sebagai pengamat dan penulis teater, Afrizal juga adalah salah satu penyair yang karya-karyanya populer di jagad sastra Indonesia. Selama masa isolasi Corona, ia telah menghasilkan lebih dari 10 seri karya video pendek bertajuk #TeaterMasker dan 5 artikel bertajuk #TeaterKarantina. Artikel-artikel lainnya dapat dibaca di website ini, sementara seri video pendek dapat ditonton di akun Youtube-nya: Afrizal Malna.

Baca Juga

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...