“Dalupa”, Teater Tradisi dari Pantai Barat Aceh

Portal Teater – Saya memulai perjalanan ke Aceh dari ingatan kuat tentang bencana besar 2004, ihwal konflik dan Islam. Keseniannya, menjadi ingatan yang samar. Tapi yang samar bukan berarti tiada.

Saman, Seudati, PM Toh, Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-raja Pasai, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Rencong, dan sederet ingatan yang lain tentu telah lama mengendap. Aceh dengan 4.5 juta penduduk ini adalah daerah istimewa dengan kewenangan khusus, maka pasti juga menjadi istimewa dan khusus dalam ingatan, berikut sejarah dan kunikan-keunikannya.

Tetapi nama “Dalupa”, hampir tiada dalam referensi pengetahuan saya yang terbatas ini. Kenapa “Dalupa” tidak setenar kesenian yang lain. Apakah hanya saya, yang bukan orang Aceh yang tidak tahu ada kesenian bernama “Dalupa”.

Rupanya tidak. Ketika saya bertanya pada beberapa orang di Banda Aceh, pun Meulaboh, nama “Dalupa” juga samar. Bahkan ketika saya bertanya kepada satu-dua masyarakat yang tinggal di Woyla, daerah yang “diduga” menjadi tempat persebaran “Dalupa”, mereka terlihat ragu untuk menjawabnya.

Hemat saya, ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi. Pertama, bentuk seni pertunjukan “Dalupa” dibanding kesenian yang lain, tidak menunjukkan secara jelas identitas lokal Aceh, kecuali aspek bahasa dan unsur musik. Sehingga “Dalupa” tidak selalu menjadi pilihan untuk ditampikan dalam berbagai event budaya di dalam maupun di luar Aceh.

Kedua, untuk itu “Dalupa” lebih sering ditampikan dalam karnaval atau pawai budaya karena kostumnya memang menarik perhatian masyarakat. Ketiga, oleh sebab itu, masyarakat lebih akrab pada ingatan visual dibanding mengingat Dalupa sebagai sebuah kisah/narasi.

Keempat, sebab lain, tentu bahwa kesenian serupa ini, selalu kalah ketika berhadapan dengan gempuran budaya yang lain.

Jalan Cerita

Berikut ini adalah alur cerita pertunjukan “Dalupa” versi Sanggar Seni Datok Rimba (selanjutnya akan disingkat SSDR), yang saya olah kembali dari hasil pengamatan dan sinopsis yang ditulis oleh Pak Hanafiyah (sutradara).

Daripada lon gadeh keubeu pusaka, Leubeh get lon gadeh awak drokeuh!” (Daripada saya kehilangan kerbau pusaka, lebih baik saya kehilangan kalian!)

Inilah kalimat sumpah, yang menjadi muasal sebab segala kisah tragedi ini dimulai. Keluar dari mulut seorang lelaki setengah tua bernama Toek Mancang, seorang ayah yang murka kepada kedua anaknya karena telah lalai menjaga kerbau pusaka warisan keluarga. Dua ekor kerbau hilang di pinggir hutan, ketika kedua anak lelakinya sibuk bermain.

Toek Mancang yang telah lama ditinggal istrinya itu kalap, emosinya memuncak. Ia lupa bahwa sumpah seorang ayah bisa menjadi kutuk bagi anak mereka. Kedua anaknya, Si Cuka dan Si Cukeng, diusir dari rumah.

Namun, selang beberapa hari saja, hati seorang ayah luruh. Kesepian dan kerinduan datang. Dua anaknya telah terusir ke hutan, dan tak pulang-pulang. Penyesalan datang tak beri ampun. Dadanya bergemuruh mengingat dua anaknya yang masih belia, entah di mana tersesat di rimba raya.

Toek Mancang seperti orang gila, mencari anaknya, berhari-hari. Tapi apa hendak dikata, hutan lebat membentang, tak mengabarkan di mana dua beradik Cuka-Cukeng berada. Ia menangis. Menepuk-nepuk dadanya yang sesak oleh rasa sesal.

Sementara itu, kisah bergulir pada nasib kedua beradik di ceruk rimba. Si Cuka dan Si Cukeng, oleh sebab ketakutan dan rasa berdosa pada orang tua, mereka berlari dan berlari. Pergi jauh, sejauh-jauhnya dari rumah. Namun di hutan belantara, tak ada jalan lurus-lempang. Mereka tersesat, berbelok-kelok ke arah entah, membuat keduanya terpisah. Terpisah jauh, bertahun-tahun.

Sampai suatu hari, 25 tahun kemudian. Ketika dua petani, Si Gimbak dan Si Bugeh, sedang mencari rotan di hutan, mereka dikejutkan dengan suara-suara aneh. Suara yang tidak biasanya mereka dengar, tidak serupa dengan suara-suara binatang hutan. Makin lama suara itu semakin jelas terdengar, seperti suara auman binatang yang besar.

Dua petani ini ketakutan, dan lari tunggang-langgang. Si Gimbak lari ke kanan, si Bugeh lari ke kiri. Tetapi, telah jauh mereka lari, suara itu malah terus mengejar mereka. Dan semakin dekat, lalu menyergap. Sesosok makhluk besar dengan tubuh penuh bulu hitam yang lebat menyeringai dengan wajah mengerikan, membuat tubuh dua petani menggigil.

Mereka pun pingsan. Dua sosok makhluk hitam ini, merasa senang karena telah berhasil menangkap kedua petani ini. Namun, rasa senang itu hanya sebentar, karena setelahnya dua sosok hitam ini saling pandang. Saling heran, kenapa ada sosok yang persis sama dengan
diri mereka di hutan ini.

Lama mereka saling pandang. Hingga keduanya saling marah karena merasa tersaingi. Saling meraung, karena tak ada kata-kata yang bisa mereka ucapkan selain raungan yang mengerikan. Makin lama, keduanya bertambah emosi, yang kemudian berujung perkelahian.

Saat itulah, sesosok lain tiba-tiba muncul entah dari mana. Sosok lelaki berjubah putih, yang memegang tasbih. Mulutnya berkomat-kamit, merapal ayat-ayat suci. Dialah Datoek Rimba. Penyebar ajaran agama Islam, berlayar dari Gujarat Hindia Belakang dan singgah ke Aceh Barat.

Mendengar ayat-ayat suci itu, kedua sosok hitam makin keras meraung dan mengaum. Mereka marah dan menyerang Datoek Rimba. Tapi tidak sedikitpun tubuh Datoek Rimba dapat disentuh, apalagi dilukai, oleh kedua makhluk besar itu. Keduanya terpental jatuh, berkali-kali. Dan akhirnya menyerah.

Datoek Rimba kemudian memenangkan dua makhluk itu. Meminta kedua makhluk itu untuk menyembuhkan dua petani yang pingsan. Setelah itu, Datoek Rimba berpetuah, memberi nasihat-nasihat kebaikan.

Setelah mengetahui bahwa kedua makhluk ini ada hubungan darah, maka Datoek Rimba kemudian memberi nama makhluk hitam itu dengan “DALUPA”. Kata “Da” berarti “kakak”, dan “Lupa” berarti “tidak ingat”. Jadi “Dalupa” itu artinya “Adik lupa Kakak, dan Kakak lupa Adik”.

Setelah itu mereka bersama-sama turun ke gampong (kampung), menemui Datoek Mancang dan masyarakat setempat. Datoek Mancang gembira sekali anaknya ditemukan meskipun telah berubah wajah dan tubuhnya. Untuk merayakan itu, mereka membuat sebuah pesta, dengan menghadirkan berbagai kesenian, seperti seudati, rapai, top daboh, tarian aksi, dll.

Datoek Rimba akhirnya berdomisili di kampung itu, dan berhasil mengajak semua masyarakat masuk Islam, dan membuang semua kebiasan buruk mereka seperti mabuk-mabukan dan sabung ayam.

Asal Mula, Persebaran, Varian

“…Pada malam bulan purnama, anak lekaki remaja kadang-kadang menyaru untuk menakuti teman-temannya. Membuat mukanya tak dapat dikenali dan tubuhnya dibalut pakaian aneh, disebut dalupa…” (lih. HT Ahmad Dadek SH, dkk, 2015:454).

Kalimat di atas adalah kutipan dari tulisan Snouck Hurgronje (1857-1936), seorang ilmuan Belanda yang pernah lama tinggal di Aceh, yang terdapat di dalam buku “Asal Usul Aceh Barat” yang ditulis oleh HT Ahmad Dadek SH, dkk. (2015).

Setidaknya ada dua aspek yang dapat diurai dari kalimat tersebut. Pertama, dengan dikutipnya pernyataan tersebut, Dadek seolah hendak menegaskan bahwa asal mula seni Dalupa adalah dari Aceh Barat. Meskipun muncul pendapat bahwa Dalupa berasal dari Aceh Jaya, namun informasi yang saya dapatkan dari sejumlah sumber di lapangan, grup teater Dalupa memang banyak terdapat di Aceh Barat.

Hemat saya, kedua pandangan ini masih relevan karena kedua daerah (Aceh Barat dan Aceh Jaya) masih berada pada satu wilayah Pantai Barat Aceh. Sehingga sangat wajar persebaran terjadi pada dua daerah yang berdekatan ini. Yang masih perlu penelusuran lebih jauh adalah ketika saya juga mendapatkan informasi bahwa sosok mirip “Dalup”a (dengan kostum dan topeng) ada juga di daerah luar Aceh, seperti Lampung.

Kedua, pernyataan Snouck tersebut juga mengemukakan satu informasi lain tentang asal mula munculnya istilah “Dalupa”—yang nanti akan menjelaskan pula bahwa “Dalupa” memiliki beberapa varian.

Sosok “Dalupa” dalam pernyataan Snouck, muasalnya dari keinginan seorang anak laki-laki yang menakut-nakuti teman bermainnya. Hal ini berkorelasi pula dengan informasi lain yang saya dapatkan bah- wa kata “Dalupa” itu sendiri berarti “menyamar” atau “samaran.” Menyamar dengan memakai kostum dan topeng.

Varian “Dalupa” yang ada di Aceh Jaya, narasinya jauh berbeda dengan “Dalupa” dari grup SSDR. Di dalam buku “Asal Usul Aceh Barat” diceritakan bahwa “Dalupa” itu sesosok makhluk tapi bukan manusia. Kisahnya bermula dari perjalanan seorang Teungku Sabé, yang tinggal di Panggong.

Suatu malam ketika ia berjalan melintasi sebatang pohon kayu besar, tiba-tiba ia mendengar suara yang memberikan salam. Teungku Sabé menjawab salam tersebut, tetapi ia tidak melihat siapapun ada di situ. Tak lama ia mendengar suara lagi, “Saya ada di samping Anda. Jika Anda mau melihat saya, tolong ambilkan kupiah kakek saya di pohon besar itu dan pakailah.”

Teungku Sabé menuruti suara tersebut dan mendekati pohon yang ditunjuk. Teungku Sabé melihat ada bundelan berbentuk peci yang dirajut dari lidi ijuk atau ‘pureh jok’. Ia lalu memakai peci tersebut, lantas melihat ke arah asal suara tadi.

Ketika itulah, Teungku Sabé melihat sesosok makhluk tinggi besar. Sosok itu kemudian mengaku ingin menjadi pengawal Teungku Sabé. Dan dari sinilah kemudian para seniman di Aceh Jaya meyakini asa muasal “Dalupa” itu yang dimainkan dengan diiringi rapai debuh (debus dengan iringan rapai).

Sementara itu, di Aceh Barat, termasuk grup SSDR yang berada di Suak Trieng Woyla, kisahnya seperti yang tergambar dalam alur cerita di awal tulisan ini. Namun, variasi kisah yang lain muncul.

Misalnya tokoh Datok Rimba dalam grup SSDR, dalam versi yang lain bernama Sidar Singh, sebelum ia diberi gelar oleh masyarakat sebagai Datok Rimba, seorang dari suku India yang berlayar ke Aceh Barat.

Ketika ia masuk hutan Woyla ia bertemu dengan dua sosok makhluk menyerupai manusia tetapi seluruh tubuhnya telah ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lebat. Sosok itu kemudian disebut “Si Dalupa.” Maknanya kira-kira ‘si kakak lupa adik’ dan ‘si adik lupa kakak’. Hal ini diambil dari kata “Da” dalam bahasa Aceh yang artinya ‘kakak’. Artinya, variasi cerita maupun arti kata “Dalupa” di Aceh Barat tidak terlalu jauh berbeda.

Ada satu versi lain yang saya dapatkan informasinya dari seorang jurnalis bernama Mellyan Cut Keumala Nyakman, yang tinggal di Meulaboh. Ia pernah melakukan liputan di salah satu grup “Dalupa” di daerah Keude Layung, Kecamatan Bubon, Aceh Barat. Ia bertemu langsung dengan sutradara dan pimpinan kelompok Sanggar Buraq Lam Tapa, bernama Syekh Din (kelahiran 1931).

Nama kelompok ini juga adalah nama pangung dari Syekh Din. Kisah “Dalupa” versi Syekh Din, berbeda dengan kisah Dalupa versi SSDR. Syekh Din mendengar cerita ini dari Pang Kaom pada tahun 1662, dan nama pertunjukan ini adalah “Si Dalupa.”

Sambil bersyair, Syekh Din mengisahkan bahwa ada dua orang India kakak beradik bernama Sidal dan Upa. Mereka terusir dari kampung halamannya karena suatu kesalahan yang membuat sang Raja murka. Keduanya kemudian pergi dengan sebuah perahu buntung mengarungi Samudera Hindia.

Setelah terombang ambing di tengah laut, perahunya terhempas karena angin kencang dan puting beliung. Mereka terdampar di pesisir barat Aceh, di pantai Kuala Bubon. Sidalupa berjalan sampai ke Cot Amun (sekarang masuk Kecamatan Samatiga). Ketika melanjutkan perjalanan ke Cot Kuyun mereka dihalang oleh buaya.

Mereka pun mengayuh perahu sampai ke sungai Layung. Sungai yang memiliki dua muara itu berakhir dalam hutan rimba (sekarang terletak di Desa Liceh, Kecamatan Bubon). Di situ terdapat sebuah gunung bernama Glee Tarom Pucok Sikumbang.

Awak nyan deuk alahai hana dipajoh sapue (mereka kelaparan, tidak makan apa-apa),” begitu ucap Syekh Din.

Si Dalupa tinggal dalam sebuah gua berpuluh tahun hingga tubuhnya ditumbuhi bulu yang sangat lebat.

Bertahun kemudian, orang-orang kampung mendengar berita ada mahkluk dalam gua, yang suaranya seperti orang mendengkur. Karena penasaran, orang kampung beramai-ramai menuju gua di Pucok Sikumbang. Mereka melihat banyak rotan yang tumbuh di sekitar gua. Begitu rotan-rotan itu ditarik terdengarlah suara seperti suara orang mendengkur yang sangat keras.

Orang-orang pun melihat sesosok makhluk hitam, dan berupaya mengajaknya bicara, memintanya keluar dari gua. Karena gagal, ada yang usul untuk memancing Sidalupa dengan cermin. Cermin diletakkan dekat dengan wajah Sidalupa. Karena kaget dan penasaran, Sidalupa mengikuti arah cermin itu sampai ia keluar dari gua.

Namun tidak lama, dan hanya sampai pinggir desa, keduanya kembali berlari ke dalam Gua Liceh. Tidak lama kemudian, terdengar kabar Sidalupa mati akibat kelaparan. Setelah Sidalupa mati, bertahun tahun kemudian, warga sekitar mengisahkannya kembali dalam sebuah pertunjukan kesenian yang bertajuk “Sidalupa”.

Bentuk dan Struktur Pertunjukan

Dapat dipastikan bahwa pertunjukan “Dalupa” yang dimainkan oleh grup Sanggar Seni Datuk Rimba dari Gampong Suak Trieng, Woyla, ini adalah sebuah bentuk pertunjukan teater.

Unsur-unsurnya terlihat jelas pada kisah dramatik yang dimainkan, para pemeran dengan tokoh-tokoh karakter tertentu, pola dramaturgi dari adegan per adegan, dialog-dialog yang dituturkan, peran sutradara yang sekaligus pemimpin grup cukup menonjol, dan unsur musik berfungsi sebagai ilustrasi pendukung.

Hal ini penting ditegaskan, karena ada informasi lain yang menyebutkan bahwa pertunjukan “Dalupa” pada mulanya tampil lebih pada bentuk pertunjukan tari dan musik mulai popular pada tahun 1980 (baca juga Herman HN, dalam Buletin Teuho, Mei 2016).

Lalu di tahun 1988, pada event Pekan Kebudaayaan Aceh (PKA) baru muncul unsur-unsur teater di dalamnya, seperti kisah-kisah dramatiknya.

Informasi tersebut boleh jadi benar, jika gejalanya dilihat dari sosok tokoh “Dalupa” yang berkostum karakter berbulu hitam lebat dan dengan topeng yang menyeramkan itu. Sehingga sosok Dalupa menjadi yang paling menonjol dalam pertunjukan ini, dibanding yang lain. Bahkan kalaupun tokoh-tokoh pendukung yang lain ditiadakan, pertunjukan “Dalupa” masih tetap menarik perhatian penonton.

Buktinya, sosok “Dalupa” dengan kostum dan topeng yang sambil menari-nari, beberapa kali “dimainkan” juga dalam sebuah parade atau pawai budaya dalam sebuah event—yang tentu saja tanpa narasi.

Maka unsur drama (narasi), pada gilirannya, akan menjadi semacam “penguat” untuk membuat pertunjukan Dalupa menjadi lebih memiliki motivasi, gagasan, nilai ideologis (values), sekaligus pengembangan plot. Argumen ini dapat dikuatkan lagi dengan munculnya beberapa varian cerita lain, selain yang dimainkan oleh grup SSDR.

Misalnya pertunjukan “Dalupa” yang dimainkan oleh Sanggar Buraq Lam Tapa pimpinan Syekh Din, di kecamatan Bubon (bersebelahan dengan kecamatan Woyla), cerita yang mereka bawakan jauh berbeda.

Hal ini juga tampaknya yang membuat bentuk pertunjukan seni teater “Dalupa” yang dimainkan oleh grup SSDR memiliki struktur pertunjukan yang cukup longgar. Cerita “Dalupa” yang dikarang oleh Hanafiah (yang sekaligus bertindak sebagai sutradara) masih sangat mungkin dilakukan penambahan, bahkan pengurangan, bersifat kondisional tergantung tempat dan waktu.

Konvensi atau pakem cerita hanya pada alur cerita, itupun tidak terlampau ketat, karena masih mungkin tumbuh cabang dan ranting kisah. Hanafiah mengaku bahwa cerita dalam pertunjukan “Dalupa” adalah sebagaimana yang pernah ia saksikan sejak ia masih anak-anak.

Ketika ia membuat grup bersama Pak Husaini, untuk kebutuhan event tertentu, ia lalu menuliskan semacam jalan cerita yang memberikan panduan kepada para pemain. Maka penambahan, pun pengurangan terjadi pada narasi, adegan, dan pesan-pesan ke-Islaman yang kontekstual.

Struktur teks cerita yang longgar, tentu berakibat pula pada struktur pertunjukan yang longgar. Hal ini mendapat signifikansinya dengan pola permainan yang lebih banyak mengandalkan improvisasi dengan dialog-dialog berbahasa Aceh yang bersifat spontan.

Semua pemain pertunjukan “Dalupa” (terdiri dari 14 orang), adalah laki-laki. Ada seorang perempuan, yang bertugas menjadi narator (peran tambahan), tidak ikut turun main. Kalau ada peran perempuan dalam cerita, tetap akan dimainkan oleh pemain laki-laki yang memakai kostum perempuan.

Sebagaimana juga kebanyakan teater tradisional, para pemain “Dalupa” bukan para pemain profesional. Mereka semua adalah para petani sawit, petani karet, peladang, dan pedagang yang memanfaatkan waktu luang malam hari untuk “menghibur diri” dengan bermain “Dalupa”.

Meskipun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa mereka semua adalah pemain “amatir” sehingga tidak total ketika mereka naik panggung. Beberapa pemain terlihat memiliki jam terbang cukup tinggi dengan improvisasi dan spontanitas yang baik, seperti Abdul Salam dan Darisman yang masing-masing memerankan dua peran sekaligus (sebagai anak-anak dan petani).

Dua tokoh ini, menurut saya, justru yang bisa menghidupkan suasana, membangun dan mengambangkan plot cerita. Karena dua sosok “Dalupa” sendiri, yang menjadi tokoh utama, justru tidak mengucapkan dialog apapun kecuali hanya suara auman mirip suara binatang besar yang buas.

Konvensi yang longgar juga pada tempat dan waktu pertunjukan. Tidak seperti seni ritual, pertunjukan “Dalupa” dapat dipentaskan kapanpun dan bisa di mana saja. Tidak membutuhkan waktu dan tempat khusus. Meskipun lebih sering pada acara-acara perkawinan, “Dalupa” juga tampil dalam berbagai perayaan tradisi, festival seni-budaya, bahkan di panggung hiburan rakyat.

Bisa siang hari, dan bisa pula malam hari. Bisa dipentaskan di ruang terbuka seperti di lapangan gampong, halaman rumah, kebun, atau bahkan di dalam semak belukar.

Jika melihat kecenderungannya, maka “Dalupa” juga bisa ditampilkan di ruang tertutup, di gedung pertunjukan misalnya. Walaupun demikian, para pemain menyebut mereka lebih bersemangat kalau pertunjukan dapat digelar di malam hari dan di ruang terbuka. Selain merasa bisa lebih total bermain, suasana mistis ketika sosok “Dalupa” keluar dari semak-semak persembunyiannya juga dapat lebih terasa.

Kostum, khususnya yang dikenakan oleh dua sosok “Dalupa” menjadi faktor penentu menari- knya pertunjukan ini. Meskipun hanya terbuat dari lidi ijuk, dan topeng yang terbuat dari kayu rubek, efek bentuk dan visualnya dapat membangkitkan rasa ketertarikan penonton. Apalagi sengaja dipilih pemain yang berbadan cukup besar untuk memerankan Dalupa dan memakai kostum ini, maka akan semakin kuat kesan mistis yang ditimbulkan.

Sementara kostum yang terbuat dari kulit kayu tarok yang dibuat sendiri oleh para pemain, yang dikenakan oleh pemain-pemain lain, juga sangat mendukung pertunjukan. Hanya saja, kostum sejenis ini, juga kerap digunakan oleh masyarakat suku pedalaman di sejumlah daerah di Indonesia. Tidak ada tata rias khusus bagi para pemain, selain topeng yang dikenakan oleh dua tokoh “Dalupa”.

Unsur yang tak kalah penting dalam pertunjukan Dalupa adalah musik. Meskipun fungsi musik di sini hanya sebagai pengantar adegan dan kadang ilustratif, namun nada dan irama yang terdengar sangat kuat menunjukkan kekhasan identitas Aceh.

Setidaknya ada dua jenis instrumen musik yang digunakan, perkusi dan tiup yang khas Aceh yakni rapai dan seurunei. Rapai dimainkan oleh 2 sampai 3 orang, dengan ukuran rapai yang berbeda. Sesekali syair juga dilantunkan bersama iringan musik oleh Husaini, salah seorang tokoh masyarakat yang juga pendiri grup ini.

Namun tidak seperti seni pertunjukan tradisional lain yang biasanya selalu menyertakan unsur tarian di dalamnya, “Dalupa” dari grup SSDR ini hanya menampilkan gerakan-gerakan sederhana. Unsur gerak lebih banyak spontan, yang berfungsi semata untuk membantu memperkuat karakter peran.

Hiburan, Sarana Integratif, Representasi Estetis, dan Mistis?

Hari kedua saya di desa Suak Trieng, Woyla, adalah hari sesi latihan dimulai—hari pertama habis untuk perjalanan. Karena latihan dilakukan pada malam hari, siangnya saya ingin melihat bagaimana proses membuat kostum untuk pemain dalupa, yang terbuat dari kulit kayu tarok.

Saya diajak oleh Husaini, salah seorang pendiri grup SSDR sekaligus tokoh masyarakat yang telah dua priode menjabat sebagai Keuchik (Kepala Desa) Suak Trieung, ke sebuah rumah panggung di atas bukit yang mulai banyak ditanami pohon sawit.

Sesampainya di rumah sangat sederhana terbuat dari papan itu, saya mendengar suara keras orang-orang berkaroke, bernyanyi dangdut dari dalam rumah menggunakan speaker kecil. Agaknya, berkaroke dalam hutan sunyi ini, adalah sebuah kemewahan.

Begitu saya dan Husaini sampai di depan pintu, dan menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam rumah, mereka berhenti bernyanyi. Terlihat beberapa lelaki yang tak berbaju, dengan kulit gelap, wajah khas Aceh, dan asap rokok yang memenuhi ruangan kecil itu.

Mereka menyambut kami dengan bahagia, bersalaman dan berbicara dengan bahasa Aceh yang tidak saya pahami. Beberapa ada yang bergegas memakai baju, beberapa yang lain ke dapur dan ke kamar. Tak lama, beberapa orang itu keluar membawa beberapa alat musik rapai.

Ada yang berukuran besar, sedang, dan ada yang berbentuk bulat-pipih. Husaini mulai memukul-mukul rapai, diikuti yang lain. Ikram, mulai menyiapkan serunai dan meniupnya.nMereka mulai menunjukkan bentuk musik yang nanti mengiringi pertunjukan “Dalupa”. Ada yang bersolawat, sesekali bersyair, sesekali tertawa lepas, berkelakar, merokok linting, dan tentu saja ngopi.

Malam datang, dan latihan akan digelar di halaman depan rumah pak Husaini. Satu persatu para pemain datang. Makin malam makin ramai. Saya agak heran, apakah mereka yang datang ini semuanya pemain. Rupanya bukan. Pemain hanya 15 orang, sisanya adalah masyarakat setempat yang datang hendak menonton.

Husaini bilang, sebelum saya datang, mereka telah beberapa kali berlatih, dan setiap kali latihan penontonnya selalu ramai. Demikian- lah, fungsi teater “Dalupa” tidak semata sebagai sarana hiburan bagi pelakunya, tetapi juga bagi masyarakat pendukungnya.

Lalu apakah sebatas sebagai hiburan?

Fungsi lain yang saya amati selama berada di Woyla dan mendampingi proses latihan “Dalupa” adalah sebagai sarana integratif bagi sesama anggota masyarakat. Berkumpul ketika proses latihan, tidak semata dalam rangka memperlancar dan mematangkan pertunjukan, akan tetapi terlebih dari itu adalah juga sebagai sebuah pertemuan sosial.

Saya mellihat, antar pemain telah terjadi hubungan persaudaraan/ emosional yang demikian kuat, meskipun memang sebagian besar pemain berasal dari keluarga besar Hanafiah dan Husaini.

Andai pertemuan proses latihan atau pertunjukan Dalupa ini tidak ada, intensitas pertemuan tentu tidak sebanyak ini. Ditambah pertemuan pemain dengan penonton, dan pertemuan antar sesama penonton. Mulai dari anak-anak, orang tua, muda, semua menyatu dalam ruang ekosistem pertunjukan, ekosistem sosial, ekosistem lokal-tradisional.

Nilai-nilai komunitas masyarakat seolah menyatu dalam ruang kepercayaan yang sama, dan dengan demikian sebuah pertunjukan telah menjadi titik magnetnya. Dalupa telah menjadi ruang sosial yang produktif.

Apakah juga pertunjukan Dalupa berfungsi sebagai representasi estetis? Tentu saja, karena betapapun ia dimainkan oleh para pemain yang bukan profesional, Dalupa adalah sebuah pertunjukan seni. Nilai estetika dipresentasikan oleh para pemain melalui bahasa, verbal dan non-verbal.

Dialog berbahasa Aceh, alat musik khas Aceh, irama dan syair khas Aceh, sejarah kultur Aceh, dan seterusnya, adalah medium representasi estetis itu. Ada mitos-mitos di situ, peralatan tradisional, kepercayaan dan pandangan hidup dalam cerita yang dikisahkan, segalanya berada dalam jejaring ruang sirkular estetika.

“Apakah dalam pertunjukan Dalupa ada ritual-ritual tertentu?” Pertanyaan ini saya ajukan sejak di awal pertemuan saya dengan Hanafiah di Jakarta, sebelum turun riset lapangan. Dan jawabannya, tidak ada. Tidak ada ritual, mantra, atau prosesi tertentu.

Saya hampir tidak percaya, karena setahu saya pertunjukan tradisional semacam ini selalu menggunakan ritual tertentu, yang selalu mistis. Apalagi terdapat sosok Dalupa dengan kostum yang mengerikan itu.

Saya lalu bertanya kepada Husaini, dan jawabannya sama. Hanya saya, kata Husaini, mantra biasanya ada saat pertunjukan dabuh (debus)—biasanya dipertunjukan di akhir kisah pertunjukan Dalupa. Begitu pula yang ditegaskan oleh Syekh Din, pendiri sanggar Buraq Lan Tapa, bahwa tidak ada mistik dalam pementasan Sidalupa, melainkan hanya hiburan, dan dakwah dibalut dengan zikir.

Pada saat hari terakhir saya di Aceh, saya bertemu seseorang di Banda Aceh yang juga pernah menyaksikan pertunjukan Dalupa. Dia mengatakan Dalupa yang ia saksikan itu menggunakan ritual, mengucapkan mantra-mantra saat pertunjukan akan dimulai, bahkan meng- gunakan sejumlah peralatan seperti kemenyan.

Apakah saya percaya? Tidak juga. Karena seseorang ini sumber skunder, dan agak diragu- kan kebenarannya sebelum saya menemukan data pendukung lain.

Akan tetapi, memang selalu ada yang misteri, selalu ada yang tersembunyi dari yang tampak. Apalagi Dalupa masih terkait dengan makhluk aneh, dengan kostum aneh, tinggal di hutan, bukit, gunung, melewati laut, gua, dan pohon-pohon, sungai, dan seterusnya, maka mantra “alam” sebagai dunia spiritual selalu ada di sana, unsur mistis selalu menyertainya.

Seni, Politik, Islam

Saya sampai di rumah Hanafiah di desa Suak Trieng, malam hari. Dari kota Meulaboh, jaraknya sekitar 1 jam. Melewati desa-desa kecil, dan beberapa kecamatan, juga hutan lebat.

Saya diantar menggunakan mobil oleh dua orang kenalan; Pak Muhajir, seorang kawan lama yang menjadi dosen dari STAIN Meulaboh, dan Pak Taufik, pegawai TU di STAIN Meulaboh yang kebetulan masih ada hubungan saudara dengan Pak Hanafiah dan rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari sana.

Dalam mobil, selama perjalanan, mereka banyak bercerita tentang karakter masyarakat Aceh Barat, khususnya Meulaboh. Intinya, pesan penting dari mereka adalah, ini kota Kabupaten tidak sama dengan Banda Aceh, kota provinsi yang lebih plural. Harus agak hati-hati bergaul. Apalagi di kecamatan, di desa-desa yang agak jauh ke pelosok seperti Woyla, orang asing masih harus selalu “didampingi”. Saya hanya berdoa, semoga semua baik-baik saja.

Sesampainya di rumah Hanafiah, kami disambut oleh beberapa orang anggota keluarga Pak Hanafiah, salah satunya Pak Husaini. Perbincangan yang hangat terjadi.

Salah satu yang agak menyentak saya adalah soal politik, yang berdampak pada aktivitas seni. Husaini, yang paling mendominasi cerita-cerita seputar ini, karena kebetulan ia pernah menjadi Keuchik (Kepala Desa) selama hampir dua priode di desa Suak Trieng. Apa boleh buat, perubahan kepemimpinan politik di tingkat kabupaten juga berimbas pada sejumlah pergeseran kepemimpinan desa.

Tentu, ini soal siapa pilih siapa dan keberpihakan politik. Namun, sayangnya kemudian juga berdampak pada terganggunya soliditas grup Dalupa SSDR. Sebagain anggota mengundurkan diri, dan tidak mau mengikuti proses latihan.

Saya cukup gamang mendengarnya, karena grup ini nanti akan menjadi salah satu grup yang tampil pada Pekan Teater Nasional 2019 di Kalimantan Timur. Kalau kelompok yang telah
ditunjuk ini tidak solid, anggotanya pecah, tentu tugas saya sebagai periset juga terganggu.

Akan tetapi, Husaini dapat membaca kegamangan saya. Dia dengan cepat menimpali, bahwa soal anggota yang terpecah ini, sudah dapat diantisipasi. Beberapa pemain telah siap digantikan oleh pemain baru yang diambil dari masyarakat sekitar. Pemain musik, terutama pemain Seurunei, akan digantikan oleh Ikram (kebetulan menantu pak Hanafiah) yang didatangkan dari Lhoukseumawe.

Di desa ini, daerah yang kemudian saya ketahui menjadi salah satu wilayah konflik di masa lalu, dengan kisah-kisah tragis yang sempat saya dengar, politik dan seni seperti berkelindan dalam kehidupan masyarakat.

Meskipun tak sepenuhnya terkait langsung, namun tetap berdampak bagi kehidupan kesenian. Setidaknya selama masa konflik Aceh dulu, sekitar tahun 1970-an sampai 1980-an, pertunjukan “Dalupa” tak bisa tampil karena alasan keamanan. Dan kalaupun tampil, menurut Pak Husaini, harus dikawal oleh aparat.

Hal ini juga yang dirasakan oleh kelompok “Dalupa” lain, Sanggar Buraq Lan Tapa. “Konflik sempat mematikan seluruh sendi kehidupan orang Aceh, termasuk seni,” ujar Syekh Din (dalam catatan Melliyan).

Kalau dilihat dari kisah-kisahnya yang dimainkan, pertunjukan “Dalupa” tidak mengandung unsur propraganda politik, kecuali terselip pesan-pesan ideologi ke-Islaman. Dari sejumlah versi cerita yang dipaparkan sebelumnya, semua mengandung pesan dakwah Islam.

Mulai versi yang dimainkan oleh grup SSDR, kemudian Dalupa di Aceh Jaya yang kisahnya bermula dari perjalanan seorang Teungku Sabé yang tinggal di Panggong, sampai pada kelompok Sanggar Buraq Lam Tapa pimpinan Syekh Din di Bubon, semuanya masih berhubungan dengan Islam.

Pertunjukan “Dalupa” selain ditampilkan pada acara pernikahan, juga kerap tampil dalam perayaan hari besar Islam, Maulid Nabi, Sunat Rasul, Kenduri-kenduri, dan sebagainya.

Dibanding dengan unsur politik, unsur-unsur agama (Islam) lebih menonjol dalam pertunjukan Dalupa. Terlepas dari bagaimana cara pesan-pesan tersebut disampaikan dalam sejumlah versi cerita, bahwa ideologi ke-Isla-man telah menjadi kekuatan sekaligus identitas.

Sanggar Seni Datok Rimba

Kelompok ini didirikan oleh Hanafiyah dan Hu-saini pada tahun 1985, dan baru memiliki akta notaris pada tahun 2015. Sebelum berdiri, keduanya telah sempat bermain “Dalupa” dalam sejumlah perayaan tradisi dan pesta perkawinan.

Sejak kecil mereka telah menyaksikan pertunjukan “Dalupa”. Kelompok ini mulai aktif menggelar pertunjunkan “Dalupa” tahun 1988 dalam acara Pekan Kebudayaan Aceh.

Berbeda dengan beberapa kelompok “Dalupa” di Aceh Barat, cerita yang dimainkan oleh kelompok ini dikembangkan berdasarkan sejarah dan perkembangan Islam di Woyla.

Para pemain kelompok ini berasal dari keluarga besar para pendirinya, ditambah dengan sejumlah pemain yang tinggal di sekitar Suak Trieng, salah satu Gampong (kampong) di kecamatan Woyla, Aceh Barat, Provinsi Aceh.

Pada Pekan Teater Nasional (PTN) 2019, kelompok ini mementaskan “Dalupa” pada Minggu (22/9). Berikut susunan sutradara dan pemain “Dalupa” dari Sanggar Seni Datok Rimba.

SUTRADARA: Hanafiah

PEMAIN:

  • Husaini (pemain Rapai)
  • Sudirman (pemain Rapai)
  • Ikram (pemain Serunei)
  • Sofyan (sebagai Datoek Mancang)
  • Farzi (sebagai Dalupa 1)
  • Mustafa Ali (sebagai Dalupa 2)
  • Dedi Kausar (sebagai Datoek Rimba)
  • Abdul Salam (sebagai Penggembala dan Petani)
  • Darisman (sebagai Penggembala dan Petani)
  • Yunus (Penyabung ayam 1)
  • Durafar (penyabung ayam 2)
  • Idris (pemabuk)
  • Hatta (pemabuk)
  • Izaturrahmah (Narator)

*Penulis adalah salah satu periset teater pada Pekan Teater Nasional 2019. Naskah ini diambil dari Katalog PTN 2019.

Baca Juga

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Terkini

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...