“Darling”, Potret Miring Musik Dangdut di Ibukota

Portal Teater – NARADA, sebuah kelompok teater mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta mementaskan drama musikal berjudul “Darling” di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki pada 19-20 Juni 2019. Drama ini menceritakan tentang potret kehidupan kelompok musik dangdut yang mencari panggung di ibukota untuk menapaki tangga kesuksesan.

Digawangi oleh sutradara sekaligus penulis naskah Stephanus Ciprut, drama musikal ini lebih jauh mengisahkan tentang perjuangan manusia untuk menakhlukan tantangan dan kesulitan hidup di pusat ibukota. Begitu pula dengan “Darling”, sebuah kelompok dangdut keliling, yang ingin mempertaruhkan hidupnya demi sebuah kesuksesan hidup di Jakarta.

Tidak semudah yang dibayangkan kebanyakan orang, kelompok ini sering mengalami konflik dan perpecahan internal. Belum lagi, pandangan masyarakat sekitar yang melihat penyanyi dangdut sebagai golongan kelas bawah yang membuat mereka semakin tersudut di pingiran kegemerlapan ibukota.

Menjadi pertanyaan sehari-hari bagi Oim (Cliff Tedyanto), Ojay (Franklin Eric Kemur), Minah (Kirana Mahardhika), Aning (Sasya Sava Bustomi), Pepi (Martinus Satrio A.W.), Kusno (Dyllan Eljulio S.), Ical (Mohammad Hafizh I.), mampukah mereka melewatinya dan adalah pertanda kesuksesan itu akan datang pada saatnya.

Soal “Darling”, Butuh Kerja Keras

Sebagai sutradara, Stephanus merasakan bahwa tidak mudah meramu kembali musik dangdut ke dalam pertunjukan teater musikal untuk generasi saat ini, termasuk kepada para mahasiswa psikologi Atma Jaya.

Apalagi untuk memulai kembali mengenalkan musik dangdut kepada pemain hingga sampai pada titik menikmati dan pada akhirnya jatuh cinta pada genre musik khas masyarakat Jawa tersebut.

Salah satu adegan dalam drama musikal “Darling”. Foto: Teater Narada.

Dalam proses penggarapan “Darling”, Stephanus mengalami kesulitan untuk mengadaptasikan karakter khas musik dangdut dengan genre-genre musik yang sudah menjadi kesukaan para mahasiswa. Namun, segala tantangan itu justru memicunya untuk lebih tekun dan sabar memasuki dunia para aktor.

“Dengan segala macam keterbatasan proses, akhirnya ramuan drama musikal “Darling” siap untuk menggoyang Teater Kecil Taman Ismail Marzuki,” katanya.

Hal yang sama disampaikan Birgitta Tanujaya, selaku Ketua Acara pertunjukan. Birgitta bercerita suka dukanya bekerja sama teman-teman pameran, pemusik, penari, backing vocal, dan anggota komite selama sepuluh bulan.

Namun dengan keterlibatannya, Birgitta justru memiliki pelajaran dan pengalaman baru yang tidak dapat diukur dengan perhitungan matematis biasa dalam pengembangan menjadi diri yang lebih baiik ke depan.

“Mulai dari pencarian gedung, pencarian pengisi acara, sampai akhirnya kita bersama-sama sudah sampai di titik ini; tinggal memetik hasil dari apa yang sudah diperjuangkan selama ini,” ungkapnya.

Narada sebagai Wadah Ekspresi Seni

Christ Billy Aryanto, dosen pendamping Narada, mengatakan bahwa Teater Narada hadir dan menjadi wadah bagi mahasiswa-mahasiswa mengekspresikan dirinya.

Melalui wadah ini, kata Christ, para mahasiswa dapat menyeimbangkan kapasitas akademik dan non-akademik mereka dalam merenungkan pelbagai hal yang terlewatkan akibat kesibukan harian mereka.

“Seni dapat digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan apa yang kadang sulit disampaikan. Bermain peran, menari, bernyanyi, dan bermusik adalah sedikit cara yang dapat digunakan untuk katarsis di tengah kesibukan yang dijalani,” katanya.

Narada sebenarnya banyak dikaitkan dengan tokoh Batara Narada yang dalam dunia wayang digambarkan berkelana dengan membawa alat musik. Saat ini, nama Narada dipilih menjadi nama kelompok teater mahasiswa Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya, dengan kepanjangannya yang adalah Nada dan Rasa Dalam Drama.

Narada terbentuk pada tahun 2015 dan menjadi bagian proyek bidang seni yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI) sebagai salah satu penyaluran minat dalam seni. Seiring dengan perjalanannya, beberapa dosen ikut diajak untuk juga berkolaborasi bersama.

Selama tiga kali berturut-turut, Gedung Kesenian Jakarta sudah menjadi saksi kesuksesan Teater Narada menyelenggarakan pertunjukkan, yaitu JUANG (2016), BAGI KAMI PURNAMA (2017), dan SURAT DARI NEGERI LAYANG-LAYANG (2018).

Tahun ini, Teater Narada hadir kembali di tempat yang berbeda dari sebelumnya, yaitu Teater Kecil dengan tema “stereotype gender”. Sedangkan untuk alur ceritanya sendiri, dikembangkan langsung oleh sutradara menjadi drama musikal.

Slogan Abhinaya, Abhirama, dan Baswara selalu diteriakkan di setiap akhir latihan sebagai penggambaran karya Narada yang bersemangat, menyenangkan, dan berkilau.

*Daniel Deha

Baca Juga

“Panembahan Reso” di Era Media Digital

Portal Teater - "Panembahan Reso" karya W.S. Rendra yang disutradarai Hanindawan akan dipentaskan pada 25-26 Januari 2020 pukul 19.30-22.30 WIB di Ciputra Artpreneur, Kuningan,...

Tandai HUT Ke-5 JIVA, Galnas Pamerkan Karya 19 Seniman Muda

Portal Teater - Menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA), Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran seni rupa sepanjang 8-27 Januari 2020. Pameran bertajuk...

Merayakan Suara Melanesia yang Langka Lewat “Planet-Sebuah Lament”

Portal Teater - Pementasan kontemporer berbaju tradisi, "Planet-Sebuah Lament", karya Garin Nugroho selama dua hari pada akhir pekan lalu, Jumat-Sabtu (17-18 Januari), berhasil menghibur...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...