‘Deg Deg Ser’ Ketakutan dalam Rekaman CCTV

Portal Teater – Di dalam sebuah kubikel berukuran kurang dari dua kali dua meter, telah tersedia sebuah bangku. Di hadapannya, terpancar empat potong layar dari sebuah proyektor. Ukurannya tidak kurang dari 30 inci secara keseluruhan. Sementara di tengah-tengahnya, diletakkan sebuah CCTV dengan moncong mengarah langsung pada bangku.

Begitu kira-kira gambaran dari salah satu instalasi video yang dipamerkan pada Lintas Media 2019, sehingga siapa saja pengunjung yang masuk dan duduk dalam kubikel itu, seketika dapat melihat empat tayangan dalam satu layar.

Tayangan pertama, di layar kanan atas adalah sebuah adegan penyembelihan kambing. Tayangan kedua, layar kiri atas adalah adegan perempuan yang duduk dalam keadaan menangis dan meringis.

Pada tayangan ketiga, layar kanan bawah ialah adegan perempuan berbeda yang duduk dengan pose hampir serupa, namun dengan ekspresi takut dan cemas yang lebih kuat.

Sementara pada layar terakhir, adalah tayangan langsung yang ditampilkan oleh kamera CCTV. Insatalasi ini berjudul ‘Deg Deg Ser’, onomatope dari suara jantung yang berdebar.

Nastasha Abigail, melalui karya terbarunya ini, tampil di hadapan publik Lintas Media melalui eksploitasi rasa takut dengan memanfaatkan media visual berupa tayangan emotif dan refleksi CCTV.

Tayangan pertama yang ia sajikan ialah adegan yang barangkali membuat kebanyakan orang cepat meringis dan berpaling. Ia menampilkan kambing yang direbahkan di atas tanah, lehernya diiris berulang kali sampai kulit dan kerongkongannya tersobek mengalirkan darah. Si kambing meronta-ronta, beberapa lelaki tetap mengekangnya, sementara seorang lagi bersikukuh menggesekkan goloknya di batang leher si kambing.

Sementara pada tayangan kedua dan ketiga, masing-masing ditampilkan adegan perempuan yang duduk di atas kursi, menghadap kamera, dengan ekspresi berbeda namun senada dalam menyiratkan emosi. Ketakutan.

Ketiga video yang bersifat emotif ini saya kira cukup berhasil dimanfaatkan Abigail untuk membangkitkan rasa takut penikmat karyanya. Melalui metode induktif, terjadilah semacam persentuhan yang mengakibatkan seseorang pengidap selesma menularkan batuk pilek pada orang-orang di sekitarnya.

Pertama kali seseorang duduk di dalamnya akan melihat empat tayangan di atas, tetapi barangkali sesaat setelah itu akan segera muncul perasaan diawasi. Sebab sebuah CCTV bermoncong inframerah terlihat dominan menuding langsung pada pengunjung yang duduk.

Sementara di saat yang sama sebuah layar juga menampilkan gambar langsung dalam citra hitam-putih.

Pada benak saya, justru hal itulah yang paling menakutkan dari instalasi ini. Peristiwa di mana saya harus berhadapan langsung dengan citra saya sendiri.

Pengunjung pameran lintas media 2019
Pengunjung pameran lintas media 2019 – Doc. portalteater.com

Gambaran rupa yang terefleksi dari mata kamera, bukan mata dan keinginan saya sendiri. Sebuah gejala yang hampir pasti dirasai anak manusia setiap hari, yang selalu gelisah dalam rupa dan wujud dirinya di hadapan lingkungan, di hadapan media baru bernama Whatsapp, Facebook, Youtube, dan Instagram.

Begitu pula yang dinyatakan Abigail dalam diskusi publik pada Kamis (13/6) malam, bahwa karyanya ini berangkat dari persoalan ketakutan yang memang juga ada dalam dirinya. CCTV, teknologi yang menjadi instrumen pokok dalam instalasinya, adalah juga sumber inspirasi.

Menurutnya, CCTV adalah teknologi pengamanan yang justru menimbulkan kecemasan. Ia menciptakan rasa diawasi yang tidak kalah menakutkan. Hal itulah kira-kira asal mula petualangan Abigail dalam menangkap ketakutan manusia.

Sebagaimana dalam pengantar karyanya, Abigail sendiri menilai bahwa takut merupakan emosi dasar, perasaan paling purba yang telah ada sejak manusia melihat dunia.

Baginya rasa takut adalah energi yang mendorong manusia untuk tetap hidup, baik dengan bertahan maupun melawan.

Sementara teknologi, yang menurut brosur toko elektronik menawarkan berjuta penyelesaian masalah, bagi Abigail justru menimbulkan rasa takut yang jauh lebih kompleks. Teknologi membuat kecemasan menjadi lebih mudah menular, dan lebih cepat hinggap ke banyak tempat.

Di kubikel instalasinya, teknologi Abigail berharap dapat melepasakan diri dari ketakutan dengan kehadirannya, namun ia memilih tidak percaya. Ia tetap menjaga ketakutan dalam dirinya, dalam ‘Deg Deg Ser’.

Tentang Nastasha Abigail

Abigail (32 tahun) adalah seniman paruh waktu yang berkarya dalam berbagai medium seni rupa, terutama audio visual. Karya-karyanya sudah beberapa kali ditampilkan dalam ekshibisi kolektif di Jakarta, Yogya, Melbourne, Rotterdam, Gwangju dan Tokyo.

Sejak 2010 ia aktif di ruangrupa sebagai salah satu kurator program di divisi rururadio dan festival musik RRREC (RURUREC) Fest. Di luar aktivitasnya sebagai seniman, Abigail bekerja sebagai penyiar radio di Jakarta sejak tahun 2008.

Sejak 2013, ia juga terlibat sebagai vokalis latar dari grup musik Pandai Besi dan juga Efek Rumah Kaca (ERK). Bersama keluarga besar ERK, Abigail turut mengelola Kios Ojo Keos, sebuah toko buku berdikari dan ruang bersama untuk komunitas.

Karyanya yang terakhir, Deg Deg Ser (video multimedia) berasal dari program short course di Gudskul beberapa waktu lalu.

Karya-karya Abigail menampilkan isu tertentu yang bergerak antara tubuh dan identitas dalam wahana postkolonial. Representasi visual dan tekstualnya seringkali memanfaatkan gagasan konvensional dari realitas keseharian dan intim dalam ingatan publik yang kemudian ditranformasikan ke media baru guna menegaskan pertimbangan atas sejarah, gender, keterlibatan afeksional dalam ruang opini dan respons pemirsa.

*Roby Aji

Baca Juga

PSBB untuk Jakarta Berlaku Selama Dua Minggu

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua minggu ke depan, mulai 10-23 April 2020. Penetapan PSBB...

Kemenparekraf Talangi Pekerja Pariwisata dan Seni

Portal Teater - Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana memberikan stimulus fiskal bagi pekerja di bidang pariwisata dan seni. Pendataan akan diperketat agar tidak...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Terkini

PSBB untuk Jakarta Berlaku Selama Dua Minggu

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua minggu ke depan, mulai 10-23 April 2020. Penetapan PSBB...

Kemenparekraf Talangi Pekerja Pariwisata dan Seni

Portal Teater - Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana memberikan stimulus fiskal bagi pekerja di bidang pariwisata dan seni. Pendataan akan diperketat agar tidak...

Temuan Kasus Baru Melonjak Drastis

Portal Teater - Temuan kasus baru pasien terkonfirmasi virus Corona (Covid-19) di Indonesia melonjak drastis pada Kamis (9/4). Otoritas melaporkan, ada 337 kasus baru...

500 Juta Penduduk Dunia akan Jatuh Miskin Karena Corona

Portal Teater - Oxfam, sebuah organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada penanggulangan bencana dan advokasi, mengatakan pada Kamis (9/4) bahwa dampak dari penyebaran...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...