Dendi Madiya: “Underscore: Copy Paste Sae”

Portal Teater – Pertunjukan “Underscore: Copy Paste Sae” merupakan sebuah upaya reenactment dari tiga video dokumentasi pertunjukan Teater Sae, yaitu “Pertumbuhan di Atas Meja Makan” (1991), “Biografi Yanti Setelah 12 Menit” (1992) dan “Migrasi dari Ruang Tamu” (1993).

Pertunjukan ini meng-copy-paste-edit inti dramaturgi dari ketiga video; menyalin-tempel-potong apa yang paling mewakili “tubuh pertunjukan” dari ketiga karya pentas Teater Sae tersebut.

Adapun sequence video yang diambil untuk dihadirkan kembali dalam pertunjukan ini adalah sebagai berikut: “Pertumbuhan di Atas Meja Makan” (menit 00:00:06 – 00:24:15), “Biografi Yanti Setelah 12 Menit” (menit 00:15:20 – 00:45:27) dan “Migrasi dari Ruang Tamu” (menit 00:47:14 – 01:04:54).

Pemilihan cuplikan video tersebut didasari oleh pengamatan saya terhadap dramaturgi pertunjukan Teater Sae yang hadir dalam ketiga video dokumentasi itu. Pada ketiganya, bisa disaksikan hadirnya adegan-adegan yang meditatif, bertempo lambat, dilakukan oleh aktor-aktor yang khusyuk, terasa sebagai upaya melawan atau menghentikan waktu.

Pertunjukan-pertunjukan Teater Sae ini juga banyak menghadirkan kutipan-kutipan teks dari tokoh-tokoh politik dan intelektual dari Indonesia maupun mancanegara. Arsip dan data, potongan lagu pop dan lagu nasional, kutipan beberapa naskah pertunjukan, ikut disertakan ke dalam tubuh pertunjukan membuat pertunjukan Teater Sae sebagaimana dituliskan oleh Afrizal Malna (penulis naskah ketiga pertunjukan ini) seperti sebuah “teater-buku.”

Ketiga pertunjukan Teater Sae yang disutradarai oleh Boedi S. Otong ini kerap menghadirkan tubuh-tubuh histeris-eksplosif, juga dengan pembentukan lagu ucapan (nada pengucapan teks) yang oratorik-puitik-menekan-sugestif terutama seperti yang diperlihatkan oleh kedua aktornya, yaitu Margesti dan Zainal Abidin Domba.

Komposisi benda yang dihadirkan dalam pertunjukan Teater Sae lebih banyak mengusung benda-benda keseharian yang disusun untuk merepresentasikan ruang domestik (rumah tangga) yang tidak bisa memproteksi diri dari pengaruh-pengaruh wacana dari luar. Benda-benda keseharian ini diperlakukan juga secara simbolik dalam pengadeganan yang melibatkan para aktor, seperti ingin merepresentasikan kondisi sosial-politik Orde Baru yang diisi oleh penyeragaman, serba rapi dan represi.

Para aktor pada pertunjukan ini berupaya meng-copy-paste permainan aktor-aktor yang tampil pada ketiga video pertunjukan Teater Sae. Peniruan diupayakan pada sisi gestur, nada pengucapan teks, warna vokal dan tempo permainan. Pengolahan psikologis para aktor turut dibantu oleh pemaknaan-pemaknaan yang diambil dari ketiga naskah pertunjukan Teater Sae tersebut.

Unsur bebunyian seperti musik dan sound effect diambil dari ketiga video. Bagian-bagian bebunyian yang menempel dengan suara aktor, dibuat replikanya. Pencahayaan dibuat mendekati apa yang tertuang dalam video dengan tidak menutup kemungkinan pada penafsiranpenafsiran teknis.

Pertunjukan “Underscore: Copy Paste Sae” ini turut menyisipkan materialitas ketiga video. Terutama bagian-bagian dari video yang terpotong, blank dan scratch, bagian-bagian video yang kurang jelas dari sisi teks yang diucapkan aktor.

Selain itu, sequence video yang melakukan perekaman close-shot yang membuat beberapa pergerakan aktor tidak terdeteksi secara akurat.

Proyek ini berkeinginan mengecek: kenapa tubuh-tubuh atau strategi dramaturgi Teater Sae bisa bersirkulasi di teater Indonesia bahkan tanpa pernah menonton Teater Sae? Kenapa ia “berputar” dengan gampangnya dan menjadi sesuatu yang secara tidak disadari berada dalam presentasi pertunjukan saya yang tidak pernah menonton Teater Sae sebelumnya?

Pada pertunjukan saya yang berjudul Teka-Teki Luka (2008) dalam Festival Teater Jakarta wilayah Jakarta Timur, dua orang juri berkomentar bahwa pertunjukan itu mirip dengan pertunjukan-pertunjukan Teater Sae, Teater Kubur dan Bandar Teater Jakarta. Saat itu, saya belum pernah sama sekali menonton Teater Sae dan baru sekali menonton Teater Kubur dan Bandar Teater Jakarta.

Lalu pada tahun 2016, saya menonton karya pertunjukan Takao Kawaguchi yang melakukan reenactment terhadap karya-karya Kazuo Ohno. Setelah menontonnya, saya pikir menarik untuk melakukan reenactment terhadap karya pertunjukan teater modern atau kontemporer dari kelompok teater Indonesia.

Pilihan saya jatuh kepada Teater Sae. Sejak saat itu saya mencari arsip-arsip Teater Sae.

Sebelumnya, project ini berjalan dengan judul Nyae dan pernah dipresentasikan dalam format work in progress dengan bentuk pertunjukan yang berubah-ubah dalam beberapa kesempatan event, yaitu “Jalan Tikus” (Teater Garasi, Yogyakarta, Januari 2018); “Lintas Media” (Komite Teater- DKJ, Juli 2018) dan SIPFest Showcase (Salihara, Agustus 2018).

Project ini telah mendapatkan kontribusi diskusi dalam even-even tersebut, terutama juga dalam forum Majelis Dramaturgi, sebuah forum belajar dramaturgi performance dan penggarapan project performance yang dinisiasi oleh Teater Garasi-Yogyakarta.

Artikel ini merupakan tulisan asli Dendi Madiya, sutradara Artery Performa, yang dimuat dalam Katalog Djakarta Teater Platform 2019.

Baca Juga

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Stimulus Fiskal untuk Resiliensi Industri Seni

Portal Teater - Sebelumnya kami menurunkan tulisan mengenai industri seni Indonesia yang begitu menderita di tengah wabah global virus Corona (Covid-19). Pendasarannya, sampai saat ini...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...