Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie*

Portal Teater – Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni Tari dengan menggelar sekitar enam belas pertunjukan. Ujian yang bakal menjadi embrio penciptaan bagi mahasiswa itu bertempat di Pendopo Agung.

Keenambelas pertunjukan tersebut diuji oleh Trinil Windrowati (dosen tari STKWS ), Hari Ghulur (koreografer/dosen STKWS), Punjul (dosen tari STKWS), dan Miftahul Jannah (koreografer/asisten dosen STKWS).

Boleh disebut beberapa penampil dalam ujian tersebut, antara lain: Bella dan Grinda (Labdawara), Intan dan Rachelsa (Dredah Karungrung), Erina dan Yanti (Ngeleyek), Ni’ma dan Rijal (Chempo), Okta dan Dwi Ratna (Subasita), dan masih banyak lainnya.

Merujuk pada pertunjukan-pertunjukan tersebut, saya kemudian membacanya dalam konteks kampus sebagai “ekosistem terbatas”. Dan banyak kendala yang dihadapi pekerja seni dalam ekosistem ini.

Tidak hanya di STKW Surabaya saja, beberapa kampus seni lainnya, seperti Insitut Seni Indonesia Solo, Institut Seni Budaya Indonesia Papua, hingga Institut Kesenian Jakarta pun mengalami keterbatasan dalam ekosistemnya.

Di luar lingkup akademik, banyak komunitas sanggar mengalami masalah yang serupa.

“Keterbatasan” yang dimaksud di sini adalah kurangnya fasilitas, material atau bahan penciptaan, alat penciptaannya, literatur pertunjukan, sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, tapi daya cipta para pegiat seni itu sendiri yang membatasi dirinya untuk berkreasi lebih jauh dan dalam.

Malasnya performer/aktor/penari membaca dan menggali literatur atau melacak data, dan hubungan pengampu dengan mahasiswa yang tidak berjalan sebagaimana mestinya hingga disorientasi pengkaryaan menyebabkan keterputusan matarantai ekosistem kesenian di kampus.

Pertanyaannya: bagaimana menghadapi ekosistem yang terbatas tersebut? Bagaimana hubungannya dengan metode penciptaan dan praktik kerja dengan banyaknya kendala yang dihadapi? Apakah nantinya akan berpengaruh kepada hasil penciptaannya?

Sejauh ini, kita cenderung melihat keterbatasan itu sebagai permasalahan lingkungan dan kekusaan, di mana kita seringkali menyalahkan pihak lain. Apalagi berhubungan dengan praktik kerja yang berkaitan dengan ekosistem kota, yang berujung pada kecurigaan pada sistem pemerintahan.

Kiranya ada beberapa program tawaran yang mungkin untuk mengurai problem tersebut, terutama dengan melakukan penciptaan karya berbasis riset.

Misalnya program “Membaca Diri dalam Ekosistem”, “Aku dan Ekosistem Terbatas”, “Melacak Ulang Aku, dan Kita dalam Ekosistem”, “Aku dan Seni dalam Ekosistem”, dan lain sebagainya, yang sudah dilakukan beberapa akademisi maupun praktisi.

Dengan demikian, orientasinya tidak hanya menjadi sebuah karya, melainkan proyeksi data-data yang diriset bersama dalam sebuah ekosistem untuk dijadikan sebuah karya penciptaan, sehingga muncul metode penciptaan dan praktik kerja yang lebih tersusun secara rinci sampai pada tahapan bentuk (visual) pengkaryaan dengan metafor-metafor baru yang berbasis riset tersebut.

Pertunjukan "Pinarak" yang dikoreograferi Liyana dan Rizqika. -Dok. Ali Ibnu Anwar.
Pertunjukan “Pinarak” yang dikoreograferi Liyana dan Rizqika. -Dok. Ali Ibnu Anwar.

Eksositem Terbatas Dendi Madiya

Keterbatasan ekosistem yang bisa saya jadikan rujukan adalah karya Dendi Madiya (Artery Performa-Bekasi, Jawa Barat) “Struktur Rumah Tangga Kami”, yang menurut Ferdi Firdaus (penulis pertunjukan) sebagai salah satu karya penciptaan terbaik dalam dekade ini.

Kini Dendi Madiya sedang menjalani kerja kolaborasi dengan beberapa performer dari luar negeri, seperti Taiwan, Jepang, Singapura, dan beberapa lainnya. Dendi pun dipercaya Dewan Kesenian Jakarta menjadi kurator program Djakarta Teater Platform 2020.

Dalam penelitian dan penyelidikannya, Dendi yang memang bukan berasal dari ekosistem mapan, menyadari betul kelemahan-kelemahan dari setiap anggotanya.

Misalnya, sulitnya diajak latihan atau proses, mereka lebih asyik bersama guling dan bantalnya, asyik berkencan ketimbang latihan, ataupun sibuk main game, maupun berselancar di sosial media ketimbang melakukan atau memaksakan sebuah tema besar.

Karenanya Dendi tidak berpikir menyalahkan para performer/aktornya, melainkan membuat sebuah program kecil “Membaca Diri dalam Ekosistem”.

Tentu saja program yang berlangsung berasal dari watak dan karakter aktor/performer Artery Performa masing-masing dalam pembacaan diri.

Metode penciptaan yang bisa dilakukan diantaranya adalah studi cita-cita; sesi harapan dan keinginan masing-masing personal hari ini, sesi menggali kemampuan masing-masing dengan membebaskan dan mengolah diri (sehingga kendala-kendala tersebut menjadi bagian dari metode penciptaannya).

Hal itu kemudian memunculkan tahapan dari metode lainnya untuk meramu kendala dalam ekosistem tersebut menjadi sebuah karya yang diberi judul “Struktur Rumah Tangga Kami” dengan menghadirkan banyak medium, yang paling kentara adalah guling, bantal, piring, sendok, tubuh, dll., sebagai ciri dan watak manusia dari ekosistem terbatas komunitasnya.

Hasilnya, metode penciptaan yang dilakukan beberapa tahun lalu itu melahirkan praktik kerja Artery Performa yang tersusun rapi, dan kini konsentrasi proyeksinya documentary dengan praktik kerja dramatuginya: copy paste.

Contoh ini barangkali merupakan contoh kecil ekosistem terbatas ketika menghadirkan tema besar justru menjadi semakin menambah permasalahannya.

Pertunjukan "Nitis" dikoreograferi Diana dan Ika. -Dok. Ali Ibnu Anwar.
Pertunjukan “Nitis” dikoreograferi Diana dan Ika. -Dok. Ali Ibnu Anwar.

Membaca Karya Mahasiswa

Saya membaca karya-karya para mahasiswa pada pertunjukan ujian komposisi di STKW Surabaya dalam aneka perspektif.

Misalnya, ritual penyembuhan penyakit (Bella dan Grinda); bagaimana orang terpuruk dan jatuh pada ruang pekerja seksual komersial (Liyana dan Risqika); seorang yang ingin mendapatkan wanita pujaan dengan cara ‘jampi-jampi’ (Diana dan Ika); dan beragam tema lainnya yang tampak terlihat berada pada satu bentuk (visual) penciptaan dengan medium sejenis.

Padahal bentuknya sangat memungkinkan untuk lebih beragam dan menimbulkan potensi kreativitas masing-masing koreografer yang lebih jauh.

Karena itu, metode penciptaan bisa mungkin akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan ragamnya kendala yang sering terjadi di ekosistem manapun.

Hal itu menunjukkan kemalasan pengkarya berkonsultasi dan bertanya, menggali data, melacak pertunjukan lainnya, dan membaca “data luaran”, maupun terjadinya diskomunikasi dalam konsultasi dan disorientasi target karya yang berada di antara kemelut tradisi versus kontemporer.

Saya melihat “kemalasan” ini justru bisa menjadi sesuatu terbalik ketika jeli dan peka mengolah “kemalasan” itu dan menyelesaikannya dengan mengkombinasikan cara menyelesaikan persoalan yang dikemukakan tiap personal.

Pada kasus lainnya, saya melihat pada praktik kerja penciptaan Abi ML (sutradara Studio Klampisan-Banyuwangi), yang punya “kemalasan” untuk membaca buku yang tebal-tebal (tetapi tidak malas untuk melihat berita-berita di Instagram dan sosial media, melakukan wawancara layaknya kerja jurnalistik dengan merekam melalui tape recorder).

Abi ML juga “malas” untuk latihan gerak tubuh yang “berdarah-darah” (tetapi tidak malas untuk melihat para penari dan penyanyi latihan ‘berdarah-darah’ di Youtube.

Ia kemudian memaksimalkan metode penciptaannya dengan watak kerja jurnalis maupun kerja kolaborator dengan penari dan penyanyi untuk menyusun penciptaannya dengan melacak kasus-kasus bunuh diri.

Karena itu dalam karya penciptaannya, Abi menggunakan medium rekaman data, sound digital, Youtube, daftar pustaka, berita-berita di media cetak atau online, tari, dan menyanyi sebagai sebuah karya performatif.

Praktik Penciptaan Berbasis Riset

Praktik penciptaan para penampil dalam ujian komposisi di STKW Surabaya merupakan karya-karya berbasis riset (penelitian dan penyelidikan). Misalnya rekaman peristiwa PSK di kawasan Dolly, ritual penyembuhan dan juga penggunaan jampi-jampi.

Namun,pPertanyaannya, jika para pelaku seni “malas” melakukan riset, apakah ia mampu menyelesaikan problem keterbatasan dalam ekosistemnya?

Apa yang dilakukan Abi ML adalah salah satu praktik penciptaan berbasis riset yang mumpuni. Ia tidak membaca buku-buku tentang tema “bunuh diri” yang akan digarapnya, tapi lebih “turun ke lapangan” untuk mewawancarai para pelaku bunuh diri, atau orang yang pernah mengalaminya.

Menggunakan aplikasi media sosial, Abi ML menjaring komunikasi yang intens dengan informannya. Ia pun mendatangi Rumah Sakit pada dini hari, tengah malam, subuh, dan waktu krusial lainnya layaknya seorang psikolog, sehingga data-data yang diperolehnya betul-betul otentik dan terukur.

Akhirnya kita tidak serta-merta berkarya hanya pretensi tuntutan nilai pengkaryaan, tapi lebih kepada proses bagaimana menjawab “kemalasan” dengan beberapa sebab yang menempel ketat di tubuh masing-masing.

Data-data yang dihasilkan dalam riset Abi ML akhirnya menghasilkan karya “Demonstrasi Bunuh Diri” (pernah dibawakan dalam program Lintas Media Dewan Kesenian Jakarta 2019). Ini sama halnya dengan yang dilakukan Dendi Madiya dalam “Struktur Rumah Tangga Kami”.

Karena itu, penting sekali program-program kecil yang berbasis riset seperti ini dijadikan instrumen untuk membaca ulang “ekosistem terbatas” sebuah praktik berkesenian.

Tema-tema dalam karya yang diusung dalam ujian para mahasiswa di STKW Surabaya berada di antara metode penciptaan dan praktik kerja media yang sifatnya merekam dan melaporkan secara update.

Sekalipun membuat program berbasis riset itu tidak mudah, pertanyaannya: bagaimana kita memiliki strategi menghadapi hal yang tidak mudah tersebut?

*Penulis adalah petualang dan pejalan kaki yang sedang menempuh Studi Pascasarjana Jurusan Penciptaan Teater pada Institut Seni Indonesia Surakarta.

Baca Juga

Nara Teater: Bertumbuh dalam Ekosistem yang Buntung

Portal Teater - Ketika Gedung Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dirubuhkan, banyak yang risau soal geliat dan ekosistem kesenian dan...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Tanggapi Aspirasi Seniman, DPR Dukung Moratorium Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menanggapi aspirasi Forum Seniman Peduli TIM dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senin (17/2), Komisi X DPR yang...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...