Disabilitas, Autis, Skyzofernia, Transgender, dan Ritual dalam Estetika Pertunjukan

Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie*

Portal Teater – Apakah betul di dunia ini memang tidak ada yang standar, dan yang penting manusia melakukan sesuatu, dan kita menjadi obyek dari apa yang kita buat sendiri?

Terkadang sangat paradoks dengan pernyataan mendiang kakek saya saat usia kanak-kanak ketika membajak sawah (tenang dengan kekuatan yang perlahan-lahan), latihan silat (bergerak dengan cerdas dan penuh waspada), maupun ritual menjadi ninja (berada di antara kesadaran dan ketidaksadaran manusia) yang mengemukakan bahwa kita harus mencari standar tertentu berdasarkan keyakinan yang kita pahami.

Sepanjang itu juga akhirnya beranjak jadi remaja hingga kini, dan saya selalu melihat sisi-sisi gelap yang tersembunyi pada setiap manusia dalam kestandaran dan ketidakstandaran.

Lantas saya mengemukakan pernyataan pada diri sendiri.

Hari ini kita tidak dikagetkan ketika melihat pelaku pertunjukan sebagai pengkaji maupun pencipta banyak melanggar etika, lalu memanusiakan manusia yang berasal dari golongannya, dan berperilaku binatang pada manusia yang bukan golongannya.

Begitu juga hubungan pelaku seni gen Z, menyampahkan pelaku seni gen X (yang dianggap tidak mapan/berpengaruh) ke tong sampah dan mengagungkan pelaku gen X (yang dianggap berpengaruh) layaknya ‘penjilat’ sampai ke langit tujuh.

Padahal kita dapat melihat hubungan Tatsumi Hijikata dengan Kazuo Ohno yang berjarak sekitar dua puluh tahun lebih tapi masih bisa saling bekerjasama dengan baik untuk merumuskan praktik kerja butoh.

Menurut saya, praktik kemanusiaan sejatinya terletak pada nilai kebenaran yang masih diperlakukan dalam realitas kebudayaan oleh kedua seniman beda generasi itu.

Hari ini pun seperti bergeser dalam pemaknaan kebudayaan dan kemanusiaan. Sisi-sisi gelap manusia semakin nyata. Kalau standar hanya omong kosong, karena itu parameter dan indikator janganlah sering dipertanyakan selama kita belum menemukan standar kemanusiaannya.

Apakah masih penting mengembalikan semua perilaku yang kita lihat dengan cara berkesenian, sedangkan dalam kesenian sendiri perlahan-lahan bergerak sedemikian rupa pada kegelapan?

Mungkin jawabannya kita lakukan saja dari hal yang paling kecil jika dianggap sebagai nilai kebaikan atau berbuat buruk jika itu memang standarnya kita.

Catatan di atas sebagai pengantar tulisan ini mengingatkan saya kembali dalam pembacaan secara keseluruhan untuk melihat pertunjukan beberapa seniman ini:

Pertama, Yuko Kaseki, direktur, seniman butoh sekaligus koreografer yang tinggal di Jerman sejak 1995; Kedua, Noriko Omura, presiden dari Butoh Tosaha; Ketiga, Jamaluddin Latif, performer yang mempelajari butoh dari Yukio Waguri, Yosito Ohno, dan Katsura Kan.

Dan terakhir, mendiang Suprapto Suryodarmo, yang sudah mempelajari gerakan bebas, vipasana dan sumarah (teknik meditasi Jawa) sejak 1970, pada Jumat (20/12) pada Solo Butoh #2 yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan di TBJT, Surakarta.

Jamaludin Latif membawakan Hanky of Sulandono di malam terakhir Solo Butoh #2. -Dok. Agung DFX/Jawa Pos.
Jamaludin Latif membawakan Hanky of Sulandono di malam terakhir Solo Butoh #2. -Dok. Agung DFX/Jawa Pos.

Gerak Disabilitas, Autis, Transgender dan Skyzofernia dalam Satu Estetika

Katsura Kan (pendiri Katsura Kan & Saltimbanques/pemateri) pada program Lecture di hari Jumat (20/12) mengemukakan bahwa Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno pada tahun 1959 dengan karya Forbidden Colors, yang dianggap sudah melakukan hal bodoh karena gerak-gerak yang dihasilkannya sama sekali terkesan tidak indah dalam pencarian makna keindahan itu sendiri.

Bisa jadi yang dikatakannya pada saat orang-orang yang melihat atau menontonnya adalah suatu kebenaran objektif. Karena kalau kita mengacu pada pernyataan Hijikata dan Kazuo Ohno untuk melakukan hal yang tidak pernah dilakukan orang sebelumnya sekalipun ada orang lain sebelumnya, tapi tidak ditekuni.

Hanya saja keduanya melakukan proses itu secara intens dalam perjalanannya hingga mulai berpikir teknik dari butoh itu sendiri sehingga pada tahun 1970, karya yang dihasilkannya juga berbeda dengan sebelumnya.

Kalau kita merujuk pada dekade yang lebih jauh sebelumnya seperti yang dilakukan Stanislavski juga saya rasa hampir sama motifnya.

Artinya Stanislavski tentu ingin melakukan terlebih dulu apa yang sekiranya belum pernah dilakukan orang lain sehingga lambat laun memikirkan teknik/metode kerja ketika dalam perjalanan kerjanya dikritisi atau diapresiasi (lih. Jean Benedetti: Stanislavksi An Introduction; Shomit Mitter: Systems of Rehearsal Stanislavky; Brecht, Grotowski, and Brook).

Motif inilah yang menjadi dasar kerja tokoh siapapun menurut saya sebelum dituliskan rumusan metodenya yang terlihat beralasan estetik dan lain sebagainya dan tampak intelektualitas berpikir yang “keren”, padahal saya curiga semuanya berangkat dari obrolan ringan.

Kira-kira apa yang belum pernah dilakuin orang lain pada saat ini?

Akhirnya saya dihadapkan perjalanan memorik tubuh saya ketika membajak sawah, latihan silat, dan ritual menjadi ninja sepanjang malam itu.

Yuko Kaseki dan Jamaluddin Latif menurut saya melakukan praktik kerja butoh dari sudut pandang yang paling dekat.

Yuko Kaseki tampak menceritakan autobiografinya dalam wilayah gelap, perjuangan, pertentangan, penderitaan, kegetiran, kengerian, dan ketakutan dalam menghadapi hidup dan geraknya dipinjam dari kaum disabilitas atau seorang autis.

Begitu juga dengan Jamaluddin Latif. Penderitaan yang dihadirkan juga tidak terlampau berjarak dengan penontonnya di era digital hari ini, termasuk saya sendiri melihat semacam catatan kritis, sindiran, atau nyinyiran dari penderitaan dan kegelapan hubungan manusia di sekitarnya.

Kita bisa melihat hubungan pembantu dengan majikan, hubungan orang tua dengan anak, hubungan suami dengan istri, yang jelas hubungan ketimpangan orang sakit di kursi roda dengan orang sehat yang menuntun kursi rodanya.

Bisa dilakukan antar hubungan tersebut, termasuk hubungan mantan presiden dengan pembantunya.

Mungkin juga hubungan Kazuo Ohno sendiri dengan perawatnya jelang hari-hari kematiannya, yang bisa lebih menderita daripada masa-masa sebelumnya. Atau justru semakin tua dan tampak menderita di kursi roda semakin menemukan kebahagiaannya yang paling agung.

Sekilas Jamaluddin Latif tampak melakukan di antara itu semua yang bisa diinterpretasi kembali oleh kita yang menontonnya pada malam itu.

Pertanyaan yang bisa saya ajukan kepada keduanya: Sudahkah Anda berdua menderita dan bahagia secara lahiriah, dan kemudian pada realitas mana Anda mendudukkan keduanya secara beriringan atau saling bergantian antara satu dengan lainnya, atau Anda berdua sedang memanipulasi kedua hal tersebut secara kultural di atas panggung?

Pertanyaan yang mungkin juga tidak perlu jawaban, sama halnya ketika mendiang kakek saya menanyakan kepada saya: Adakah gerakan membajak sawah lain dari pada yang lain? Gerakan silat khas Burneh apa lagi yang hendak kita mainkan? Atau ritual ninja apa lagi yang berbeda dari sebelumnya?

Melalui gerak keduanya, Hijikata menuliskan: Jangan surutkan langkahmu, ambillah langkah raksasa! Seseorang harus percaya pada energi diri yang lahir dari rahim keraguan, seseorang tidak boleh hanya sekadar menjadi bonsai. Percayalah pada energimu sendiri dan jangan biarkan dipengaruhi orang lain.

Diawali dengan kemunculan yang pada umumnya dilakukan pelaku pertunjukan, sangat lambat menuju lambat hingga melibatkan emosi dan kedalaman jiwanya.

Jika Yuko Kaseki bermain-main dengan bayangan kanvas kecil (atau apalah semacam kertas) yang dihadirkan tepat di depan kepalanya sehingga jatuh persis di tubuh dressnya (semacam daster pendek) yang berwarna biru keabu-abuan, dengan wajah yang tampak tidak putih layaknya para penari butoh umumnya, apakah dia sedang mempermainkan rahim keraguan itu lewat bayangan, atau apakah sedang mempermainkan autobiografinya sendiri dalam situasi diskriminatif yang diterimanya.

Atau Jamaluddin Latif menuntun kursi roda, di mana saya melihat (dalam imajinasi) seseorang duduk di sana dalam tumpang tindih penderitaan dan kebahagiaan, penderitaan yang mengaburkan kebahagiaan, begitu juga dengan kebahagiaan yang mengaburkan penderitaan.

Konteksnya adalah terkadang kita sulit untuk menghidupkan energi kita sendiri yang dibungkus dalam keraguan, seakan kebahagiaan dikepung oleh semacam luka dan duka yang berkepanjangan.

Bagaimana penderitaan hidup saya sembari membajak sawah pelan-pelan dengan harapan ibu dan ayah di rumah bisa berbahagia setelah panen nanti; bagaimana perasaan keberanian muncul setiap gerak silat yang kuat dan pelan-pelan; bagaimana keinginan menjadi hal yang berbeda dalam wujud dan bentuk lain seperti ninja yang menaiki pohon kelapa maupun berlarian di atas atap rumah orang di pagi buta.

Kenangan-kenangan itu bercampur aduk dalam menginterpretasi gerak butoh keduanya, jangan-jangan butoh bisa dimiliki siapa saja! Bukan hanya Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno!

Yuko Kaseki berusaha sekuat tenaga membongkar dan melepaskan penderitaan tersebut, bullying yang diterimanya lewat repitisi kata-kata (bahasa Jepang) cukup menyakitkan; menggiring saya pada kata-kata pendek masa lalu (gendut, pendek, miskin, jahat, keluarga bajingan) yang berujung perkelahian dengan memaksimalkan gerak membajak sawah, silat, dan ritual menjadi ninja membuat mereka luka berkepanjangan.

Begitu juga Jamaluddin Latif yang menjebak saya masuk kepada segala macam paradigma, kemapanan budaya sebelumnya, gender, patriarki yang seakan terus mengatakan bahwa perempuan lahir sudah terbelenggu.

Saya juga awalnya memang kurang menikmati kedua pertunjukan tersebut karena masuk pada jebakan-jebakan masa lalu, traumatik, kenangan, energi kebangkitan yang juga bisa menimbulkan keraguan untuk berpikir pada masa yang akan datang.

Bagaimana keraguan didudukkan atau ditempatkan? Keraguan dan penderitaan sebagai apa? Jangan sampai kita terjebak pada traumatik yang akhirnya bias, sekalipun banyak pelaku pertunjukan bahagia terhadap penonton yang melihat masuk ke dalam luka tersebut, jangan-jangan penderitaan yang dihadirkan sengaja ditumbuhkan sebagai pengantar pertunjukan.

Menurut saya hati-hati juga berbicara luka, energi, traumatik, bullying, keterasingan, dan lain sebagainya melalui tubuh yang menunjukkan ciri dan konsukensi sebuah kebudayaan (lih. Stephen Barber: Hijikata: Revolt of The Body, dan Rhizome Lee: The Butoh: Dedication to Tatsumi Hijikata).

Keduanya tidak terlalu mulus mengantar pertunjukan jika dihubungkan dengan spirit berdasarkan kedua buku di atas, karena saya semakin hidup mengawang dengan segala macam teka-teki di era hari ini.

Namun bisa menjadi spirit lain, bahwa setiap individu bisa mengembangkannya (pemaparan Melati Suryodarmo & Halim HD) selaku founder Studio Plesungan, cukup memberikan saya sebuah ketenangan berpikir.

Hanya saja proses pengembangan itu yang perlu dilacak kembali berkaitan dengan intensitas yang tidak semua orang melakukannya.

Namun gerakan-gerakan yang dihadirkan sebagai refleksi dari seorang disabilitas dan autis (Yuko Kaseki), skyzofernia dan transgender (Jamaluddin Latif), ini bisa berbeda dengan asumsi performernya, yang menurut saya mampu memberikan energi dan semangat langkah kita sebagai manusia di beberapa menit sebelum pertunjukan berakhir.

Sekalipun ada beberapa gerakan Yuko Kaseki seperti terbaring di lantai permukaan, kemudian menggerakkan tangannya pelan-pelan (kenangan saya yang terjungkal pada saat membajak, dihajar kawan pada latihan silat, gagal dalam proses menjadi ninja yang bikin blingsatan), dilanjutkan menggulingkan badannya yang tidak sempurna, karena terlihat bengkok.

Begitu juga gerak-gerak Jamaluddin Latif sangat sering ditemui di beberapa pelaku tari dan teater yang tampak konyol (apalagi perutnya satu kekonyolan yang tetap asyik), terutama pada gerak pantomim, memungkinkan dirinya yang menekuni gerak tersebut memang menjadi pijakan kerja bagaimana meleburkan dengan gerak butoh yang ditawarkan Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno.

Pertanyaan lain muncul: Ketika berbicara butoh, apakah tubuh kultural kita tidak bisa dihadirkan, atau butoh akhirnya hanya menjadi pijakan dalam praktik kerja kita pada program Solo Butoh #2, khususnya performer kita seperti Wendy HS (yang sengaja atau tidak sengaja memaksimalkan tubuhnya), Jamaluddin Latif dan Suprapto Suryodarmo yang bisa menjadi milik kita.

Katsura Kan pun dalam Lecture memaparkan bahwa butoh bukan tradisi. Butoh juga bukan kegilaan, tapi kondisi di mana seseorang kurang pengetahuan. Up and down, relax your neck, gentle face; sekalipun tampak visualnya secara umum adalah kegilaan.

Namun di balik visualnya, Yuko Kaseki dan Jamaluddin Latif ingin mendorong setiap manusia berusaha bangkit dari keterpurukan yang membelenggunya, terbang setinggi-tingginya untuk mengenali diri sejatinya pada posisi yang paling puncak yang mungkin setiap manusia memulai dari ketidaktahuan, dari diskriminasi, dari keterasingan, dari kebodohan, dan dari apa saja yang bisa menemukan kesejatian.

Katsura Kan bercerita ketika datang ke Indonesia pertama kali pada tahun 1980 melihat Suprapto Suryodarmo, seperti melihat butoh Indonesia/butoh Solo. Pernyataan ini jelas menjadi penguat sekalipun saya berbeda pendapat.

Menurut saya, namanya butoh ya butoh yang dibawa Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno, atau Katsura Kan melihat Suprapto Suryodarmo sebagai butoh Indonesia/butoh Solo, bisa mungkin butoh khas Suprapto Suryodarmo, tetapi ada kemiripan dan latar belakang spirit dari geraknya. Atau namanya bisa berbeda.

Maka jika mengacu pernyataan tersebut, artinya sah saja Wendy HS memperlakukan butoh sesuai dengan kultur dan latar belakangnya, begitu juga Jamaluddin Latif sah juga memperlakukan butoh dengan caranya.

Akhirnya butoh lebih merupakan cara pendekatan, bukan benar-benar butoh khas Hijikata dan Ohno.

Karena ketika Jamaluddin Latif muncul dari kursi roda kemudian menjadi layaknya penari sintren khas Cirebonan, Indramayu, cukup memberikan kejutan dan posisi tawar lainnya, yang kerap dekat dengan diskriminasi, kegelapan diperlakukan, dan kematian dipermainkan, ataupun disorientasi seksual dikedepankan, atau seperti hidup orang autis, disabiliatas yang tampak sekali pada gerakan Yuko Kaseki, sepintas seperti mengadposi hidup mereka.

Namun di sisi lain gerakan menjadi estetik dan memberontak agar terus berdiri dengan kokoh dan bertahan hidup.

Catatannya adalah di mana kita tidak menjadi sekadar memperalat gerakan disabilitas dan autis sehingga menjadi suatu estetika, atau gerak skyzofernia dan transgender benar-benar sebagai media ekspresi (perlawanan) Jamaluddin tanpa mempermainkan dan menghinanya?

Ini patut kita cermati dari kedalaman spirit dan kita memperlakukannya sebagai seniman: Kita merayakan, mempresentasikan, menginformasikan atau hanya sekadar menggelar data realitas ke atas panggung?

Rasanya patut kita catat bersama sebagai pijakan kita berkarya untuk menimbulkan energi yang paling positif sekalipun.

Tidak peduli soal bergeser atau tidak arti kesenian, kita mungkin sebaiknya berjalan dengan pemahaman kita masing-masing tanpa menyakiti mana yang kuat dan mana yang lemah, akhirnya jika keselarasan tidak menjadi landasan berpikir pada pertunjukan tersebut menggiring kita pada perbedaan dan perbandingan antara realitas dengan panggung.

Gerak-gerak disabilitas, seorang autis, sangat tampak jelas dalam praktik kerjanya Yuko Kaseki kalau kita mengamati secara mata telanjang, tapi saya semakin menikmati apa yang dirasakannya lewat pencarian gerak itu dalam estetika yang terus dinamis hingga akhirnya dia jatuh di atas permukaan lantai dengan posisi seperti mengangkang dan baru kita tahu perubahan wujudnya sebagai orang yang berbeda dari sebelumnya.

Dua kepribadian dalam satu tubuh yang sama atau dua bentuk yang berbeda pada satu tubuh yang sama benar-benar menjawab segala macam pertanyaan di kepala saya.

Satu tubuh yang bisa bertindak sebagai seniman, periset, pelaku, etnografer, antropolog, psikolog, dll.

Jamaluddin Latif pun dengan kejutan perubahan wujud keduanya; mengantarkan saya kepada abstraksi untuk membangkitkan energi dari sebuah kelemahan kita sebagai manusia.

Sekalipun Jamaluddin Latif belum melakukan capaian maksimal dalam memperlakukan butoh ke dalam tubuhnya.

Atau mungkin dia punya pendekatan dan spirit lainnya ke dalam butoh di antara butoh, atau butoh tanpa butoh, atau butoh lain dalam butoh, yang hingga kini saya tanya: apakah butoh yang asli hanya milik Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno?

Saya yakin ketika kita tanyakan kembali, jawabannya akan seperti ini: Sekarepnya kowelah, mau anggap itu butoh, atau gak, seng penting kowe yakin ae kalo kowe itu udah ngelakuin butoh, dan ojok macem-macem, karena mempelajari butoh sangat dekat dengan mempelajari ilmu filsafat, ngerti ora kowe?

Karena kalau kita melacak pada penelitian Jean Benedetti dan Shomit Mitter sekalipun tentang Stanislavski, bahwa metode dan rumusan penciptaannya asli kebudayaan Rusia yang terinspirasi pada kedua aktor Michael Sckepchin dan Nicolai Gogol, yang mungkin kalau kita mengadopsinya juga sulit melampaui Stanislavski lantaran berbeda kebudayaan.

Maka banyak yang nyinyir tentang siapa di Indonesia yang paham betul metode Stanislavski pun, termasuk Iswadi Pratama (Teater Satu Lampung) yang selama ini sudah menerbitkan buku sistem Stanislavksi.

Jangan-jangan kasusnya sama dengan butoh Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno yang lahir dengan kebudayaan Jepang, akhirnya kita mengadopsinya dengan cara kita, berarti apa pun bisa mungkin mempraktikkan butoh secara kultural, sama halnya dengan praktik kerja Wendi HS, Jamaluddin Latif, maupun Suprapto Suryodarmo.

Barangkali reaksi Halim HD yang menontonnya di tangga pintu masuk seketika sumringah pada saat Jamaluddin Latif muncul dari balik jarit dengan perubahan wujud yang berbeda, saya kira salah satu data yang menunjukkan bahwa Jamaluddin Latif cukup memberikan kejutan dalam memperlakukan praktik butoh-nya.

Hanya saja apakah tekanan dan energi dari sebuah penderitaan benar-benar menuntut saya pada saat membajak sawah, hingga saya berontak dan melonjak marah dengan gerakan silat saya yang pelan-pelan ketika menghadapi semacam bullying, atau ketakutan yang sangat mencekam kala itu mengharuskan saya menjadi bagian ninja.

Tampaknya cukup sulit untuk membandingkan hal-hal semacam itu dengan perasaan-perasaan yang ditawarkan Jamaluddin Latif, tapi Yuko Kaseki cukup memanggil memorik “kegilaannya” kepada peristiwa masa lalu saya yang diingatkan kembali dari usia kanak-kanak.

Tubuh Fisikal Butoh Noriko Omura dan Gerak Ritual Suprapto Suryodarmo

Dimulai dari sudut yang paling dekat dengan backdrop (dinding) gedung, Noriko Omura (presiden Butoh Tosaha) tampak bermain dengan cahaya yang membawa saya kepada permainan fisikal tubuhnya dari kaki, yang tampak kuat dan prima.

Kekuatan inilah yang nampaknya menjadi tumpuan utama Noriko Omura, yang kemudian memainkan gerak tangannya yang begitu kuat hingga mengolah tubuhnya secara lentur.

Saya akhirnya hampir bersepakat bahwa semakin bertambah usianya Noriko Omura yang lahir di Kochi, pada tahun 1952, pengalaman hidup sebagai penari butoh menunjukkan kematangannya lewat perasaan geraknya.

Saya juga tidak tahu entah kenapa gerak ritual Suprapto Suryodarmo, yang usianya jauh lebih tua dari Noriko Omura tidak mampu memberikan saya semacam perasaan apa pun ke dalam batin saya, barangkali saya menyadari bahwa tingkatan maqam/makrifat saya tidak selevel apa yang hendak diinginkan mendiang Suprapto Suryodarmo.

Barangkali ini juga pertanyaan yang dilontarkan Halim HD kepada Katsura Kan pada program Lecture tentang intuisi.

Katsura Kan menjelaskan bahwa dirinya bukan orang jenius, tapi pikirannya sudah dilengkapi dengan data.

Mungkinkah intuisi ini berkaitan dengan perjalanan spritual Suprapto Suryodarmo, lewat gerak yang dihadirkan malam itu? Sejujurnya saya kaget mendengar kabar meninggalnya Suprapto Suryodarmo selang sembilan hari saja setelah pertunjukan berlangsung.

Saya pun juga kerepotan ketika harus menuliskan dengan data untuk membaca gerak Suprapto Suryodarmo, karena sejauh ini saya belum pernah melihat langsung gerak tarinya sejak 1970.

Selain karena waktu itu saya belum lahir dan hanya sekali berdialog langsung dalam sesi kuliah waktu itu, bahkan hingga kini pun saya hanya melalui Youtube beberapa pertunjukan tarinya: Moving in Space (2006), Body Movement Practice (2013), Live as Giving (2017), Amerta Movement dan Silent Path (2019).

Saya pun dengan setengah pengetahuan ikut menjawab dtersebut bahwa di era 1970-an, gerak tubuh mendiang Suprapto Suryodarmosangat lentur dan hidup untuk mengganggu berbagai macam pertanyaan di kepalanya; ngapain, ngapain, dan ngapain?

Dan akhirnya sebagai tanda yang hendak diucapkannya kepada kita semua, di mana kita belum mampu menuju makam tersebut.

Kalau Noriko Omura yang memungkinkan tidak memakai intuisi (sesuai dengan pengetahuan saya) dalam praktik butohnya.

Di mana ia sangat cermat melebur tubuhnya menjadi satu kesatuan dengan tabuhan kendang dan musik yang dimainkan Music Collaboration with Jagad Sentana Art-Peni Candrarini Gamelan, bagaimana tubuh khas Jepang dipertemukan dengan ketukan khas Jawa, di mana tampak gerak baru muncul jauh dari keinginan dan harapan Tatsumi Hijikata maupun Kazuo Ohno.

Akhirnya saya melihat butoh bisa saja menjadi lain sekalipun keduanya memiliki metode dalam praktik kerjanya, sama halnya Stanislavski khas kebudayaan Rusia, yang kemudian diadopsi jadi kebudayaan Indonesia, sehingga jelas menjadi berbeda.

Karena itu, saya terkadang bingung juga ketika kultur gerak kita dipaksakan menjadi gerak khas Rusia, karena tidak ada metode khusus dalam menjadi gerak lain yang dipengaruhi kebudayaan masing-masing negara.

Sama halnya dengan apa yang dilakukan Noriko Omura, tentu akan berbeda geraknya dengan Suprapto Suryodarmo sekalipun ditabuh kendangnya dengan tim yang sama.

Sekalipun ketukannya hampir menyerupai, tapi perlakuan gerak Suprapto Suryodarmo lebih memainkan pada intuisi tersebut; nalar pikiran, perasaan yang timbul dalam hati, kepekaan, maupun energi-energi yang muncul dengan sendirinya terhadap alam sekitar.

Kira-kira seperti itu pembacaan saya di antara bingkai (rumah kecil) tanpa dinding hanya kerangka saja (sekilas saya melihat seperti rumah ibadah), di mana dupa hio ditanam di setiap sudut kerangka tersebut, ada tudung nasi yang meneteskan air yang menimbulkan bunyi dengan alas permukaan kerangka tersebut.

Lagi-lagi gerakan membajak sawah dan silat sewaktu saya kanak-kanak, maupun menghadapi segerombolan para pengolok-olok yang diterjang dengan kaki yang berputar di udara, seakan sebagai pantulan pada kekuatan Noriko Omura.

Tapi kekuatan tenaganya tidak dibarengi dengan perasaan yang menurut saya keluar masuk (terlepas-lepas), tidak terlalu konstan untuk ditumpahkan layaknya usia kanak-kanak hingga remaja, bahkan kini belum juga mampu keluar dari perspektif dendam dan emosional.

Barangkali Yoriko Omura memiliki latar belakang yang juga berbeda, dan jelas berbeda pula apa yang hendak ingin diungkapkannya.

Begitu juga gerakan Suprapto Suryodarmo mengingatkan saya pada gerak ritual proses menjadi ninja yang dilakukan beberapa tahun sewaktu kanak-kanak hingga menuntut saya akhirnya harus melepaskan semua itu dengan cara yang ekstrem.

Bau hio yang cukup menyengat sekalipun tidak seperti kemenyan, tapi tetap menyiksa saya sepanjang pertunjukan butoh Suprapto Suryodarmo.

Tulisan ini sudah dibuat sebelum beliau meninggal hingga kabar kematiannya semakin jelas memberikan saya sebuah kenyataan pada saat itu memakai kain putih seperti melilit tubuhnya dalam gelap di antara pijar-pijar cahaya.

Terlepas dari kesan tidak melakukan sesuatu dalam tanda tanya butoh dan gerak Suprapto Suryodarmo, sudah saya katakan bahwa kultural, latar belakang, intensitas, pilihan hidup dan sikap, maupun keinginan akhirnya menjadi milik siapapun butoh tersebut, kalau boleh berasumsi sesuai dengan pemaparan Katsura Kan.

Pembajak sawah sekalipun bisa melakukannya, pelatih silat seperti kakek saya juga bisa melakukannya, maupun guru spiritual gerak menjadi ninja bisa melakukan butoh sesuai dengan pengalamannya.

Bahkan saya pun kelak bisa menciptakan gerakan butoh khas saya sendiri yang dipenuhi dengan banyak penderitaan, siksaan, bullying, kesakitan, kemiskinan, pemberontakan, maupun sarkasme, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya adalah: apakah yang sekiranya nantinya bisa menentukan gerakan butoh itu bisa diterima atau tidak oleh khalayak, tepatnya pelaku dan maestro butoh Jepang?

Apakah mereka nantinya akan mengatakan kepada saya, kalau saya butoh Burneh (Bangkalan) sama seperti pernyataan Katsura Kan terhadap Suprapto Suryodarmo?

Sekilas pertanyaan-pertanyaan ini mengusik saya dalam melihat gerakan Yoriko Omura dan Suprapto Suryodarmo, karena sekalipun metode Tatsumi Hijikata dan Kazuo Ohno sudah tertera dalam bukunya, setiap penari butoh atau pelaku butoh justru ingin melakukan dengan metode lain sehingga praktiknya pun juga memang tampak berbeda, sekalipun nantinya persis dengan keduanya.

Saya curiga dalam ketersembunyian, sisi-sisi gelap, terang, kelam, cahaya manusia tidak sepenuhnya dilontarkan begitu saja.

Tapi yang paling penting bisa saya garisbawahi pernyataan mendiang kakek saya adalah: Bagaimana cara kita menemukan keyakinan standarnya sebagai manusia dalam melakukan sesuatu di bumi ini; apakah kita memilih dengan cara memakzulkan hal yang kelam ke dalam terang atau sebaliknya?

Barangkali malam itu terus mengganggu saya dengan menghidupkan traumatik masa lalu, dengan mengaitkan hubungan gerak pada saat membajak sawah dengan sapi, latihan silat di tengah malam, ritual proses menjadi ninja di pagi buta.

Agaknya menarik juga dipanggil kembali kemudian dipadu dengan gerakan memorik tubuh ibu saya yang banyak menderita dari penumbuk emping melinjo, penjahit keset rumah, tukang cucur, hingga seorang tukang pijat nampaknya menarik sebagai cikal bakal penciptaan saya di masa akan datang.

Semuanya berkerumun jadi satu dengan lingkungan saya tumbuh dan berkembang, para disabilitas, autis, skyzofernia, transgender, dan ritual para penganut kepercayan seperti menyiksa saya melihat keempat pertunjukan pada malam tersebut.

Mungkin saya menjadi butoh lain kalau boleh berasumsi, kalau tidak, ya berarti saya akan memberi nama yang berbeda dari sebelumnya: “mungkin bukan butoh!!!!”

Dan selamat jalan Mbah Prapto Suryodarmo!

Saya tidak akan mau bertanya lagi kepada Anda soal butoh. Mungkin karena saya cukup tahu jawabannya saat ini yang tersembunyi dalam hati.

*Penulis adalah petualang dan pejalan kaki yang sedang menempuh studi Pascasarjana Jurusan Penciptaan Teater pada Institut Seni Indonesia Surakarta.

Baca Juga

“Panembahan Reso” di Era Media Digital

Portal Teater - "Panembahan Reso" karya W.S. Rendra yang disutradarai Hanindawan akan dipentaskan pada 25-26 Januari 2020 pukul 19.30-22.30 WIB di Ciputra Artpreneur, Kuningan,...

Sambut Imlek, Mahasiswa UNJ Pentaskan Seni dan Budaya Tionghoa

Portal Teater - Menyambut perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Sabtu (25/1) akhir pekan ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa...

Tandai HUT Ke-5 JIVA, Galnas Pamerkan Karya 19 Seniman Muda

Portal Teater - Menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA), Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran seni rupa sepanjang 8-27 Januari 2020. Pameran bertajuk...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...