Diskusi Biografi Penciptaan 2: Membuka Dapur Produksi Grup Teater

Portal Teater – Tema utama Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019 adalah “Drama Penonton”. Tema ini diangkat dengan tujuan membincangkan secara luas dan dalam “dapur penonton” dalam keterkaitannya dengan kinerja pertunjukan teater.

Ada beberapa aspek yang ditekankan dalam penggalian “dapur penonton” tersebut. Salah satunya adalah menggali pengalaman penonton teater, dengan melihat motivasi, kebutuhan, persepsi, dan juga perilaku serta pembelajaran penonton, sebagaimana dalam ilmu pemasaran.

Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyadarri bahwa untuk menjangkau lebih banyak penonton, grup teater perlu menyiapkan produk-produk yang baik dan matang.

Untuk mengetahui secara terang bagaimana rancangan dan konsep-konsep pertunjukan, Komite Teater menyediakan satu ruang khusus, seperti juga terjadi pada platform kegiatan lain, yang disebut Diskusi Biografi Penciptaan.

Biografi Penciptaan tidak hanya ingin membongkar dapur produksi teater, tapi lebih pada upaya melihat ketersambungan gagasan antara konstruksi pertunjukan dengan penonton.

Pada Senin (18/1) sore bertempat di Lobby Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, diadakanlah diskusi biografi penciptaan yang menghadirkan lima sutradara grup teater peserta FTJ yang sudah mementaskan karya mereka selama lima hari pertama.

Kelima grup tersebut adalah Lab Teater Lumbung, Labo eL Aktor, Maura Lintas Teater, Teater ASA dan Castra Mardika. Diskusi ini dimoderatori Anto Ristargi, Ketua Ikatan Drama Jakarta Barat (INDRAJA).

Teks Yang Sulit

Sutradara Lab Teater Lumbung Hendra Wijaya mengawali pemaparan konsep-konsep produksi “Bulan Bujur Sangkar” karya Iwan Simatupang dengan mempertanyakan arti dari judul karya tersebut. Baginya, judul itu terlalu abstrak dan metaforis.

Untuk memperdalam pembacaannya, Hendra mencari banyak referensi. Selama tiga tahun naskah itu digarapnya bersama dengan anggota grup Lab Teater Lumbung.

Kepada para pemain, diberi kesempatan untuk berimajinasi tentang karakter tokoh yang muncul dalam naskah tersebut. Sementara untuk pengembangan keaktoran, di mana banyak aktornya adalah pelajar SMA, Hendra menerapkan tiga kekuatan (triple power): heart power, brain power dan action power.

Yang terpenting dari semuanya, sutradara yang terkenal dengan nama Hendro Temble ini menerapkan manajemen kualitas diri (MKD). Para aktor/pemain dibina melalui pelatihan dan workshop untuk memahami benar naskah yang akan dipentaskan.

Kepada para aktor, Hendra juga menekankan pentingnya melakukan tiga metode latihan, yaitu ekspedisi, aksi dan rekasi.

Menanggapi pertunjukan Lab Teater Lumbung, Afrizal Malna, Ketua Komite Teaer DKJ mengatakan, Hendra terlalu fokus pada upaya menafsir teks Iwan Simatupang.

Bilamana teks itu terlalu sulit dan rumit untuk digarap, barangkali sebaiknya mementaskan konsep-konsep pertunjukan sebagaimana adanya pada tubuh teks itu sendiri. Artinya, tidak perlu lagi membuat tafsir baru.

Seorang peserta lain dalam diskusi pun menambahkan, setidaknya ada tiga pertunjukan yang seolah menguburkan penafsiran teks pada tubuhnya sendiri dan tidak dibawa ke panggung pertunjukan.

Pada dasarnya, kata dia, pekerjaan sutradara adalah menafsir teks. Namun, perlu proses kreatif baru oleh sutradara agar menghidupkan tafsiran itu ke dalam tubuh panggung.

Integrasi Visual

Ada dua pertunjukan yang mampu memainkan visual secara integratif dari lima pertunjukan pertama FTJ 2019, yaitu Teater ASA dan Labo eL Aktor, kata seorang peserta.

Sutradara Labo eL Aktor Lalu Karta Wijaya dalam paparannya pun mengatakan, konsep dasar pertunjukan “Ruang Tunggu” karya Zen Hae adalah menjadikan “ruang tunggu” itu sebagai proses data. Karenanya, ia mencoba mendekatinya melalui visualisasi multimedia.

Berbagai data berbasis digital berupa berita, video mapping dan lainnya dihadirkan ke ruang pertunjukan, dengan tetap menonjolkan “Ruang Tunggu” sebagai “ruang antara” yang lebih surealis-simbolis, meski pendekatan keaktoran tetap realis.

Seniman teater kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat itu dalam penggarapannya kemudian memfungsikan multimedia, secara filosofis, juga sebagai alam pikir. Di mana, “Ruang Tunggu” tidak lagi terbatas pada problem feminisme, tapi meluas menjadi problem keadilan dan kesetaraan.

Secara artstistik, Lalu Wijaya mencoba menghadirkan simbol-simbol yang lebih netral untuk mendukung pergeseran gagasan tersebut. Begitu juga dengan beberapa tokoh lain yang sengaja ditampilkan, seperti security, yang dalam naskah aslinya tidak ada.

Secara umum, konsep karya ini masih bersifat on progress karena masih perlu evaluasi dan pengembangan-pengembangan, kata Lalu Wijaya. Sebab proses kreatif pun baru berjalan dua bulan sebelum pertunjukan pada Festival Teater Jakarta Selatan.

Labo eL Aktor dalam “Ruang Tunggu” ingin melihat di mana letak Nyai Dasima, karena bisa terjadi ia berada di antara dua konflik kepentingan antara kedua pengarang.

Afrizal melihat, “Ruang Tunggu” Labo eL Aktor cukup jelas memperlihatkan identitas ruang, di mana kehadiran elemen-elemen pertunjukan sudah terindeks, sehingga tubuh masa lalu punah.

Namun, sebagai karya on progress, barangkali Labo eL Aktor perlu membuat batas baru yang lebih pasti dalam naskah tersebut. Apakah batas itu justru kembali ke cinta pertama Nyai Dasima dengan William dan kemudian merayakannya dengan gaya kekinian.

Sebab, dalam pertunjukannya, Labo eL Aktor justru membuat batas justru pada konflik cinta Nyai Dasima dengan Samiun.

Dediesputra Siregar, sutradara dan pendiri Teater amatirujan pun mempertanyakan konsep yang digagas Lalu Wijaya dalam “Ruang Tunggu”. Baginya, menampilkan multimedia secara masif sepanjang pertunjukan justru mengganggu dan memiskinkan panggung.

Sebab, tubuh pertunjukan sudah tidak berada lagi di panggung konvensional, tapi beralih ke panggung multimedia yang berdesak-desak di belakangnya.

Selain Labo eL Aktor, salah satu pertunjukan yang juga mengusung konsep multimedia adalah Teater ASA dari Jakarta Barat.

Simon Karsimin, sutradara Teater ASA menjelaskan, penggunaan multimedia tersebut bertujuan merespon fenomena yang terjadi di kalangan remaja dan milenial saat ini.

Menurut observasi mereka, di beberapa tempat nongkrong anak-anak muda di Jakarta, sudah terjadi pergeseran budaya, di mana kebanyakan anak-anak muda cenderung pasif di dunia sosial dan lebih asyik berselancar dengan dirinya sendiri di dunia maya.

Pada tahun 2016, Teater ASA pernah mengikuti sebuah festival yang memperlihatkan bagaimana teknologi begitu menguasai manusia.

Terinspirasi dari event itu pula-lah Simon dan Stanislaus J.D. menggarap naskah “HIM” yang diadaptasi dari film “HER” karya Spike Jonze untuk dipentaskan pada Festival Teater Jakarta Barat tahun 2019. Naskah itu digarap pada Februari 2019.

Soroti Isu Perempuan

Sutradara Maura Lintas Teater Maya Azeezah menerangkan, “Malam Ke Seratus” yang diadaptasi dari “Malam Terakhir” karya Yukio Mishima merupakan respon terhadap adanya kegelisahan dalam kebudayaan perempuan, yang dalam pentas itu diwakilkan oleh tokoh Komachi, mantan Geisha.

Isi naskah ini memuat banyak kalimat-kalimat simbolik, atau semacam adanya permainan semiotis melalui cerita masa lampau yang masih terjadi hingga di saat ini.

Selain itu, pengadaptasian karya ini juga merupakan bentuk kegelisahan sutradara terhadap dunia kepenyairan dan kesusastraan saat ini. Kita memiliki banyak penyair tapi belum ada karya yang menggapai masyarakat.

Maura Lintas Teater, kata Maya, membaca naskah ini dan banyak referensi lain untuk memperdalam pembacaan terhadap naskah ini. Ada banyak koreksi dari berbagai pihak yang turut menentukan bagaimana pengembangan-pengembangan selanjutnya.

Dalam proses latihan, naskah ini kemudian diadaptasi menjadi “Malam Ke Seratus” dengan sajian yang berbentuk surealis. Tapi dialog-dialog dari apa yang sudah diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar tidak banyak dikurangi, kecuali beberapa yang dianggap tidak terlalu penting.

Sebagai sutradara, Maya juga memotong jumlah adegan dari lima adegan menjadi tiga adegan agar lebih fokus kepada cerita dua tokoh utama sejak dari penyisihan, karena ada beberapa adegan yang sudah menjadi wakil dari adegan lain dan atau dari dialog-dialog yang diwakilkan oleh kedua tokoh utama.

Ada penambahan adegan di awal, yaitu body skin, ketika Komachi memainkan seni butoh sebagai simbol refleksi dari masa lalu yang pedih menjadi seorang Geisha sampai pada akhirnya ia terbuang di sebuah taman ketika berumur tua.

Sementara dalam penggarapan “Terdampar”, mula-mula Castra Mardika kebingungan mau membawakannya dalam bentuk asli seperti yang ada dalam teks atau seperti apa.

Namun setelah digodok selama kurang lebih 10 bulan, sutradra Castra Mardika, Irfan Hakim, pada akhirnya memutuskan untuk membawakannya dalam bentuk komikal.

Namun demikian, konsep-konsep penggarapan karya ini masih perlu digali dan dikembangkan lagi, kata perwakilan Castra Mardika. Karena pengembangannya setelah tampil di Festival Teater Jakarta Timur hanya berselang dua minggu menuju final FTJ.

Yang penting juga dari diskusi ini adalah pertanyaan dari Bramantyo Abdinagoro, selaku juri perwakilan penonton awam FTJ 2019. Ia mempertanyakan: kapan grup teater itu berhubungan dengan penonton sejak awal.

Sebab, sebagai periset pemasaran, ia melihat masa depan teater ada pada keterhubungannya dengan penonton.

*Daniel Deha

Baca Juga

Eksplorasi Imajinasi Anak Lewat Metode “Masuk Ke Dalam Alam”

Portal Teater - Teater Tanah Air telah sukses mementaskan lakon "HELP" karya Putu Wijaya selama dua hari di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail...

FTJ Usai, Lab Teater Lumbung Ajak Penonton Bermain Teater

Portal Teater - Di penghujung tahun 2019, Lab Teater Lumbung membuka penerimaan anggota teater baru. Berniat menyasar penonton teater, proses ini berlangsung sejak Desember...

Persiapkan Karakter dan SDM Handal, FKIP UMT Kembali Gelar FESDRAK

Portal Teater - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang kembali menggelar Festival Drama Antarkelas (FESDRAK) akhir tahun ini, 14-15 Desember 2019. Dilaksanakan untuk...

Terkini

Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater - Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk "Poem of Blood" di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan...

Tutup Tahun, JCP Persembahkan Konser Special “Tribute to Farida Oetoyo”

Portal Teater - Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta mempersembahkan konser spesial akhir tahun bertajuk Tribute to Farida Oetoyo pada Jumat (13/12), pukul...

Ini Daftar 20 Dance Film Yang Lolos Kompetisi IMAJITARI 2019

Portal Teater - Ada 20 karya dance film yang dinyatakan lolos ke tahapan sesi kompetisi helatan IMAJITARI “International Dance Film Festival” 2019. Dari 20...

Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater - Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di...

Mahasiswa Prodi Teater IKJ Pentas “Macbeth” dengan Konsep Kekinian

Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan bangga akan mementaskan "Macbeth" karya William Shakespeare di Gedung Teater Luwes IKJ,...