Diskusi Biografi Penciptaan 3 Festival Teater Jakarta 2019

Portal Teater – Ada yang menarik dengan Festival Teater Jakarta (FTJ) tahun ini. Ada tiga grup peserta babak final yang sama-sama membawakan naskah “Domba-Domba Revolusi” karya Bambang Soelarto.

Ketiga grup tersebut, yakni Teater Ciliwung dari Jakarta Selatan, Teater Cahaya dari Jakarta Utara dan Teater Petra dari Jakarta Pusat.

Toto Sokle, moderator dalam diskusi Biografi Penciptaan 3 yang berlangsung di Lobby Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (24/11) menyentil soal kerja penyutradaraan ketiga grup tersebut.

Hal itu menarik karena di antara ketiga grup itu, kita tidak tahu grup mana yang menginspirasi dan terinspirasi. Maksudnya, apakah grup yang tampil terlebih dahulu di babak penyisihan itu menginspirasi grup yang tampil di wilayah lainnya.

Namun yang pasti, kinerja penyutradaraan ketiga grup tentu berbeda satu dengan yang lainnya, baik dari aspek metode, pendekatan, konsep dan gagasan, serta properti.

Mandeknya Regenerasi Teater

Asisten sutradara Teater Ciliwung Bagus Ade Saputra dalam diskusi itu memaparkan tentang perjalanan Teater Ciliwung dengan segala dinamika grup dan jatuh-bangunnya.

Meski terbilang tua, karena sudah berumur 35 tahun, Teater Ciliwung belum memiliki kinerja keaktoran yang mumpuni.

Salah satunya adalah menggunakan sumber daya aktor dari luar grup, misalnya Bagus dan Margareta yang memerankan penyair dan perempuan pemilik losmen. Keduanya berasal dari Teater Pandora.

Bagus menilai, ada kemandekan dalam regenerasi (usia) dalam kerja teater. Bukan hanya di Teater Ciliwung, tapi juga pada komunitas-komunitas teater pada umumnya.

Dalam pementasan “Domba-Domba Revolusi”, Teater Ciliwung melakukan pendekatan keaktoran dengan membaca naskah agar pemikiran para aktor tidak jauh dari pemikiran penulis naskah.

Menjawab pertanyaan Afrizal Malna soal pendekatan keaktoran terhadap tokoh pedagang, Bagus menerangkan bahwa karakter pedagang memang asli dan tidak dibuat-buat.

Yang memerankan pedagang adalah benar-benar seorang pedagang yang memang dicopot Teater Ciliwung. Ia adalah pedagang yang setiap hari berdagang di dekat rumahnya, sehingga secara keaktorannya memang masih lemah.

Dalam hal pemilihan latar penggung, Teater Ciliwung memilih desain yang minimalis untuk menunjukkan losmen sederhana pada masa itu.

Namun, barangkali pemahaman sejarah para aktor di grup teater yang berdiri pada tahun 1984 itu tentang prahara politik pada perang kemerdekaan belum memadai seperti yang dimiliki Teater Petra.

Hal itu pula disebabkan karena naskah ini baru ditentukan setidaknya dua bulan sebelum perhelatan FTJ wilayah dimulai, sehingga grup teater pimpinan Irwan Soesilo itu hanya berlatih dua bulan.

Studi Keaktoran

Sutradara Teater Petra Sultan Mahadi Syarif dalam kesempatan itu mengatakan, dalam penggarapan naskah karya Arifin C. Noer tersebut, ia mengajak para pemainnya untuk membaca dan menafsir sendiri teks.

Dengan demikian, para aktor pun melakukan studi keaktoran dan menemukan karakternya masing-masing dalam memerankannya, setidaknya selama 8 bulan.

Teater Petra juga menggunakan pendekatan multimedia untuk membangun atmosfer atau pengalaman masalalu.

Antara lain melalui visual dan musik yang menjadi kekuatan kelompoknya, kata Sultan menjawab pertanyaan Dendi Madiya, sutradara Artery Performa, dalam diskusi itu.

Kepada para aktor, sutradara juga menekankan untuk membuka lapisan peristiwa pada masa-masa perang kemerdekaan, sebab ternyata para aktornya sendiri menyukai naskah-naskah sejarah.

Dan naskah tersebut masih sangat relevan dengan kondisi kekinian Indonesia. Yang mana saat ini banyak elit, politisi, dan orang-orang pada umumnya gembar-gembor melakukan revolusi dan reformasi, tapi ternyata itu hanya demi menguntungkan kepentingan mereka sendiri.

Hal itu ditegaskan sutradara Teater Cahaya Afri Rosyadi dengan mengatakan, naskah tersebut sangat relevan dengan situasi saat ini.

Namun berbeda dengan konsep penyajian kedua grup sebelumnya, grup teater berbasis Jakarta Utara itu membongkar proscenium dan menjadikannya panggung arena.

Menurut Afri, konsep tersebut dianggap lebih emosional dan dekat dengan penonton, sebab naskah ini pada dasarnya merupakan teater kerakyatan.

Barangkali konsep arena itulah yang dianggap matching dengan tema Drama Penonton FTJ 2019, yaitu ingin menonton penonton, demikian kata Afri.

Namun Afrizal mempertanyakan, jika memang proscenium dibongkar, ekosistem dan indeks seperti apa yang dibangung oleh Teater Cahaya.

Teater Cahaya, kata Afri, mengadakan latihan selama kurang lebih 7 bulan untuk mementaskan naskah tersebut.

Akhirnya, ia menyarankan agar grup-grup teater dapat memilih naskah-naskah Indonesia ketimbang naskah asing, karena menurutnya naskah penulis Indonesia tidak kalah bagus.

Menggali Sejarah Lewat Teater

Sutradara Teater Nusantara Mohammad Hidayat pun mengafirmasi pernyataan Afri Rosyadi. Menurut Ayak, begitu sapaannya, di Indonesia sendiri kita tidak kekurangan naskah.

Dari sekian banyak penulis naskah teater yang terkenal, ada beberapa penulis lokal yang tidak populer, tapi ternyata naskahnya memiliki konsep yang bagus.

Seperti halnya dengan naskah “Arung Palakka” yang ditulis oleh Fahmi Syrief, salah seniman senior asal Makassar, Sulawei Selatan.

Berupaya membaca tokoh-tokoh sejarah masa lalu yang terlindas sejarah dominan, Teater Nusantara belakangan mulai menggeluti studi etnografi untuk menghidupkan kembali nuansa kesejarahan ke dalam pentas teater.

Selain itu, kecintaan terhadap kearifan lokal Nusantara, sesuai namanya, mendorong pelaku seni teater yang berdiri pada tahun 2010 ini menggali banyak literatur dan literasi sejarah Indonesia.

Tahun lalu, grup teater berbasis Jakarta Barat ini membawakan “Amangkurat-Amangkurat” karya Goenawan Mohamad.

Menurut catatan Afrizal, pementasan Teater Nusantara kurang membangun representasi ruang pertunjukan karena latar yang dipakai didominasi oleh layar warna hitam.

Satu-satunya adegan yang membangun ruang adalah ketika seseorang membawa pelita dengan suara suara kuda pedati.

Lebih sebagai Eksperimentasi

Salah satu seniman teater yang aktif menulis naskah teater adalah Budi Sumantri, sutradara Teater Indonesia. Selama keikutsertaannya di FTJ, ia selalu menggunakan naskahnya sendiri.

Namun tahun ini, Komite Teater DKJ menyarankan agar grup peserta menggunakan naskah orang lain, baik dalam maupun luar negeri, untuk melihat kemampuan masing-masing peserta membaca dan menafsir teks itu ke dalam pemanggungan.

Menurut Budi, naskah Arifin adalah salah satu yang terbaik. Hal itulah yang mendorongnya untuk memilih naskah “Kisah Cinta Dan Lain-Lain”.

Dalam pementasan kali ini, Budi lebih memilih agar naskah ini dimainkan oleh pemain-pemain yang meski sudah lama bergabung di komunitas, tapi hampir tidak pernah bermain karena mereka berurusan dengan manajemen produksi.

Berusaha keluar dari zona nyaman dan memberi jam terbang bagi para anggotanya, Teater Indonesia bereksperimentasi dengan memberi kesempatan kepada pemain-pemain baru itu untuk mengunjukkan kebolehannya.

Sebagai pengamat, Afrizal menilai pertunjukan Teater Indonesia memang membutuhkan kerja penyutradaraan yang rumit. Dan Budi telah melakukan pekerjaan itu dengan baik.

Namun yang menjadi catatan adalah soal bangunan representasi tentang anjing yang ditampilkan pada akhir pertunjukan, sejatinya tidak lagi diperlukan, karena dengan itu terlihat seperti pameran.

Bagi Afrizal, representasi tentang anjing tidak perlu ditampilkan lewat foto-foto anjing sebab pertunjukan tersebut pada dasarnya sangat mencekam, puitis dan rumit.

Dengan mempertontonkan layer-layer tentang anjing maka pesan yang mau disampaikan kepada penonton tidak tersampaikan.

Dalam membaca pertunjukan “Domba-Domba Revolusi”, Joind Bayuwinanda, sutradara Sindikat Aktor Jakarta, menilai, ketiga pertunjukan oleh tiga grup tersebut belum sungguh-sungguh membangun setting, blocking dan konsep masalalu dengan apik.

Karena baginya, kerja paling sederhana seorang sutradara adalah membahagiakan penonton agar pesan-pesan itu tersampaikan di benak penonton.

Diskusi ini menghadirkan lima grup antara lain: Teater Ciliwung, Teater Indonesia, Teater Petra, Teater Cahaya, dan Teater Nusantara. Berlangsung pada pukul 16.00-18.00 WIB.

*Daniel Deha

Baca Juga

Bamsoet Ajak Milenial Nonton “Panembahan Reso” Mahakarya Rendra

Portal Teater - Masterpiece dramawan WS Rendra, "Panembahan Reso", akan dipentaskan ulang oleh kolaborasi GenPI.Co, JPNN.Com, Ken Zuraida, dan BWCF Society. Lakon yang menjadi buah...

Teater Lorong Yunior Eksplorasi Kreativitas Anak Lewat Lakon “Sang Juara”

Portal Teater - Teater Lorong Yunior  mengeksplorasi kreativitas anak-anak lewat pementasan drama musikal "Sang Juara" pada Minggu (19/1) di Gedung Kesenian Jakarta. Lakon ini mengangkat...

Deal! Hilmar Farid Jawab Keresahan Pelaku Seni dan Budaya

Portal Teater - Penghapusan Direktorat Kesenian dari struktur Direktorat Kebudayaan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim awal tahun ini memunculkan polemik di kalangan...

Terkini

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...