Diskusi Biografi Penciptaan 4 Festival Teater Jakarta 2019

Portal Teater – Diskusi Biografi Penciptaan kembali digelar dengan menghadirkan lima grup peserta Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019. Kelima grup tersebut adalah Teater Camuss, Kelompok Pojok, Teater amatirujan, Unlogic Theatre dan Sanggar Teater Jerit.

Diskusi yang bertujuan membongkar “dapur produksi” ini berlangsung di Lobby Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (27/11) sore. Dimoderatori Raqil Biru Solihin, Ketua Ikatan Teater Jakarta Timur (Ikatamur), diskusi berjalan cukup alot.

Kelima sutradara hadir sebagai perwakilan masing-masing grup untuk membeberkan konsep dan gagasan pertunjukannya.

Kelima sutradara tersebut, yakni Reza Ghazali (Teater Camuss), Iqbal (Kelompok Pojok), Dediesputra Siregar (Teater amatirujan), Dina CF (Unlogic Theatre) dan Choki Lumban Gaol (Sanggar Teater Jerit).

Naskah Dipilih Aktor

Reza Ghazali dalam pemaparannya mengatakan, naskah “Mak Comblang” yang dipentaskan pada Jumat (22/11) malam dipilih karena merupakan keinginan para aktornya yang kebanyakan masih muda.

Karenanya, naskah ini memang dipilih dengan menekankan kerja kolektif antara sutradara dan pemain. Dengan itu, pemain memiliki tanggung jawab besar dalam memainkan peristiwa di atas panggung.

Dalam pembacaannya, Reza melakukan review terhadap banyak referensi, baik dalam maupun luar negeri, naskah asli atau terjemahannya, untuk melihat batas dan sudut pandang bagi pemanggungannya.

Dari data-data dan pembacaan itulah ia mendekati pemanggungan karya Nikolai Gogol ini dengan gaya komedi satir yang pada era 1950-an begitu populer, baik di dunia teater maupun film.

Pemilihan naskah ini, kata Reza, bukan tanpa muatan ideologis tertentu. Ia melihat ada perbedaan sistem perkawinan di Indonesia dengan di Eropa pada umumnya.

Lewat naskah ini, ia ingin menghembuskan sebuah persoalan mendasar bahwa di Indonesia, sistem perkawinan masih begitu terikat, antara lain bukan hanya oleh agama, tapi juga oleh adat-istiadat.

Banyak orang yang tidak mau kawin karena halangan-halangan tersebut, atau mereka sendiri takut menghadapi situasi rumit yang menanti mereka di depan mata setelah menikah.

Soal pilihan artistik, Reza menggambarkan rumah Akhmad sebagai rumah yang kecil, berbeda dengan rumah Ambarita yang luas.

Dipan tempat Akhmad tidur pun dibuat lebih kasar (terbuat dari bambu) untuk menggambarkan suasana ketidaknyamanan hidupnya yang gagap menghadapi kelajangannya yang panjang.

Dalam hal pendekatan keaktoran, Reza mendesak para aktornya agar dapat mengunyah teks sehingga tampak lebih luwes dan menemukan karakter mereka. Karena kesulitannya adalah bagaimana membunyikan teks dengan usia pemain yang masih muda.

Lalu Karta Wijaya, sutradara Labo eL Aktor, mempertanyakan keterkaitan antara judul dengan tubuh pertunjukan “Mak Comblang”. Menurutnya, penekanan judul dalam pertunjukan belum sepenuhnya tersampaikan.

Sebab, pada ghalibnya, term ‘mak comblang’ dalam tradisi Jawa mengandung nilai yang kuat. Tapi dalam pertunjukan Teater Camuss, unsur tersebut tidak dihadirkan.

Reza menimpali, bukan persoalan warisan budaya yang mau dirayakan dalam pentas tersebut, melainkan sistem perkawinannya yang mau disampaikan.

Namun Afrizal Malna, Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta lebih lanjut menandaskan, Teater Camuss meski terlihat baik dalam penggalian data-data, tapi masih lupa bahwa naskah “Marriage” karya Gogol sebetulnya sudah bermasalah.

Karena itu, dalam penyajiannya perlu memikirkan konteks di mana pertunjukan, apakah mau mengikuti latar komedi awal Gogol, atau ingin membawanya ke konteks Indonesia, untuk mengkritik Soekarno pada masa lalu, misalnya.

Berkembang 50 Persen Lebih

Sutradara Kelompok Pojok Iqbal dalam kesempatan itu pun memaparkan konsep dan gagasan karyanya “Pada Suatu Hari” karya Arifin C. Noer.

Ia menceritakan, pemilihan naskah tersebut bermula dari ketentuan asosiasi teater Jakarta Selatan yang menginginkan peserta FTJ memainkan naskah Rawayan terbitan DKJ.

Mengingat kedekatan penentuan naskah dengan jadwal perlombaan di wilayah Jaksel, Kelompok Pojok pada akhirnya hanya berproses selama dua bulan. Satu bulan pertama dihabiskan untuk riset, dan bulan berikutnya latihan.

Dalam pembacaan terhadap naskah ini, Iqbal menemukan bahwa ternyata Arifin menulis naskah ini berdasarkan pengalaman pribadinya yang ingin bercerai dengan istrinya.

Gagasan pertunjukan yang dibawa Kelompok Pojok dalam lakon ini, kata Iqbal, adalah untuk memperlihatkan bahwa keluarga yang ideal itu tidak melulu hidup dalam keharmonisan, kedamaian dan kebahagiaan.

Sebab keluarga yang penuh dengan konflik dan masalah, namun mampu menyelesaikannya dengan baik, itu juga merupakan keluarga yang ideal saat ini.

Afrizal mengakui, bahwa grup teater yang berdiri pada tahun 2010 ini mengalami perkembangan 50 persen dari pentas awal di babak penyisihan. Dan ini menjadi hal yang tak terduga.

Namun demikian, yang belum disentuh oleh kelompok teater yang sudah memproduksi 24 karya selama 9 tahun ini adalah bahwa konflik ketika Nyonya Wenas menganggap si Kakek sebagai ‘anjing’ yang bernama Bison.

Demikian pula dengan skala waktu yang terlalu panjang digunakan untuk memperlihatkan keceriaan dan dagelan anak-anak dari orangtua mereka yang ingin cerai di rumah si Kakek dan Nenek.

Soroti Isu Feminisme

Sementara itu, sutradara Unlogic Theatre Dina Febriana mengatakan, dalam penggarapan naskah “Mesin Hamlet” karya Heiner Muller, ia membaca berulang-ulang dan berdiskusi dengan beberapa teman tentang naskah tersebut.

Pada akhirnya, ia memberi batas penafsiran dengan mengangkat isu feminisme dalam konteks yang lebih dekat dengan situasi kekinian di Indonesia. Menurutnya, perempuan kerap dijadikan alat politik dan kekuasaan.

dengan menarik batas itu, maka pertunjukan ini menjadi sama sekali baru. Ophelia yang dihadirkan bukan lagi Ophelia masalalu, melainkan ophelia-ophelia masakini yang menjadi ‘tumbal’ atau ‘korban’ dari relasi kuasa dan seksualitas.

Dina menjelaskan, ada beberapa perubahan dan pengembangan dalam pertunjukan ini, mulai dari babak penyisihan di Jakarta Pusat sampai babak final kini, kata Dina.

Untuk mempertebal bahasa pertunjukan, pemeranan dilakukan dengan menarasikan pengalaman-pengalaman pelecehan dan kekerasan seksual yang pada kenyataannya merupakan pengalaman para aktornya sendiri.

Pengalaman yang berbeda oleh enam aktornya diekspresikan dengan gaya penyampaian yang berbeda; ada yang marah-marah, bersantai, dan ada pula hanya memainkan teater gambar dan visualisasi.

Sekali lagi, Afrizal menilai pekerjaan sutradara Unlogic Theatre merupakan yang paling baik di antara grup-grup peserta yang lain, terutama dari penyajian sinopsis karya, yang dengannya dapat terbaca pertunjukan seperti apa yang akan dintonton.

Namun ada beberapa catatan yang dilontarkan penulis buku “Teater Kedua” (2019) itu. Antara lain soal penggunaan istilah “dunia tanpa ibu”. Menurut Afrizal, term ibu dan perempuan, yang menjadi rujukan tafsiran karya ini, pada dasarnya berbeda.

Perempuan pada masa perang dijadikan alat propaganda, seperti misalnya yang terjadi pada perempuan-perempuan Jepang pada masa Perang Dunia II.

Adalah baik bila memang Unlogic Theatre memilih mengeksplorasi pelecehan terhadap perempuan lewat biografi, seperti yang pernah dilakukan Kala Teater dari Makassar dalam Djakarta Teater Platform 2019 lalu.

Namun tetap menjadi catatan, bahwa pada titik itu, aktor tidak memainkan peristiwanya, tapi hanya menarasikan saja. Karenanya menjadi tidak hidup.

Afrizal menilai, pertunjukan “Mesin Hamlet” masih terlalu tebal. Hal mana ditunjukkan dengan tampilan kostum yang memungkinkan tubuh aktor dan narasinya menjadi tertutup.

Dalam tata pencahayaan, lampunya masih terlalu tebal, sehingga apa yang mau disampaikan belum tercapai. Belum lagi dengan tampilan aktor yang seksi bisa mengaburkan pesan-pesan yang disampaikan.

Lalu Karta Wijaya pun menilai, pertunjukan Unlogic Theatre belum mencerminkan judul itu sendiri. Karena itu, barangkali yang perlu dieksplorasi adalah representasi tubuh perempuan sebagai ‘mesin’ dalam konteks feminisme.

Menanggapi penilaian itu, Dina mengatakan, sebetulnya dalam keseharian hidup kita perempuan memang sering dijadikan ‘mesin’ oleh laki-laki atau suami, dalam ranah manapun, baik di rumah atau di ruang-ruang lainnya.

Penggunaan Simbol-Simbol

Sutradara Teater amatirujan Dediesputra Siregar dalam diskusi itu pun memaparkan, banyak referensi yang dibacanya dalam mengeksplorasi naskah “Kursi-Kursi” Ionesco.

Setelah mendapat kesimpulan, bersama anggota grup mereka melakukan kemah teater, yang dimulai pada saat babak penyisihan di Jakarta Utara. Pada tahap itu, mereka meresapi dan menghayati peristiwa dari pertunjukan.

Karena itu, dalam penyajiannya, ia lebih menekankan penggunaan simbol-simbol. Misalnya simbol keempat pintu yang bergerak-gerak, jendela lewat bunyi, air laut berupa musik, lentera, dan kursi-kursi itu sendiri.

Meski demikian, menurut Afrizal, sutradara Teater amatirujan terlalu menekankan penyajian yang secara estetik merupakan seni rupa, sehingga dapat saja membunuh teks.

Dalam kesempatan diskusi hadir juga sutradara Sanggar Teater Jerit Choki Lumban Gaol yang akan mementaskan “Macbeth” malam hari, Rabu (27/11).

Dalam paparannya, Choki mengatakan, pertunjukannya tahun ini lebih merupakan proyek eksperimentasi untuk keluar dari zona nyaman setelah dua tahun-tahun berturut-turut memerankan dengan aktor yang sama.

Menggunakan latar Eropa abad XI, pertunjukan “Macbeth”, sang sutradara mencoba menerapkan metode baru untuk mengubah mindset para aktornya.

Selain itu, grup pemenang FTJ tahun 2018 kali ini berupaya agar para aktornya lebih disiplin dalam menggunakan setiap kata. Sebab, kata yang satu terkait dengan kata berikutnya.

*Daniel Deha

Baca Juga

PSBB untuk Jakarta, Bagaimana Nasib Daerah Lain?

Portal Teater - Pemerintah resmi menetapkan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta. Keputusan ini dibuat untuk menekan transmisi virus...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Solidaritas Tanpa Batas Pekerja Seni

Portal Teater - Industri seni adalah salah satu sektor yang ikut terpukul lantaran merebaknya virus Corona (Covid-19). Tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh...

Terkini

500 Juta Penduduk Dunia akan Jatuh Miskin Karena Corona

Portal Teater - Oxfam, sebuah organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada penanggulangan bencana dan advokasi, mengatakan pada Kamis (9/4) bahwa dampak dari penyebaran...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Jokowi: Glenn Fredly Lebih Dari Seorang Musisi

Portal Teater - Presiden Joko Widodo menyampaikan kabar duka atas berpulangnya musisi gaek Glenn Fredly pada Rabu (8/4) malam. Glenn diketahui meninggal karena penyakit...

Pasien Terinfeksi Covid-19 di Indonesia Tembus 3.000 Orang

Portal Teater - Pemerintah Indonesia pada Rabu (8/4) siang merilis data perkembangan terbaru kasus virus Corona di tanah air. Seperti hari-hari sebelumnya, grafik temuan...

Solidaritas Tanpa Batas Pekerja Seni

Portal Teater - Industri seni adalah salah satu sektor yang ikut terpukul lantaran merebaknya virus Corona (Covid-19). Tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh...