Diskusi Biografi Penciptaan Festival Teater Jakarta 2018 (2)

Portal Teater – Diskusi Biografi Penciptaan ini dilaksanakan pada Minggu, 25 November 2018, di Loby Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, pukul 16.00 – 17.00 WIB. Moderator : Fariq Alfaruqi.

Segmen I

Fariq: To Kill Another Me adalah naskah yang ditulis sendiri oleh sutradaranya. Pertanyaan, bagaimana sutradara melakukan riset untuk menciptakan naskah tersebut.

Marooned Aktor Society (Tamar Julian): Ide pemilihan naskah muncul dari kegelisahan grup kami sendiri yang sudah 3 tahun tidak berproses. selama 3 tahun tersebut kami selalu mencoba berproses tapi selalu tidak menemukan titik temu dari sebuah karya yang ingin dipentaskan.

Dalam naskah ini diceritakan tentang kegelisahan seseorang yang kehilangan kekreativitasannya dan tidak mampu menyelesaikan tulisannya.

Sosok ini mempunyai kecenderungan untuk mengakhiri setiap karya-karyanya ini dengan kematian. Secara biografi grup juga bercerita seperti itu, selalu mengakhiri ceritanya dengan kematian.

Mengenai riset, saya tidak melakukan riset tertentu karena karyanya murni akumulasi dari apa yang saya rasakan. Hingga muncul karakter L ini yang menggunakan tragedi sebagai cara dia dalam menyelesaikan tulisan-tulisannya.

Marooned Aktor Society, Teater lebah, Teater Petra, Teater Karakter, Teater Semut Unsada. Moderator: Fariq Alfaruqi. -Dok. Dian Indriyani/DKJ
Marooned Aktor Society, Teater lebah, Teater Petra, Teater Karakter, Teater Semut Unsada. Moderator: Fariq Alfaruqi. -Dok. Dian Indriyani/DKJ

Teater Lebah (Dodi Miller): (Pertanyaan yang sama mengenai naskah dan riset karya) Naskah Tokek ini adalah naskah yang cukup tua dan ditulis tahun 1970. Ada beberapa alasan kenapa saya memili naskah Tokek ini. Yang pertama adalah karena grup kami masih baru dan masih kekurangan sumber daya manusia. Secara kuantitas naskah Tokek ini hanya diperankan oleh dua orang.

Naskah yang ditulis tahun 1970-an ini menurut saya masih cukup mewakili kehidupan sosial masyarakat pada saat sekarang ini. Salah satunya faktor kemiskinan yang masih menjadi pergulatan di naskah ini.

Alasan kedua adalah, di naskah Tokek ini selain membicarakan kemiskinan juga membicarakan persoalan mitos tokek itu sendiri.

Asumsi dasar yang mempertemukan antara kemiskinan dengan mitos tokek ini dilihat dari latar belakang dua karakter dalam naskah ini yang dulunya hidup di kampung lalu pindah ke Jakarta dan mengikuti pola hidup yang urban. Mereka masih membawa pemikiran daerahnya dengan mempercayai mitos-mitos yang ada di daerahnya.

Teater Petra (Sultan Mahadi Syarif): (Bagaimana proses riset terhadap realitas yang kemudian menjadikannya sebuah naskah)

Ada beberapa poin eksternal maupun internal. Sebagai penulis ingin membuat naskah pergerakan. Kemudian melihat internal, group kami melihat apa yang paling dekat dengan keadaan sekarang.

Proses riset saya mencoba melihat persoalan-persoalan yang ada di dalam kampus. Setelah menemukan beberapa referensi, kami coba mendekati data itu sendiri dengan melakukan proses wawancara.

Pada awalnya naskah “Almamater Merah” ini berbicara mengenai konflik-konflik yang ada di sekitar kampus. Setelah menggali kembali, saya menemukan bahwa perubahan di negeri ini tidak bisa dilepaskan dari kaum terpelajar.

Teater Karakter (M. Choirul Adji Prasetyo): (Pertanyaan yang sama mengenai naskah dan riset karya) Alasan memilih naskah yang sering dipentaskan ini adalah suatu tantangan, lalu di situ terdapat upaya untuk melakukan proses kreatif.

Mencoba mengangkat peristiwa yang menyangkut hal-hal yang akhir-akhir ini terjadi tentang perselingkuhan ataupun perbuatan asusila. mengenai pembacaan tekstual dan relevansi dengan yang terjadi di masa kini, kita membaca teksnya secara keseluruhan dulu, lalu dikorelasikan ke jaman sekarang.

Teater Semut Unsada (Sabun Colek): Naskahnya ditulis oleh kelompok sendiri dan berangkat dari realitas yang ada di lingkungan sekitarnya. Kami melihat realitas yang ada di sekitar dulu baru setelah itu mencari teks yang sesuai dengan realitas itu.

Usaha untuk mengintegrasi, kami tidak mengganti naskah asli tapi kami lebih ke mengembangkan atau menambahkan beberapa sampiran-sampiran yang menurut kami penting.

Segmen II (Tanya-Jawab)

Adinda Luthvianti: Banyak naskah yang ditulis sendiri. Apakah sebelumnya memang punya kebiasaan membaca buku sastra, sehingga konstruksi cerita itu menarik dan bisa dipertanggungjawabkan.

Rita Matu Mona: Pendapat narasumber tentang teater Jakarta yang benar-benar membutuhkan regenerasi. Bagaimana agar ada regenerasi dari pertunjukan ini adalah bisa menjadi cerminan bahwa orang yang tinggal di bawah jembatan itu masih ada.

Selain itu saya juga mengharapkan mitos-mitos yang ada itu tidak hilang begitu saja. Yang di atas panggung itu memang mewakili realitas yang ada.

Moderator: Apakah pertunjukan ini punya usaha untuk menggeser realisme itu sendiri.

Marooned Aktor Society (Tamar Julian): Realisme imajinatif, ada hal-hal simbolik yang dituangkan, contohnya pada set, dalam panggung bisa dilihat banyak persegi di dalamya. Ada juga simbol akuarium berbentuk kotak dan berisi air dengan dipenuhi batu-batu tapi tidak ditemukan ikan.

Saya juga memasukkan unsur-unsur yang bisa dibaca dengan memasukkan simbol akuarium yang bisa diartikan sebagai tempat untuk mengurung sesuatu. Kenapa akuarumnya kosong, karena karakter L ada di dalam situ, dia terjebak dan ingin menyelesaikan karyanya tapi ada dinding-dinding yang membuatnya terjebak. Pijakannya
teater-teater di Jakarta.

Marooned Aktor Society: Sebelum memutuskan membawakan naskah sendiri, Marooned Aktor Society melakukan pembacaan-pembacaan, tidak cuma sekedar membaca tapi juga melihat dan menonton. Ada beberapa gagasan-gagasan yang ditambahkan karena kisah ini memang menggambarkan realita si penulis.

Untuk penciptaan naskah sendiri, di awal saya mencari referensi yang memperkuat imajinasi dan nalar saya untuk menulis. Naskah yang saya tulis adalah daya imajinasi dan fiksi. Semua yang kami rangkai adalah sebuah fiksi bukan berdasarkan peristiwa sebenarnya.

Teater Lebah (Dodi Miller): (Konsep realis, yang ingin dikejar) Saya tidak ingin terjebak dengan genre yang realis atau non realis, tapi ternyata ini merupakan kebutuhan.

Kenapa realis karena pertunjukan ini benar-benar menjadi cermin, saya coba memindahkan salah satu ruang persoalan masyarakat. Secara keseluruhan negara Indonesia itu belum kaya dan masih banyak yang terlantar. Harapan memang realis tapi kami memakai simbol-simbol juga dalam teater.

Moderator: Saya membaca ada istilah realisme simbolik dari Teater Petra, apa itu realisme simbolik menurut Anda dan yang membedakannya dengan realisme.

Teater Petra (Sultan Mahadi Syarif): Di sini yang saya tangkap tentang simbolik pada segi visual bagaimana setting dan gerak bisa menjadi penanda peristiwa. Karena pada naskah, saya mencoba membuat ilusi-ilusi yang lahir dari sebuah konstruksi pikiran. Penanda-penanda itu akan mendukung terjadinya rangkaian-rangkaian peristiwa.

Teater Semut Unsada (Kukuh Santosa): (Metode apa yang digunakan) merekam peristiwa dan dokumenter yang kami ambil menjadi acuan panggung.

Marooned Aktor Society (Tamar Julian): Treatment-nya karena latar belakang aktornya (secara usia dan jam terbang) berbeda-beda. Treatment awal itu pembacaan naskah.

Setelah masing-masing menafsirkan kemudian kita diskusikan sama-sama. Treatment tidak hanya untuk pemain tapi terutama juga kepada diri saya sendiri. Pembacaan dan pendalaman naskah. Setiap latihan mencoba untuk beradapasi terhadap ruang.

Teater Lebah (Dodi Miller): (Treatment) dalam proses ini tidak ada treatment khusus. Karena naskah Tokek bahasanya cukup mudah dimengerti. Saya mencoba membebaskan pemain untuk menafsir teks itu.

Penanggap: Realis itu sebenarnya adalah sebuah potongan gambar tanpa ada simbol-simbol. Realisme itu yang tanpa tafsir. Ketika seseorang melakukan tafsir, itu bukan lagi realisme. Simbol-simbol adalah pengada ruang. Realisme mencoba mevisualkan bagaimana karakter merasakan pasir hisap, lalu mevisualkan juga tentang perselingkuhan.

Segmen III (Tanya-Jawab/Penanggap)

Penanya: Tema FTJ 2018 adalah generasi Z, apa saja treatment terhadap aktor sehingga aktornya tertarik masuk menjadi pencerita.

Teater Petra (Sultan Mahadi Syarif): Treatment awal memberikan ilustrasi karakter. Mengajak para pemain membaca kembali peristiwa masa lalu khususnya gerakan mahasiswa. Metode khusus memberikan referensi tentang film, jurnal dan artikel.

Teater Karakter (M. Choirul Adji Prasetyo): Metode spesifik mengikuti Festival Teater Jakarta Selatan dengan naskah “Malam Jahanam” yang kurang lebih hampir sama dengan pada umumnya, kemudian di level selanjutnya (FTJ), kita mencoba mengayomi/mengajak diskusi para aktor. Dari diskusi terdapat gagasan-gagasan yang muncul.

Penanya: Pertanyaaan terakhir (bagaimana menurut teman-teman sekalian FTJ di tahun ini dan tahun mendatang)?

Teater lebah (Dodi Miller): Secara mekanisme FTJ ini adalah lomba tapi menurut pandangan saya ini bukan ruang perlombaan, tapi ruang FTJ ini secara pribadi masih cukup penting sebagai ruang sarana alternatif bagi para pelaku teater karena hambatan yang paling besar adalah ruang bagi para pelaku teater untuk pertunjukan dan FTJ mencoba mefasilitasi itu, dan ini penting untuk dipertahankan. Kalo secara regenerasi saya lihat setiap tahun pasti ada regenerasi.

Teater Karakter (M. Choirul Adji Prasetyo): Menurut saya FTJ ini adalah salah satu proses workshop, terlepas dari kalah menangnya. Dari segi perlombaan, memang ini tantangan agar kita bisa meningkatkan kemampuan walaupun pencapaiannya tidak terlalu maksimal

Teater Petra (Sultan Mahadi Syarif): Merupakan ajang yang bergengsi dan perlu diteruskan. Mengenai gedung pertunjukan yang kadang tidak terjangkau

Marooned Aktor Society (Tamar Julian): FTJ itu penting, seharusnya bisa menjadi tolak ukur perteateran Jakarta. Perkembangannya bisa dilihat dari FTJ. Juga sebagai ajang kumpul seniman.

Teater Semut Unsada (Kukuh Santosa): FTJ ada universitas, bukan lagi ajang lomba tapi festival.

Baca Juga

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...