Diskusi Biografi Penciptaan Festival Teater Jakarta 2018 (3)

Portal Teater – Diskusi Biografi Penciptaan Festival Teater Jakarta menghadirkan narasumber Sanggar Teater Jerit, Pandu Teater, Teater Nusantara, Teater Biru, Teater Hijrah.

Diskusi ini dilaksanakan pada Selasa, 27 November 2018 di Lobby Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pukul 16.00-17.00 WIB; moderator: Fariq Alfaruqi.

Sanggar Teater Jerit, Pandu Teater, Teater Nusantara, Teater Biru, Teater Hijrah. Moderator: Fariq Alfaruqi. -Dok. Dian Indriyani/DKJ
Sanggar Teater Jerit, Pandu Teater, Teater Nusantara, Teater Biru, Teater Hijrah. Moderator: Fariq Alfaruqi. -Dok. Dian Indriyani/DKJ

Segmen I

Moderator: Teater Pandu mementaskan teater sendiri, bagaimana riset mengenai penciptaan naskah?

Pandu Teater: Awalnya mengangkat naskah yang mengangkat tentang sejarah. Membaca sebuah karya sastra yang berkisah tentang seorang wanita desa (Cianjur) yang berangkat ke kota. Dia masih menjaga nilai-nilai kebudayaan di desanya. Nilai kebudayaan yang dijaganya ini adalah filosofi Cianjur: Ngaos, Mamaos dan Maenpo.

Filosofi ini mengingatkan kita tentang tiga aspek keparipurnaan hidup terutama untuk masyarakat Cianjur. Ngaos adalah tradisi mengaji, Mamaos adalah seni budaya yang menggambarkan kehalusan budi, sedangkan Maenpo adalah seni bela diri.

Selama 12 tahun dia berjuang di ibukota dan berhasil berkat budaya-budaya yang masih dijaganya. Ini menjadi inspirasi saya, dan membuat saya berangkat dan melakukan riset di sana.

Teater Nusantara: (Alasan memilih naskah) kondisi sekarang, kekuasaan yang dari dulu sampai sekarang ada penguasa yang modern. Naskah “Amangkurat” ini menceritakan itu, bagaimana kekuasaan penguasa itu pada akhirnya.

Saya tertarik karena naskah ini menjadi tantangan bagaimana saya memvisualkan teks-teks itu ke atas panggung. Naskah ini tidak bercerita tentang sejarah, yang menarik adalah karakter penguasa. Kita sebagai manusia cenderung ingin berkuasa. (artinya Amangkurat tidak lagi berada di wilayah sejarah).

Teater Nusantara: “Amangkurat Amangkurat”; naskah karya Goenawan Mohamad, sutradara : Ayak MH. -Dok. Dian Indriyani/DKJ
Teater Nusantara: “Amangkurat Amangkurat”; naskah karya Goenawan Mohamad, sutradara : Ayak MH. -Dok. Dian Indriyani/DKJ

Teater Hijrah: (Alasan menulis naskah kerupuk) ini sudah menjadi tradisi di grup kami bahwasanya bukan hanya sutradara yang memilih naskah tapi didiskusikan sama-sama, sesuai dengan Sumber Daya Manusia-nya.

Kami tertarik dengan isu kemiskinan. Sekarang banyak isu kemiskinan tanpa adanya solusi. Pertunjukan realisme, stereotype tentang kemiskinan itu lebih cenderung realis, ada hubungan sebab akibat tentang ide realis kemiskinan mungkin bukan konsep pertunjukan yang lain.

Tapi si naskahnya ini sendiri buat saya pertunjukannya sendiri adalah pertunjukan realis, kalau sebab akibat, tidak ada hubungan sebab akibat. Banyak hal kemiskinan yang diangkat di sini.

Teater Biru: (Apa alasan memilih naskah dan hubungan dengan realitas hari ini) Latar belakangnya karena naskah ini terjadi dalam lingkungan saya. Di mana kita saling tidak peduli antara satu sama lain. Mempunyai ciri khas untuk mengkritik kondisi sosial.

Naskah ini adalah naskah realis. Saya membuat pertunjukan seringan mungkin, tidak ingin membuat penonton berfikir keras ketika menonton pertunjukan yang dibawakan oleh grup saya.

Teater Jerit: (Alasan memilih naskah yang sudah dipentaskan sejuta kali ini) memecahkan simbol-simbol yang ada dalam naskah Waiting for Godot.

(Apakah memilih mendekati naskah yang melihatnya sebagai peristwa yang terjadi di belahan sana atau mencoba mendekatkan realitas sekitar kita) mendekatkan ke realitas kita tentu saja.

Dilihat dari simbol-simbol yang ada pada pertunjukkan, contohnya penggunaan rantai, kita lihat sekarang ini anak-anak dan masyarakat jaman sekarang terbelenggu dengan gadget-nya sendiri.

 

Sanggar Teater Biru: “Jodar”, Tafsir bebas teks dramaitik Harris Priadie Bah, sutradara: Ragilbiru Ss,. -Dok. Dian Indriyani/DKJ
Sanggar Teater Biru: “Jodar”, Tafsir bebas teks dramaitik Harris Priadie Bah, sutradara: Ragilbiru Ss,. -Dok. Dian Indriyani/DKJ

Segmen II (Tanya-Jawab)

Moderator: Ke Teater Pandu: tadi sudah dijelaskan latar belakang naskah, bagaimana temuan-temuan dari riset. Apakah penciptaan naskah tersebut dibuat sebagai teks sastra atau itu justru dibuat hanya untuk pertunjukan?

Teater Pandu: Pada dasarnya ketika saya melakukan suatu tulisan, ada temuan-temuan yang memang ini saya coba untuk melakukan satu temuan kemisterian, persaingan kekuasaan, harta dan takhta.

Dari penemuan itu saya mencoba kembangkan lagi. Saya selalu berangkat dari apa yang saya bisa, dengan teks-teks yang naratif kemudian dengan bahasa-bahasa dan simbol-simbol.

(apakah ada acuan-acuan tertentu?) Dalam penulisan, secara jujur saya terpengaruh, karena banyak yang saya baca. Ketika ada orang yang membaca naskah saya, naskah ini cenderung pada sastranya. Tapi kecenderungan-kecenderungan saya terbawa ke penulisan yang lain.

(apakah kemudian, anda melihat potensi-potensi naskah, pertimbangan menulis naskah) pertimbangan tidak ada, saya terbiasa dengan cara penulisan yang konvensional.

Moderator: Pertanyaan untuk Teater Nusantara (terminologi realisme magis, latar belakang sejarah, unsur-unsur yang kentara muncul adalah bagaimana sesuatu yang berada di luar nalar (magis) meresap dalam pakem-pakem realis dalam kepenulisan teks tersebut.

Magis dipahami sebagai realitas yang niscaya, dia tidak berjarak dengan realitas. Bagaimana konsep pertunjukan yang Anda gagas.

Teater Nusantara: Tokoh Amangkurat 1 itu ada dan itu nyata, ketika naskahnya saya baca ada lompatan-lompatan pikiran, bagaimana tokoh lain menceritakan riwayatnya.

Lalu saya menduga ini bukan realis. Lalu saya membuat suatu konsep yang bersifat magis. Pengalaman ini kita rekam dan kita buat sebagai pertunjukan drama singkat.

Saya meminjam istilah realisme magis. (unsur-unsur apa yang membedakannya dengan terminologi lain) kepada fantasi, bagaimana si tokoh.

(bagaimana surealisme merujuk pada pertunjukan) Segi keaktoran butuh pencarian aktor-aktor atau tokoh yang bukan biasa (manusia), ada hujan, gerimis, angin, dll.

(surealis gerakan seni yang berkembang dari teori psikologi yang mewujudkannya kepada seni, ada ketidaksadaran yang merujuk ke karya seni mereka, apakah ada metode tersendiri) keaktoran seperti apa, saya percaya pada aktor saya. Kami berdiskusi dan membedah naskah-naskah dengan aktor-aktor saya.

(Pembentukan tokoh yang realis, keberhasilan seorang tokoh dilihat dari bagaimana seorang tokoh itu meniru) batasan-batasan, saya tidak memberikan batasan-batasan, saya membebaskan aktor saya dengan apa saja yang ingin mereka eksplorasi.

Teater Jerit: (kesan pertama pembacaan naskah “Sementara Menunggu Godot” diusahakan untuk mengejar konteks yang ada di Eropa, meskipun ada hal-hal yang universal juga di sana, bagaimana mengejar konteks tersebut)

Pendekatan artistik, bagaimana ada puing-puing setelah perang. Masalah aktor memberikan pengertian, kenapa Vladimir menjadi gelandangan.

Kalau kita lihat gelandangan saat ini memang kalah dengan keadaan. Memberikan hubungan antara non realis itu sendiri sebagai media penghubung, tokoh realis yang berkomunikasi. Tokoh realis di sini dia memberikan pancaindra yang lebih.

Moderator: Pertanyaan untuk Teater Hijrah (pembentukan karakter/artistik, terutama dengan konsep surealis)

Artistik bagaimana kita memasukkan simbol-simbol kemiskinan. Simbol-simbol itu kita tampilkan (metode riset) kita bedah naskah, setiap aktor saya suruh membuat biografi penciptaan. Setelah itu kita diskusikan dan mencari tokoh yang tepat.

Moderator: Pertanyaan untuk Teater Jerit, selain aktor diminta untuk melakukan riset tekstual, karena yang dikejar adalah konteks di Eropa pada tahun tertentu, apakah ada metode spesifik?

Jawab: Pendekatan tekstual. Dari bunyi teks kita bisa mendeskripsikan siapa.

Moderator: (tidak melakukan riset ke lapangan tentang realitas yang ada di sini?

Jawab: Kami tidak ke lapangan, kami lebih ke diskusi. Dalam pertunjukan ini kapitalis dihancurkan pemahamn pada aktor bagaimana teori Marxis, bagaimana kaum buruh.

Teater Nusantara: “Amangkurat Amangkurat”; naskah karya Goenawan Mohamad, sutradara : Ayak MH. -Dok. Dian Indriyani/DKJ
Teater Nusantara: “Amangkurat Amangkurat”; naskah karya Goenawan Mohamad, sutradara : Ayak MH. -Dok. Dian Indriyani/DKJ

Segmen III (Tanya-Jawab)

Adinda Luthvinati: (ingin mendengar proses kreatif Jodar. Di sana ada konsep hoax)

Jawab: Konsepnya, buat saya pribadi mereka harus mencari tokoh yang ada di dalam dirinya sendiri. Kami juga membawakan musik koor. Ternyata koor itu adalah cerita dari naskah kami.

Ending-nya si ibu yg tua renta tetap sehat dan hidup, sedangkan anak-anaknya sudah meninggal. Koor adalah bagian dari ceritanya, koor itu menjadi semacam narator.

Penanya: Pertanyaan untuk Pandu Teater (menemukan realisme imajinatif, apa yang membedakan dengan realisme)

Jawab: Konsep pertunjukannya kami bagi dua. Realis dan non realis. Realis adalah peristiwa kongkrit. Panggung adalah peristiwa tokoh. Hubungan ada ketinggian antara realis dan non realis, oleh tokoh Belanda. Kita membuka Youtube, materi-materi dan buku-buku yang menjadi pembanding

Penanya: Pertanyaan untuk Teater Biru (mencoba menggabungkan metode mengenali dirinya. Bagaimana peran yang dengan kesenjangan usia dengan pemainnya (di luar dirinya)

Jawab: Jadi setelah mereka mendapatkan dirinya, lalu kita ajak observasi, ke jalan dan suatu tempat. Setelah riset mendapatkan tokoh dalam dirinya, saya ajak ke sebuah tempat yang kira-kira ada kejadian tersebut.

Pandu Teater: “Rumah Terakhir”; Naskah dan sutradara Taswadi Gultom. -Dok. Dian Indriyani/DKJ
Pandu Teater: “Rumah Terakhir”; Naskah dan sutradara Taswadi Gultom. -Dok. Dian Indriyani/DKJ

Segmen IV

Penanya: Pertanyaannya penutup: terkait dengan keberlangsungan FTJ, apakah menurut Anda FTJ masih relevan untuk hari ini

Sanggar Teater Jerit: Masih sangat relevan, terlepas ingin dirombak atau bagaimananya. FTJ merupakan tempat berkumpulnya kawan-kawan teater se-Jakarta.

Pandu Teater: Sama.

Teater Nusantara: FTJ ini ajang untuk kita setelah berproses dan berkreatifitas. Memberikan kesempatan untuk pelaku2 seni teater muda untuk berkreatifitas.

Teater Biru: Sangat relevan. Kampus sendiri membutuhkan prestasi. Kepercayaan untuk kampus.

Teater Hijrah: Sama.

Afrizal Malna: FTJ tidak mempunyai jejak. Bagaimana supaya ada jejak, makanya ada forum biografi penciptaan untuk merumuskan apa saja yang terjadi di karakter masing-masing.

FTJ metodenya lomba. Seharusnya punya keberanian. Kalo teman-teman masih mempertahankan. DKJ harus memberikan laporan ke negara, hasilnya apa? DKJ akhirnya membuat strategi supaya FTJ ini lebih produktif.

Sampai sekarang kita masih mencari cara supaya kita tahu kualitas. Mempertanyakan apa yang ada dalam diri kita, ini adalah cara-cara untuk membongkar bagaimana di kita menata proses penciptaan, gagasan muncul dan juga teknisi.

Input-nya buat FTJ apa, persoalan rasionalitas. Komite bertanggung jawab untuk sebuah festival.

*Kata-kata yang dicetak miring merupakan pertanyaan moderator dan pertanyaan-pertanyaan lain dari peserta.

Baca Juga

Pesta Kesenian Bali 2020 Ditiadakan

Portal Teater - Pemerintah Provinsi Bali mengumumkan peniadaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-42 tahun 2020 menyusul penyebaran virus Corona (Covid-19) di Indonesia, khususnya di...

Virus Corona dan Problem Kultural

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) yang kini melanda dunia, bagi Yuval Noah Harari, salah satu filsuf masakini, merupakan krisis global. Mungkin krisis terbesar...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...