Diskusi Seputar Teknologi dan Seni, Penutup Lintas Media 2019

Portal Teater – Lintas Media ke-4 yang mengusung tema “sirkular” pada tahun ini, ditutup dengan sebuah diskusi bertajuk ‘Perubahan Teknologi dan Seni Kita’. Diskusi ini menjadi momen penting, mengingat teknologi menjadi bagian dominan dari setiap karya yang dipamerkan selama perhelatan ini.

Tidak kurang dari tiga belas karya (meliputi instalasi, film, dan pertunjukan) yang dipamerkan, seluruhnya menempatkan teknologi sebagai poros. Baik sebagai inspirasi, sebagai objek, maupun sebagai medium.

Diskusi ini berlangsung selama kurang  lebih 120 menit, dipandu oleh Berto Tukan sebagai narasumber dan Yoviandra sebagai moderator.

Dengan menguraikan pikiran Walter Benjamin, Berto mulai merintis jalan bagi arus diskusi. Selanjutnya, tak sekedar menyibak tirai, ia juga menggelar satu alternatif dalam memandang beragam fenomena yang tengah kita hadapi setakat ini. Khususnya fenomena-fenomena sosiologis yang berkaitan dengan seni dan teknologi.

Pada diskusi ini, setidaknya ada dua hal penting yang didedah dari pemikiran Walter Benjamin, yakni gagasannya mengenai aura dan mengenai reproduksi seni. Keduanya dibicarakan bersamaan dengan konteks hidup Walter sekaligus relevansinya dengan perkembangan seni dan teknologi masa kini.

Para seniman yang memamerkan karyanya dalam Lintas Media 2019, juga hadir dalam diskusi petang itu, Sabtu (15/6). Mereka ikut terlibat dalam pembicaraan yang tak lepas dari karyanya masing-masing.

Tak ketinggalan pula Ugeng T. Moetidjo dan Afrizal Malna, yang masing-masing adalah kurator dan perwakilan Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta pada Lintas Media 2019. Keduanya turut memberikan pandangan atas uraian Berto Tukan petang itu. Baik terhadap pemikiran Benjamin Walter, maupun terhadap gejala kesenian yang mereka alami.

Banyak hal menarik yang disampaikan peserta diskusi. Baik pengalaman dalam kehidupan sehari-hari bersama teknologi, maupun pengalamannya bersentuhan dengan karya-karya yang ditampilkan selama Lintas Media dihelat.

Ariyoga, salah satu peserta diskusi mengungkapkan keresahannya setelah bersentuhan dengan instalasi video berjudul ‘Kontrak Layar’. Setelah menyaksikan instalasi video yang hanya berisi kode kotak (QR Code) di monitor yang tak menyala, ia merasa terkecoh.

Mulanya ia berharap dapat melihat langsung tayangan video pada kubikel yang telah diatur sedemikian rupa itu. Namun yang ia temui hanyalah secarik kertas yang dilekatkan dengan selotip. Uniknya, setelah kode kotak di atasnya dipindai dengan ponsel, barulah kode itu menuntunya pada sebuah saluran Youtube yang menyajikan sebuah tayangan.

Dari pendapatnya tersirat bahwa, meski ia merasa terkecoh, hal itu memberi pengalaman yang menarik sekaligus membingungkan. Sebab pada momen itu ia mulai menyadari bahwa ada gejala yang unik tengah terjadi dalam perkembangan seni saat ini.

Berbeda dengan karya seni dalam era teknologi lampau, seni dalam teknologi kini memungkinkan seseorang menikmati satu karya seni berulang kali dengan situasi yang berbeda. Oleh karena itu kesan yang diterima penikmatnya, atau bisa kita sebut sebagai aura dalam istilah Walter Benjamin, juga berbeda-beda setiap kali karya seni itu dinikmati dan dipergauli.

Sebuah lukisan misalnya, hanya dapat kita nikmati di sebuah ruang pameran. Situasi dan suasananya cenderung tetap, sehingga aura yang dihasilkan pun tak jauh berbeda. Namun sebuah film pendek di Youtube bisa disaksikan berulangkali, semaunya dan tak kenal tempat. Ia bisa disaksikan di toilet, di kamar, di atas bus, di perpustakaan, di mana saja di ruang publik atau pun privat.

Artinya, teknologi reproduksi seni saat ini memungkinkan satu karya seni dapat berkali-kali dinikmati, dan dapat menghasilkan aura yang juga berbeda-beda tergantung situasi dan suasana persentuhan itu terjadi.

Lantas apakah teknologi menjadi medium atau modus dalam penciptaan seni saat ini? Demikianlah kira-kira diskusi petang itu diakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang diajukan terhadap gagasan Walter dan gejala kesenian saat ini.

Sirkulasi dari pertanyaan, jawaban, kemudian kembali lagi kepada pertanyaan lain yang muncul. Dan akhirnya, terimakasih untuk semua penikmat dan pekarya seni yang terlibat! Kalimat itulah yang diucapkan  Rita Matumona untuk penutup perhelatan Lintas Media 2019.

*Roby Aji

Baca Juga

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Terkini

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...