DPRD DKI Jakarta Pangkas Anggaran Revitalisasi TIM Hingga Rp400M

Portal Teater – Menyusul pergolakan akibat penolakan seniman ibukota terhadap proyek revitalisasi Taman Ismail Marzuki, Jakarta, DPRD DKI Jakarta memangkas anggaran proyek tersebut sebesar Rp400 miliar dari usulan awal Rp600 miliar.

Dengan pemangkasan itu, maka dana Penyertaan Modal Daerah (PMD) yang disetujui untuk PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dalam draf Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020 juga terpotong dari Rp3,106 triliun menjadi Rp2,706 triliun.

“Ini saya putuskan Jakpro ya. Mungkin saya kurang puas, tapi sebagai hakim saya putuskan (dana PMD) Jakpro Rp2,706 triliun ya,” ujar rasetyo Edi Marsudi, Ketua Badan Anggaran DPRD DKI Jakarta, dalam rapat pembahasan APBD 2020, di Kantor DPRD DKI Jakarta, Rabu (27/11), melansir Tribunnews.com.

Dalam pembahasan itu, anggota DPRD bersama dengan sejumlah pejabat Pemprov DKI Jakarta membahas dana PMD untuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Salah satunya menyoal dana revitalisasi TIM.

Dalam desain yang dirancang oleh Andra Martin, memang akan ada pembangunan hotel di lingkungan TIM oleh Jakpro, atau dalam istilah Gubernur Anies sebagai “wisma seniman”.

Menurut para anggota DPRD, pembangunan hotel bintang lima di TIM patut dicurigai karena model hotel bintang lima tidak tepat sebagai tempat menginap.

Sebab orientasi TIM sebagai pusat kebudayaan akan hilang bilamana ada aktivitas berbau bisnis di lokasi yang didirikan tahun 1968 oleh Gubernur Ali Sadikin itu.

Karena itu, para anggota Dewan mendesak agar Jakpro dan Pemprov DKI Jakarta segera membatalkan pembangunan tersebut dan mengembalikan marwah TIM sebagai pusat kesenian yang bebas dari kepentingan politik dan ekonomi.

“Mau namanya apa terserah, pokoknya ada tempat menginap yang saya kira itu kurang menarik bagi masyarakat. Sudah enggak usah ada hotel di situ,” tegas Mohammad Taufik, Wakil Ketua DPRD DKI dari Fraksi Gerindra.

Sudah Digagas Sejak 2007

Asisten Perekonomian dan Keuangan Pemprov DKI Jakarta Sri Haryati menyatakan, revitalisasi TIM mulai dibahas pada 2007.

Kala itu, revitalisasi memang tidak menyertakan pembangunan hotel mewah. Rencana itu baru berjalan kemudian hari setelah melihat perkembangan yang ada, termasuk berkonsultasi dengan Andra Martin.

“Kami melihat perkembangan desain. Tapi semua perubahan diskusi bersama,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Jakpro Dwi Wahyu Daryoto menerangkan, pembangunan hotel di TIM merupakan usulan bersama Pemprov DKI Jakarta dengan Jakpro dan Andra Martin, pemenang sayembara revitalisasi TIM.

“Ini usulan bersama, dalam diskusi tak ada satu orang pun yang mengusulkan. Juga sudah dikonsultasikan dengan Andra Matin,” katanya di Jakarta, Rabu (27/11).

Penolakan Seniman

Sebelumnya, dalam diskusi bertajuk “PKJ-TIM Mau Dibawa Kemana?” di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Rabu (20/11), para seniman mengemukakan penolakan terhadap rencana pembangunan hotel di TIM.

Seniman seperti Radhar Panca Dahana, Taufiq Ismail, dan Mogan Pasaribu, dan Abdul Hadi WM menolak gagasan itu dengan melontarkan “Pernyataan Cikini”.

Ada tiga isi pernyataan itu, yakni pertama, menolak pelibatan Jakpro dalam mengurus atau mengembangkan seluruh fasilitas/isi kompleks Taman Ismail Marzuki.

Kedua, menolak jika revitalisasi dalam bentuk apa pun tidak melibatkan secara langsung pendapat dan atau kerja para seniman dan seniwati yang ada di dalamnya.

Ketiga, menolak upaya pembangunan dalam ruang kebudayaan yang luas, termasuk membangun manusia unggul, tanpa pemahaman komprehensif dan sosialisasi di kalangan yang adekuat makna kebudayaan yang sebenarnya.*

Baca Juga

Promosi Teater kepada Pelajar, Mahasiswa IKJ Pentaskan “Pinangan”

 Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta akan mempersembahkan drama komedi "Pinangan" karya Anton Checkov (saduran Suyatna Anirun)...

Komite Seni Rupa DKJ Gelar Diskusi Buku Tiga Kritikus Seni Rupa

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Diskusi Buku Seri Wacana Kritik Seni Rupa dari tiga kritikus seni rupa Indonesia...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Terkini

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...