Portal Teater – Identifikasi demografi penonton “Djakarta Teater Platform” (diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta 2019 sebagai awal mengenali lebih jauh publik seni di Jakarta), memantulkan kenyataan di mana beberapa grup teater peserta program ini memiliki penonton spesifik. Yaitu mayoritas penonton datang berdasarkan wilayah kerja masing-masing grup teater.

Fenomena penonton teater seperti ini lebih tampak massif pada penonton Festival Teater Jakarta (FTJ) di mana mayoritas penonton merupakan “bawaan” dari masing-masing grup.

Penonton sebagai bagian dari kinerja grup. Pertunjukan berbasis anak-anak sekolah umumnya membawa penonton lebih luber. Rata-rata penonton datang dari kisaran usia 18-25 tahun.

Demografi penonton Djakarta Teater Platform 2019. -Dok. dkj_reg.or.id
Demografi penonton Djakarta Teater Platform 2019. -Dok. dkj_reg.or.id

Dalam wacana seni pertunjukan, teater dibedakan dari tontonan, karena memang teater dipersepsi tidak semata bekerja “menghibur” penonton, namun juga memperluas kinerjanya sebagai produksi pengetahuan untuk penonton.

Orientasi seperti ini merupakan cara bagaimana penonton mendapatkan edukasi untuk keluar dari kondisi “buta wawasan”. Menggeser “penonton awam” menjadi penonton yang mengerti atas kebutuhan menonton teater dengan wawasan lebih beragam dalam memandang praktik-praktik kesenian.

Membuat hubungan tegang antara “seni hiburan” dan “seni serius” yang pernah kita lalui beberapa dekade sebelumnya, kini tidak memiliki arti untuk memahami keberadaan maupun keberlanjutan keduanya.

Karena seni hiburan juga tidak hanya menghadapi persaingan pasar kompetitif untuk membekali proyek-proyek mereka dengan kualitas lebih baik, namun terutama munculnya praktik-praktik konvergensi sebagai aplikasi masakini dalam konteks ekosistem digital.

Sementara penonton tetap memiliki ruang absolut untuk memilih kinerja seni yang akan ditontonnya sebagai keputusan dalam wawasan tertentu (penonton sebagai bagian dari matarantai produksi yang berada di luar teater).

Penonton dan (Kota) Jakarta

Lalu siapakah penonton teater di Jakarta? Apakah mereka datang mengunjungi gedung pertunjukan teater untuk mendapatkan momen yang tidak bisa diulang sebagai pengalaman estetis? Untuk mendapatkan pengetahuan spesifik dalam ruang teater? Untuk mendapatkan suatu pengalaman bercermin yang tidak normatif bahkan banal? Atau penonton sama dengan suporter? Apa hubungan antara penonton, teater dan industri budaya di Jakarta?

Atau apakah penonton adalah inti dari drama itu sendiri yang dibentuk oleh kondisi-kondisi khas kota? Asumsi ini lebih integratif untuk melihat dramaturgi kota sebagai matarantai yang berelasi antara “penonton di luar teater” dengan “teater dan penonton” dalam lingkaran dramaturgi kota.

Jakarta sebagai “urban drama” sudah jelas diwarnai oleh data yang paling menentukan, yaitu jumlah penduduk kota yang hampir mencapai 11 juta dengan masalah polusi, banjir dan sampah. Tahun 2018 jumlah sepeda motor diperkirakan mencapai 14,74 juta unit dan mobil 3,99 juta unit (databoks. jakarta).

Mengkonsumsi listrik mencapai 32.779,2 Giga watt hour (Gwh) dengan 4,4 juta pelanggan. Kota yang mengurus 44 Kecamatan dan 267 Kelurahan dengan permasalahan dan karakteristik yang berbeda-beda. Kota yang menjadi rebutan untuk mendapatkan lapangan kerja, akses politik dan ekonomi.

Wajah Jakarta masakini mulai dibayangi sistem transportasi yang terintegrasi antara pejalan kaki, sepeda, kendaraan publik dan kendaraan pribadi. MRT mulai berfungsi bersama perluasan rute Transjakarta yang penumpangnya sudah mencapai 663.000 per hari (189,77 juta penumpang tahun 2018).

Sampah Jakarta yang produksinya 7 ton setiap hari mulai akan dikelola dengan pengadaan teknologi inovatif yang disebut Intermediate Treatment Facility (ITF), dan menghasilkan tenaga listrik.

MRT. -Dok. cnbcindonesia.com
MRT. -Dok. cnbcindonesia.com

Dua platform ini saja mungkin akan cukup berpengaruh memperbaiki kualitas hidup dan mengubah standar Jakarta di tengah momen usia produktif penduduk Jakarta sebesar 7,5 juta dari 10,6 juta jumlah penduduk Jakarta (Badan Pusat Statistik Jakarta).

Perubahan standar Jakarta berproyeksi untuk memantulkan platform maupun ekosistem pertunjukan seperti apa yang dibutuhkan penonton masakini.

Penonton yang tidak hanya membutuhkan pertunjukan yang bisa memantulkan kekiniannya, namun juga mendapatkan dialog dengan masalalunya untuk mengisi memori kolektif kota.

Teater Tanpa Penonton

Penonton sebagai inti drama pernah ditawarkan Danarto dengan konsep “teater tanpa penonton”. Konsep ini cenderung dipahami negatif karena dihadirkan sebagai pernyataan (teater tanpa penonton).

Konsep ini kini kian penting untuk dibaca dimana sebuah pertunjukan sejak awal memang dirancang sebagai ruang bersama. Tidak lagi membuat jarak pemisah antara pertunjukan dan penonton. Penonton dan pertunjukan berada dalam ruang bersama sebagai aktivasi maupun tubuh pertunjukan itu sendiri.

Penonton sebagai drama pada gilirannya merupakan suatu cara di mana praktik-praktik seni pertunjukan mengelola tatapan “siapa yang melihat (menonton) dengan yang dilihat (ditonton)” dalam lingkaran dramaturgi kota.

Pemetaan atas data-data ekstrim yang ikut mengubah standar maupun dramaturgi kota, ikut menentukan bagaimana mengelola tatapan dalam relasi-relasi pertunjukan yang dirancang.

Anwari dan Hendra Setiawan dalam Pameran Arsip 40 Tahun FTJ (2012). -Dok. Afrizal Malna
Anwari dan Hendra Setiawan dalam Pameran Arsip 40 Tahun FTJ (2012). -Dok. Afrizal Malna

Platform Utama FTJ

FTJ Utama

Platform utama dalam Festival Teater Jakarta sejak 1973 berbasis lomba. Platform ini bekerja dalam dua putaran: “Penyisihan” di 5 wilayah Jakarta atas grup-grup teater peserta diselenggarakan oleh masing-masing Asosiasi Teater dan Sudin Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta di masing- masing wilayah. “Final” di Taman Ismail Marzuki diselenggarakan oleh Disparbud Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta.

FTJ Perspektif

Platform khusus dalam Festival Teater Jakarta yang dirancang untuk pembukaan dan penutupan penyelenggaraan FTJ. Platform ini berbasis lintas disiplin yang menawarkan sudut pandang tertentu dalam praktik penciptaan seni pertunjukan. Mencerminkan tema yang diusung oleh kurasi Festival Teater Jakarta.

FTJ Exchange

Platform lintas batas dalam bentuk pameran. Platform ini sebuah pemetaan dan investigasi atas tema kurasi Festival Teater Jakarta. Memantulkan praktik-praktik penciptaan yang mempertemukan berbagai media, materi, objek maupu data sebagai tubuh estetika atas isu yang dipilih. Membentang perluasan forum atas tema festival.

FTJ Spesifik

Platform yang bekerja membuat hubungan-hubungan terintegrasi atas berbagai praktik penciptaan teater di Jakarta yang berada dalam program pemda DKI Jakarta, namun bekerja di luar mekanisme Festival Teater Jakarta. FTJ 2019 memulainya dengan aktivisme teater di Kepulauan Seribu.

FTJ Forum

Platform yang memproduksi wacana melalui diskusi-diskusi dengan berbagai tema maupun permasalahan seni. Biografi penciptaan (sebagai pelacakan bagaimana tahapan-tahapan proses penciptaan dilakukan dari seluruh peserta FTJ), merupakan lingkaran utama dari FTJ Forum.

Side Festival

Forum terbuka untuk kelompok maupun komunitas yang berpartisipasi dalam bntuk pertunjukan (teater, tari, musik, performance art) di ruang terbuka yang tidak difasilitasi.

Penjurian FTJ 2019

Penjurian FTJ yang sebelum sudah dibentuk sebagai komposisi juri lintas disiplin, tahun 2019 dilengkapi dengan adanya unsur yang mewakili penonton awam.

Komposisi juri (5 orang juri) yang lintas batas ini dilakukan untuk melengkapi keberagaman sudut pandang dalam membaca pertunjukan.

Memunculkan keberanian untuk mengintegrasikan perbedaan sebagai relasi untuk saling memahami dan menjelaskan logika penilaian juri ke dalam konteks yang lebih luas dan aktual.

*Naskah ini diambil dari TOR Festival Teater Jakarta 2019