“Drama Penonton”: Tentang Cara Menjadi Penonton Teater

Portal Teater – Penonton teater pada Festival Teater Jakarta (FTJ) tahun 2019 diperkirakan bakal meluber karena terindentifikasi bahwa tiap grup peserta festival tertua dan terbesar di Indonesia ini telah memiliki penonton spesifik mereka.

Apalagi pertunjukan berbasis anak-anak sekolah (kampus, misalnya) yang umumnya membawa penonton milenial dalam jumlah yang lebih besar.

Kuantitas penonton pada FTJ-FTJ sebelumnya memang stabil dan cenderung naik. Namun kita belum tahu kualitasnya dalam arti: apakah ada spektrum produksi pengetahuan dari medan tontonan ini dari sudut pandang penonton.

Dengan kerangka berpikir yang belum sepenuhnya terintegrasi dalam matarantai ekosistem kota (Jakarta), fenomena ini memunculkan kesulitan untuk mengidentifikasi atau memetakan penonton teater di Jakarta.

Beberapa pertanyaan dasar bisa diajukan: Mengapa mereka nonton teater? Dari mana tahu tentang teater? Apakah teater merupakan kebutuhan? Sebagai hiburan atau bertemu dengan kerja-kerja penciptaan dengan spectacle tidak terduga?

Atau, apakah mengajak teman-teman untuk menonton teater? Apakah ada folklore teater setelah mereka menonton teater, layaknya menonton film?

Cara Menjadi Penonton Teater

Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Afrizal Malna memandang, daripada terbuai dalam kerumitan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, lebih baik kita membincangkannya sebagai isu baru yang lebih segar dalam FTJ kali ini: bagaimana caranya menjadi penonton teater?

Isu ini dipandang menarik karena sebagai “penonton teater”, kita umumnya lebih dulu dibentuk oleh aktivasi “menonton” dan bukan “menonton teater”.

Menonton televisi atau klub sepakbola, tentu berbeda dengan menonton teater. Begitu pula, menjadi fan loyal grup teater tentu berbeda perspektif dengan menjadi suporter klub sepakbola.

Penulis buku “Teater Kedua. Antologi Tubuh dan Kata” (2019) ini mengakui, barangkali kita terpeleset dalam paradigma “menonton teater” untuk mencari hiburan, atau sekedar menjumpai pelaku teater yang menjadi idola kita. Atau juga karena diajak teman-teman.

Ritual tersebut menurut Afrizal tidak bermasalah karena sebagai penonton awam, kita membutuhkan waktu lebih panjang untuk masuk ke dalam konteks “menonton teater”.

Dalam beberapa kali nonton, tentu mulai muncul persepsi lain: sebuah apresiasi yang tidak semata-mata untuk katarsis tertawa, sedih, atau merasa terbebaskan dari tabu-tabu.

Pada tataran itu, kata Afrizal, ada semacam edukasi yang tidak pedagogik, namun kreatif. Sebuah pengelolaan kecerdasan dari berbagai campuran disiplin, media dan budaya.

“Membuat workshop “cara-cara menjadi penonton teater”, mungkin menarik,” katanya dalam sebuah wawancara tertulis.

Karena itu, dengan mengusung tema “Drama Penonton“, FTJ kali ini berupaya melakukan profiling penonton teater. Yaitu dengan menggeser “jurnalisme seni” ke “jurnalisme penonton” dalam matarantai produksi teater maupun festival teater.

“Apa bedanya “jurnalisme seni” dan “jurnalisme penonton”, saya belum tahu. Mungkin festival ini akan bisa memetakannya,” ungkapnya.

Karena menurut Afrizal, penonton-setia FTJ tidak sama dengan penonton teater di gedung pertunjukan lain di Jakarta, misalnya di Komunitas Salihara atau Teater Koma, dll.

Perbedaan seperti ini juga tidak mudah dipetakan, apakah terjadi hanya faktor tempat atau pencitraan.

Pada zaman Komedie Stambul, orang nonton teater karena primadona yang dimiliki masing-masing kelompok teater. Pada Bengkel Teater Rendra, promosi berjalan dengan sendirinya, karena Rendra bagian dari produksi berita utama isu-isu politik Orde Baru.

“Jadi memang tidak mudah menggunakan sebuah titik-tolak yang kita anggap signifikan untuk memetakan penonton teater,” tuturnya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

Komit Bangun Kebudayaan, Bupati Tubaba Gelar “Megalithic Millennium Art”

Portal Teater - Pembangunan kesenian dan kebudayaan di Provinsi Lampung belakangan ini terus bertumbuh. Aktivisme itu tidak hanya digiatkan oleh seniman dan komunitas/sanggar seni,...

Kadisbud Iwan Henry: Teater Jadi Medium Literasi Anak

Portal Teater - Teater Lorong Yunior sukses mementaskan dua kali lakon "Sang Juara" karya dan sutradara Djaelani Mannock di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (19/1)....

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...