DTP 2019 Usung Tema “Kekuasaan dan Ketakutan”

Portal Teater – Program Djakarta Teater Platform (DTP) kembali digelar pekan depan, yaitu pada 8-20 Juli, dengan mengusung tema “Kekuasaan dan Ketakutan”. Tema ini diangkat dengan tujuan untuk meletakkan “kekuasan dan ketakutan” dalam sebuah hypogram yang dalam praktik kerja kesenian jarang disentuh.

Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta Afrizal Malna mengatakan, selama ini kita melihat, kekuasaan banyak digunakan sebagai tema kuratorial dalam seni pertunjukan maupun seni rupa, tetapi kerja kesenian belum bisa melumerkan setiap gerak pemusatan kekuasaan pada satu orang atau pada sebuah kelompok tertentu. Maka, dengan even ini, kerja kesenian menjadi lebih terrdesentralisasi pada konteks kepentingan masing-masing.

“Kita punya harapan di mana kekuasaan merupakan praktik untuk mendistribusi berbagai kepentingan hingga medan sirkularnya tercipta. Kekuasaan sebagai kolaborasi dari perbagai kepentingan maupun persoalan bersama yang kita anggap penting,” paparnya pada Minggu (30/6).

Kekuasaan, kata Afrizal, tidak jarang dikonstruksi dengan menciptakan ketakutan; kekuasaan sebagai teror. Ketika semakin banyak orang takut pada sesuatu, maka sesuatu itu memang mengkonstruksi dirinya dalam lembaga ketakutan.

Dengan itu, ketakutan menjadi cermin untuk membaca kualitas kekuasaan di sekitar kita. Dan kini, kita juga sedang didefinisikan oleh “kekuasaan maupun ketakutan yang lain” yang hidup sebagai viral dalam warga internet masa kini yang tidak terlihat tetapi ada dan aktif.

Dalam karya-karya klasik seperti Oedipus, Dionysus, King Lear, Hamlet, Machbet, Faust, Baal, Danton, Monserat, dan Caligula pun tampak bahwa kekuasaan selalu berasal dari berkas darah dari banyak kematian yang menopangnya.

Perempuan dan Kekuasaan

Di Indonesia, pemisahan lelaki dan perempuan memiliiki asal-usul yang rumit antara adat, tradisi dan agama. Dalam ketiga wilayah itu, perempuan cenderung ditempatkan sebagai “objek kekuasaan” dengan berbagai mitos.

Dalam mitos-mitos lokal, selalu ditemukan varian dongeng yang mengisahkan tentang relasi kekuasaan hegemonik antara perempuan dan laki-laki. Dalam nyanyian Wandiu-ndiu (cerita rakyat Wakatobi, Sulawesi Tenggara), misalnya, perempuan harus menyingkir ke laut dan menjadi ikan duyung.

Begitu juga dalam cerita Ina Lewo dari tradisi Lamaholot, Flores Timur, di Nusa Tenggara Timur, di mana perempuan harus menyingkir ke gunung untuk menghindar kekuasaan semena-mena kaum laki-laki. Dalam mitos Jawa, Nyai Loro Kidul pun menerima nasib yang sama: perempuan dijadikan hantu laut.

Dalam beberapa tradisi lisan itu, kita melihat bagaimana posisi perempuan dihancurkan. Penghancuran itu menjelaskan relasi gender yang tidak lagi berimbang. Namun hal itu tampak lazim dalam kultur masyarakat, misalnya banyak kepemimpinan dalam dunia spiritual maupun politik dikuasai lelaki, tetapi tidak dilawan.

Afrizal menekankan, mitos-mitos tersebut perlu dibaca ulang. Pembacaan ini penting untuk kita selalu kritis melihat dasar-dasar rasis yang tertanam dalam budaya kekuasaan kita.

“Kalau kita melakukan riset tentang ketakutan, misalnya, tentang siapa yang paling menyimpan ketakutan antara perempuan dan lelaki, mungkin kita bisa bertanya: apa yang sedang terjadi dengan kita?” katanya.

Karena itu, seniman-seniman perempuan harus lebih banyak memasuki wilayah ini berdasarkan pengalaman pribadi maupun riset. Tapi dengan catatan, mereka harus menghindari bias pandangan-pandangan feminis untuk melihat posisi-posisi tradisional antara perempuan dan lelaki.

Hal itu dilakukan agar kita tidak terlalu banyak menghukum pandangan-pandangan tradisional, di mana kita kurang mengenali konteks yang pernah melatarinya.

Dalam seni pertunjukan sendiri, misalnya, representasi gender begitu mencolok. Hal itu dapat terlihat dari infrastruktur panggung yang dipakai: panggung, properti, perangkat teknologi dengan alat-alat berat dan seterusnya, yang semuanya mendefinisikan kekuasaan laki-laki.

Dalam DTP tahun ini akan ada dua seniman perempuan yang terlibat, yaitu Shinta Febriany dari Kala Teater dan Gema Swaratyagita. Apa yang mereka lakukan terkait praktik kesenian dalam relasinya dengan perempuan dan kekuasaan, barangkali menjadi tonggak bagaimana kita harus melihatnya secara baru.

DTP: Penciptaan Medan Sirkular

Komite teater memiliki 4 program (Djakarta Teater Platform, Teater Arsip, Lintas Media dan Festival Teater Jakarta) dan satu program yang bersifat nasional, yaitu Pekan Teater Nasional yang bekerjasama dengan Subdirektorat Seni Pertunjukan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Program-program ini menghasilkan semacam medan sirkular di mana pemetaan atas praktik-praktik seni pertunjukan masa kini dan regenerasi teater menjadi mungkin dilakukan. Medan sirkular dari program-program ini menjadi dasar utama untuk kerja kurasi dilakukan.

Afrizal mengungkapkan, kurasi memasuki wilayah “pemilihan isu”, praktik-praktik penciptaan, dan regenerasi, dengan tujuan utamanya menghasilkan kembali medan sirkular yang baru.

Proses ini berlangsung terus-menerus hingga publik teater mulai bisa memetakan isu-isu kesenian masa kini melalui teater maupun seni pertunjukan. Munculnya komunitas-komunitas seni pertunjukan yang bisa membuat platformnya sendiri berdasarkan ekosistem maupun visi yang mau mereka bangun.

Tema ini tidak bisa dikaitkan langsung untuk melihat perkembangan praktik penciptaan seni masa kini. Tema ini lebih untuk melihat kemungkinan atau peluang bagaimana sebuah program, seperti DTP, mendapatkan ruang sirkularnya antara berbagai muatan program yang dirancang untuk saling menopang satu sama lainnya (pertunjukan, pameran, diskusi, workshop, artis-talk).

DTP sendiri, kata Afrizal, merupakan sebuah festival berbasis laboratorium. Umumnya festival berorientasi ke “pencapaian-pencapaian” seni pertunjukan. DTP tidak memilih wilayah yang sifatnya high-art, melainkan lebih ke arah “pengembangan”.

“Di sini kurasi dijalankan tidak sebagai lembaga tunggal, melainkan sebagai sebuah forum bersama. Karena itu di DTP ada program “lab dramaturgi” dan “biografi penciptaan”,” ungkapnya.

Untuk diketahui, even yang bakal menjadi embrio karya pertunjukan internasional ini diselenggarakan dalam kerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, British Council, Japan Foundation dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Even ini akan digelar di dua tempat berbeda: Graha Bhakti Budaya (GBB) Taman Ismail Marzuki dan Gedung FFTV Studio Tom dan Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta.

Ada beberapa kegiatan yang bakal berlangsung selama kurang dua pekan itu, antara lain: pertunjukan, pameran, diskusi dan workshop. Pertunjukan dan pameran digelar di gedung pertunjukan Graha Bakti Budaya, sedangkan diskusi dan workshop diadakan di Gedung FFTV Studio Tom dan Teater Luwes IKJ.

British Council Dukung Even DTP 2019
Perwakilan British Council Indonesia, Levina dan Anisa, dalam kesempatan rapat persiapan program DTP 2019.
– Dok. portalteater.com

Hebatnya, program ini berhasil menghadirkan dua kelompok seniman internasional dari Inggris dan Jepang, yaitu Impermanence dan Corali Inggris dan Yasuhito Yano dari Jepang. Impermanence bakal membawakan pertunjukan Baal, sedangkan Corali dan Yano akan menjadi pembicara dalam FGD dan workshop.

Diharapkan, kehadiran kelompok seniman luar negeri itu dapat memberi dampak yang luas bagi publik dan seniman lokal, terutama dalam proses kerja kesenian masa kini.

*Daniel Deha

Berikut penjelasan konseptual dari tema “Kekuasaan dan Ketakutan” oleh Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta.

Baca Juga

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...