Eko Supriyanto Eksplorasi Kekuatan Ritmik Likurai Lewat “IBUIBU BELU”

Portal Teater – Koreografer terkemuka Eko Supriyanto kembali menyapa publik seni ibukota melalui persembahan karya terbarunya “IBUIBU BELU: Bodies of Borders”. Karya tari ini akan dipentaskan di Teater Salihara, 6-7 Februari 2020.

Pencapaian Eko di jagat seni Indonesia, bahkan dunia, tidak lagi diragukan. Di Amerika Serikat, ia belajar dengan Peter Cellars, Julie Taymor, Peter Cellars, Arco Renz dan pernah terpilih sebagai penata tari untuk konser tur Madonna.

Mendirikan dan menjadi Direktur Artistik EkosDance Company dan Solo Dance Studio di Surakarta, Eko merupakan penari dan penata tari yang menonjol di generasinya.

Ia meraih gelar Doktornya dalam Studi Seni Pertunjukan (2014) Universitas Gajah Mada dan Dosen tetap di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Bergerak antara produksi-produksi komersial dan proyek-proyek riset artistik tari, pertunjukan Eko telah menjalani tur di Indonesia, Eropa, Amerika, Australia, dan Asia Pasifik. Ia pun menjadi koreografer di pembukaan dan penutupan Asian Games (2018).

Sejak beberapa tahun terakhir, Eko ‘jatuh cinta’ pada kekayaan budaya, terutama kesenian, yang ada di kawasan timur Indonesia, yang secara budaya disebut Melanesia.

Eksplorasi artistik terhadap kekayaan budaya Melanesia belakangan kian gencar dilakukan para sutradara, koreografer ataupun pembuat film dan webstories.

Baru-baru ini, sutradara dan maestro seni Garin Nugroho mempersembahkan pentas “Planet-Sebuah Lament” yang terinspirasi dari nyanyian (ratapan) dalam gerak tablo Jumat Agung perayaan Semana Santa di Larantuka, dan juga beberapa ratapan khas yang hidup dalam tradisi rakyat Melanesia dari NTT hingga Papua.

Begitu pula di industri perfilman. Sumba selalu menjadi tempat favorit para sineas untuk menggarap karya-karya mutakhir mereka, yang mencoba memadukan kepekaan artistik kontemporer terhadap tradisi atau alam di Sumba.

Eko sendiri selama tiga tahun berturut-turut menggarap tradisi kesenian (tari) rakyat Maluku yang kemudian menghasilkan tiga karya dalam tajuk Trilogi Jailolo, yaitu “Cry Jailolo” (2015), “Balabala” (2016), dan “Salt”(2017).

Berupaya melebarkan sayap artistiknya, Eko kali ini mengeskplorasi kekayaan kesenian masyarakat Belu di NTT. Salah satu kesenian yang diminatinya adalah Tarian Likurai dari kabupaten Belu (juga ada di Malaka).

Dalam tradisi masyarakat setempat, Likurai biasanya digunakan sebagai simbol penghormatan kepada tamu yang datang ke Kabupaten Belu.

Proyek ini dimulai dengan Festival Likurai yang diikuti enam ribu penari yang dilanjutkan dengan melatih secara intens enam penari non-profesional dari Belu.

Melalui “IBUIBU BELU”, pendiri Ekos Dance Company inipun mengeksplorasi gerakan, ritme, lagu, dan tradisi busana di Pulau Timor (NTT dan Timor Leste).

Melalui materi-materi ini Eko menciptakan bentuk-bentuk manifestasi Likurai yang mengandung ciri khas masyarakat Pulau Timor saat ini yang terpisah secara politik.

Para penari yang dilibatkan dalam karya ini adalah ibu-ibu dari Belu. Salah satunya berasal dari Timor Timur untuk menggali ingatan dan sejarah hidup para penari.

Mengkolaborasikan para penari yang masih terikat secara genealogis meski berbeda negara ini, Eko ingin menunjukkan bagaimana Likurai membawa kekerabatan orang-orang yang kini terbagi oleh batas politik, dan dalam waktu yang sama mengalami keterpisahan.

Ada enam performer (penari) dalam pertunjukan ini, yaitu Evie Anik Novita Nalle, Adriyani Sindi Manisa Hale, Yunita Dahu, Angela Levenia Leki, Feliciana Soares, dan Marlince Ratu Dabo. Dikatakan, beberapa penari ini tidak pernah menari sebelumnya.

“IBUIBU BELU: Bodies of Borders” akan dipentaskan pada Kamis-Jumat, 6-7 Februari, pukul 20.00 WIB, di Teater Salihara, Jakarta Selatan.

Setelah presentasi di Teater Salihara, “IBUIBU BELU: Bodies of Border” dijadwalkan memulai tur dunianya di Asia, Australia, dan Eropa sepanjang tahun 2020.

"IBUIBU BELU: Bodies of Borders" karya Eko Supriyanto akan dipentaskan di Teater Salihara, 6-7 Februari 2020. -Dok. detik.com
“IBUIBU BELU: Bodies of Borders” karya Eko Supriyanto akan dipentaskan di Teater Salihara, 6-7 Februari 2020. -Dok. detik.com

Likurai, Kuat Secara Ritmik

Mengutip publikasi pesona.travel, Likurai sendiri merupakan ungkapan rasa syukur dan kegembiraan masyarakat akan kemenangan yang mereka dapatkan dan kembalinya pahlawan dengan selamat.

Konon, ada tradisi memenggal kepala musuh yang dikalahkannya sebagai simbol keperkasaan pada masyarakat Belu dan juga di Malaka.

Setelah Indonesia merdeka, tradisi tersebut ditiadakan. Namun Likurai masih dipertahankan dan masih ditampilkan untuk upacara adat, penyambutan tamu penting, bahkan pertunjukan atau festival seni dan budaya.

Pada perayaan kemerdekaan tahun lalu, sekitar 150 penari Likurai dari siswa-siswi SMP hingga SMA di Belu, tampil di Istana Negara Jakarta.

Dalam pertunjukannya, Likurai ditampilkan oleh para penari wanita dan penari pria. Jumlah penari biasanya terdiri dari 10 orang atau lebih.

Penari wanita menggunakan pakaian adat wanita dan membawa Tihar (kendang kecil) untuk menari. Sementara penari pria juga menggunakan pakaian adat pria dan membawa pedang.

Gerakan Likurai pada penari pria dan penari wanita berbeda. Inilah yang membuat tarian rakyat ini kuat secara ritmik.

Tarian Likurai dibawakan dalam Festival Fulan Fehan di Belu, NTT, pada Oktober 2018. -Dok. Rachmat Sadeli/pesonatravel
Tarian Likurai dibawakan dalam Festival Fulan Fehan di Belu, NTT, pada Oktober 2018. -Dok. Rachmat Sadeli/pesonatravel

Gerakan penari wanita biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan kendang dengan cepat dan gerakan kaki menghentak secara bergantian.

Penari wanita juga menari dengan gerakan tubuh yang melenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan sesuai irama.

Gerakan ini cukup sulit, selain harus bergerak menari penari juga harus berkonsentrasi memainkan kendang dan menjaga agar irama yang dimainkan tetap sama dengan penari lainnya.

Pada gerakan penari pria, biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan pedang dan gerakan kaki menghentak sesuai irama.

Penari pria juga sering melakukan gerakan seperti merunduk dan berputar-putar sambil memainkan pedang mereka.

Gerakan penari pria ini juga cukup sulit karena selain menari, penari juga harus menyesuaikan hentakan kakinya dengan irama musik.

Menariknya, Likurai tidak diiringin musik apapun karena irigan tarian berasal daru pukulan kendang dari penari wanita dan suara giring-giring yang dipasang di kaki penari.

Suara teriakan penari pria yang khas juga membuat tarian ini tampak meriah dan kesan tarian perang juga sangat terasa.

Dalam persembahannya kali ini, Eko mencoba memadukan kekuatan-kekuatan gerak, musik, dan tari ini ke dalam satu spektrum artistik kontemporer.

Tim Produksi

  • Choreographer: Eko Supriyanto
  • Lighting design: Jan Maertens
  • Composer: Dimawan Krisnowoadji
  • Costume designer: Vivi Ng
  • Dramaturg: Renee Sariwulan
  • Manager: Isa Natadiningrat
  • Producer: Sadiah Boonstra
  • Rehearsal assistant: Riyo Tulus Pernando
  • Production: Ekos Dance Company
  • Executive producer: Ratnasari Langit Pitu
  • Ko-Produser: Pemerintah NTT, Asia TOPA (Melbourne, Australia), SPRING Festival (Utrecht, the Netherlands), Theater im Pumpenhaus (Münster, Germany), TPAM – Performing Arts Meeting in Yokohama (Yokohama, Japan), Komunitas Salihara (Jakarta), Ratnasari Langit Pitu (Jakarta)

Tiket:

IBUIBU BELU (Umum, Hari-1) – Rp 150.000
IBUIBU BELU (Pelajar, Hari-1) – Rp 100.000
IBUIBU BELU (Umum, Hari-2) – Rp 150.000
IBUIBU BELU (Pelajar, Hari-2) – Rp 100.000

Tiket dapat dibeli di sini.*

Baca Juga

Tanggapi Aspirasi Seniman, DPR Dukung Moratorium Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menanggapi aspirasi Forum Seniman Peduli TIM dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kompleks Parlemen, Senin (17/2), Komisi X DPR yang...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...