Elaborasi Disiplin Kesenian dalam Satu Pentas Musik

Portal Teater – Dimulai dengan pekikan-pekikan lantang oleh perempuan paruh baya, Andi Tenrilebbi. Ia melantunkan syair-syair adat khas masyarakat Manggarai. Syair-syair itu lebih merupakan sebuah nyanyian yang ditarik-tarik, baik ritme maupun intonasinya.

Sekilas, nyanyian adat itu terdengar sendu, seperti arti kata-kata yang terkandung di dalamnya. Sambil terus bertutur, masuklah beberapa penari.

Penutur Andi Tenrilebbi dengan lantang melantunkan sastra lisan Ndundundake. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Penutur Andi Tenrilebbi dengan lantang melantunkan sastra lisan Ndundundake. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Mula-mula dua penari (Novia Mariana dan Angelina Ayuni Praise) yang memperagakan gerakan yang sama, Ndundundake. Keduanya masuk melalui sisi kanan panggung. Lalu beranjak ke tengah panggung sambil terus berlenggak lenggok.

Kemudian dua penari lainnya (Hesti Nona Palalangan dan Meliana) menyusul setelah beberapa jeda waktu. Keduanya mengikuti gerakan yang sama dibuat Novi dan Yuni.

Mereka terus menari-nari mengiringi lantunan syair yang dituturkan secara bersahut-sahutan oleh Andi Tenrilebbi (komposer) dan Rotua Magdalena.

Di akhir pentas, Andi Tenrilebbi dan Rotua Magdalena bergabung dengan keempat penari membentuk formasi lingkaran (dalam bahasa Manggarai disebut “lingko”, artinya berjejaring) sambil mendendangkan tembang tradisional Manggarai yang sudah sangat populer, “Benggong”.

Seraya terus melantunkan lagu, mereka berjejer berdua-dua ke sisi kiri panggung, menandai berakhirnya pementasan Ndundundake. Seiring dengan hilangnya punggung mereka, dentangan “Benggong” pun perlahan menghilang. Lampu mati, lalu terdengar tepukan meriah dari tribun penonton.

Para penari Ndundundake dalam Etno Musik Festival 2019. 0Dok. Eva Tobing/DKJ.
Para penari Ndundundake dalam Etno Musik Festival 2019. 0Dok. Eva Tobing/DKJ.

Ada elaborasi yang menyatu dalam pementasan ini. Ada tarian, tuturan, dan musik. Tuturan menghasilkan musik, kemudian musik menghasilkan tarian. Ketiga-tiganya tidak pernah saling terpisahkan, tetapi tetap berada dalam satu vektor elaboratif.

Sebagaimana menjadi trend musik kontemporer sejak tahun 1960-an, proyek elaborasi lintas ilmu, disiplin dan lintas media menjadi satu modus penciptaan baru kesenian saat ini.

Sastra Lisan

Tidak banyak penonton yang memenuhi tribun Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Rabu (11/9) malam, memahami arti syair-mantra adat itu. Tetapi lebih membiarkan lantunan itu bergema di gedung pertunjukan.

Begitu pula dengan saya, meski berasal dari satu daerah di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kata-kata dalam nyanyian tidak saya pahami artinya.

Selain karena berbeda bahasa, karena Flores sendiri memiliki hampir ratusan bahasa (daerah) di tiap-tiap sukunya, struktur dan dialek bahasa Manggarai adalah yang paling berbeda di lanskap kebudayaan NTT.

Begitu pula dengan instrumen, melodi dan syair-syair musiknya. Secara etnografis, musik tradisi Manggarai cenderung mendekat ke kontur musik Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Salah satunya adalah penemuan adanya nada-nada Do, Mi, Fa, Sol, Si, sebagaimana ada pada melodi-melodi khas musik Jawa atau Bali.

Menelusuri artefak historis, tentu kita bisa menemukan bahwa pada masa lalu, ada migrasi kebudayaan dari wilayah barat (Indonesia) ke daerah-daerah timur, terutama di wilayah Manggarai.

Komposer dan musisi dari Dewan Kesenian Manggarai Barat Andi Tenrilebbi menuturkan, nyanyian adat itu merupakan sebuah sastra lisan yang berkisah tentang kesiapan seorang gadis yang hendak dipinang oleh seorang laki-laki.

“Ini sebentuk sastra lisan yang berkisah tentang seorang gadis Labuan Bajo yang mau dipinang sama laki-laki,” ungkapnya seusai pementasan.

Seperti halnya dengan makna tarian Ndundundake, dengan kata “ndundun” berarti “perempuan yang menari dan diiringi irama gendang dan kata “dake” berarti seruan atau hentakan, tuturan lisan itu ingin menunjukkan kematangan subjektivitas dan identitas perempuan Manggarai di ranah sosial dan budaya.

Meski kemudian identitasnya terbentuk dalam sebuah kontinuitas “perjalanan” atau proses, tapi setidaknya ia telah mengalami masa di mana ia merasa cukup siap untuk terjun ke proses kehidupannya yang baru, yaitu keluarga.

Musik-tari ini dipentaskan oleh Dewan Kesenian Mabar (berdiri tahun 2016) dengan konsep-konsep bertutur yang kuat, sehingga iringan musik tradisi semisal Gong dan Gendang tidak lagi dominan.

Mula-mula, musik-tari ini berkisah tentang perempuan dari sebuah Kecamatan Cibal, Manggarai. Di mana pada suatu masa, Cibal menjadi salah satu wilayaha kerajaan di Manggarai, NTT.

Dalam perkembangannya, musik-tari ini menyebar ke hampir seluruh wilayah Manggarai, termasuk Manggarai Barat, dan menjadi salah satu tari populer yang biasa dipentaskan pada saat upacara penyambutan tamu.

Pemusik Ndundundake dan Musik Tradisi Filipina foto seusai pementasan. -Dok. Andi Tenrilebbi.
Pemusik Ndundundake dan Musik Tradisi Filipina foto seusai pementasan. -Dok. Andi Tenrilebbi.

Klothekan

Setelah Dewan Kesenian Mabar menyelesaikan pentasnya, masuklah beberapa pemusik tradisi dari Grup Musik Edi Peni dari Trenggalek, Jawa Timur.

Edi Peni adalah sanggar musik tradisi Trenggalek yang terletak di Desa Buluagung, Jawa Timur. Edi Peni berkomitmen pada upaya inovasi dalam karya-karya musik tradisi.

Grup musik ini beranggotakan Madra Primana (Bonang dan Gong/komponis/pimpinan grup), Wilujeng Tripatutsari (Vokal), Gancang Trihusodo (Slompret), dan Achmad Lutfi Prasetya (Kendang).

Dalam pementasannya, Edi Peni membawakan salah satu musik tradisi Trenggalek bernama Klothekan, sebuah komposisi musik yang dibuat berdasarkan musik pengiring tari Jaranan Turangga Yaksa.

Tarian ini sangat populer di kalangan masyarakat Trenggalek. Ia adalah sebentuk gambaran itikad baik manusia yang ingin mengalahkan rasa ego, iri, dengki, dan nafsu jahat sebagai upaya pemurnian diri dari belenggu dosa.

Melalui pentas musik ini, komponis Madra Primana menyuguhkan sebuah komposisi musik yang identik dengan kesenian Trenggalek dan membawa pesan tentang kehidupan masyarakat di Trenggalek: tari, musik, dan nyanyian (tuturan).

Gancang Trihusodo memainkan Slompret. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Gancang Trihusodo memainkan Slompret. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Gancang Trihusodo, yang memainkan Slompret, alat musik tiup serupa seruling, begitu dominan tampil pada malam keempat Etno Musik Festival yang digagas Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta itu. Selain meniup Slomporet, Gancang juga menari-nari ritmik di tengah panggung.

Setidaknya ada dua segmen di mana Gancang secara tunggal (one man show) memamerkan kepiawaiannya meniupkan alat musik unik tersebut. Disebut unik karena suaranya begitu melengking.

Selain itu, instrumen musik ini tampak begitu angker, karena instrumen Slompret menggambarkan irama kesedihan yang dipadukan dengan irama semangat maka terciptalah suatu irama yang aneh tapi menarik.

Tiap kali Gancang usai meniupkan Slompret, Wilujeng Tripatutsari (vokalis) menyanyikan lagu-lagu tradisional Trenggalek dengan warna suara yang merdu.

Wilujeng Tripatutsari (vokalis) melantunkan tembang tradisional Trenggalek. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Wilujeng Tripatutsari (vokalis) melantunkan tembang tradisional Trenggalek. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Sementara para pemusik di barisan belakang terus mendentumkan Gong, Gendang dan Bonang, tersentak-sentak, dan bersahut-sahutan.

Seperti pada Ndundundake, Klothekan juga mengkombinasikan disiplin kesenian yang berbeda: musik, tari, wayang, dan nyanyian. Keempatnya dihadirkan bersamaan, dan saling lebur pada satu medan seni, Klothekan.

Tiga Perempuan

Uniknya, dua kali pementasan pada malam Etno Musik Festival ini menampilkan sosok-pemusik perempuan, baik dalam pentas Ndundundake, maupun pentas musik tradisi Filipina.

Seolah identitas menjadi diskursus dominan dalam pementasan-pementasan itu. Bahwa diskursus identitas tidak terlebur dan purna di atas panggung, karena batasan-batasan yang dikonstruksi penonton sebenarnya terus dibawa di segala ruang dan waktu.

Adalah Prof. Aga Mayo Butocan, Ma. Lourdes Matute dan Janine Josephine Arianne Liao. Ketiganya adalah perempuan. Mereka memainkan secara berganti-gantian musik tradisi Mindanao, Filipina.

Masih seperti alat-alat musik kebanyakan di Indonesia, umumnya musik tradisi Mindanao, Filipina juga didominasi oleh Gong, Gendang dan Kelintang.

Prof. Aga Mayo Butocan, Ma. Lourdes Matute dan Janine Josephine Arianne Liao. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Prof. Aga Mayo Butocan, Ma. Lourdes Matute dan Janine Josephine Arianne Liao. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Mengenakan hijab, Prof. Aga dengan lincah memainkan Kelintang di tiga instrumen terakhir pada pementasan itu. Dua instrumen pertama, Prof. Aga memainkan Gendang.

Meski ketiganya sudah cukup “berusia”, namun tangan mereka masih terlihat lincah berpincah-pindah di atas alat-alat musik tersebut.

Penonton terpukau, bukan hanya karena kemampuan memainkan alat musik tradisi, tetapi lebih karena di usianya yang tua, mereka masih memelihara dan merawat tradisi musik khas negerinya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Goethe-Institut Gelar Tiga Acara Budaya Daring

Portal Teater - Goethe-Institut Indonesien sepenuhnya menyadari bahwa pandemi global virus Corona (Covid-19) bakal menghentikan semua acara kebudayaan selama paruh pertama tahun ini. Untuk...

Kartu Pra-Kerja untuk Karyawan PHK

Portal Teater - Pemerintah memutuskan untuk memprioritaskan pemberian dana bantuan sosial dari Program Kartu Pra-Kerja kepada masyarakat yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) lantaran...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Terkini

500 Juta Penduduk Dunia akan Jatuh Miskin Karena Corona

Portal Teater - Oxfam, sebuah organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada penanggulangan bencana dan advokasi, mengatakan pada Kamis (9/4) bahwa dampak dari penyebaran...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Jokowi: Glenn Fredly Lebih Dari Seorang Musisi

Portal Teater - Presiden Joko Widodo menyampaikan kabar duka atas berpulangnya musisi gaek Glenn Fredly pada Rabu (8/4) malam. Glenn diketahui meninggal karena penyakit...

Pasien Terinfeksi Covid-19 di Indonesia Tembus 3.000 Orang

Portal Teater - Pemerintah Indonesia pada Rabu (8/4) siang merilis data perkembangan terbaru kasus virus Corona di tanah air. Seperti hari-hari sebelumnya, grafik temuan...

Solidaritas Tanpa Batas Pekerja Seni

Portal Teater - Industri seni adalah salah satu sektor yang ikut terpukul lantaran merebaknya virus Corona (Covid-19). Tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh...