Endo Suando: Kesempurnaan Alat Musik Terkait Dengan Bunyi dan Publik

Portal Teater – Pada tahun 2004, setelah malang melintang dalam dunia kesenian, Endo Suando memutuskan untuk terjun ke dunia pendidikan (kesenian) dengan mendirikan Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN), sebuah lembaga non-profit berbasis di Bogor, Jawa Barat.

Tiga tahun berselang, bermaksud memperluas aksesibilitas publik kepada pengetahuan budaya dan seni Nusantara, Endo membulatkan tekadnya dengan mendirikan Tikar Media Budaya Nusantara. Lembaga ini menjadi cikal bakal ensiklopedia produk seni dan budaya Indonesia berbasis digital.

Melalui Tikar Media Budaya Nusantara, Endo mendokumentasikan dan mengarsipkan secara digital 13 kategori produk budaya dan seni Nusantara, antara lain: tari, musik, teater, seni rupa, topeng, wayang, arsitektur, pemukiman, tekstil, kuliner, permainan dan keterampilan.

Tikar Media Nusantara dan LPSN pada masa itu cukup membantu kinerja pemerintah dalam membentuk ekosistem pembelajaran kesenian (budaya) di sekolah. Tercatat ribuan sekolah di 12 Provinsi yang menerima modul pembelajaran yang dirintis LPSN.

Di beberapa tahun belakangan, LPSN sudah tidak lagi aktif karena kesulitan finansial dan sumber daya. Untuk membuat LPSN tetap hidup, Endo dan rekan-rekannya juga mendirikan Paradewa Instruments, sebuah lembaga profit yang bernaung di bawah LPSN.

Melalui Paradewa Instruments, Endo memproduksi alat-alat musik, baik tradisional maupun profan, dengan bahan dasar bambu. Usaha ini dirintis sejak tahun 2002. Namun mulai fokus dan komit sejak tahun 2010 hingga tahun 2012.

Bambu memang terkenal memiliki kelebihan dari segi kelenturan dan kekuatan bila dibandingkan dengan bahan lain seperti kayu. Bambu juga merupakan bahan yang paling ramah lingkungan.

Meski begitu, Paraewa Instruments tidak sembarang memilih bambu. Untuk bisa produksi, bambu-bambu harus lolos beberapa kriteria, misalnya memiliki kontur kepadatan, yaitu keras-lembutnya, atau jenis seratnya, dan juga umur bambu.

Dikenal juga dengan nama Bengkel Alat Musik Bambu (BAMB), Paradewa Instruments memproduksi ragam alat musik dawai seperti gitar akustik, gitar elektrik, biola, kecapi, ukelele, cak cuk, gitar gambus, selo hingga bedug.

Bunyi dan Publik

Dalam kesempatan diskusi Etno Musik Festival 2019 bertajuk “Penyempurnaan Alat Musik” di Lobby Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta, Rabu (11/9), Endo membeberkan beberapa standar atau derajat kesempurnaan penciptaan alat-alat musik, apapun itu, termasuk musik tradisi.

Doktor Etnomusikologi dari Universitas Washington itu mengatakan, salah satu kunci penciptaan alat musik terletak pada kesempurnaan bunyi. Karena, berbicara tentang musik, selalu berbicara tentang bunyi atau suara.

“Pertama, bunyinya harus enak,” katanya.

Selain keutuhan bunyi, Endo menyebutkan tiga faktor yang mendukung kesempurnaan alat musik, yakni mudah dimainkan, tahan lama, dan model atau bentuk yang bagus.

Memang dalam proses pembuatan, mula-mula seorang pembuat memiliki konsep material, atau bentuk fisik ideal tertentu. Tapi bagi Endo, dalam musik, yang diutamakan adalah keutuhan, kesatuan, dan keindahan bunyi.

Untuk mendukung kesempurnaan bunyi tersebut, seorang pembuat alat musik harus juga memperhatikan bentuk, kekuatan bahan, dan fleksibilitas alat musik.

Endo menuturkan, skala kesempurnaan itu mula-mula ada pada diri seorang pembuat alat musik. Bagi Endo, kesempurnaan bagi pembuat alat musik yaitu ketika kita membuat sesuatu (alat musik) dan merasakan tidak ada sedikitpun kesalahan.

Di atas semuanya, bagi Endo, ukuran kesempurnaan purna sesungguhnya ada pada definisi yang diberikan publik musik, dalam hal ini pemain atau penonton. Artinya, alat musik itu sendiri harus dikeluarkan dari cangkangnya dan diperlihatkan secara “telanjang” di hadapan publik.

“Untuk menghubungkan kesamaan pemahaman terhadap derajat kesempurnaan, maka alat-alat musik ini harus dibawa ke penonton, disuruh main, kita tunjukan, dia suka atau tidak. Misalnya kesukaan pada bentuk atau nada-nadanya,” jelasnya.

Tentang Endo Suando

Lahir di Majalengka, Jawa Barat, 14 Juli 1947, Endo mulai terjun ke dunia kesenian ketika usianya masih sangat muda, 10 tahun. Di usia itu, ia belajar menari, menabuh gamelan, membuat topeng.

Bakat alamiahnya untuk membuat topeng, tari dan karawitan Cirebon tertanam sejak tahun 1969.

Tahun 1968, ia masuk Akademi Seni Tari Indonesia (kini STSI) Bandung dan menyelesaikan Sarjana Muda di tahun 1973. Ia kemudian melanjutkan studinya di Akademi Seni Tari Indonesia (kini ISI), Yogyakarta (1973-1976). Selama belajar di Bandung dan Yogyakarta, Endo meluangkan diri untuk menjadi pelatih musik dan tari (1969-1973).

Karena ketekunan dan kecerdasannya, Endo mendapat beasiswa untuk program MA di Wesleyan University, Middletown, Connecticut, Amerika Serikat (1979-1983). Kemudian, ia meraih gelar Ph.D. etnomusikologi dari Washington University, AS (1987-1991).

Seusai menyelesaikan studinya di Wesleyan University, Endo menjadi pelatih seni tradisional dan eksperimental pada ASTI Bandung dan Institut Kesenian Jakarta (1983-1984). ia sempat menjadi konsultan pada Departemen Etnomusikologi, Universitas Sumatera Utara (1984-1987).

Tahun 1977, menjadi penata tari Topeng Babakan untuk pertunjukan di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Tahun 1972, ia pernah mementaskan wayang tunggal di Gedung GBB TIM Jakarta.

Endo juga pernah memimpin pertunjukan Topeng Babakan di Hongkong (1979), Pertunjukan Tari Prabu Siliwangi bersama dengan Iravati Durban di Bandung dan Jakarta (1984).

Selain pentaskan pertunjukan kesenian Sunda di berbagai kota di AS (1989), tahun 1992, ia mengadakan pertunjukan Kesenian Sunda dan Cirebonan di Adelaide, Australia. Adapula pertunjukan Tari Topeng dan Wayang Cepak Cirebon dalam Festival Boneka Internasional di Hiroshima dan kota lain di Jepang (1993).

Kedalaman pengetahuan dan luasnya pergaulannya, membuat Endo mudah bercampur dengan seniman-seniman yang terkenal pada masanya, termasuk Bengkel Teater Rendra, Teater Populer Teguh Karya, hingga Swara Mahardika Guruh Soekarno Putra.

Dalam pengakuannya, ia memang mula-mula meniti karir sebagai penari. Namun, dalam perkembangannya, ada bakat-bakat lain yang muncul dari dirinya, termasuk bakat keaktoran hingga musik.

*Daniel Deha

Baca Juga

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Presentasi Fotografi Performans di Masa Krisis

Portal Teater - 69 Performance Club, sebuah platform seni performans yang digagas Forum Lenteng (Jakarta), kembali menyapa publik seni lewat fotografi performans. Seni performans ini...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Terkini

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Jokowi: Glenn Fredly Lebih Dari Seorang Musisi

Portal Teater - Presiden Joko Widodo menyampaikan kabar duka atas berpulangnya musisi gaek Glenn Fredly pada Rabu (8/4) malam. Glenn diketahui meninggal karena penyakit...

Pasien Terinfeksi Covid-19 di Indonesia Tembus 3.000 Orang

Portal Teater - Pemerintah Indonesia pada Rabu (8/4) siang merilis data perkembangan terbaru kasus virus Corona di tanah air. Seperti hari-hari sebelumnya, grafik temuan...

Solidaritas Tanpa Batas Pekerja Seni

Portal Teater - Industri seni adalah salah satu sektor yang ikut terpukul lantaran merebaknya virus Corona (Covid-19). Tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh...

Kartu Pra-Kerja untuk Karyawan PHK

Portal Teater - Pemerintah memutuskan untuk memprioritaskan pemberian dana bantuan sosial dari Program Kartu Pra-Kerja kepada masyarakat yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) lantaran...