Portal Teater – Hari ketiga Etno Musik Festival semakin marak. Penonton ibukota dan sekitarnya, yang kebanyakan anak-anak milenial, tampak berduyun-duyun menuju lokasi kegiatan, Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Jakarta.

Seperti hari sebelumnya, Etno Musik Festival dibuka dengan pameran alat musik tradisi pada pukul 14.00 WIB di Lobby GBB TIM Jakarta. Kemudian dilanjutkan dengan dikusi bertajuk “Etnomusikologi” pada pukul 15.30 WIB.

Diskusi ini menghadirkan pakar etnomusikologi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Dr. Aton Rustandi Mulyana, M.Sn, dan dimoderatori Aksan Sjuman.

Dalam paparannya, Aton menggelitik peserta lewat kisah mahasiswa tingkat akhir jurusan Etnomusikologi ISI Suarakarta, Danang Daniel, yang mana jelang tanggal 13 September ini, Danang sibuk mengurus persiapan tugas akhirnya.

Dalam tugas akhirnya, Danang tidak lagi dikerjakan dalam bentuk skripsi riset murni, melainkan berupa perpaduan antara riset artistik dan performance berupa pameran.

Di mana elemen-elemen penggarapannya, selain dibuat dalam format laporan penulisan, pun diolah ke dalam ruang pameran peralatan produksi alat musik, foto proses penciptaan alat dan pertunjukan, dan instalasi alat musik sekaligus pertunjukannya.

Salah satu tujuan Danang adalah agar informasi hasil penelitian tidak menjadi arsip kaku yang tersimpan di perpustakaan kampus, tetapi dialihbahasakan melalui pameran dan pertunjukan.

Demikian halnya dengan Etno Musik Festival yang diprakarsai Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta. Bagi Aton, festival ini, selain menghadirkan gelaran pertunjukan, pameran, dan bazar, tetapi juga mempertemukan para seniman, peneliti/etnomusikolog, dan khalayak. Termasuk, kerjasama dengan seniman dan pihak pemangku kepentingan.

“Relasi kisah Danang dengan forum festival ini adalah aktualisasi peran etnomusikolog. Bagaimana seorang etnomusikolog dapat bekerjasama dan berperan lebih aktif di dalam penumbuhan atau penguatan relasi wacana-praktik seni (musik) kepada khalayak,” katanya.

Seperti kesadaran Danang akan pentingnya nilai informasi yang mendorongnya membuat karya penelitian terapan: meriset dan membuat gelaran hasil riset, maka penting juga bagi Komite Musik DKJ untuk melakukan hal serupa.

Ritual Penyembuhan Orang Sakit

Pada puncak hari ketiga, Etno Musik Festival menghadirkan pentas musik tradisi oleh keempat grup musik, yakni: Ritual Belian Bawo (Kutai Barat, Kalimantan Timur), Ma’Calong (Sulawesi Barat)⁣, Selonding (Bali)⁣, dan Reak (Jawa Barat)⁣. Pertunjukan musik ini terjadi di Gedung GBB TIM Jakarta, pukul 20.00 WIB.

Ritual Belian Bawo dipersembahkan oleh Sanggar Seni Swalas Gunaq (berdiri tahun 2007) dengan para pemainnya adalah anak-anak remaja, di mana mereka memainkan alat musik tersebut berganti-gantian.

Misalnya Yogi Kondala, Darmo, Heri Kristianus, dan Nuryadin yang memainkan alat musik Gimar, juga memainkan Klentangan (Darmo), Ketopong (Yogi Kondala dan Ronanda), Suling (Nuryadin), Ronanda dan Nuryadin (Glunikng), dan Kepala Ritual (Heri Kristianus). Sementara di bagian vokal dalam ritual itu, ada Yogi, Darmo dan Nuryadin.

Belian Bawo adalah salah satu tarian tradisional Dayak di Kaltim. Nama ini berasal dari kata “belian” artinya menyembuhkan orang sakit, dan “bawo” artinya gunugn atau bukit. Tarian ini bersifat mistis, yang biasanya dibawakan para dukun atau pawang.

Jadi, ritual yang dilakukan adalah untuk menyembuhkan penyakit seorang pasien. Jika diketahui pasien sakit karena disantet, maka pasien memutuskan apakah santet itu dikirim balik, atau memindahkannya kepada tumbal berupa hewan, misalnya ayam atau babi.

Praktik ini mirip dengan praktik yang dilakukan Yesus (Isa Almasih) dalam keyakinan Kristen, di mana Yesus mengirim kepala roh jahat, yaitu Legion, dari tubuh si penderita, kepada babi-babi, yang pada akhirnya babi-babi tersebut kerasukan dan melompati jurang, lalu mati.

Namun, bilamana pasien itu sakit bukan karena santet, maka seorang penari pergi mencari obat-obatan (di hutan), barang sejam lebih, untuk menyembuhkannya.

Di akhir ritual, irama musik diperlembut untuk menandai berakhirnya ritual.

Dalam praktiknya, irama dan rimte musik pada tari Belian Bawo boleh dikatakan menghindari adalah kesalahan. Karena bila terjadi kesalahan, maka ritual tersebut gagal dan para penari atau dukun mengalami kesurupan.

Untuk mengembalikan ke keadaan normal, maka musik dinetralkan seperti semula.

Ma’Calong, Musik Suku Mandar

Dalam pentas selanjutnya, Komunitas Budaya Sossorang asal Sulawesi Barat mempersembahkan Ma’Calong, sebuah pertunjukan musik tradisi khas suku Mandar di Sulbar. Ma’Calong lebih sering dipopulerkan oleh para petani yang terkadang berperan juga sebagai seniman tradisi.

Terminologi ini berasal dari dua kata, yakni “ma” berarti melakukan, dan “calong” berarti musik instrumen perkusi tradisional Mandar, yang terbuat dari kelapa dan bambu.

Dalam sejarahnya, Calong diciptakan sebagai instrumen pelipur lara dan pengisi waktu senggang di kala para petani beristirahat di pondok-pondok mereka di kebun ketika musim bercocok tanam.

Seiring perkembangan, Calong menjadi lebih banyak dimainkan oleh pemusik tradisi sebagai instrumen pengiring pertunjukan tari, musik dan teater.

Dalif (lahir 1983), pemain Ma’Calong dalam pentas ini, yang sekaligus vokalis, ditemani rekannya, Risma Agung Wijaya (lahir 1972), dengan riang mempersembahkan kekayaan musik Suku di bagian barat Pulau Sulawesi itu.

Musik Yang Disucikan

Bagi masyarakat Bali, permainan Gamelan memiliki arti kesucian. Sebagaimana yang dipentaskan Roras Ensemble asal Denpasar, Bali pada Selasa (10/9), Gamelan Selonding, gamelan khas Bali, pada hakikatnya merupakan gamelan yang dirujuk kepada permainan kesucian.

Banyak ditemukan di Desa Tenganan, Karangasem, Bali, Gamelan Selonding berasal dari dua kata: “salon” dan “ning” yang berarti “yang disucikan. Hal itu tampak dalam penggunaan Gamelan Selonding pada ritual-ritual adat di Bali.

Pada masyarakat Tenganan Pagringsingan, Gamelan Selonding diberi nama “Bhatara Bagus Selonding”. Nama ini merujuk pada jejak sejarah dan mitos yang hidup dalam masyarakat tersebut.

Dikisahkan, pada suatu masa, orang Tenganan mendengar letupan gemuruh dari angkasa yang datang secara bergelombang. Pada gelombang pertama, suara itu turun di Bongaya (sebelah timur laut Tenganan), sedang gelombang kedua turun di daerah Tenganan Pagringsingan.

Sekonyong-konyong, bersamaan dengan hilangnya suara itu, muncullah Gamelan Selonding yang berjumlah tiga bilah. bilah-bilah it kemudian dimodifikasi menjadi Gamelan Selonding yang ada saat ini.

Pertarungan Kebaikan vs Keburukan

Pada akhir acara, Sanggar Seni Reak Kudalumping Tibelat asal Bandung Timur, Jawa Barat, mementaskan musik tradisi Reak Kuda Lumping.

Merunut pada artefak sejarah, pentas musik tradisi ini dilakukan dengan maksud untuk menjaga keseimbangan dari pertarungan antara kebaikan dengan keburukan dalam hidup manusia. Simbol dua dimensi konflik terberi itu adalah kehadiran Kuda Lumping dan Bangbarongan.

Para pelaku seni Reak di Bandung Timur meyakini mitos bahwa reak dibawa oleh Prabu Kiansantang dan sejarahnya masih terhubungan dengan artefak kerajaan Padjajaran.

Pada umumnya, Reak dipentaskan dalam acara syukuran, seperti syukuran panen, pernikahan, dan ulang tahun.

Dalam pementasannya, Reak menyertakan seperangkat instrumen Sunda seperti dogdog, kendang, calung, suling dan lainnya untuk mengiringi para penari bertopeng, kuda lumping dan bangbarongan.

Bangbarongan atau tarian barong menjadi ciri khas Reak, demikian halnya dengan Kuda Lumping. Karenanya, kedua unsur ini menjadi simbol pertarungan kebaikan dan keburukan. Sebagai manusia, tetaplah kita mempertahankan nilai kebaikan di tengah amukan keburukan yang nikmat.

*Daniel Deha