Etnomusikologi, Di Antara Keilmuan Murni dan Terapan

Portal Teater – Menjelang tanggal 13 September 2019, Danang Daniel salah seorang calon sarjana Etnomusikologi di ISI Surakarta sibuk mengurus persiapan tugas akhirnya. Kali ini, tugas akhirnya tidak lagi dikerjakan dalam bentuk skripsi riset murni.

Namun, tugas akhir ini berupa perpaduan antara riset artistik dan performance berupa pameran. Segmen-segmen bahasan, selain dengan laporan penulisan, diolah ke dalam ruang pamer soundscape, pameran peralatan produksi alat musik, pameran foto proses penciptaan alat dan pertunjukan, dan instalasi alat musik sekaligus pertunjukannya.

Ringkasnya, Danang mengalihbahasakan sekaligus mengkomunikasikan informasi hasil penelitiannya tidak sekedar tulisan tetapi dikemas ke dalam bentuk pameran. Tujuannya supaya informasi hasil penelitian tidak mandek, atau berubah sebagai arsip pasif yang cukup tersimpan di perpustakaan kampus.

Namun, informasi tersebut diaktifkan kembali. Tidak hanya berhenti di rupa aksara, tetapi bergerak melalui bunyi, gerak, dan rupa visual yang lain, dan dapat segera diketahui oleh khalayak luas; termasuk mitra risetnya.

Sebelumnya, Danang telah melakukan riset partisipatoris. Dia telah bekerja bersama Al Suwardi (seorang komposer, organolog, etnomusikolog, dosen karawitan, sekaligus pengrawit). Membantu proses riset Al Suwardi, melakukan pendokumentasian.

Selama proses tersebut, termasuk beberapa pengalaman dirinya berkolaborasi dengan para komposer dan koreografer, Danang mulai menyadari beberapa catatan proses artistik seringkali terabaikan. P

engkarya, termasuk tim produksi, seringkali abai terhadap proses penciptaannya. Selama proses itu pula informasi-informasi seni yang bernilai justru hadir dan ditemukan. Namun sungguh disayangkan, temuan-temuan itu tidak pernah dicatat, diarsip, apalagi ditujukan untuk publikasi di luar pertunjukan.

Kesadaran nilai informasi penting inilah yang kemudian menginspirasi Danang membuat karya penelitian terapan: meriset dan membuat gelaran hasil riset.

Cuplikan pengalaman di atas kiranya relevan dengan peristiwa yang dialami kita sekarang, festival musik nusantara 2019. Festival ini, selain menghadirkan gelaran pertunjukan, pameran, dan bazar, juga mempertemukan bersama seniman (pengkarya, pemusik), peneliti (baca: etnomusikolog), dan khalayak.

Relasi kisah Danang dengan forum festival ini adalah aktualisasi peran etnomusikolog. Bagaimana seorang etnomusikolog dapat bekerjasama dan berperan lebih aktif di dalam penumbuhan atau penguatan relasi wacana-praktik seni (musik) kepada khalayak. Termasuk, kerja bersama dengan seniman dan pihak pemangku kepentingan.

Namun sebelum bahasan beralih ke etnomusikologi terapan. Sebagai kilas balik, akan dibahas aktivitas keilmuan etnomusikologi di era awal. Khususnya, dari fenomena kelisanan menuju keilmuan.

Showcase Gamelan (Jawa Tengah) di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ.
Showcase Gamelan (Jawa Tengah) di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta. -Dok. Gigih Ibnur/DKJ.

Etnomusikolologi dari Kelisanan Menuju Keilmuan

Embrio etnomusikologi sebagai sebuah pemikiran sebetulnya sudah lahir lebih awal, sebelum disiplin etnomusikologi lahir di pertengahan abad 20. Jejak pemikiran etnomusikologis (baca: pemikiran tentang musik) ini tampak tersebar di beberapa komunitas budaya di dunia.

Di India dan di beberapa tempat lain, misalnya, tradisi pemikiran ini dikenal sebagai bentuk pengetahuan masyarakat lokal (lokavidya).

Umumnya, bahkan sampai sekarang, pengetahuan-pengetahuan musikal tersebut masih terekspresikan di dalam ranah lisan dan praktik musikal.[1] Sebagian tersimpan sebagai pengetahuan tersembunyi (tacit knowledge). Namun, ada juga pengetahuan musikal tersebut dituliskan menjadi manuskrip-manuskrip. [2]

Tidak dapat diabaikan, perjumpaan antara pendatang dan pribumi memiliki dampak luas terhadap lahirnya disiplin ilmu etnomusikologi. Di Indonesia khususnya, perjumpaan di antara mereka melalui jalur bahari telah menghasilkan beragam informasi yang berhubungan dengan musik.

Sebagian pendatang, di luar kegiatan utama berdagang, misionaris, atau praktik kolonial, tertarik untuk mengkoleksi dan mencatat aneka informasi yang ditemukan di wilayah baru yang dikunjungi atau dihuni.

Ilustrasi kegiatan tersebut dapat dipelajari melalui tulisan-tulisan seperti History of Java-nya Raffles dan The Javaansche Volksvertoningen-nya Pigeaud. Berdasarkan informasi tulisan tersebut dapat diketahui cara pendatang menuliskan dan melaporkan musik pribumi.

Perjumpaan lain yang bernilai terhadap tumbuhnya disiplin etnomusikologi adalah dampak politik etis. Politik tersebut berdampak atas terjadinya interaksi antara orang Eropa dan pribumi Nusantara.

Tidak dapat dipungkiri, salah satu pola penotasian musik yang dikenalkan oleh orang Eropa di masa itu telah menginspirasi pribumi sebagai alumni pendidikan ala Eropa mengadaptasi notasi Cheve menjadi notasi Kepatihan di Jawa Tengah dan notasi Damina di Jawa Barat, dengan cara lokal.

Tidak pula disangsikan usaha pendatang Eropa melakukan pameran tentang eksotisme Hindia-Belanda di Eropa dan Amerika — dengan membawa alat musik, pemusik dan penari dari Pulau Jawa — memberi pengaruh ketertarikan orang Eropa dan Amerika terhadap budaya yang ada di Hindia-Belanda.[3]

Di Expo Eropa (Paris dan Belanda), gema gamelan telah menginspirasi komponis Eropa untuk mendekonstruksi komposisi Musik Barat yang mapan; seperti telah dilakukan oleh Claude De Busy, Paul Seelig, Dirk Schafer, dan Constant van de Wall. [4]

Diseminasi musik Nusantara ke Eropa dan Amerika juga telah mendorong sarjana-sarjana dan seniman-seniman Eropa dan Amerika datang langsung belajar musik Nusantara.

Dua gejala tersebut, diakui atau tidak, memberi arah etnomusikologi dari kelisananan ke aras keilmuan.

Perubahan aras pemikiran dari kelisanan menuju keilmuan kian gencar menjelang akhir abad 19 hingga pertengahan abad 20. Banyak sarjana memfokuskan pada studi-studi musik di luar Musik Barat.

Sebagian sarjana lain mengkaji budaya musik dari masyarakat yang dianggap non literate. Sebagian sarjana lain fokus membandingkan musik Barat dan musik non Barat. Banyak pekerjaan itu dilakukan melalui pendokumentasian, pencatatan etnografis (termasuk notasi), dan menganalisis secara komparatif, selain koleksi alat-alat musik dan manuskrip-manuskrip.

Semula, Jaap Kunst merumuskan tradisi keilmuan itu dengan nama ethno-musicology. Kemudian, istilah tersebut direvisi menjadi ethnomusicology, seperti yang popular hingga sekarang.

Perkembangan etnomusikologi, sebagai bentuk ilmu baru di pertengahan abad 20, tidak dapat dipisahkan dari dinamika keilmuan musikologi komparatif dan antropologi musik. Dialektika etnomusikologi di antara disiplin musik dan antropologi telah melahirkan banyak pengikut.

Situasi ini terjadi karena pengaruh besar Jaap Kunst dan penerusnya seperti Mantle Hood dkk., yang condong kepada studi musik dan di kutub lain, Allan P Merriam yang condong ke antropologi musik.

Namun demikian, situasi dialektis itu malah makin membuka ruang-ruang keilmuan baru bagi disiplin etnomusikologi. Etnomusikologi berkembang menjadi studi interdisiplin.

Sarjana-sarjana etnomusikologi tidak lagi berkutat dalam pertaruhan musikologi atau antropologi, tetapi meluas ke bidang sosial, komunikasi, linguistik, kajian budaya, arkeologi, statistik, teknologi, psikologi, ekologi dan biologi.

Tidak heran dalam situasi demikian, sarjana etnomusikologi kemudian mempersoalkan mengenai redefinisi etnomusikologi. Tinjauan kritis atas redefinisi tersebut kian menguat setelah Blacking turut mempertanyakannya.

Blacking memposisikan musik lebih aktif. Ini adalah aktivitas kemanusiaan yang berhubungan dengan membuat, mempersepsi, menafsir bunyi. Bahkan, Cristhoper Small menyebut aktivitas musikal ini sebagai musicking. Titon mengartikan etnomusikologi sebagai studi tentang bagaimana masyarakat membuat musik.

Di abad 21 ini, Timothy Rice mendefinisikan kembali etnomusikologi: “Ethnomusicology is the study of why, and how, human beings are musical.”

“This definition positions ethnomusicology among the social sciences, humanities, and biological sciences dedicated to understanding the nature of the human species in all its biological, social, cultural, and artistic diversity.”

“Ethnomusicologists believe that to understand our humanity through our musicality, that is, to understand why we need music to be fully human, we must study music in all its diversity.”
“The basic question, why and how are humans musical, will not be answered by studying a small slice of the world’s music. All music, in its full geographical and historical extent, must be studied.”
“Ethnomusicologists do not begin their research with a judgment about what they imagine is “good music” or “music worthy of study” or “music that has withstood the test of time.” Instead, they assume that whenever and wherever humans make and listen to music with the keen devotion and attention that they do, then something important and worthy of study is going on.”

Showcase Gambang Kromong (DKI Jakarta) di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta. -Dok. Gigih ibnur/DKJ.
Showcase Gambang Kromong (DKI Jakarta) di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta. -Dok. Gigih ibnur/DKJ.

Etnomusikologi Terapan

Etnomusikologi, dari awal lahir hingga mewujud sebagai disiplin ilmu mandiri, memiliki karakter kerja utama berupa penelitian lapangan (fieldwork). Etnomusikolog mutlak harus hadir langsung di lokasi tempat dia melakukan penelitian, dan berinteraksi dengan masyarakat pemilik musik yang diteliti.

Ada keunikan di saat etnomusikolog bekerja di masyarakat. Relasi antara peneliti (etnomusikolog) dengan yang diteliti (masyarakat pemilik musik) tidak hanya sekedar hubungan profesional antara subjek dan objek penelitian, tetapi kerap melibatkan hubungan emosi yang berujung pada empati, pertemanan dan kekeluargaan.

Melalui hubungan seperti itu, etnomusikolog tidak hanya terbantu dengan tugas mengumpulkan data, merumuskan ulang pengetahuan musikal, atau menjelaskan fenomena teks dan konteks musik. Demikian pula, masyarakat banyak berharap hasil penelitian itu dapat bermanfaat langsung bagi mereka.

Tipe relasi ideal seperti itu telah dicontohkan oleh John A. Lomax dan anaknya Alan Lomax. Dalam riset lapangan mengenai nyanyian-nyanyian balada dan folksong di Amerika, Lomax berdua tidak hanya berhasil mencatat dan mendokumentasikan sejumlah nyanyian komunitas Indian dan komunitas Afro American.[5]  Kerja sejenis dilanjutkan juga oleh Alan Lomax di Eropa.[6]

Lomax dan Lomax telah banyak berjasa, mengenalkan musik dan masyakarat pemiliknya ke khalayak, menemukan musisi-musisi hebat yang sebelumnya tidak dikenal di dunia penyiaran (industri musik), memberi ruang tumbuhnya genre musik popular dan world music,[7] dan penyadaran tentang persamaan atau keadilan dalam musik dan budaya.[8]

Di Indonesia, khususnya, bentuk relasi penting lain adalah relasi Mantle Hood dengan masyarakat musik di Jawa dan Bali. Ada imbal jasa yang dilakukan Mantle Hood terhadap masyarakat musik di Jawa dan Bali.

Mantle Hood telah banyak berjasa. Mengenalkan musik Jawa dan Bali sebagai materi pembelajaran untuk kalangan perguruan tinggi di Amerika. Menginspirasi kawan-kawan dan murid-muridnya belajar musik langsung ke Indonesia. Mengundang maestro musik Indonesia untuk residensi mengajar musik dan mengenalkan budaya musiknya.

Mantle Hood pun mengundang seniman Indonesia untuk belajar etnomusikologi di Amerika. Ada Empat orang yang diundang antaralain RM Soedarsono, Gendhon Humardhani, Enoch Atmadibrata, dan I Made Bandem.

Kemudian empat alumni ini tercatat menjadi penerus tumbuh dan kembang tradisi keilmuan seni (termasuk karawitan) di perguruan tinggi seni di Jogjakarta, Surakarta, Bandung, dan Bali.

Dua perguruan tinggi seni di Jogjakarta dan Surakarta, di luar PRODI Musik dan PRODI Karawitan, mendirikan PRODI Etnomusikologi di pertengahan dekade 1980-an; mengikuti Prodi etnomusikologi USU Medan yang sudah lebih dulu berdiri di tahun 1979.

Dua peristiwa Lomax dan Hood tersebut memperjelas aktualisasi keilmuan etnomusikologi. Etnomusikologi tidak harus diyakini sebagai disiplin riset murni saja.

Sebuah kegiatan keilmuan yang lebih banyak mengurus pencatatan, perekaman, analisis, penafsiran, merumuskan konsep, membangun teori, mempublikasikan ke dalam bentuk buku, atau terperangkap dalam pengarsipan eksklusif, hanya hadir di lingkungan akademisi saja.

Lebih dari itu ia aktif menemukan solusi masalah-masalah praktis di luar dunia akademi. Jalinan relasi yang dibangun etnomusikolog dengan masyarakat yang diteliti telah membuka ruang praktik yang lebih nyata.

Etnomusikologi adalah disiplin aktif yang berurusan dengan aktivitas musikal. Orientasinya adalah musikal, sosial sekaligus budayawi. Pemanfaatannya harus nyata, langsung menjawab dan atau melayani kebutuhan masyarakat luas.

Prinsip-prinsip tanggung jawab sosial menjadi dasar etnomusikolog melakukan aksi terapan. Pengetahuan etnomusikologis digunakan secara praktis kepada komunitas tertentu, dengan tujuan untuk menguntungkan komunitas.[9]

Etnomusikolog hadir dan bekerja bersama komunitas: membantu identifikasi, mencatat, merawat, mengembangkan, menampilkan dan merayakan tradisi-tradisi musikal yang dimiliki komunitas.[10]

Beberapa praktek etnomusikologi terapan yang sudah ada antaralain di bidang pendidikan, penyiaran, pertunjukan, advokasi, agensi, resolusi konflik, terapi medis, juga pemanfaatan teknologi informasi, dan media virtual.

Alumni etnomusikologi bekerja di berbagai sektor pekerjaan. Ada yang bekerja sebagai konsultan, administrator seni, pekerja lapangan etnografi, penyaji festival, produser radio dan televisi, pengembang podcaster dan situs internet, pendidik, fasilitator, mediator, penulis, saksi ahli, dan aneka macam pekerjaan yang lain.

Beberapa contoh pekerjaan yang dilakukan etnomusikolog antara lain sebagai berikut. Michael Bakan menggunakan pengetahuan etnomusikologis untuk mengadvokasi penderita autis, dan karyanya dipublikasikan dengan judul Ethnomusicology of Autism.

Tan Soi Beng terlibat aktif dalam penguatan pertunjukan yang ditujukan sebagai pendidikan generasi muda dan revitalisasi tradisi-tradisi di antara komunitas multietnik di Penang.

Alan Williams selain dikenal sebagai etnomusikolog, etnografer, juga aktif di dalam praktik studio rekaman, sebagai pemusik, produser, manajer perusahaan rekaman, dan pemimpin sebuah ensambel Birdsong At Morning.

Holly Wissler aktif di dalam proyek-proyek yang berhubungan dengan isu-isu preservasi dan representasi budaya dan musik, repatriasi dan penggunaan arsip-arsip audiovisual, dan turisme lokal di Peru. Svanibor Pettan mempraktekkan etnomusikologi terapan terkait dengan isu-isu minoritas, konflik, dan pendidikan di Eropa.

Di Indonesia sendiri, dapat diambil contoh, dua orang dari generasi yang berbeda selisih lima puluh tahun: Endo Suanda dan Pandu.

Endo Suanda sangat aktif melakukan pendokumentasian dan digitalisasi, ikut merintis asosiasi Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, majalah Gong Media Pendidikan Seni, dan Pendidikan Seni Nusantara (PSN) yang menawarkan pembelajaran seni alternatif di kalangan sekolah-sekolah dasar dan menengah, dan Yayasan TIKAR.

Kini, Endo aktif dalam pengembangan laboratorium organologi; melakukan rekayasa instrumen berbahan bambu, seperti yang digelar di dalam pameran festival (Etno Musik) ini.

Kepedulian terhadap instrumen musik nusantara diwujudkan pula dengan menerbitkan buku ensikopledia alat musik.

Berbeda dengan Endo, Pandu sebagai generasi milenial memanfaatkan pemikiran etnomusikologis untuk melakukan kerja kolaboratif dengan lembaga budaya Balai Soedjatmoko dan komunitas anak muda peminat sastra di Solo.

Semula Pandu bereksperimen membuat software musik sendiri. Alat itu kemudian dia gunakan untuk membuat musik ilustrasi program bulanan Balai Soedjatmoko yang dipublis di media Instagram.

Pandu juga membuat ilustrasi musik dalam format audio book, yang berisi cerpen dan puisi. Tentu masih banyak ativitas terapan lain yang telah dilakukan alumni etnomusikologi.

Sebagai penutup, kiranya hubungan etnomusikolog dan etnomusikologi ibarat pengendara dan kendaraannya. Di dalam perjalanan, banyak ditemukan realitas hal-hal baru yang tidak sebatas cukup diketahui dan dipahami sebagai pengetahuan dan ilmu.

Jauh lebih penting dari itu adalah pemanfaatan ilmunya, menuju solusi praktis menjawab dan melayani kebutuhan masyarakat.

Catatan Kaki:

[1] Seperti pengetahuan praktik pembelajaran gamelan oleh komunitas di Jawa dengan menggunakan konsep metode pengenalan (tepung), pergaulan (srawung), dan pencapaian kompetensi (dunung).

[2] Di Jawa misalnya, tercatat manuskrip-manuskrip yang menginformasikan idiom musik seperti Angling Darma, Bharata Yudha, Babad Nitik, Centhini, Sendhon Langen Swara, Kikidunganing Gendhing Ingkang Sampun Kalebet Langen Swara, Sastramiruda, Gulang Yarya, Pasindhen Bedaya, Wedhapradangga, Layang Sesorah Bab Tabuhan Gamelan, Buku Piwulang Nabuh Gamelan, Titi Asri, Sari Swara, Pakem Wirama, Karawitan, Lagu Jawi, Wawaton Kawruh Gendhing Jawi, Sastra Gendhing, dan Mardu Swara.

[3] Gamelan pernah ditampilkan dalam beberapa kegiatan pameran dunia di Arnhem (1879), Amsterdam (1883), Paris (1889 dan 1900), Chicago (1893), The Hague (1898).

[4] Tidak dapat dipungkiri, kehadiran gamelan di Eropa dan Amerika berpengaruh terhadap perubahan cara pandang dan ekspresi yang berbeda dari tanah asalnya. Pengalaman Debussy menyaksikan pertunjukan gamelan dalam pameran di Paris mendorong naluri kreativitasnya sehingga menghasilkan karya komposisi piano Pagodes. Komposisi yang terinspirasi dari gamelan tersebut dilakukan dengan cara pendekatan musik Barat, merupakan titik awal lahirnya genre musik modern. Hal serupa dilakukan oleh dua komposer Belanda, Paul Seelig dan Dirk Schafer, yang berkolaborasi membuat Rhapsodies Javanaises. Apresiasi musikalitas yang lebih mengedepankan tanda-tanda ketimuran, termasuk gamelan dan ke-Jawa-an justru dilakukan oleh komposer Constant van de Wall. Beberapa karya yang telah dihasilkan olehnya, antara lain Rhapsodies Javanaises, Tropical Night, A Wayang Legend, dan opera Attima. Van de Wall mengimitasi bunyi-bunyi gamelan dalam Rhapsodies Javanaises Opus 19 dan Opus 51. Pengakuan ini tersurat dalam sub pengantar Opus 19, “melodies populaires et thèmes du gamelan (orchestra javanais).” Van de Wall pun menyertakan seperangkat gamelan di dalam karya opera Attima.

[5] Karya kolabrasi John A.Lomax dan Alan Lomax ini dapat ditemukan dalam American Ballads and Folksongs. New York: The Mac Millan Company. 1934 (diterbitkan ulang Dover Publication, 1994); Negro Folk Songs as Sung by Leadbelly. New York: The Mac Millan Company. 1936; Cowboy Songs and Other Frontier Ballads. New York: The Mac Millan Company. 1938; Our Singing Country. New York: The Mac Millan Company. 1941.

[6] Lihat film berjudul “Lomax A Song Hunter”.

[7] Kisah-kisah tentang Alan Lomax ini dapat dibaca dalam buku-buku berjudul: The Penguin Book of American Folksongs (The Land Where Blues Began (1993), Alan Lomax Assistant in Charge: The Library of Congress Letters, 1935-1945 (2011).

[8] Periksa wawancara antara John Fenn dengan Jeff Todd Titon via email Januari 2003, dan dimuat di jurnal Folklore Forum 34 (2003), hlm. 127.

[9] Periksa Jeff Tod Titon dan Svanibor Pettan (eds.), The Oxford Handbook of Applied Ethnomusicology.

[10] Forum Folklore 34 (2003), hlm. 130.

*Penulis adalah Dosen Etnomusikologi ISI Surakarta. Makalah diberikan dalam diskusi Etno Musik Festival di Lobby Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta, Selasa, 10 September 2019.

Baca Juga

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Terkini

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...