Evaluasi Juri Festival Teater Jakarta 2018

Portal Teater – Evaluasi Juri Festival Teater Jakarta (FTJ) 2018 diadakan pada Rabu (28/11), pukul 16.00-17.00 di Loby Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Dalam evaluasi ini dihadirkan para juri FTJ, antara lain: Benny Yohanes (Ketua Juri), Imas Darsih, Dindon WS, Ugeng T. Moetidjo dan Gandung. Afrizal Malna, Ketua Komite Dewan Kesenian Jakarta memoderasi jalannya kegiatan.

Ketua Lembaga Teater Jakarta Asep Martin. -Dok. Dian Indriyani/DKJ
Ketua Lembaga Teater Jakarta Asep Martin. -Dok. Dian Indriyani/DKJ

Teater Seolah Kehilangan Isu

Afrizal:

Teater sekarang seolah-olah kehilangan pertanyaannya, kehilangan isu. Dalam FTJ ini kita hanya mampu memproduksi tiga item. Tiga item ini sebenarnya matarantai yang cukup kuat.

Premis pertamanya ada di biografi penciptaan, karena di biografi penciptaaan diharapkan kawan-kawan bisa membuka dapur penciptaan agar terjadi pertukaran pemikiran.

Ini merupakan premis dasar bagaimana penciptaan diurai dari gagasan pemetaan isu, eksekusi berbagai keputusan-keputusan estetika sampai menjadi pertunjukan.

Mata rantai yang kedua adalah pertunjukan itu sendiri sebagai produksi dari biografi penciptaan dan yang ketiga adalah pembacaan.

Salah satu kelemahan dari metode lomba, penyelenggara tidak tahu kualitas. Dalam hal ini DKJ tidak tahu kualitas. Kita juga tidak bisa merekomendasi pertunjukan yang bagus dan yang tidak bagus, karena semuanya berada di tingkat wilayah.

Tiga mata rantai ini, biografi penciptaan, pertunjukan sebagai produksi dan evaluasi sebagai pembacaan, itu keseluruhannya adalah dialektika yang terjadi di FTJ. Kalau dialektika ini berjalan dengan baik, kita masih punya proyeksi rencana untuk tahun-tahun selanjutnya.

Di biografi penciptaan sebenarnya punya peluang besar untuk menjadi lab FTJ. Karena FTJ ini banyak sekali mengangkut gerbong kereta. Di balik FTJ itu ada lembaga pemerintah, ada gerbong DKJ, ada gerbong asosiasi, ada gerbong grup-grup, ada gerbong penjurian.

Itu semua gerbong-gerbong lumayan besar yang akan diangkut di keseluruhan mata rantai FTJ ini.

Lembaga pembacaan adalah pertaruhan utama dari FTJ, karena di lembaga pembacaan ini kita bisa melihat hasil-hasil FTJ, kemungkinan-kemungkinan workshop yang bisa dilakukan, asupan-asupan yang bisa dipetakan.

Yang kita jaga di lembaga pembacaan ini, adanya unsur penjurian yang punya pembacaan tidak tunggal. Karena itu juri-juri itu kita harapkan, juri-juri yang datang dari disiplin yang berbeda, diharapkan punya sudut pandang yang berbeda.

Dari unsur juri ini ada Imas Darsih (sutradara professional), Gandung (Akademisi), Ugeng T. Moetidjo (lintas disiplin yang punya perhatian terhadap teater khususnya FTJ), Dindon (mewakili unsur FTJ itu sendiri; senior dari FTJ 1987). Unsur-unsur juri yang diharapkan menjadi jaminan untuk memberikan pembacaan yang baik.

FTJ Punya Risiko

Benny Yohanes

Yang disoroti: festival ini punya risikonya sendiri. Risiko itu karena bahan baku yang digunakan kelasnya berbeda-beda. Ada teks yang “berat” (sudah mendunia), naskah ini memberikan tanggung jawab dan tafsir kita dibatasi oleh keterikatan referensial.

Ketika pendahulu teater sudah melakukan pembacaan lebih dahulu, naskah ini dijadikan semacam legitimasi tentang wilayah-wilayah kontemporer yang mau diekspresikan di dalam kreativitas pemanggungan.

Di sisi lain ada naskah-naskah yang memang sudah diakui semacam naskah klasik Indonesia, seperti “Malam Jahanam”. Nnaskah ini bukan karena dorongan nasionalisme tapi karena naskah ini memberikan jawaban atas konsep efisiensi garapan.

Kemudian ada karya baru, karya baru itu wajahnya bisa dua, bisa inspirasi dan di sisi lain memiliki batas-batasnya sendiri karena belum teruji secara publik. Karena bahan baku berbeda, penjurian tidak bisa menerapkan kriteria objektif yang diterapkan di setiap grup.

Pembacaan para juri memiliki risiko pembacaan berdasarkan konteks-konteks yang relevan. Penilaian juri harus berdasarkan kerangka.

Di sisi lain ada grup yg menampilkan karya baru yang belum jelas apakah ini akan menjadi pencariaan yang konsisten, atau hanya uji coba yang kebetulan lolos, ini dijadikan semacam upaya untuk menunjukkan identitas grup.

Cara mengukurnya ada pertumbuhan regenerasi. Konteks yang ketiga pembacaan yang melibatkan pertimbangan-pertimbangan estetik. Ada grup yang menonjol, melihatkan estetika secara strategi, memanfatkan setiap lini di teater; pemangungan, aktor, musik, dll.

Pada prinsipnya kemudian melakukan pembacaan memang berdasarkan realitas objektif dari apa yang disajikan di atas panggung, pertimbangan berikutnya pembacaan berdasarkan konteks-konteks.

Dalam mencatat kreasi pemanggungan, saya melihat pertama ada grup-grup yang mencoba riset potret sosial yang jadi semacam favorit adalah kondisi warga Jakarta pinggiran. Kemudian fenonemanya dialihkan ke panggung.

Tapi bentuk pengalihan yang sifatnya permukaan. Hal-hal yang muncul di balik realitas itu belum ditelusuri.

Ada grup yang mencoba melakukan penggalian terhadap idiom lokal. Grup itu membaca latar belakang SDM grupnya. Mengadopsi diksi-diksi DKI. Pertunjukan itu berkolerasi dengan penerimaan penonton. Mendapati banyak sekali pengalaman tertawa.

Tapi dorongan itu menyebabkan teater itu tidak bisa bergerak ke wilayah yang lebih kontemplatif. Respon penonton itu instan. Yang menggunakan idiom lokal itu mengutip bentuk-bentuk sarkastik yang memang di atas panggung menjadi komikal.

Kita berhenti di wilayah permukaan yang mengutamakan relasi yang instan. Pengalaman keurbanannya yang bersifat permukaan. Dikaji ulang apakah pilihan-pilihan ini akan memiliki proyeksi yang bagus untuk perkembangan teater modern di Jakarta.

Para juri banyak melihat bahwa pada tingkat ide ada potensinya tapi pada tingkat materialisasi pertunjukan sajiannya menjadi prematur. Yang kita sikapi secara positif sebetulnya grup-grup yang memunculkan pemain-pemain muda yang diharapkan melakukan kontiniutas.

Selalu ada semacam kesinambungan yang terhenti dan akibatnya kemudian grup-grup harus bekerja lagi dengan pemain-pemain yang baru lagi.

Pertanyaaan yang harus dijawab bersama adalah bagaimana menentukan konsensus untuk mem-framing kegiatan FTJ. Apakah forum ini akan dijadikan sebagai sarana untuk membuktikan bagi setiap grup teater melakukan pencapaian estetik yang paling kekinian.

Harus ada ruang bagi pertumbuhan regenerasi pelaku teater ini, bagaimana regenerasi teater harus ikut memperkuat pembacaan terhadap sejarah festival ini yang sudah berlangsung 46 tahun. Saling melihat itu penting untuk membuka ruang wacana yang bisa diinteraksikan.

Afrizal:

Lima kategori yang dijelaskan tadi terkait dalam kerja dramaturgi di pembacaan: Bagaimana teman-teman punya gagasan, kemudian gagasan itu dipetakan dari isu-isu yang ada di masyarakat.

Kategori yang paling berat adalah teman-teman yang berani membawakan naskah kanon. Di dalam kerja naskah-naskah kanon ada sejumlah referensi yang dihitung kembali.

Ini salah satu peluang bagaimana FTJ mempunyai sejarah. Jika teman-teman tidak riset dan tidak ada pembandingan, itu sama saja kita tidak memproduksi sejarah.

Kategori kedua yang paling penting adalah potret sosial. Jika kemiskinan di Jakarta kita riset kembali, kemiskinan sekarang lebih abu-abu berbeda dengan zaman Orde Baru.

Regenerasi: apakah regenerasi ini berulang atau dia membawa visi baru. Pencapaian estetika: usaha untuk melakukan eksperimentasi yang menggunakan idiom-idiom lokal.

Diharapkan kawan-kawan yang menggunakan idiom lokal, pencapaian apa yang dilakukan. Bagaimana kita menempatkan idiom lokal.

Masalah di Ending

Imas Darsih:

Yang dilihat dari awal sampai akhir kebanyakan teater itu lemah dalam ending. Jangan sampai hanya menawarkan gregetnya penonton tapi benang merahnya kurang.

Cerita dan judulnya bagus tapi isi teaternya tidak mencerminkan judul. Si sutradara harus jeli, jangan melatih pemeranan tanpa melihat dekorasi. Di setiap grup ada kelemahan dan kelebihan.

Teater-teater sekarang banyak kemajuan, tapi jangan menjiplak. Jangan ada celotehan yang tidak dimengerti juri apalagi penonton. Jangan lengah, jangan asal di festival.

Benny Yohanes:

IBu Imas melihat pertunjukan yang seperti rumah tangga. Pertunjukan yang baik itu harus di baca seperti elemen-elemen di rumah tangga.

Kalau ada penggunaan elemen-elemen itu yang tidak fungsional dalam pertunjukan, itu yang kemudian menjadikan pertunjukannya tidak cocok satu sama lain. Di ending-nya kurang perih. Ini yang belum secara maksimal belum pas.

Afrizal:

Apa yang membuat ending: apakah inputnya kurang atau goyang, apakah pemetaanya kurang. Itu sebenarnya bisa dilakukan di biografi penciptaan.

Saran: biografi penciptaan dilakukan sebelum penciptaan. Grup dan juri-juri. Ending ini yang membedakan teater dengan koran atau berita-berita viral.

Terkurung dalam Sistem Estetik

Ugeng T. Moetidjo:

Selama FTJ ada pameran seni media Asia di Galeri Nasional. Ada pengalaman yang berbeda dari melihat teater di sini dengan teater media di pameran tersebut.

Saya menyebutnya teater karena dalam pameran tersebut ada elemen-elemen yang teatrikal. Tapi produksinya memang produksi visual lewat Virtual Reality (VR).

Ketika membandingkannya dengan pertunjukan di FTJ, saya merasakan keharusan mimikri realitas, itu bisa merupakan sesuatu yang terhubung dan dipandang sebagai kebenaran.

FTJ ini tata artistik terkurung di semacam sistem estetik (tidak selalu terhubung dengan saya sebagai penonton), dia terhubung dengan yang dipandang kenyataan objektif.

Di VR, kita masuk ke dunia tempat kita akan dihukum mati, gambarnya dekoratif. Di FTJ (artistiknya) kuat usaha untuk mendekatkan ke realitas lewat mimikri, tapi seringkali akurasinya tidak berjalan sesuai dengan perspektif ruang.

Pertanyaannya adalah: kita akan menggunakan penglihatan kita dalam cara pandang yang estetik melihat tetaer, atau melihat teater sebagai kerja-kerja aktivisme yang lebih keluar dari panggung.

Afrizal:

Poin penting: sebuah pertanyaan, kenapa teater itu terkurung dalam satu sisi kebenaran, di mana kebenaran itu didefinisikan sebagai sebuah kerja mimesis terhadap realitas.

Di mana realitas ditempelkan ke atas panggung sebagai sesuatu sistem kebenaran di dalam sistem etika-etika. Apakah sistem mimesis ini sudah menjadi ideologi/kebenaran sehingga dia tidak bisa di kalahkan. Apakah realisme berhenti d satu buah titik.

Masalah Potret Realitas

Dindon:

Kita melihat pertumbuhan grup. Masih ada teater-teater yang mencoba menjinakkan teks. Ada aktor-aktor yang bertaburan, jika ini diteruskan akan bagus.

Seringkali kita melihat suatu grup muncul, kemudian hilang karena tidak ada komitmen bersama. Ada yang membawakan naskah yang katanya dari riset, memindahkan potret yang ada di kampungnya.

Menurut saya tidak menarik juga kalau hasil riset itu hanya dipindahkan saja, ini malah jadi potret saja. Ada yang membawakan naskah tanpa riset.

Untuk menjadi hebat tidak semata-mata lahir tapi butuh usaha untuk itu. Kelemahan dan kelebihan harus dibaca juga. Jangan festival hanya menjadi romantisme, tapi harus menjadi motivasi untuk lebih progress lagi.

Afrizal:

Poinnya kita menaklukkan ruang susah, bagaimana memindahkan realitas ke dalam pertunjukan ada ketegangan skala. Skala ini hampir di semua elemen mempunyai persoalan skala. Termasuk bahasa dan gestur tubuh.

Tiga Kemungkinan Pembacaan Naskah

Gandung:

Ketika seseorang membaca naskah ada berbagai kemungkinan di kepalanya. Pertama dia terpikat pada naskah; kedua dia membaca naskah itu dan kepalanya diisi oleh bayangan naskah ini akan saya pentaskan. Ketiga punya kualitas sutradara.

Jika kalian membaca sebuah naskah tapi di kepala kalian itu pasif, lebih baik tidak usah. Kemungkinan selanjutnya, dan ini yang terpenting, ada pikiran kritis pada dia setelah membaca sebuah naskah, di kepalanya muncul banyak gambaran.

Kalau dalam segi idenya sudah matang lalu kemudian dia mendadak sadar bahwa dia tidak punya SDM (aktor). Kemudian orang ini memaksakan diri, itu namanya nekat.

Ada segelintir grup yang mengalami kemajuan bagus, tapi ada juga yang stagnan. Dan belakangan betul-betul amburadul. Karena dia memang tidak paham seni pemanggungan.

Kelemahan yang menonjol di festival selama ini adalah jarang sekali para pemain itu dengan benar menekuk vokalnya sehingga mempunya daya pikat yang luar biasa.

Afrizal:

Sebuah kriteria sederhana, grup terbaik, seluruh elemen pertunjukan dia peroleh, paling tidak ada tiga kategori. Dari tiga kategori apa yang paling absolut. Teater kita masih sutradara. Di sini ada pembacaan dan biografi penciptaan agar teman-teman juga belajar yang paling absolut adalah sutradara.

Sesi Tanya-Jawab:

Penanggap 1: Realita yang diangkat adalah potret sosial urban Jakarta. Itu ada keindahan di panggung. Tapi kedalaman-kedalamannya tidak kita peroleh ketika pulang.

Penanggap 2: Kecewa karena tidak ada perkembangan di festival. Produk festival ini tidak menghasilkan apa-apa.

Penanya 1 (End Game): Dengan ide yang seperti itu, bagaimana Benjon (Benny Yohanes, red) sudah menulis. Sebagai bentuk pembelajaran saya. Di mana letak kekurangan kami?

Fery: Berkomentar ada beberapa grup yang berkembang. Pertanyaan: apakah salah jika seseorang yang sudah membentuk grup dan tidak melakukan pertunjukan; kedua, apakah teater di Jakarta ini sehat?

Jawaban:

Benjon: Jadi proses kreatif itu juga tidak identik dengan kreativitas. Jika ada grup yang sementara padam, bisa dipahami sebagai masa peram.

Jika dilihat lagi ada batas-batas dia memang membutuhkan aktualitasi diri. Teater itu bisa diciptakan di atas panggung tapi juga di sisi biografi kita.

Kalau anak-anak muda ini antusias di teater, apakah ini refleksi kemajuan teater. Satu sisi iya, sisi lain tentu melihat posisi teater ini di dalam media publik. Bentuk media bervariasi dan mudah diakses.

Kalau ada sejumlah anak muda yang berteater, asumsi kita anak-anak itu punya orientasi yang tidak dominan. Dia punya kepercayaan menambahkan biografinya secara tidak popular.

Sisi lain juga kita menduga anak muda masuk ke dunia teater disiplin. Kemudian bisa saja dunia teater ini diakses oleh figur-figur yang belum memiliki keterikatan dengan dunia teater. Pengetahuan dalam grup ini senyap.

Banyak yang masih bekerja dengan pendekatan silent knowledge. Ini yang menjadi proses produksi pengetahuan. Aktor-aktor kita cenderung menjadi silent actor. Aktor tidak berani mengembangkan biografinya sendiri. Tidak ada sistem pengetahun yang hidup.

Intinya aktor juga harus memperbanyak pengetahuan tidak tergantung dengan kemauan sutradara. Harus bisa memproduksi pengetahuan sama-sama. Dan itu aktor-aktor yang kita hargai.

Ugeng:

Artistik juga punya kontur dan raut serta ekspresi sendiri. Pengetahuan atau pengenalan tentang psikis artistik bisa dielaborasi. Di dalam End Game itu kita bisa melihat suatu pertunjukan punya relasi dengan publik. Relasi ini bisa minus dan plus.

Sebetulnya terletak ada di bagian artistik, melakukan penulisan ulang terhadap sejarahnya sendiri. Perubahan kentara dari FTJ sebelumnya di pandangan, yang tidak berubah itu adalah memori kolektif.

Dindon:

Suka dengan End Game.

Afrizal:

Kita ingin memenangkan gagasan atau teknik. Kita memilih 50-50 persen. Dalam kasus End Game, bisa menjadi kasus yang menarik, bagaimana End Game itu seolah-olah didefinisikan sebagai post realis, dan dieksekusi menjadi post realis.

Baca Juga

Ini Delapan Pameran Seni Rupa Terbesar Tahun 2020

Portal Teater - Di negara manapun, pameran seni rupa tidak hanya dapat mengubah reputasi seniman dan karyanya, tapi juga kehidupan dan imajinasi publik yang menyerap...

Komite Seni Rupa DKJ Gelar Diskusi Buku Tiga Kritikus Seni Rupa

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Diskusi Buku Seri Wacana Kritik Seni Rupa dari tiga kritikus seni rupa Indonesia...

“Konser Seni” Kembali Gairahkan Aktivitas Kesenian di Bengkulu

Portal Teater - Aktivitas kesenian di Provinsi Bengkulu kembali bergairah. Akhir pekan lalu, ratusan seniman dari berbagai kota dan daerah di Bengkulu menggelar pentas...

Terkini

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...