Faktor Budaya Pengaruhi Ketidaksehatan Iklim Kritik Seni di Bali

Portal Teater – Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen mengembangkan wahana kesenian untuk menjadikan Bali sebagai salah satu pusat kegiatan seni budaya. Sudah ada dua program kesenian yang digagas pemerintah untuk menampung aspirasi para pelaku seni.

Salah satunya adalah Pekan Kebudayaan Bali yang kini sudah berlangsung selama 41 tahun. Terbaru, Pemprov Bali menggagas Festival Seni Bali Jani (FSBJ). Festival ini digelar sepanjang 26 Oktober-8 November 2019.

Meski demikian, sejumlah seniman dan akademisi menyoroti gelombang surut kehadiran kritikus seni di Pulau Dewata, bahkan cenderung tumbuh dalam iklim yang tidak sehat.

Dalam kesempatan Workshop Penulisan Kritik Seni pada FSBJ yang menghadirkan beberapa narasumber, salah satu pembicara, Abu Bakar, dramawan asal Bali, memandang faktor budaya juga turut berpengaruh pada minimnya kritikus seni di Bali.

“Akhir-akhir ini seakan ada sekat-sekat dan ewuh-pakewuh masyarakat untuk mengkritisi karya seni, akibatnya kritik seni di Bali sangat minim,” katanya di Taman Budaya, Denpasar, Senin (28/10).

Abu Bakar menilai, ada keengganan untuk melakukan kritik terhadap karya seni di Bali. Kerap para pengkritik berpikir terdahulu sebelum melontarkan gagasan dan kritiknya. Ada ketakutan akan menimbulkan masalah baru, apalagi sang seniman yang dikritik adalah pejabat.

“Di Yogyakarta suasana enak betul, demokratis, tetapi di Bali, ketika ada yang mengkritik langsung dimusuhi,” ujarnya.

Lebih dari itu, kerap para pelaku seni ingin mencari posisi aman untuk menghindari kritik.

“Supaya tidak dikritik, seniman menjadi kurang berani berekspresi atau menghindari ending yang tidak biasa. Kalau sudah biasa, apalagi yang harus dikritik?” ucapnya.

Varian Kritik Seni

I Putu Wirata Dwikora yang juga narasumber workshop tersebut mengatakan, model kritik seni ada bermacam-macam. Ada yang memang murni melihat dari sisi kekurangannya, namun tidak sedikit kritik seni yang memuji-muji.

“Sebenarnya jangan takut konfrontasi di awal karena itu untuk perbaikan seni juga. Memang sekarang penulis kritik seni itu berkurang, karena mungkin penghargaannya yang tidak ada,” ujarnya.

Kritik seni, kata Putu, bisa diberikan kepada seniman perseorangan ataupun komunitas. Di satu sisi ada seniman yang ketika dikritik langsung down, tetapi ada juga yang menjadikan kritik untuk berproses yang lebih baik.

Secara umum, ada empat jenis kritik, yakni kritik populer, kritik jurnalistik, kritik keilmuan dan kritik kependidikan. Sementara bentuk kritik seni sendiri ada tiga, yakni kritik formalistik, kritik ekspresivistik, dan kritik instrumentalistik.

Kritik formalistik berkaitan dengan unsur-unsur pembentukannya seperti pada seni rupa maka sasarannnya tertuju pada unsur visual seperti warna, garis, tekstur, tone, dimensi dan sebagainya.

Kritik ekspresivistik lebih condong menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang ingin dikomunikasikan seniman melalui karya seni.

Sementara kritik instrumentalistik, karya seni dikritisi berdasarkan kemampuannya dalam upaya mencapai tujuan, moral, religius, politik dan psikologi.

Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Kadek Suartaya melihat, para kritikus seni kurang mendapat tempat yang layak. Penghargaan untuk para kritikus seni sangat kecil.

Untuk menumbuhkan dan menggairahkan kritik seni, menurut Hartanto, salah satu pembicara workshop, dapat dilakukan melalui kompetisi penulisan kritik seni, dengan menghadirkan juri-juri yang objektif.

“Untuk mengkritik, modal dasarnya itu adalah kejujuran terhadap keilmuan yang dimiliki. Kesenian tanpa kritik tentu akan stagnan,” ucapnya.

Memang tidak mudah untuk mengubah mindset atau pola pikir masyarakat secara mendadak itu tidak mudah karena mungkin sudah telanjur apatis terhadap seni. Apalagi pada kesenian-kesenian serius yang jarang penikmatnya.

Kritik seni, kata dia, menjadi salah satu sarana memberi nilai pada kualitas karya seni secara subjektif, dalam artian tergantung kualitas pengetahuan sang kritikus.

“Fungsi utama dari kritik seni adalah menjembatani persepsi dan apresiasi karya seni, antara seniman, karya dan penikmat seni,” ungkapnya.

Sumber: Antaranews.com

*Daniel Deha

Baca Juga

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

Kadisbud Iwan Henry: Teater Jadi Medium Literasi Anak

Portal Teater - Teater Lorong Yunior sukses mementaskan dua kali lakon "Sang Juara" karya dan sutradara Djaelani Mannock di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (19/1)....

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama denganĀ  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...